Takut Jatuh Cinta

Takut Jatuh Cinta
Rahasia Terbongkar (Gibriel Alexander)


__ADS_3

Suasana di kamar pasien itu terasa senyap. Hanya terdengar bunyi jam yang berdetak dan alat-alat rumah sakit. Vindy sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien, kepalanya dibalut dengan perban. Ia bagaikan Putri Tidur yang sudah hampir seratus hari tetap setia mengatup kedua matanya. Karena kecelakaan mobil yang menimpanya, dia koma, itulah yang terjadi pada Vindy. Vindy satu-satunya keluarga gue di dunia ini. “Ah, gue benar-benar takut. Gue sangat takut kehilangan dia,” batin gue yang duduk di tepi ranjang Vindy. Sedari tadi gue terus setia duduk di sini, menangis sambil menggengam tangannya.


“Pokoknya gue harus menemukan orang yang menabrak Vindy. Gue nggak akan membiarkan orang itu hidup tenang,” tekat gue.


Gue merogoh saku celana untuk mengambil HP. Gue mau menelpon teman gue yang detektif buat melacak keberadaan orang yang menabrak Vindy.


Kuingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu.


Baru saja gue pengen menelpon eh HP gue bunyi. Gue lihat layar HP, 1 Pesan diterima yang tertulis di layar HP. Klik open untuk membaca pesan itu.


From : Restyani Ananda Putri


Saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari hidupmu. Perlu kamu ketahui aku mencintaimu tapi aku juga yang membuatmu gelisah. Aku lah yang mengirim terror-teror kepadamu dan aku juga yang menabrak Vindy. Aku melakukan ini karena sakit hati sama kamu, kamu jadi penulis sombong banget. Cacian dan perlakuan kasarmu masih melekat di hatiku. Semoga apa yang aku lakukan bisa menyadarkanmu dan membuat kamu menjadi lebih baik. Selamat tinggal Gibriel.


Emosi gue langsung naik ke atas kepala ketika membaca sms dari Resty. Kedua kalinya gue dipertemukan dengan iblis berwajah bidadari. Gue mulai jatuh cinta dengannya eh dia tega melakukan hal jahat kepada gue. Kenapa cewek-cewek yang gue cintai ngggak ada yang waras?


HP yang gue pegang, gue lempar jauh-jauh.


Prang!


Kepingan-kepingan HP jatuh berserakan di lantai. HP pecah bisa beli yang baru. Nah, kalau hati yang hancur kemana membeli hati yang baru? Semua cewek sama aja. “Mulai detik ini gue nggak akan jatuh cinta lagi.” Gue bertekad meneruskan sumpah yang pernah gue ucapkan di Restaurant Segarra.


Hmmm …Resty gue nggak akan biarin dia hidup tenang. Enak aja bikin adik gue koma eh main kabur aja. Gue harus cari dia sampai ketemu. “Vin, doain gue ya agar gue bisa menemukan Resty. Dia orang neror kita selama ini dan dia juga yang menabrak lo. Gue harus bikin hidup dia menderita," ujar gue berbicara sama Vindy. Meskipun Vindy koma tapi gue yakin Vindy bisa mendengar ucapan gue.


Gue beranjak dari tempat duduk tapi tiba-tiba gue merasa ada yang menarik tangan gue. Gue menoleh ke samping. Alhamdulillah, do ague dikabulkan. 3 hari koma akhirnya mata Vindy terbuka, ia sadar.


“Alhamdulillah, akhirnya lo sadar juga Vin. Gue panggil dokter dulu ya?”


Vindy menggeleng, “Nggak usah kak. Gue Cuma sebentar kok. Gue mau bicara penting sama lo.”

__ADS_1


“Lo kan baru sadar, bicaranya nanti aja ya?”


“Cuma sebentar kok kak. Gue mau bicara tentang sebuah rahasia besar.”


“Rahasia apa?”


“Gue sudah menemukan orang yang neror kita selama ini.”


“Resty orangnya?”


“Bukan. Coba lo baca buku diari yang ada di tas gue. Nah, lo akan menemukan jawabannya. Kak, Resty nggak salah. Sekarang justru Resty dalam bahaya. Lo harus selamatin dia!”


“Oke, kalau emang benar Resty nggak salah gue akan menyelamatkannya.”


Setelah mendengar ucapan gue Vindy tersenyum, lalu tak berapa lama mata Vindy terpejam lagi.


