
Sabtu yang cerah aku membawa Cicilia ke Obersee Lake. Konon katanya, Mayoritas sepakat bahwa alam selalu mampu menyediakan nuansa romantis terbaik. Nah, tempat ini terkenal karena terletak di distrik Bavaria di bagian tenggara dari Berchtesgadener National Park. Luasnya 473 km2 dan kedalamannya mencapai 51 m. Danau ini terbentuk karena mencairnya gletser di Pegunungan Alpen berabad-abad yang lalu.
Untuk mencapai Obersee Lake, aku harus menggunakan perahu melalui danau Königssee menuju dermaga Saletalm, kemudian berjalan selama 15-20 menit.
"Ger, udah belum nih? Masih jauh nggak sih tempatnya? Lama amat?" ucap Cicilia mulai protes ketika aku tuntun jalannya dengan mata tertutup kain.
"Iya, bentar lagi. Sabar."
Langkahku terhenti ketika tepat berada sebuah rumah kayu di tengah danau. Perlahan aku buka kain penutup di mata Cicilia.
"Aku hitung sampai tiga, baru kamu buka mata ya," tuturku memberi perintah.
"1 ... 2 ... " Aku memberikan aba-aba. "Ti ... ga." Cicilia mulai membuka mata.
"Gimana suka?"
Seketika matanya berbinar dan menutup mulutnya. "Aku nggak tau harus ngomong apa lagi ke kamu. Sumpah, cakep banget," ujar Cicilia takjub melihat tempat dia berdiri. Tepi danau yang Airnya sangat jernih hingga dapat melihat dasar bebatuan sejauh beberapa meter. Selain itu danau ini juga menjadi refleksi yang sempurna bagi pemandangan di sekitarnya, termasuk tembok tinggi pegunungan.
"Makasih ya." Cicilia memelukku erat. "Bentar, aku ke toilet dulu."
Cicilia berjalan sambil bertanya ke orang-orang letak toiletnya di mana. Sembari menunggu Cicilia, aku memainkan ponsel untuk buka sosial media. Instagram. Sialnya, di beranda muncul postingan Gerald yang sedang berbahagia karena sehabis diterima lamarannya diterima oleh Maretha Agnia alias Nindya Maharani.
Raut mukaku berubah jadi kusut. Ada retak, tapi bukan ranting pohon. Melainkan lubuk hatiku terdalam. Harus banget kisah cinta kita berakhir seperti ini?
Cicilia kembali. Entah kesambet setan apa, aku menggenggam tangannya. "Cil, di tempat ini aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu. Kamu mau nggak nikah sama aku?"
Aku sendiri nggak tahu ini lamaran tulus dari hati atau sekadar pelampiasan karena nggak mau kalah dari Gerald dan Maretha.
Mata Cicilia berkaca-kaca. "Really?"
"Iya. Aku serius. Maaf aku nggak bawa cincin kayak orang-orang saat melamar pujaan hatinya. Boleh nggak cincinnya nyusul aja?"
Cicilia tersenyum manis. Dia mengelus tanganku. "Sayang, cincin itu hanya simbol. Yang penting adalah ketulusan dan keseriusan kamu dalam berkomitmen melangkah lebih jauh bersamaku."
"Jadi jawaban kamu?"
__ADS_1
"Ya, aku mau menika sama kamu."
Aku mengecup kening lari ke bibir. Kami kemudia berpelukan mesra menikmati keindahan Obersee Lake.
***
Entah kenapa, tiba-tiba aku nyasar ke diskotik terbesar di Jerman. Aku memesan banyak minuman beralkohol. Harusnya aku bahagia karena sehabis melamar Cicilia, diterima pula lamaranku. Namun, nyatanya nggak. Pikiranku justru kacau. Bayangan Maretha Agnia, Gibriel, Gerald berkecamuk di kepalaku.
"Kenapa sih harus Maretha orang yang aku cintai?" ujarku melantur. Tanganku terus menuang alkolhol ke gelas kecil. Kemudian aku meneguknya.
Seseorang menyentuh pundakku. "Eh, kamu Gerhard pacar Cicilia, kan?"
Dengan setengah sadar, aku menoleh dan bisa mengenali orang tersebut. Franco.
