
“Wow.” Hanya 1 kata yang berhasil keluar dari mulut gue. Gue terkagum-kagum melihat pemandangan di depan gue. Gue sekarang lagi berada di Restaurant Segarra, gue ke sini karena diajakin Vindy, adik kesayangan gue.
Temannya lagi ulang tahun. Acara ulang tahunnya malam banget, kalau gue nggak ikut siapa yang jagain Vindy? Vindy adalah satu-satunya keluarga gue yang masih hidup.
Gemerlap lampu-lampu hias yang bergelantungan melintang disepanjang pepohonan, menambah gemerlap taman ini selain berfungsi sebagai hampir satu-satunya sumber penerangan selain lampu spot besar yang memancar ke arah panggung di depan kolam renang. Puluhan remaja saling bergerombol, menikmati hidangan stand up party, menikmati alunan musik yang ada dan saling berbagi cerita satu sama lain. Seorang gadis yang menjadi center of view tampak berdiri dengan anggun di sebelah meja dengan tumpukan kado, tersenyum menyambut setiap tamu yang datang dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Tiba-tiba lampu diremangkan, suara MC mengalihkan perhatian semua orang yang berada disitu. Sederet lampu membentuk tulisan “HAPPY SWEET 17 Helena” menyala terang sebagai background MC bertubuh cungkring itu.
Glek!
Gue menelan ludah. Yang ulang tahun Helena? Kok namanya sama kayak orang yang gue cintai di we chat? Seribu pertanyaan bersarang di otak gue. “Mungkin namanya aja yang sama,” piker gue.
“Ya, Helena, sebelum tiup lilinnya, ada make a wish yang mau diucapkan? Pasti ada dong.Boleh tau dong,” kata MC mengulurkan mic-nya ke arah gadis bergaun putih yang tampak tersenyum malu-malu. “Atau, ada orang special mungkin yang mau diajak nemenin make a wish?”
Acara utama sudah dimulai rupanya. Baguslah, berarti sebentar lagi penderitaan gue berdiri dikerumunan orang yang tidak gue kenal akan segera berakhir.
“Ada,” jawabnya disambut sorakan tamu-tamunya.
Astaga wajar kali, cewek cantik dengan wajah Indonesia kayak gitu punya gebetan. Kenapa sih pada main sorak-sorakan segala. Gue menyenggol bahu Vindy yang ternyata juga ikut-ikutan bersorak lebay.
“Kebawa suasana,” katanya sambil mememerkan cengirannya.
“Wah, ternnyata dia udah punya gebetan temen-temen! Aduh, bikin patah hati aja,” kata MC yang berusaha mengeluarkan banyolannya untuk menyemarakkan suasana. “Siapa nih? Siapa nih?”
“Beberapa jam lagi, dia juga ulang tahun,” kata Helena memberikan clue.
“Wah, siapa ya. Ada clue lain?”
“Dia tinggi, ganteng, pinter. Pokoknya, dia cowok tersempurna yang pernah gue temui,” jawabnya malu-malu sambil disambut sorakan lagi.“Dia ada di sini kok.”
“Oh yaaaaaaaaa? Siapaaaaaaaa?” si MC makin lebay.Tinggal mengganti jasnya dengan kaos berkerah lebar, mungkin dia bisa jadi MC acara music di TV.
“Dia kakak sahabatku, Vindy.” jawabnya sambil memberi jeda, tersenyum ke arah Vindy yang berdiri di dekatnya. “Gibriel Alexander…”
__ADS_1
Vindy menyikutku keras-keras, membangunkan gue dari lamunan saat semua mata tertuju pada gue. “Elo dipanggil tuh.”
“Hah? Dipanggil? Apa?” tanya gue bingung. Gue terlalu sibuk dengan lamunan tadi.
“Ayo dong Gibriel, nggak usah malu-malu! Sini!” teriak MC dengan suara cemprengnya diiringi tepukan tangan yang lainnya yang menyerukan kata serupa.