Tiiiiiiiiit…!


“Innalillahi Wa inna Ilaihi Roji’un. Adikmu telah berpulang ke Rahmatullah,” ujar dokter singkat.


“Vindy, jangan tinggalin gue!” jerit gue sekeras-kerasnya. Namun jeritan gue tak mengubah keadaan nggak bisa membuat Vindy bangun kembali. Gue berdoa agar Vindy tenang di alam sana bersama ayah dan bunda.


***


Gue meraung-raung di kamarnya Vindy. Gue benar-benar terpukul atas meninggalnya Vindy. Kemarin Vindy masih bercanda sama gue, tapi sekarang dia menyusul ayah dan bunda ke surge. Kenapa sih satu persatu orang yang gue sayang pergi meninggalkan gue? Apakah gue ditakdirkan untuk hidup sendirian?


Pandanganku tiba-tiba beralih pada sebuah buku tebal yang terletak di meja di tepi ranjang, dengan cover berwarna pink bertuliskan “Diary’s Nindya” Kemarin ada seorang kakek-kakek menyerahkan diari ini ke gue kata kakek itu buku diari ini beliau temukan di tempat Vindy kecelakaan.


“Bukan. Coba lo baca buku diari yang ada di tas gue. Nah, lo akan menemukan jawabannya. Kak, Resty nggak salah. Sekarang justru Resty dalam bahaya. Lo harus selamatin dia!”

__ADS_1


Gue teringat kata-kata Vindy yang terakhir kalinya, sebelum ia menghembuskan napas terakhir. Apa buku diary ini adalah buku diari yang dimaksud Vindy? Ia segera meraih buku yang sudah membuat rasa penasarannya memuncak, segera ia membuka lembar per lembar.


Diary’s Nindya


Hal 1


Gibriel Alexander, dari awal gue ketemu dia gue sudah kesemsem sama dia. Dia sudah cakep blasteran Jerman dan Arab anak orang kaya pula. Sayangnya dia sudah punya cewek. Dengar-dengar sih bentar lagi dia mau melamar cewek. Gue patah hati. Hmmm … tapi bukan Nindya nama gue kalau nggak bisa naklukin cowok yang gue suka. Apapun yang terjadi pokoknya gue harus bisa dapetin Gibriel.


Hal 2.


Setelah sekian lama gue menunggu akhirnya Gibriel putusan juga sama ceweknya. Ini kesampatan gue pedekate sama Gibriel. Gue harus semangat dapetin cinta Gibriel.


Hal 3


Gila, sekarang Gibriel jadi penulis terkenal. Mana dia sombongnya minta ampun pula. Gue sms dia eh dia malah judes banget bales sms gue. Gue sakit hati. Gue bersumpah akan ngebales perbuatan Gibriel 3 kali lipat.


Hal 4


Yes, gue berhasil nemuin ide buat membalas rasa sakit hati gue sama Gibriel. Ide yang ada di kepala gue adalah meneror dia, dia pasti panic. Nah, gue mucul untuk nenangin dia. Lambat laun Gibriel pasti akan ke semsem sama gue. Kebetulan gue punya teman namanya Resty, dia bisa manfaatkan buat melakukan rencana gue. Dia nggak mungkin bisa nolak, dia banyak hutang budi sama gue.


Hal 5


Gawat! Semua rencana yang gue susun rapi gagal total gara-gara Resty jatuh cinta sama Gibriel. Gue harus merubah rencana baru. Rencana barunya adalah membunuh Gibriel dan Resty. Kalau gue nggak bisa mendapatkan cinta Gibriel mereka berdua harus mati.


Gue menutup buku diari milik Nindya. Apa yang ditulis Nindya sudah cukup membuktikan bahwa Resty tidak bersalah. Hati gue dipenuhi rasa bersalah karena telah memfitnah Resty.


“Sekarang justru Resty dalam bahaya. Lo harus selamatin dia!”


Lagi-lagi kata-kata yang diucapkan Vindy sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya kembali terngiang di telinga gue. Seketika gue tersadar, Resty dalam bahaya. Benar kata Vindy gue harus menyelamatkan Resty.

__ADS_1


“Resty, I am Coming. Gue akan datang untuk menyelamatkan lo,” ucap gue sebelum melajukan sepeda motor kesayangan.


__ADS_2