
Ini malam Minggu yang ke dua puluh kalinya gue lalui tanpa seorang kekasih. Setiap Malam Minggu tiba pasti tempat tongkrongan gue adalah di depan computer, orang-orang asyik pacaran di pojokan sedangkan gue asyik pacaran sama naskah dan fesbuk.
Gue geleng-geleng kepala ketika melihat status-status yang bertebaran di beranda fesbuk gue, semuanya update status galau. Syukurlah, ternyata bukan cuma gue aja yang malam minggu pacaran sama computer. Beberapa saat kemudian muncul status di beranda fesbuk gue. Statusnya itu mengalihkan dunia gue, sebab datangnya dari akun fesbuk Restyani Ananda Putri.
Bagi gue jomblo itu jauh lebih mulia daripada punya pacar. Jomblo cara Allah melindungi diri kita dari perzinahan. Tatapan mata, pegangan itu juga masuk dalam perzinahan.
Waw, statusnya makjleb dan 100% benar. Gue like statusnya Resty. Resty, semakin hari dia semakin buat hati gue cenat-cenut. Dia sudah cantik, pintar, baik hati dan sholehah pula. Dia lah wanita idaman yang gue cari selama ini. Cewek seperti dia mana mungkin mau diajakin pacaran. Gue harus cepat-cepat melamar dia.
Nggak tahu kenapa tangan gue gatal pengen update status galau juga. Gue isi sebuah tulisan di kolom Apa yang anda pikirkan?
Jujur gue saat ini lagi jatuh cinta sama seorang cewek. Dia sudah cantik, pintar, baik hati dan sholehah pula. Dial ah wanita idaman yang gue cari selama ini. Cewek seperti dia mana mungkin mau diajakin pacaran. Gue harus cepat-cepat melamar dia. Melamar? Haruskah gue melakukan hal itu? Gue punya pengalaman pahit tentang melamar cewek. Waktu gue mau melamar Helena, eh ternyata dia malah selingkuh dengan pria lain. Sakit rasanya. Gue takut hal itu terulang kembali. Menurut teman-teman gimana nih? Mohon sarannya ya? Oh ya buat pembaca-pembaca novel gue jangan pada patah hati dan mewek ya baca status gue.
Klik bagikan. Dalam beberapa detik status yang gue ketik sudah terpasang manis di beranda fesbuk. Sambil nungguin orang yang komen, gue mau menengok grup kepenulisan dulu. Siapa tahu aja ada info tentang lomba menulis novel atau info kuis berhadiah novel gratis. Hari gini siapa coba yang nolak gratisan?
Baru aja masuk ke grup, eh sudah ada 5 pemberitahuan di fesbuk. Gue nengok pemberitahuan dulu. Ajaib, baru 2 menit status terpasang di beranda fesbuk ternyata sudah ada 10 orang yang menyukai status gue. Lebih mengejutkan lagi Resty ada mengomentari status gue. Gue nggak jadi menengok grup kepenulisan, sekarang gue klik tulisan Restyani Ananda Putri mengomentari status anda untuk membaca komentar dari dia.
Restyani Ananda Putri
Jangan gitu. Yang lalu biarlah berlalu, jangan diungkit-ungkit lagi kalau kamu takut melamar cewek kapan kamu nikahnya? Menikah itu kan ibadah, lakukanlah dengan niat karena Allah. Insya Allah, dia yang Maha Kuasa memberikan kemudahan.
5 Menit yang lalu . Suka.
__ADS_1
Lagi-lagi apa yang dikatakan Resty itu. Mungkin rencana melamar Helena gagal dan berujung patah hati karena niat gue salah, niat bukan karena Allah tapi karena ingin mengambil warisan. Jari-jari tangan gue mulai mengetik balasan buat komentar Resty.
Gibriel Alexander
Iya, apa yang kamu katakan benar banget. Thanks ya udah menyadarkanku. Btw kamu pernah terluka gak saat hendak dilamar.
1 Menit yang lalu . Suka.
Baru beberapa detik, komentar Resty muncul lagi.
Restyani Ananda Putri
Semua orang pasti pernah terluka. Aku dulu lebih sakit dari yang kamu rasakan. Pasanganku busuknya kelihatan, ketika menjelang pernikahan padahal catering, foto prawedding, fiting baju semua sudah siap.
Gibriel Alexander
Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya? Boleh dong kamu certain tentang pengalaman percintaanmu, siapa tahu aja kisah cintamu bisa kujadikan novel hehehehe
Beberapa detik yang lalu . Suka.
30 menit kemudian.