Vindy mendorong gue sambil berbisik. “Udahlah Kak, terima aja. Itung-itung rejeki, lagian daripada malu. Lagipula lo kan lagi nyari jodoh. Aji mumpung tuh! Sayang, cewek secantik Helena disia-siakan.”
“Masalahnya gue ngga kenal,” protes gue setelah memahami semua yang terjadi. Vindy menatap gue sambil memamerkan cengiran jahilnya, sementara gue memandang Helena dengan pandangan penuh harap. Sial!
“Udahlah Kak, ikutin aja maunya!” bisik Vindy sambil terus mendorongku maju.
Mimpi apa gue semalam? Menjelang ulang tahun gue ditembak cewek di depan umum? Tapi kalau dipikir-pikir benar juga kata Vindy, cewek secantik Helena sayang disia-siakan.
Di panggung gue bengong kayak sapi ompong bingung mau ngapain. “Gibriel, sebenarnya aku sudah lama cinta sama kamu tapi aku nunggu waktu yang tepat buat ngungkapinnya. Gibriel mau nggak jadi pacarku?” ujar Helena tersipu malu.
Zaman sudah gila. Sekarang bukan cowok lagi yang mengungkapkan cinta tapi cewek. Gue menggaruk kepala yang tak gatal. Sumpah, bingung banget mau jawab apa. Gue tolak atau terima ya cinta Helena.
Gue menatap wajah Helena lekat-lekat. Dari dekat Helena memiliki alis yang tebal, kulitnya putih, dan bibirnya tipis agak kemerah-merahan gitu. Mirip sama orang yang gue cintai di we chat.
“Hel, sebelum gue jawab pertanyaan lo gue mau nanya ke lo dulu, boleh nggak?”
“Mau nanya apa?”
“Apa lo selama 3 bulan ini yang chat ma gue di we chat?”
"Kok tau?"
"Pas mandangin wajahmu lekat-lekat, berasa familier. Feelingku kuat banget bahwa kamu Helena yang kukenal di we chat."
“Ya, harus kuakui kamu yang chat sama aku. Kamu juga yang pelan-pelan menyembuhkan luka hatiku.”
"Kok baru bilang sih. Kan kamu sudah tahu aku kakaknya Vindy sejak lama."
__ADS_1
"Sengaja. Malu soalnya. Biar kamu penasaran dulu. Gimana pertanyaanku tadi?"
"Heh? Yang mana?" tanya gue dengan tampang cengo.
"Itu loh yang di panggung tadi." Pipi Helena memerah bak kepiting rebus.
Gue menepuk jidat. "Oh, baru ingat gue."
Ajaib, dunia memang sempit. Orang yang gue cintai di we chat ada di depan mata gue. Ini kebetulan yang tak terduga. Detik ini juga yakin bahwa Helena adalah jodoh gue. “Ya, gue juga cinta sama kamu. Dan mau jadi pacarmu,” ujarku.
Semua orang bersorak-sorai. Hati gue juga lagi bersorak sorai karena menjelang ulang tahun gue dapat cewek cantik. Nggak sabar pengen lulus kuliah biar gue bisa menikah sama Helena.
Pulang dari acara ulang tahun Helena, gue masih senyum-senyum sendiri.
"Ciyeee ... yang lagi kasmaran dan abis jadian. Udah kali senyum-senyumnya. Ntar bibir lu kering," ledek Vindy.
"Vin, lo pasti udah tau ya kalau Helena tuh suka sama gue dan temen We Chat gue?"
Vindy mengangguk mantap.
"Kok lo nggak bilang sama gue sih?"
"Abis gimana, gue diancem sama Helena buat nggak ngasih tau lo. Katanya biar dia sendiri aja yang ngasih tau di waktu yang tepat."
Vindy berjalan ke dapur. Lalu ambil minum di despenser. Usai dia minum berkata, "Dah ah. Gue mo molor. Capek. Semangat senyum-senyum sendiri."
Ting!
Notif We Chat muncul. Dari Helena.
Sayang, udah sampai rumah?
Dengan lincah, gue langsung membalas pesannya.
__ADS_1
Udah nih. Baru aja. Selamat malam dan selamat tidur. Moga mimpi indah, Sayang.