"Hai, Bro. Apa kabar? Ngapain di sini?" Aku tahu dia pasti tidak mengerti ucapanku yang bahasa Indonesia. Namun, aku nggak peduli.
"Just looking for some fun to relieve the stress of the ones you've taken from me."
"Duh, sori ya Bro gue merebut cewek lo. Abis gimana dong gue butuh dia buat manasin mantan gue." Aku makin melantur nggak jelas efek semakin banyak alkohol yang kuminum.
"Oke. Not problem. I don't really love him either. Now let's have some fun."
***
Aku kaget ketika bangun berada di tempat asing. Kepalaku masih pusing tujuh keliling. Namun, aku memaksakan diri untuk berjalan. Di luar kamar terlihat Gibriel.
"Gue di mana?" tanyaku sambil berjalan sempoyongan.
"Lo di apartemen gue. Tadi malam lo mabuk berat, makanya manager bar hubungi gue buat jemput lo. Ger, sini duduk."
Aku menurut untuk duduk di sebelahnya. Tiba-tiba dia menyodorkan ponselnya. Mataku membelalak. Di laya ponselnya terpampang fotoku berciuman dengan Franco. Foto itu diunggah oleh akun gosip.
"Ini maksudnya apa?" tanya Gibriel.
"Nggak mungkin," sanggahku. Aku berusaha mengingat kejadian semalam. Sekilas muncul adegan aku stres karena nggak bisa bersatu sama Maretha. Lalu, gue minum banyak, ketemu Franco. Abis itu gue nggak tahu lagi apa yang terjadi.
__ADS_1
"Lo lagi ada masalah apa jadi sampai kayak gini? Tolong lah jaga nama baik keluarga kita."
Brak!
Aku muak dengan bacotan Gibriel yang justru malah menyalahkanku. "Masalah gue itu ada di lo. Nindy yang punya masalah sama lo, kenapa harus gue yang nanggung akibatnya!" teriakku kesal seraya mengacak rambut frustrasi.
"Gue cuma pengen bahagia dengan orang yang gue cintai. Kenapa lo malah terus menghalangi kebahagiaan gue?" Nada bicaraku makin meninggi.
Gibriel berdiri. "Oh, jadi lo anggep gue ini penghalang kebahagiaan lo? Oke, fine. Terserah lo mau lakuin apa pun. Gue nggak peduli dan jangan anggep gue sodara lo lagi!"
"Res ... Resty!" teriak Gibriel memanggil istrinya.
Resty muncul dari kamar. "Iya, Sayang. Ada apa?"
"Sekarang kamu beres-beres ya. Kita pulang ke Indonesia nanti malam!"
Dengan tatapan bingung, Resty menuruti permintaan Gibriel.
Ting!
Muncul notifikasi pesan dari Cicilia.
Sayang, kamu di mana? Aku di apartemenmu nih. Bisa ketemu sekarang? Ada hal yang ingin aku bicarakan penting!
Aku yakin dia pasti mempertanyaan kebenaran foto bersama Franco. Dia pasti marah besar. Mungkin jijik denganku. Namun, aku pikir ini kesempatanku jujur bahwa perasaanku hanya untuk Nindya alias Maretha Agnia dan bisa putus dengan Cicilia.
***
Ketika aku pulang ke apartemen, Cicilia sudah duduk cantik di sofa seraya menonton televisi.
"Sori lama, aku tadi di apartemen Gibriel, sepupuku," ucapku begitu masuk. Aku melepas sepatu dan menaruhnya di rak.
"Nggak papa."
"Kamu pasti mau nanyain kebenaran fotoku sama Franco ya? Pasti kamu sekarang lagi jijik sama aku. Aku bisa jelasin, semua itu nggak benar." Aku mengatur napas terlebih dahulu. "Tadi malam aku mabuk berat. Franco memanfaatkan hal itu buat menjebakku."
__ADS_1
Cicilia bangkit dari tempat duduk. Dia langsung memelukku erat. "Sudah aku duga. Kamu nggak mungkin seperti yang dibicarakan orang-orang. Kamu tenang aja, aku percaya kamu."
Aku menganga. Respons Cicilia di luar prediksiku. Jika dia seperti ini, aku jadi ragu berkata jujur tentang perasaanku yang hanya mencintai Nindya. Aku juga nggak tega mutusin Cicilia.