Takut Jatuh Cinta

Takut Jatuh Cinta
Teror Bermunculan (Gibriel Alexander)


__ADS_3

Gue sama sekali nggak semangat buat kuliah. Sepanjang perjalanan menuju kampus pikiran gue melayang jauh ntah kemana. Melayang karena memikirkan perkataan orang iseng yang menelpon gue tadi pagi. “Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas gue pengen lo mundur dari dunia penulis. Kalau lo nggak mau mundur dari dunia tulis, hidup lo akan sengasara dan adik kesayangan lo bakal celaka!”


Ntah kenapa kata-kata yang dia ucapkan terus terngiang di telinga gue. Benarkah yang diucapkannya? Gue jadi merinding, takut ancamannya beneran dilakukan. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama Vindy.



Saking asyiknya melamun, tanpa gue sadari motor kesayangan gue sudah memasuki kampus tercinta alias sampai ditujuan dengan selamat. Segera gue memarkirkan motor dulu. Habis itu baru deh berjalan menuju ruangan tempat belajar. Aha, gue baru ingat. Di kampus ini kan gue punya teman seorang detektif, gue minta dia aja mencari tahu siapa sih yang meneror gue tadi pagi? Kebetulan teman gue itu satu jurusan bahkan satu ruangan sama gue. Gue semakin mempercepat langkah, nggak sabar menemui dia.



Sesampai di ruangan gue celingak celinguk mencari teman gue yang detektif itu namun sosok yang gue cari nggak kunjung gue lihat batang hidungnya. Kemana dia hari ini? Saat gue memerlukan dia, dia malah nggak nongol.



Bola mata gue tertuju sama orang-orang bergerumung di bangku gue. Gue jadi penasaran ada apa dengan bangku gue? Gue menerobos kerumunanan.



“Ada apa sih? Kok pada mengumpul di bangku gue?” tanya gue pada salah satu dari mereka.



“Tuh, lihat ada yang naroh kado gede banget di meja lo.”



Gue mengedarkan pandangan ke meja. Benar, di meja gue ada kado gede banget. Kadonya itu dibungkus memakai kertas kado warna pink, ada pita-pitanya pula. Gue jadi bingung, perasaan hari ini gue nggak ulang tahun deh kok dapat kado ya?



“Cieee … Gibriel yang makin kece aja. Udah pasti kado ini dari fans lo, sekarang kan lo dah jadi penulis novel terkenal,” kata Dicky, salah satu teman gue.



Tanpa piker panjang gue langsung membuka kado tersebut. Jantung gue mulai berdegup kencang takut isinya bom.



Eng … I eng ….



Ternyata isinya bikin mata gue beserta teman-teman melotot dan mau muntah. Isinya adalah 10 bangkai tikus lengkap dengan darahnya pula. Hii, jijik.


“Lo pada tahu nggak siapa yang ngasih kado ini ke meja gue?” Mereka semua mengangkat bahu, tanda nggak tahu. Gue mau menutup kado itu lagi dan ingin membuangnya di tong sampah. Tapi tiba-tiba mata gue tertuju pada kertas yang ada di samping bangkai tikus. Cepat-cepat gue mengambil kertas itu dan membaca tulisannya.


GIMANA KEJUTANNYA KEREN KAN? INILAH AKIBAT DARI PERBUATAN LO. EITS, INI BELUM SEBERAPA MASIH BANYAK LAGI KEJUTAN-KEJUTAN DARI GUE. SELAMA LO MASIH NGGAK MAU MEMENUHI PERMINTAAN GUE, GUE BAKAL NGEGANGGU HIDUP LO.



Damn!



Teror lagi? Gue yakin 100% orang yang mengirim kado bangkai tikus ini orang yang sama dengan orang yang menelpon gue tadi pagi. Heran deh, kenapa sih hari ini terror munculan? Siapa coba yang berani-berani neror gue? Ancamannya nggak bisa diremehkan, gue harus hati-hati dan segera menemukan orang. Awas, aja kalau sampai gue berhasil nemuin dia gue nggak akan biarin dia bernapas lagi.


