Tak Bisa Memiliki Mu

Tak Bisa Memiliki Mu
Akan Aku Usahakan Melupakanmu Selamanya?


__ADS_3

Abang....


Bolehkah panggilan itu kusematkan untukmu? Tapi, sayangnya aku tak sempat memanggilmu abang secara langsung. Itu hanya harapan yang mungkin menjadi kabut mimpi. Tapi setidak nya di surat ini, aku bisa memanggilmu abang dan menjadikan mu satu-satunya milikku, kesayanganku. Walau kenyataannya kamu kesayanganku, namun bukan milikku.


Apa kabarmu? Apa kamu masih menyesap kopi di siang hari mu ditemani alunan suara bang Is, sama seperti terakhir kali kita bersapa? Masih menghisap rokok dengan tagline “Pria Punya Selera"? Masih sibuk dengan segudang jadwal dan aku harus membuat janji jauh-jauh hari dengan mu jika ingin gobrol bareng? Masih senang mengembara untuk melihat indahnya indonesia dari ketinggian? Masihkah?


Aku selalu berharap kamu baik-baik saja. Terkadang aku sedikit memaksa Tuhan agar kamu tak apa-apa. Hasil dari menjelajah di beberapa media sosial milikmu, kamu terlihat baik-baik saja. Setidaknya, dari sana aku tahu bagaimana keadaan mu. Tanpa memandang wajah mu maupun mendengar suara mu sudah kuhapal di luar kepala.


Abang , aku memang tidak pandai dalam berbasa-basi. Sudah lama kita tidak berdialog hingga dini hari. Jangan kan itu, bertegur sapa melalui lini masa saja sudah jarang. Bahkan dapat dihitung menggunakan jari dalam sebulan terakhir ini. Kamu tahu? Semenjak itu, jam tidur ku semakin kacau. Maaf, ya! Aku belum bisa menepati janji untuk tidur sehat.


Our little, stupid conversation means more to me than you think.


Ada yang ingin kutanyakan padamu. Aku cerewet ya? Aku Posesif yah? Aku overthingking yah? Kamu tahu kenapa aku cerewet padamu? Kamu tahu aku Posesif padamu? Kamu tahu kenapa aku overthingking kepadamu? Kamu tahu, sebenarnya aku sebal ketika aku sudah terlalu peduli dengan siapapun itu, termasuk kamu? Kamu tahu, aku benci khawatir saat kamu tak mengabari? Aku tak suka bertanya-tanya. Itu jawabnya.


Masih bolehkah aku rindu dengan mu? Aku rindu berdialog berbagai hal dengan mu. Jika sudah berdialog, kita sering lupa daratan layaknya orang yang sedang kasmaran. Nyatanya kita adalah dua orang tuna asmara yang saling membutuhkan dan menguatkan. Kamu kerap mengejekku dengan kalimat "Sabar, ya jomb!". Hei! Kamu kan juga jomblo!


Tidak hanya itu, seringkali kamu melontarkan jokes garing bahkan sampai hal-hal di luar batas bagi kaum tuna asmara seperti kita ini. Kamu ingat tentang filosofi dari selfie? Pertanyaan sederhana yang kamu lontarkan di tengah malam namun aku harus mikir keras untuk menjawabnya di jam-jam rawan.


Dalam diamku, ada ridu yang tak terungkap.


Aku rindu. Ya, aku rindu itu semua! Sebenarnya aku bukanlah wanita yang mudah jatuh hati. Tapi, sayangnya aku mudah rindu. Berulang kali kamu mampir dalam mimpi ku. Gengsi? Aku memang gengsi untuk mengutarakan itu semua. Terlebih aku masih menjunjung istilah “Masak cewek duluan, sih?”. Tapi tidak dengan mu. Aku si pengecut ini memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang dirasakannya.


Kamu, lelaki yang pandai memperlakukan wanita dengan baik dan tahu bagaimana harus bersikap. Kamu yang selalu menjadi pengingat agar aku rajin menjamah tugas akhir, ketika si malas sedang menggelayut manja di tubuh.


Kamu yang selalu menemani hingga pagi menjelang, ketika aku bermesraan dengan proposal tugas akhir. Kamu yang mengingatkanku bahwa hari sudah pagi, waktunya kita untuk istirahat.


