Takut Jatuh Cinta

Takut Jatuh Cinta
Bersatunya Cinta (Maretha Agnia)


__ADS_3

Aku sekarang berada di La Donna Hochzeitsatelier, studio gaun pengantin di Schierling, Jerman. Gairah adalah akar dari profesi untuk "La Donna". Sayangnya, hanya ditemani Mareta. Soalnya Gerald sedang sibuk kerja, katanya nanti nyusul.


Tiga puluh menit aku mengitari studio gaun pengantin ini, aku nggak kunjung menemukan gaun yang pas.


"Nin, kita udah muter-muter setengah jam masa nggak ada gaun yang cocok selera lo?" Pandangan Maretha tertuju ke Mbak Praminiaga. "Mbaknya udah liatin kita terus. Pasti dia dalam hati julid kalau kita kere dan cuma mau liat-liat aja."


"Suuzon deh lo. Gue tuh bingung milih yang mana. Abis bagus-bagus semua."


"Mau gue pilihin?" tawar Maretha.


"Boleh."


Giliran Maretha yang berkeliling di seluruh sudut studio pengantin. Ajaibnya, baru sepuluh menit dia kembali dengan membawa lima setel gaun berwarna putih, cream, pink soft.


"Nih, cobain satu-satu sana."


"Mbak, kamar gantinya di mana ya?" tanya Maretha ke pramuniaga dengan Bahasa Jerman yang fasih.


Mbak Pramuniaga menuntun kami ke ruang ganti. Aku pasrah harus mencoba satu per satu gaun-gaun ini.


Gaun pertama aku coba adalah model Ball gown berwarna gold dengan detail rumit yang memenuhi gaun sangat cocok untuk orang yang menginginkan gaya klasik. Jujur, aku kurang suka dan nyaman mengenakannya. Berat banget bagian bawahnya.


Aku keluar ruang ganti untuk meminta pendapat Maretha. "Gimana? Bagus nggak?"


Maretha menggeleng. "Nggak like. Kayak kelambu dan kurungan ayam."


Aku kembali lagi ke kamar ganti untuk mencoba gaun kedua, model mermaid weding warna cream. Hasilnya tetap sama Maretha nggak suka. "Kayak terlalu ketat. Nant lo susah napas dan kesandung pas jalan.


Hal itu juga terjadi saat mencoba gaun ketiga model long tail warna soft pink dan keempat model klasik.


Ketika aku sudah capai coba lima gaun, kali ini Model ruffle merupakan salah satu model gaun yang paling tren di tahun ini. Kali ini aku suka sama gaunnya. Nggak tau di mata Maretha bagus atau nggak. Kalau sampai, Maretha tetap nggak suka, aku mau cari butik lain saja. Dengan lemas aku keluar kamar ganti.

__ADS_1


Mata Maretha berbinar hingga nyaris nggak berkedip. "Nah, kalau yang ini baru cakep. Lo terlihat cakep bangettttt. Coba lo muter."


Aku menuruti permintaannya. Berputar. "Sempurna sih, tapi kayak ada yang janggal apa ya?"


Maretha terlihat serius berpikir. "Ah, kurang senyum. Lo dari tadi gue perhatiin kayak lemes dan nggak semangat. Lo niat nikah nggak sih?"


"Niat sih. Tapi gue sendiri juga merasa aneh, janggal. Nggak tau apa."


"Jangan-jangan lo sebenarnya belum sepenuh hati mau nikah sama Gerald gara-gara belum move on dari Gerhard?" tebak Maretha.


Aku terdiam. Bisa jadi apa yang dibilang Maretha ada benarnya juga.


"Diam berarti benar tebakan gue. Ya ampun, Nin. Plis deh. Nikah itu sekali seumur hidup. Lo harus benar-benar yakin sama pernikahan lo. Lo mau seumur hidup sengsara dengan pernikahan setengah hati?"


Lagi-lagi aku nggak bisa jawab. "Terus gue harus apa dong?"


"Ngomong jujur sama Gerald sebelum terlambat."


Aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku di belakang. Ketika aku membalikkan badan, nggak ada siapa pun.


Tinggal 2 jam lagi aku akan terbang ke Indonesia. Sebelum ke bandara, aku menyempatkan diri mampir ke Heringsdorf. Tempat ini bisa dibilang tempat bersejarah bagiku. Di sinilah Gerald melamarku secara resmi.


Dalam hitungan hari aku sah menjadi istri Gerald. Siapkah aku menjalani hari itu tiba? Entah mengapa keraguan masih menyelimuti hatiku.


