Takut Jatuh Cinta

Takut Jatuh Cinta
Rencana Jahat (Restyani Ananda Putri)


__ADS_3

Pohon beringin, bagi banyak orang adalah pohon paling angker. Tempat tinggalnya para dedemit seperti kuntilanak, pocong, dan lain-lain. Tapi bagiku pohon beringin adalah tempat yang asyik buat mencari kedamaian hati. Mana mungkin orang berani rebut di dekat pohon beringin?


Setiap kali nggak ada dosen, pasti larinya ke pohon beringin ini. Sekadar menulis diari atau mendengarkan musik. Aku membuka diari kesayangan. Diari adalah tempat curhat paling aman. Diari-ku dilengkapi fasilitas kunci jadi dijamin rahasiaku nggak terbongkar oleh siapapun.


Hal 1


Di kala malam hadirkan sunyi. Terdiam aku di tengah sepi. Melihat aku dengan tatapan kosong. Seolah tak percaya dengan apa yang kamu lakukan padaku? Dimana cintamu yang dulu diberikan padaku? Cinta yang mampu membuatku bahagia.


Dimana canda tawa kita? Dimana impian kita untuk hidup berdua selamanya? Semua hilang tak terduga. Lenyap bersama janji manismu yang busuk. Kini kamu menghadirkan air mata dan kepedihan hati. Andai kamu bisa melihat air mata tanpa suara. Tangisan hati tak terdengar. Hanya kepedihan yang kurasa.


Kenapa ada pertemuan jika berakhir dengan perpisahan? Kenapa berawal dengan perkenalan jika berakhir tanpa menyapa? Rasa kehilangan akan terus bersemayam di hati. Berusaha melupakan saat-saat indah bersamamu, semakin menambah luka di hatiku.


Sendainya tidak ada pertemuan, pasti aku tidak akan merasakan sakitnya sebuah perpisahan. Namun, jika tidak diawali dengan pertemuan, maka aku tak kan pernah bisa merasakan indahnya cintamu. Kini aku sadar dan mengerti, perpisahan mengajarkanku betapa indahnya sebuah pertemuan.


Aku tersenyum sendiri membaca tulisan di halaman pertama. Aku menulis tulisan itu tepat saat Aldy memutuskan hubungan denganku. Kini Aldy hanyalah kenangan masa lalu. Sebab hatiku telah terisi oleh pria lain. Jari-jari tanganku mulai menggoreskan pena di buku diari tercinta.


Saat pertama kali menatap photomu


Aku terpesona akan wajah tampanmu


Saat ku dengar suaramu


Jantungku berdegup kencang


Saat dekat denganmu


Hatiku merasa nyaman


Hatiku berkata kau lah yang selama ini yang ku cari


Apakah ini cinta?


Ku harap ini bukan cinta


Takkan pernah kumiliki dia


Karena banyak yang menginginkannya


Aku hanya bisa dekat bisa dekat dengannya


Walaupun ada yang mencacinya


Karena ada satu kekurangannya


Untukku dialah yang kudamba


Mungkinkahkah aku memilikinya?


Rasanya hanya khayalan belaka


Cinta khayalan memang pahit terasa


Tapi tak terlalu pahit untukku


Bagiku mencintainya hal terindah dalam hidupku


Apa yang kutulis adalah curhatan hatiku terdalam. Ya, aku jatuh cinta lagi. Gibriel Alexander adalah pria yang berhasil mencuri hati dan mampu menggantikan posisi Aldy. Benar kata orang benci bisa berubah jadi cinta. Awalnya aku juga benci banget sama Gibriel, abis jadi penulis sombong banget. Tapi setelah kemarin ketemu dia di toko buku dan makan bareng di kafe aku jadi kesemsem. Dia nggak seburuk yang kukira.


Kemarin dia bercerita banyak padaku, katanya dia sombong seperti itu karena dia mengucapkan sumpah cinta “Nggak akan jatuh cinta sama cewek manapun.” Makanya itu dia menghindari pembaca novelnya karena takut jatuh cinta sama salah satu dari mereka. Cara dia menghindari mereka adalah bersikap jutek dan cuek.


“Woy! Lagi ngapain nih?” teriak Nindya, sahabatku.