Sudah setengah jam gue menunggu balasan komentar dari Resty, tapi nggak dating juga. Ketika gue tengok kolom obrolan yang ada di sebelah kanan, nama Resty nggak ada lagi. Itu artinya kan Resty sudah nggak online lagi. Resty kemana ya? Gue jadi gelisah sendiri. Gelisah takut apa yang gue ucapkan di komentar tadi menyinggung hati dia. Lalu, gue tinggal tidur.
Tiba-tiba ponsel di tangan bergetar. Aduh, siapa sih yang nelpon gue malam-malam? Jangan-jangan yang nelpon gue si peneror gelap. Hiii, gue merinding sendiri. Gue angkat nggak ya?
__ADS_1
Hati kecil gue mengatakan bahwa orang yang menelpon gue itu berhati mulia. Gue menuruti kata hati kecil gue untuk mengangkat telepon. Gue meraih HP yang ada di atas kasur. Gue lihat nama penelpon di layar HP. Mata gue melebar, pikiran gue salah. Ternyata orang yang menelpon gue itu bukan si peneror gelap melainkan dari cewek yang bikin hati gue cenat-cenut. Siapa lagi kalau bukan Restyani Ananda Putri? Cepat-cepat gue menekan tombol answer.
“Halo, Res, kamu kemana sih? Aku tungguin kamu di fesbuk tapi kamu nggak nongol lagi. Jamuran tahu, nungguin komentar dari kamu!” Gue menyerocos tiada henti.
“Hehehe …, sorry. Tadi aku sakit perut, terus BAB dulu makanya aku off. Abis selesai BAB langsung deh aku menelpon kamu. Kalau dipikir-pikir nggak enak ngebahas masalah pribadi di fesbuk. Ntar dibaca orang.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Syukur? Kamu mensyukuri aku sakit perut?”
“Eh … eh maksudku nggak gitu. Aku bersyukur karena nggak marah sama aku. Tadi aku piker kamu tersinggung sama ucapanku di komentar.”
“Mana mungkin sih aku bisa marah sama cowok seganteng kamu.”
Dipuji Resty rasanya gue mau terbang ke langit tujuh bidadari. Ternyata bukan cewek aja yang geer saat dipuji cowok, cowok juga kalau dipuji jadi geer. Baru kali ini gue ngerasain dipuji cewek. Selama gue pacaran sama Helena dia nggak pernah memuji gue. Aduh, Helena lagi Helena lagi. Kenapa conba gue selalu ingat Helena?
“Halo Gibriel kamu kok diem? Kamu masih hidup kan?”
Pertanyaan Resty membuyarkan seluruh lamunan gue tentang Helena. Ya, gue lagi telponan sama Resty jadi nggak boleh ingat Helena.
“Masih dong.”
“Syukur deh. Bay the way kamu masih ingin tahu tentang kisah cintaku nggak?”
“Boleh, kalau kamu nggak keberatan menceritakannya aku akan senang hati mendengarkannya.”
“Gini ceritanya … blablabla.”
Resty menceritakan perjalanan cintanya secara rinci dan jelas. Gue manggut-manggut mendengarkan ceritanya. Jadi terharu dengan kisah hidupnya Resty. Ya, Resty wanita yang kuat dan tegar. Satu bulan menjelang pernikahannya, dia malah dihadapkan dengan kenyataan pahit. Kebusukan calon suaminya terbongkar, ternyata calon suaminya itu sudah beristri dan mempunyai anak.
Gue sama Resty itu mempunyai persamaan. Sama-sama mengetahui kebusukan orang yang dicintai menjelang pernikahan. Gue masih beruntung dari Resty, mengetahui kebusukan Helena saat belum melamar dirinya. Kasihan, Resty. Pengen deh gue menyembuhkan luka hatinya dengan cinta gue yang tulus. Kalau gue bisa mendapatkan cinta Resty, gue akan selalu jujur ke dia.
“Halo, Gib kamu masih dengarin aku kan?” tanya Resty di seberang telpon. Saking asyiknya dengan pikiran gue sendiri, gue nggak sadar kalau Resty sudah bercerita.
Tuttuttut… tuttt…
__ADS_1
Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Resty pasti ngambesk, dia merasa dicuekin saat dia bercerita. Huft, makhluk yang namanya cewek memang paling susah dimengerti. Sifat pengambekannya itu lho bikin cowok pusing 7 keliling.
Gue melirik jam yang menempel di dinding kamar. Astaga, sudah jam 1 dini hari. Ngomong sama Resty bikin gue lupa waktu. Bahkan gue lupa sama naskah dan terror yang dihadapi. Resty, lo satu-satunya cewek yang bisa membuat gue bahagia dan jatuh cinta lagi. Berhubung sudah malam saat tidur. Namun, sebelum tidur gue mau mematikan komputer tercinta dulu.