Takut Jatuh Cinta

Takut Jatuh Cinta
Babak II: Masa Lalu. Demam We Chat (Gibriel Alexander)


__ADS_3

2014.


We Chat? Apa sih asyiknya we chat? Heren deh, kok teman-teman kampus banyak banget yang minta nickname akun we chat gue? Sebenarnya gue punya sih akun we chat, tapi jarang dipakai. Soalnya gue lebih suka online facebook, daripada we chat. Alasannya adalah facebook bisa nulis cerpen di catatan, bisa memperoleh ilmu, dan paling penting karena facebook bisa kenal sama penulis-penulis keren. Ya, selama ini gue pengen jadi novelis tapi sayang tulisan gue masih berantakan. Sedangkan we chat, hanya bisa buat chat, upload foto, dan update status. Lagi pula orang-orang di we chat nggak ada yang asyik, mereka semua pada pelit kata-kata. Masa chat sama gue isinya ‘hay, malam, oh,” itu yang bikin gue ilfeel duluan sebelum pedekate. Gue orangnya paling nggak suka sama orang yang pelit kata-kata.


Ngomongin we chat, gue jadi kangen. Sudah lama juga nggak buka we chat. Hampir 2 bulan gue sibuk menyelesaikan novel perdana dan mengetik ouline buat novel baru makanya jarang online. Mumpung sekarang lagi mentok ide, dan nggak ada kerjaan bawa online we chat aja deh. Siapa tahu menemukan jodoh di we chat.


“Seluruh harta orangtuamu akan jatuh ke tanganmu ketika kamu lulus kuliah dan menikah. Jika usiamu 25 tahun, belum menikah maka hartamu akan disumbangkan dipanti asuhan.”


Kata-kata pengacara keluarga gue saat membacakan wasiat kembali terngiang di telinga gue. Umur gue sudah 21, tinggal 4 tahun lagi 25 tahun. Sampai sekarang gue belum menemukan cewek yang cocok. Makanya gue berinisiatif cari jodoh mulai sekarang. Kan bahaya kalau umur 25 tahun, gue belum nikah?


Gue mengambil android kesayangan. Setelah berada di tangan gue buka kunci android. Ternyata ada 2 pemberitahuan di we chat. Karena penasaran tingkat dewa, gue menyentuh tulisan pemberitahuan tersebut.


Helena has just added you send a messages to make friends.


Sebelum gue memulai chat dengan Helena, gue ingin melihat wajahnya terlebih dahulu. Gue sentuh bagian foto profilnya untuk memperjelas. Tapi ternyata fotonya pecah, nggak jelas gitu. Mungkin resolusi fotonya kecil. Yang gue tangkap dari foto wajahnya itu dia memiliki alis yang tebal, kulitnya putih, dan bibirnya tipis agak kemerah-merahan gitu. Waw, type gue banget.


Karena penasaran sama cewek satu ini, gue pun mulai mengajaknya chat. Semoga dia lagi online, biar cepat balasnya.


Gibriel Alexander : Hay, thanks for add.


Helena : Hay juga. Sama-sama. Btw, anak mana?


Gibriel Alexander : Bekasi, kamu?


Helena : Tangerang.


Gibriel Alexander : Oh, senang berkenalan denganmu. Eh, btw foto profilmu asli wajahmu gak?


Helena : Asli dong! Ngapain make wajah orang?


Gibriel Alexander : Bisa nggak kamu kirim fotomu yang resolusinya gede? Soalnya fotomu pecah, nggak jelas gitu.


Helena : Kalau kamu jodohku, suatu hari nanti pasti ketemu dan kamu bisa lihat wajahku sejelas-jelasnya.

__ADS_1


Gibriel Alexander : Kamu masih single?


Helena : Ya


Gibriel Alexander : Boleh dong daftar hehehe. Btw tipe wanita idamanmu gimana?


