
Malam semakin larut. Tak lama lagi fajarpun tiba. Namun mataku tak dapat terpejam. Hatiku gelisah tak menentu. Gelisah karena memikirkan Gibriel. Tadi siang aku bertemu dengannya. Dia kelihatan berantakan, wajahnya pucat, ada bagian hitam di bagian bawah matanya ketika kutanya apa masalahnya dia hanya menjawab dia gelisah dan ketakutan karena terror yang mengancamnya setiap waktu. Astaga, dia berantakan karena aku. Aku lah yang mengirimkan terror untuknya.
Teror dari Nindya harus dihentikan. Aku nggak mungkin membuat Gibriel semakin gelisah dan tertekan. Aku mencintainya. Bola lampu di kepalaku menyala menandakan bahwa menemukan ide cemerlang. Ide tentang menghentikan terror Nindya tapi aku nggak keluar uang sedikitpun. Ide yang muncul di kepalaku adalah kabur sejauh mungkin dari kota ini. Ya, aku tahu kabur merupakan perbuatan pengecut tapi inilah jalan terbaik. Nindya nggak akan pernah bisa melakukan terror sendirian dan lambat laun terror hilang sendirinya.
Aku beranjak dari tempat tidur, lalu membuka lemari pakaian. Kuambil koper besar, dan beberapa potong pakaian. Kumasukkan pakaian-pakaian tersebut ke koper.
Nah, sekarang siap pergi jauh dari kota ini. Sebelum pergi aku menulis surat dulu untuk Gibriel.
Dear Gibriel
Saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari hidupmu. Perlu kamu ketahui aku mencintaimu tapi aku juga yang membuatmu gelisah. Aku lah yang mengirim terror-teror kepadamu, aku melakukan ini karena terpaksa. Nindya lah dalang terror ini.
Dia memaksaku menerormu karena ingin membalas dendam adiknya.
Aku mohon maaf atas semua kesalahanku. Aku berharap kamu tidak dendam kepadaku. Meskipun ragaku pergi jauh darimu tapi di hati ini hanya ada namamu. Aku yakin jika kamu adalah jodohku pasti cinta akan mempertemukan kita kembali.
By orang yang mencintaimu
Restyani Ananda Putri.
Surat yang kutulis ditaruh di meja. Usai itu aku melangkahkan kaki untuk pergi. Selamat tinggal kamarku tercinta.
Ceklek!
Betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu kamar. Telah berdiri tegak Nindya di depan pintu kamar. Matanya melotot dan ia membawa sebuah pisau yang tajam. Mampus lah diriku! Aku mundur, tubuhku gemetar saking takutnya.
__ADS_1
Nindya terus melangkah maju. “Mau ke mana lo? Mau kabur dan mengingkari perjanjian kita?” ujar Nindya.
Aku terus mundur sampai akhirnya aku terpojok di sudut kamar nggak bisa kemana-mana lagi. Nindya tersenyum sinis. Ia berada tepat di depanku. Tangannya tiba-tiba menjambak rambutku. Aku meringis, tapi ia semakin kuat menjambaknya. “Resty, lo nggak bisa seenaknya pergi gitu aja. Lo harus melakukan tugas terakhir dari gue.”
“Tugas apa lagi? Gue sudah melakukan semua yang lo suruh.”
“Vindy sekarang masuk rumah sakit dan tugas terakhir lo adalah menghabisi nyawa Vindy!”
“Lo gila! Bukankah tujuan utama lo hanya bikin Gibriel nyesal karena bersikap kasar sama adik lo?”
“Awalnya memang seperti itu tapi semua berubah, Vindy mengetahui semua rencana kita. Kalau Vindy sadar kita semua bakal masuk penjara.”
“Gue nggak akan pernah mau membunuh Vindy dan menyakiti hati Gibriel. Vindy satu-satunya orang yang disayangi Gibriel.”
Sebuah tamparan dari Nindya mendarat di pipiku. “Oh, jadi lo berani menentang kemauan gue? Lo nggak mau melakukannya karena lo cinta sama Gibriel kan?"
Nindya nggak puas hanya menapar dan menjambak rambutku, tangan kanannya kini mencekik leherku.
“Resty, lo mau mati sekarang atau menuruti perintah gue?”
“Pokoknya gue nggak akan mau membunuh Vindy.”