“Eh copot… eh copot.” Penyakit latahku kumat. Nindya sih datang-datang ngagetin aja, aku itu orangnya latahan. Aku mengelus dada, untung jantungku nggak copot beneran. Aku gelagapan menutup diari tercinta lalu menguncinya. Bisa gawat kalau diariku dibaca Nindya. Nidya itu orangnya ember, ceplas-ceplos dan nggak bisa menjaga rahasia.


“Hay, Nin tumben lo nyamperin gue? Katanya pohon beringin serem? Kok lo mau sih datang ke sini?” tanyaku.


“Gue nyamperin lo ke sini karena ada perlu sama lo penting!”


“Hah? Perlu sama gue penting? Ada apa coba?”


“Orang yang nabrak lo kemarin Gibriel Alexander kan?”


“Iya, emang kenapa?”

__ADS_1


“Berati lo benci banget kan sama dia?”


“Udah nggak lagi. Emang ada apa sih ngomongin dia terus?”


“Gue mau ngajakin lo kerjasama buat ngasih pelajaran ke Gibriel.”


“Gue yang dibikin kesel kenapa lo yang pengen ngasih pelajaran sama Gibriel.”


“Adik gue itu patah hati gara-gara ulah Gibriel yang sok. Gue mau balas dendam sama dia. Biar dia kapok dan bisa menghargai pembacanya.”


“Ya, ampun Nindya. Balas dendam itu dosa, dan dendam bisa menghapus semua amal baik lo. Sayang kan amal baik yang sudah lo kumpulin harus lenyap dalam sekejap?”


“Lo kagak usah ceramahin gue! Pokoknya lo harus bantuin gue buat ngasih pelajaran ke Gibriel tengik!”


“Bantuin apa dulu nih? Emang lo punya rencana apa?”


“Sini gue bisikin.” Nindya mendekat ke arahku lalu membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku memasang telinga baik-baik. “Zttttt…. Bla..blabla.”


Mataku melotot mendengar apa yang dia ucapkan di telinga. “What? Lo gila? Gue nggak mau bantuin lo!”


“Lo mau menentang gue? Lupa siapa yang bayarin kost lo, uang kuliah lo dan belanja lo tiap bulan?”


Aku terdiam. Ya, selama ini aku banyak berhutang budi pada Nindya. Uang kuliah, uang kost bahkan uang belanja bulanan semua dari dia. Aku pikir dia selama ini tulus membantu tapi ternyata nggak. Dia punya maksud terselubung. Sekarang dia ingin memanfaatkanku untuk menjalankan rencana jahatnya.


“Kalau gue nggak mau bantuin lo gimana?”


“Kalau lo nggak mau bantuin gue, nggak masalah sih lo harus balikin uang yang gue keluarkan buat lo sepuluh juta.Nggak sanggup bayar terpaksa gue jeblosin lo penjara. Pilihan ada di tangan lo Resty.”


Whats? 10 juta? Uang darimana coba? Orang tuaku di kampung aja hanya berprofesi sebagai petani, buat makan aja susah apalagi bayar 10 juta? Nggak mampu bayar dia akan menjebloskanku ke penjara. Hiiii … merinding aku membayangkan hal itu terjadi.


“Oke, gue mau bantuin lo tapi kalau ketahuan jangan bawa-bawa gue!” ujarku akhirnya. Nggak ada pilihan lain, selain menuruti permintaannya.


“Nah, gitu dong itu baru sahabat gue!” Nindya merangkulku erat.


“Ya, Allah, maafkan aku. Aku nggak bisa mencegah rencana jahatnya Nindya.” Doaku dalam hati.


***


“Resty! Ya, ampun lo jam segini belum bangun?” teriak seseorang wanita bersuara cempreng. Tanpa membuka mata pun aku sudah tahu pemilik suara cempreng tersebut. Nggak lain adalah suaranya Nindya. Huh, menyebalkan! Ngapain coba dia dating pagi-pagi ke kosanku? Ganggu aku tidur aja.


“Males ah. Hari ini gue masuk siang jadi pengen bangun siang juga.”



“Lo harus bangun sekarang! Sekarang lo harus menjalankan tugas.”



“Tugas apaan sih? Tugas kuliah yang dikasih dosen sudah kelar.”



“Bukan itu, tapi tugas memberi pelajaran Gibriel Alexander. Lo lupa sama perjanjian kita kemarin?”



Aku menepuk jidat sendiri. Astaga, aku beneran lupa sama perjanjian kemarin. Dengan terpaksa akhirnya aku membuka mata. “Nah, gitu dong lo bangun.”