__ADS_1


Gue meraih HP dari saku celana. Gue mau sms Vindy dulu. Dia harus tahu masalah ini, biar dia lebih berhati-hati. Tadi pagi kan si peneror juga mengatakan kalau gue nggak mundur dari dunia tulis maka adik gue bakal celaka.



TO : Vindy, adik gue tersayang.


Vin, lo sudah nyampe kampus kan? Lo sekarang temuin gue di warung soto belakang kampus! Ada yang mau gue omongin sama lo. Penting pake banget!


Klik send to Vindy.



Drrrt … Drrrt



HP gue bergetar. Di layar ponsel tertulis 1 pesan diterima. Langsung gue klik open. Ternyata Viindy yang membalas sms dari gue.



From : Vindy, adik gue tersayang


Ada apa kak? Iya, gue baru nyampe kampus. Oke, gue segera kesana. Sampai jumpa di sana ya?



\*\*\*



Wuih, warung soto yang ada di belakang kampus hari ini rame banget. Vindy sudah stand by di meja paling ujung. Waw, Vindy pintar milih tempat duduk Gue berjalan mendekati Vindy.




“Gue nggak disuruh duduk dulu?”



“Oh, ya udah duduk aja.”



Gue duduk di sebelah Vindy. Gue membisikkan sesuatu ke telinga Vindy. Memberitahukan tentang kronologis terror yang gue dapat. Karena warung soto rame banget, makanya gue ngasih tahunya bisik-bisik aja. Gue nggak mau kasus ini semakin heboh.



Mata Vindy terbelalak. “Serius lo kak dapet terror?” teriak Vindy. Gue menutup mulutnya memakai telapak tangan gue.



“Sttt … jangan keras-keras. Nanti heboh.”



“Lo serius kak dapet terror?” Vindy menurunkan nada suaranya. Gue mengangguk pelan. Nggak lupa gue menunjukkan surat ancaman si peneror yang tadi ia selipkan di bangkai tikus.

__ADS_1



Vindy membaca tulisan itu dengan saksama, tak lama kemudian ia meremas surat ancaman itu. Wajah Vindy memerah. “Kurang, ajar siapa coba yang berani meneror kakak gue? Kak, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus lapor polisi.”



“Jangan gegabah dulu! Gue punya rencana lain.”



“Rencana apa?”



Gue kembali membisikkan sesuatu ke telinga Vindy. Vindy manggut-manggut. Ntah manggut-manggut karena mengerti atau karena mengantuk.



Gimana ide gue keren kan? Lo setuju nggak sama ide gue?” tanya gue setelah selesai berkata lewat bisikan.



“Ide lo bagus sih tapi apa nggak kelamaan? Hmmm … maksud gue itu, gue takut sebelum lo beraksi si peneror sudah melakukan ancamannya mencelakai lo.”



“Kalau soal itu lo nggak usah khawatir. Justru lo lah yang gue khawatirkan.”



“Kok gue? Bukannya si peneror ngancem lo?”



“Tadi pagi si peneror gue ngancam lo, kalau gue nggak menuruti kemauannya.”



“Terus gue harus ngapain?”



“Lo harus hati-hati. Kalau pergi ke mana-mana jangan sendirian!”



“Oke, kakak. Lo yang sabar ya?”



Tiba-tiba pelayan soto menghampiri meja kami. Beliau membawa soto 2 mangkuk dan es teh 2 gelas. Gue bingung siapa yang mesan soto? Tadi begitu masuk warung soto gue langsung menyamperin Vindy nggak mesan soto.



“Yang mesan soto gue,” ujar Vindy seolah tahu apa yang gue pikirkan.


__ADS_1


Senyum gue sumringah. Vindy, emang adik gue yang paling pengertian. Dia tahu aja cacing-cacing di perut gue sudah pada demo, minta di isi makanan. Sejenak gue melupakan terror dan sekarang waktunya makan soto.


__ADS_2