“Cinta itu aneh ya. Semakin aku menghindarinya, cinta itu semakin mendekatiku. Seperti halnya aku, sekuat apapun kamu menghindariku pada akhirnya takdir mempertemukan kita lagi.” Terdengar suara pria yang sangat familiar di telingaku.


Aku tak sanggup menoleh ke sumber suara. Takutnya jika aku melihat wajah tampannya lagi maka aku akan semakin mencintainya. Oh Tuhan, kenapa dia mesti ada di sini juga?


“Kenapa kamu masih ada di Jerman? Bukankah harusnya sudah ada di Indonesia? Besok kan hari pernikahanmu dengan Cicilia.”


“Aku sudah pulang ke Indonesia seminggu yang lalu, mengantarkan jenazah Cicilia.”

__ADS_1


“Hah? Serius? Cicilia dah nggak ada?” tanyaku shock mendengar apa yang diucapkan Gerhard barusan.


“Iya, sebelum dia meninggal, dia sempat minta permintaan terakhir sama aku dan kamu.”


Dahiku berkerut. Bisa-bisanya Cicilia mengucapkan permintaan terakhir yang berhubungan denganku. “Permintaan apa?”


Dia mengeluarkan surat dari saku celananya. Lalu memberikan surat itu kepadaku. “Kamu baca sendiri surat terakhir Cicilia.”


Mataku melebar begitu membaca surat Cicilia. Benar-benar sulit dipercaya cewek yang pernah saingan mendapatkan Gerhard justru ingin Gerhard bersatu denganku.


“Ret, perlu kamu tahu apapun kesalahanmu di masa lalu tak akan mengurangi rasa cintaku ke kamu. So, kamu mau nggak nikah ma aku? Bukan demi mewujudkan permintaan Cicilia, tapi memang karena aku mencintaimu.”


Tes.


Cairan bening mengalir begitu saja. Aku terharu mendengar ucapannya. Buru-buru aku menghapus cairan bening itu. Aku tak ingin kelihatan cengeng di depan Gerhard. “Kamu mungkin bisa menerima kesalahanku di masa lalu tapi gimana dengan Gibriel? Nggak akan pernah bisa. Cepat atau lambat dia akan menjebloskanku ke penjara.”


“Aku berani menjamin nggak ada seorang pun yang bisa memasukkan kamu ke penjara.”


Ingin sekali aku menjawab lamaran Gerhard dengan kata ‘ya’ tapi seketika aku teringat Gerald. Aku menggeleng pelan. Air mata semakin deras mengalir. “Kita tetap nggak bisa bersatu.”


“Apa karena aku kamu nggak bisa menerima lamaran Gerhard?”


Mataku melotot melihat Gerald tiba-tiba-tiba ada di depanku. Mendadak firasat jadi tak enak. Takut terjadi perkelahian antara Gerhard dan Gerald. “Gerald, pertemuanku dengannya ini benar-benar di luar dugaanmu. Kamu jangan marah ya.”


Dia tersenyum manis seraya mempelai pipiku dengan lembut. “Hey, siapa yang mau marah-marah sih? Tadinya aku ke sini mau menjemputmu, eh ternyata sudah ada yang menjemput hatimu duluan. Dengerin aku, walaupun aku cinta sama kamu sejak SMP tapi aku tak mau jadi penghalang dua orang saling mencintai. Jika kamu mencintai Gerhard, bersatulah dengannya. Aku ikhlas kok.”


Diam-diam aku salut dengan apa yang dilakukan Gerald. Aku tahu persis perasaannya pedih dan perih saat dia ikhlaskan aku bahagia dengan Gerhard.


Aku memeluk Gerald. "Kok kamu tiba-tiba melepasku?"


"Aku kemarin dengar obrolanmu sama Maretha. Dari sana aku sadar nggak seharusnya aku menjebakmu dalam kondisi pernikahan terpaksa. Menikahlah dengan orang yang kamu cintai."

__ADS_1


Kini tak ada lagi alasanku menolak Gerhard. Segera aku menjawab lamarannya dengan kata, “Ya, aku mau menikah denganmu Gerhard.”


Aku dan Gerhard berpelukan dan berciuman mesra. Nggak peduli kami berada di tempat umum serta ratusan mata memandang kami dengan tatapan ilfeel. Ya, pasti kali ini aku benar-benar bahagia. Hidup memang seplot twist itu.


__ADS_2