Nindya semakin gusar, tersirat dari tatapan matanya. Tangannya semakin memperkuat cekikan di leherku. Cekikannya membuatku sulit bernapas. Aku hanya bisa pasrah. Jika memang aku harus mati ditangan Nindya, aku rela. Aku hanya berharap mati dalam keadaan khusnul khotimah.
Pandangan mataku mengabur. Aku merasakan ajal sudah dekat. Semoga saat aku membuka mata, aku telah berada di surga bersama dia yang kucinta. “Selamat tinggal dunia, selamat tinggal Gibriel. Aku mencintaimu sampai akhir napasku,” ujarku sebelum menutup mata. Seketika semuanya gelap.
__ADS_1
***
***
Aku tersadar dari pingsannya. Aku mendapati diri terikat di sebuah kursi dan terkunci dalam suatu kamar kosong, tertutup rapat pula. Aku mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Tadi malam ia mau pergi jauh tiba-tiba Nindya dating untuk menyuruhku membunuh Vindy. Berhubung aku nggak mau akhirnya Nindya mencekik leherku setelah itu nggak ingat apa-apa lagi. Alhamdulillah, Allah masih menyayangiku dan masih mengizinkanku menghirup napas di dunia.
Ruangan ini gelap dan masih berbau cat. Aku berusaha mengorientasikan diri. Kepalaku masih pening dan pikiranku masih belum pulih semuanya.
Aku mulai sadar bahwa kamar ini tidak berjendela. Terdiri atas empat buah dinding. Di atas sana kira-kira sepuluh sentimeter dari langit-langit, ada dua buah lubang ventilasi yang Cuma selebar telapak tanganku. Dari sana masuk sedikit cahaya.
Aku juga merasakan mulut tidak dilakban atau disumpal sapu tangan. Aku jadi berpikir bagaimana reaksi mereka jika diriku berteriak? Apakah mereka akan dating untuk menyiksaku? Kalau begitu sebaiknya aku diam saja tanpa mengingatkan mereka akan kehadiranku di dalam kamar ini. Tapi kalau seandainya ada di orang lain di luar rumah yang bisa menolongku dan aku tidak berteriak bagaimana orang tahu bahwa diriku terkunci dan kamar ini?
Aku mempertajam indera pendengarannya. Rasanya aku tidak bisa menangkap suara apapun dari luar. Apakah di rumah ini tidak ada orang? Atau kah dinding rumah ini terlalu tebal sehingga tidak tembus suara? Kalau aku saja tidak bisa mendengar suara dari luar. Percuma saja aku berteriak.
Mengapa aku terkunci di kamar ini? Kenapa Nindya tidak langsung membunuhku saja? Apakah ia ingin aku mati kelaparan dalam kamar ini? Batinku bertanya-tanya. Bulu kudukku berdiri seketika.
Mati kelaparan bukanlah cara mati yang enak. Banyak penderitaan sebelum ajal menjemputnya. Berapa lama orang bisa mati karena kelaparan? Satu minggu, dua minggu, atau bahkan satu bulan?
Ya, Allah. Jauhkan nasib itu dariku. Jika benar nasibnya memang harus mati di tempat ini biarkanlah aku mati tanpa menderita, doaku dalam hati.
Panggilan pada Allah mengingatkanku. Mengapa aku minta mati tanpa menderita? Mengapa tidak minta hidup? Aku segera mengganti permohonannya, Ya Tuhan selamatkan aku dari mara bahaya ini! Jangan sampai mereka membunuhku.
Tanpa disadarinya air matanya menetes membasahi pipinya. Aku tidak ingin mati. Mengapa aku yang harus mati? Aku tidak pernah berlaku kejam terhadap siapapun. Aku tidak pantas menerima hukuman ini! Mengapa aku dihukum karena kesalahan orang lain? Mengapa orang yang mencelakai Vindy dibiarkan lepas, sedangkan aku yang hanya menguak kejahatan dia justru harus mati? Ya, Tuhan ini tidak adil! Pekikku dalam hati.
Tangisku sekarang tidak lagi hanya air mata yang mengalir dalam kebisuan. Tangisku mengambil bentuk isakan-isakan tajam mengguncang tubuhku. Akankah ada orang yang akan menyelamatkannya? Aku berharap agar Gibriel Alexander bisa menemukan keberadaanku.
__ADS_1