Saat pagi tiba, kita berlomba untuk bilang “Aku bangun pagi, loh!”. Jelas-jelas tidak ada yang bisa bangun pagi di antara kita. Lucu, ya? Beberapa waktu lalu, kamu sempat mengajakku untuk melihat indahnya Indonesia tepat ditempat kelahiran kamu di Kuta lambitu ntb sana. Masihkah itu berlaku? Jika ya, kapan kita ke bareng bos? Aku mengikuti kamu saja. Yang terpenting, aku bisa melihat senja bersama mu.


Diam-diam, aku masih merapal namamu dalam doa. Aku berharap semesta menuntun arah langkahmu ke manapun kamu pergi agar selalu memetakan jalan pulang. Kamu tahu? Akhir-akhir ini aku sedikit memaksa Tuhan untuk memenuhi beberapa pintaku tentangmu.

__ADS_1


Rasa kita tidak pernah salah. Mungkin waktu yang bermasalah.


Sebenarnya ada kabar baik dariku, untuk diriku sendiri. Ini bukan tentang ABG mlethek yang baru saja mendapatkan pujaan hatinya atau apapun yang bisa saja menjadi topik ocehan kita. Tapi kabar bahagia ini berhubungan dengan perasaanku. Perasaan yang 4-5 bulan terakhir ini dipenuhi tentang kamu.


Intinya, aku sudah menemukan cara untuk melupakanmu. Bukan dengan menyesap kopi bercangkir-cangkir hingga aku lupa. Bukan dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaanku hingga aku tertidur atau membenturkan kepalaku ke dinding agar aku melupakanmu. Tapi lebih mencari kesibukan sendiri yang membuatku (setidaknya mencoba) lupa padamu. Bagus, kan?


Mitosnya, kamu akan sulit tidur kalau kamu ada di mimpi seseorang. Setelah ini aku melupakanmu dan kamu gak perlu lagi begadang karena hal itu.


Dengan surat ini, aku menyampaikan kalau aku (pernah) benar-benar menyukaimu. Menyukai gelas-gelas kopi milikmu, menyukai caramu tersenyum, menyukai suaramu yang sudah kuhapal di luar kepala, dan menyukaimu sepenuh hatiku tanpa terkecuali. Ada bagian dari tulisan ini fiksi. Aku tidak akan memberitahukan padamu. Biar kamu terka sendiri bagian mana.


Menapak jalan, berjalan lebih jauh, menuju antah berantah, dan mencoba untuk tidak lagi menyukaimu. Yah, walaupun sebenarnya tidak mungkin.


Aku yang (pernah) menyukaimu,


Anggap saja tulisan ini sebagai kado ulang tahun mu kapan kamu Ulang tahun. Sebab tanggal lahir mu aj aku tak tahu.


Aku sedang berusaha untuk melupakanmu.


Melupakan kenangan yang dulu kita lakukan bersama.


Kenangan yang mungkin tak ada artinya bagimu.


Kau tahu?


Untuk melupakanmu.


Aku harus berubah 180° dari sebelumnya.


Perubahan itu seperti,

__ADS_1


Aku harus berpura-pura untuk menjauhimu.


Aku harus berusaha untuk tidak bertegur sapa denganmu.


Aku harus berusaha bersikap acuh kepada dirimu.


Dan aku harus berusaha agar kepura-puraanku itu berubah menjadi nyata.


Sungguh.


Sebenarnya hati ini tak ingin untuk melakukan itu semua bersamamu.


Akupun tak tega melihat mu yang terus bingung akan sikap ku yang seperti ini.


Tapi ketahuilah. Aku seperti ini karena aku tak ingin menambah dosa karena kita sering kasmara tanpa ada hubungan yang serius, bisa dibilang pernikahan ata menghalalkan.


Hubungan yang tanpa status ini tak bisa ku jalani dengan semestinya.


Kadang kau menganggap ku sebagai teman, kadang sahabat, dan bahkan lebih dari itu (itulah dirimu dari pertama kita komunikasi).


Maafkan aku Akhi.


Jika keputusan yang ku jalani saat ini salah dimatamu. Maafkan aku wahai Akhi.


Aku sudah mendapat Hidayah dari-Nya.


Dan inilah jalan yang semestinya ku tempuh.


Yaitu berusaha untuk melupakanmu

__ADS_1


__ADS_2