Setengah jam telah berlalu namun Helena nggak balas chat dari gue juga. Helena kemana ya? Apa dia sudah off? Tunggu, ada yang aneh dengan diri gue. Biasanya, kalau orang di we chat terlalu pelit kata-kata gue ngomel. Si Helena juga kalau chat terlalu pelit kata-kata tapi kok gue nggak bisa marah ya? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


Mendadak mataku tertuju dengan batangan berwarna merah di pojok kanan android. Itu artinya menandakan baterai android mau drop. Perasaan tadi sebelum chat baterainya masih full deh dan baterai bisa bertahan sampai 3 jam. Berarti gue chat dengan Helena sekitar tiga jam? Alhamdulillah, sesuatu banget. Ini pertama kalinya gue tahan chat sama orang sampai tiga jam.


Berhubung Helena nggak balas chat lagi gue mau off juga deh. Mau charge baterai android dulu. Sebelum off update status dulu kali ya mumpung baterai belum benar-benar habis dan android mati mendadak. Pas berada di we chat, gue nggak sengaja lihat status Helena.


Adakah cinta yang tulus datasng padaku? Bulshit! Bagiku semua cowok sama saja, PENGKHIANAT!


Sumpah, hati gue sesak baca status Helena. Dia menganggap semua cowok itu pengkhianat. Gue kan nggak seperti itu.


Langsung gue komentari status Helena.


Hay, nggak semua cowok itu pengkhianat. Kalau kamu menganggap seperti itu kapan kamu menemukan pemilik tulang rusukmu? Semua orang pernah terluka, tapi yang penting orang berusaha menyembuhkan luka hati dengan cinta yang baru. Aku siap kok jadi teman dan tempat curhatanmu.


***


Pelan-pelan gue menyembuhkan luka hati Helena. Yang ada malah benih-benih cinta tumbuh di hati gue. Kedengarannya sih aneh jatuh hati pada orang yang belum pernah ditemui. Bahkan, lihat wajahnya aja kagak pernah. Foto profilnya memakai avatar kartun chibi.


Saat cinta telah mengetuk pintu hati tak ada satu orang pun yang dapat menolaknya. Ya, cinta bisa tumbuh dimanapun dan kapanpun. Masalahnya adalah gue nggak tahu gue merasakan cinta sama gue atau nggak. Yang penting bagi gue sekarang Helena sudah nggak menganggap semua cowok pengkhianat lagi.


Setelah menimbang cukup lama, gue memutuskan menelepon dia untuk ketemuan hari ini.


Tuuuuuttttt ...


Gue jadi gelisah sendiri. Menunggu dia angkat telepon.


"Halo."

__ADS_1


Terdengar suara lembutnya. Seketika hatiku berdesir.


"Halo juga. Kamu lagi sibuk nggak?"


"Kenapa?"


"Aku mau mengajak kamu ketemuan nanti sore. Bisa?"


"Yah, aku ada janji kerja kelompok sama sahabatku."


Gue lemas. Gue pikir itu hanya alasannya saja. Pasti dia masih enggan bertemu dengan lelaki.


"Ya udah deh. Lain kali aja. Kabari ya kalau kamu sudah ada waktu luang dan siap bertemu denganku."


***


"WOI, NGGAK BISA GITU DONG. INI KAN KERJA KELOMPOK, MASA KALIAN NGANGGUR. AYO BANTUIN GUE NGERJAIN SOAL INI!"


Gue terbangun gara-gara mendengar teriakan Vindy. Anak satu itu kalau ngomong selalu teriak-teriak. Gue ambil bantal untuk menutup kuping. Namun, malah semakin berisik. Terpaksa gue bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Vindy.


Di ruang tamu berantakan. Vindy mengajak tiga temannya ke rumah. Pantas saja berisik.


"Vind, bisa nggak sih lo sama temen lo nggak usah berisik. Nurunin dikit nada suara lo. Gue baru aja tidur, kebangun gara-gara suara lo."


"Sori, Kak. Abis temen gue ini dablek, maunya leyeh-leyeh aja."


Seorang cewek berdiri. Matanya tertuju ke gue dengan tatapan berbinar. Cewek itu menyenggol Vindy.


"Vin, dia siapa?" bisiknya. Namun, gue bisa mendengar suaranya.


"Abang gue. Jelek ya. Galak lagi."


"Cakep banget tau."

__ADS_1


Dia jadi salting sendiri. Gue nggak peduli karena sudah biasa temannya Vindy kalau lihat gue pasti terpesona. Gue balik ke kamar lagi.


__ADS_2