Takut Jatuh Cinta

Takut Jatuh Cinta
Epilog (Gibriel Alexander)


__ADS_3

Gue duduk di bawah pohon kepala. Sumpah, capek banget seharian muter-muter mencari Resty tapi hasilnya nihil. Resty nggak gue temuin keberadaannya. Gue tanya teman-teman di kampusnya tapi mereka nggak ada yang tahu dimana keberadaan Resty.


“Aduh, Resty lo di mana sih? Gue kangen lo. Ya Allah, selamatkanlah Resty dan pertemukanlah saya dan Resty kembali.” Doa gue.


Gue teringat buku diary Nindya. Astaga, kenapa gue baru ingat Nindya? Resty pasti disekap Nindya. Semangat gue muncul lagi. Semangat buat menemukan keberadaan Nindya. Pokoknya gue harus bisa menemukan Nindya, kalau sampai gagal gue bakal menyesal seumur hidup.


Drrrrt. Bergetar saku celana Gue. Gue sadar bahwa lagu itu merupakan nada dering di HP. Gue merogoh saku celana untuk mengambil benda tersebut. Tak lama kemudian HP telah berada dalam genggaman gue. Dahi gue berkerut ketika melihat layar HP.


Unknown Number


Calling.


Cepat-cepat gue menekan tombol answer, siapa tahu aja yang menelpon bisa memberikan petunjuk.


“Halo,” ujar gue singkat.


“Halo juga. Apa benar ini Gibriel Alexander?” tanya seorang pria di seberang telpon.


“Iya benar, ada apa ya?”


“Saya menemukan gadis cantik di sebuah rumah yang baru dibangun. Kondisinya tergolek lemas.”


Astaga! Jangan-jangan itu Resty. “Oke, pak saya segera ke sana! Tolong kirim alamat rumahnya.”

__ADS_1


Tiuut … Tuuut sambungan telpon terputus.


Gue langsung melajukan mobilnya. Sekitar 10 menit Gue tiba di alamat rumah yang diberikan oleh bapak yang menelponnya tadi. Di dalam rumah tersebut gue memang menemukan Resty tapi gue tak menemukan Nindya. Mungkin dia sudah kabur. Tapi syukur lah Resty sudah ditemukan dalam keadaan selamat. Cepat atau lambat yang namanya penjahat pasti tertangkap.


***


Pantai Anyer, tempat gue berpijak saat ini. Angin berhembus sepoi-sepoi dan pemandangan pasir putih yang terbentang di sepanjang pantai dengan disertai jernihnya air laut menjadikan pantai ini sebagai tempat favorit untuk bersantai. Kedua kalinya gue menginjakkan kaki di pantai ini.


Jujur, saat gue kembali dating ke pantai ini perasaan gue campur aduk ada sedih tapi juga ada bahagianya. Sedih, karena gue harus ingat Vindy yang sudah tiada. Di pantai ini Vindy pernah memberi kejutan di hari ulang tahun gue yang ke dua puluh tiga. Gue jadi kangen Vindy. Bahagianya adalah di pantai ini gue bertemu dengan Resty.


Hari ini adalah hari ulang tahun Resty. Gue mau memberi kejutan ulang tahun di pantai ini. Resty suka banget melihat sunset alias senja. Gue tahu, pantai ini letaknya menghadap ke barat pantai ini bisa dijadikan tempat romantic untuk melihat sunset. Nah, gue ingin memberi kejutannya pada saat sunset biar makin romantis.


“Gibriel ngapain kamu ngajakin aku ke pantai Anyer lagi?” tanya Resty.


Gue tersenyum simpul. Gue melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri gue. Ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.50. Bentar lagi senja akan dating. Gue melihat Resty, ia lagi memanyunkan bibir. “Gib, kamu nyebelin deh. Aku nanya, kamu cuma senyum doang.”


Senja yang sedari tadi gue tunggu akhirnya muncul juga. Resty melonjak kegirangan saat melihat senja. Pantas saja Resty suka melihat senja, senja memanglah sangat indah namun kehadirannya Cuma sebentar. Gue agak terganggu dengan orang-orang yang masih saja sibuk berlalu-lalang di hadapan. Menurut gue, sunset itu momen sakral yang seharusnya dihormati semua orang. Gue sebal dengan orang-orang yang tidak menghargai karya Tuhan yang maha indah itu.


Ya, sekarang lah saat yang tepat memberi kejutan di hari ulang tahun Resty. Gue menepuk tangan. Sesaat kemudian muncullah beberapa anak buah gue. Mereka mengangguk dan mulai mengerjakan tugas dari gue.


Ada yang menabur bunga di tepi pantai, bunga-bunga itu membentuk hati. Di dalam hati itu bertuliskan I LOVE U. Ada pula yang memainkan alat music sambil menyanyikan lagu Yovie n Nuno yang bejudul Janji Suci.


Aku ingin mempersuntingmu tuk yang pertama dan terakhir

__ADS_1


Jangan kau tolak dan buatku hancur. Kutak akan mengulang untuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Aku lah yang terbaik untukmu.


Gue berlutut di depan Resty, tangan kanan gue menggenggam tangan Resty. “Res, di hari ulang tahunmu pada saat senja tiba aku ingin mengungkapkan sesuatu sama kamu,” ujar gue memulai pembicaraan.


Dahi Resty berkerut, “Mengungkapkan apa?”


Jatung gue berdegup tak menetu. Begini ya rasanya melamar cewek. Rasanya benar-benar sesuatu. Rasanya itu lebih horror dari saat pengambilan rapot sekolah. Gue menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


“Resty, aku sangat mencintaimu. Maukah kamu meletakkan cintaku di hatimu?”


“Aku akan meletakkan cintamu di hatiku saat kamu sudah siap menjadikanku satu-satunya wanita yang kamu cintai.”


“Ya, sekarang lah aku akan menjadikan kamu satu-satunya wanita yang kucintai. Resty, will you marry me?”


Resty tersipu malu. Sesaat kemudian ia mengangguk. “Iya, aku mau.”


“Mau apa?”


“Mau jadi istri kamu.”

__ADS_1


Saking bahagianya Resty langsung gue gendong. Pantai Anyer menjadi saksi cinta gue sama Resty. Pandangan gue tertuju ke arah pohon kelapa besar yang jaraknya agak jauh dari kami. Gue melihat seorang gadis cantik, wajahnya bersinar cerah, dan memakai gaun berwarna putih. Tak salah lagi gadis itu adalah Vindy, adik kesayangan gue. Gue tersenyum ke arahnya. Dia membalas senyum gue. Senyumannya sangat berarti buat gue. Senyumannya itu mengisyaratkan bahwa ia merestui cinta gue sama Resty. Ia berbalik dan pergi. Gue rasa, itu jawaban atas pertanyaanku tadi. Terima kasih Vindy, gue akan selalu menyayangimu.


Vindy, dial ah orang yang menyatukan cinta gue sama Resty. Kalau saja Vindy nggak mengungkap rahasia yang sebenarnya pasti gue akan kehilangan Resty untuk selamanya-lamanya.


__ADS_2