“Terus tugas gue sekarang ngapain nih?”



Nindya membuka tasnya, nggak lama kemudian dia menyerahkan kotak handphone kepadaku. “Pertama-tama lo harus menerima barang pemberian dari gue.”



Dahiku berkerut, “Barang apaan nih? HP? Kan bulan kemarin lo sudah ngasih gue BB.”



“Udah terima aja barang dari gue. Barang yang gue kasih untuk melancarkan aksi kita.”

__ADS_1



Ya, sudah deh aku menerima barang pemberian Nindya. Aku sekarang kan sudah jadi kacungnya Nindya, apapun yang dia suruh harus dituruti. Lumayan juga dapat HP keren dan harganya mahal. Orang miskin seperti aku mana sanggup beli HP kayak gini.



“HP yang gue kasih ini, dilengkapi fasilitas canggih, bisa mengubah suara kita menjadi suara orang lain. Saat lo menelpon Gibriel, dijamin suara lo nggak akan ketahuan.”



Aku mengangguk tanda mengerti. “Nah, sekarang coba lo telpon Gibriel!” perintah Nindya.



“Terus gue ngomong apa sama Gibriel?”



“Kalau soal itu gampang! Ntar gue kasih tahu apa yang harus lo ucapin saat ngomong sama Gibriel. Cepetan telpon dia, nomor HP-nya sudah gue masukin di HP itu.”



Aku mencari nama Gibriel di kontak telepon HP yang diberikan Nindya. Setelah ketemu langsung deh klik yes/oke.



Tuuut … Tuut



Telpon belum tersambung. Aku sabar menunggu Gibriel mengangkat telpon dariku. Kuklik tombol loudspeaker biar nanti saat Gibriel mengangkat telpon Nindya bisa mendengar apa yang diucapkan Gibriel.



“Halo, dengan siapa dan dimana?” terdengar suara Gibriel di seberang telpon. Akhirnya Gibriel mengangkat telponku juga. Aku tersenyum simpul, dari suara Gibriel aku sudah bisa menebak dia baru bangun tidur.



“Halo, apa benar ini nomor Gibriel Alexander?”



“Iya, benar saya Gibriel. Anda siapa ya?”



Aku memandangi Nindya seolah-olah mengisyaratkan, “Gue harus ngomong apa?” Nindya mengerti apa yang kumaksud. Dia menyerahkan sepucuk kertas kepadaku. Di kertas yang diberikan Nindya tertulis sebuah kata-kata. Hmmm … sekarang giliranku yang mengerti maksud dia, dia memintaku mengatakan apa yang tertulis di kertas ini.



“Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas gue pengen lo mundur dari dunia penulis.” Ujarku sesuai dengan apa yang Nindya tulis di kertas.



“Eh emang lo siapa? Emak gue bukan, ngapain lo minta gue mundur dari dunia tulis? Nih, ya gue kasih tahu ke lo gue membangun karir di dunia tulis dari titik nol. Gue nggak akan mundur sampai kapanpun.”



Nindya kembali menulis sebuah kalimat di kertas. Lagi-lagi aku mengucapkan kalimat yang ditulis Nindya. “Kalau lo nggak mau mundur dari dunia tulis, hidup lo akan sengasara dan adik kesayangan lo bakal celaka!”



“Eh, lo siapa berani mengancam gue? Banci banget sih lo beraninya cuma ngancem doang. Ayo lo jantan, ayo temui gue di arena tinju, kita duel satu lawan satu.” Nada bicara Gibriel mulai meninggi.



Nindya merebut HP dari tanganku dan dia menekan tombol mengakhiri telpon. Nindya jingkak-jingkrak kegirangan. Dia langsung memelukku erat. “Thanks ya Res, lo mau kerjasama sama gue. Lo emang sahabat gue yang paling baik.”



Aku terdiam. Nindya mengatakan aku sahabatnya yang paling baik? Benarkah demikian? Aku malah merasa aku ini hanya kacungnya Nindya. Aku memandangi Nindya, dia terlihat sangat bahagia. Hatiku merasa bahagia melihat Nindya bahagia tapi sisi hatiku yang lain, sedih dan merasa bersalah telah membuat Gibriel gelisah karena mendapat terror.


__ADS_1


“Ya, Allah ampunilah dosaku. Aku melakukan ini karena terpaksa.”


__ADS_2