
Tatap mata keduanya bertemu, lama saling menatap sampai akhirnya Hilman mengangkat dagu Risa. Semakin lama Hilman semakin mendekat, dengan mata yang terus berfokus pada bibir merah merekah milik Risa.
Semakin lama semua semakin menuntut, perasaan yang semakin menggebu seakan membuat keduanya hanyut semakin dalam. Tangan Hilman yang berkeliaran dengan bebas membuat Risa merintih tidak karuan, tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang terus berjalan dengan cepat Hilman melahap dua gundukan dengan saling bergantian. Setelah lama ia semakin turun kebawah, dan sungguh Hilman tidak bisa lagi menahan hasrat yang terus saja menuntut. Tanpa bicara, ataupun hati-hati ia melakukan penyatuan dengan satu kali sentakan saja.
"Sssstttt......" Risa meringis, merasakan benda itu sangat sakit sekali saat memaksa masuk pada dirinya, seiringan dengan cairan merah yang juga perlahan keluar dari dalamnya.
"Ah....." Hilman merasa sedikit lega, sebab ia dengan mudahnya masuk.
Risa merasa rasa sakit ini sungguh luar biasa, bahkan mengalahkan segalanya. Perlahan Risa merasa sekeliling nya mulai gelap dan ia sudah tidak sadarkan diri.
"Risa!!" dengan berat hati Hilman harus menghentikan permainan yang sudah cukup lama ia dambakan, dan itu karena kesalahannya sendiri.
Wajah Risa yang memucat, seiring dengan kesadaran yang sudah hilang. Lalu apa yang bisa di lakukan oleh Hilman, ia sangat takut dan juga begitu panik. Karena kesalahannya yang bermain dengan begitu kasar, sebab ia memposisikan Risa adalah wanita yang sudah terbiasa dan juga sudah lihai. Namun ternyata ia salah, semua sangat berbeda dari apa yang ia pikirkan tentang Risa.
Hilman mengambil minyak angin, lalu mengoleskan pada bagian leher, tangan, tengkuk, dan juga pada hidungnya. Berharap dengan begitu Risa akan segera sadarkan diri, karena Risa tidak juga sadarkan diri akhirnya Hilman mengambil ponselnya dan mencari seseorang yang bisa membantunya saat ini.
Drettt.
Ponsel Adam yang tergeletak di atas meja mulai bergetar, "Apa kau merindukanku?" Adam yang menerima panggilan Hilman merasa aneh, sebab ini sudah sangat malam bahkan pukul 10:00 malam. Namun entah apa sebabnya Adam sangat bingung, hingga ia berbicara asal.
Hilman merasa sedikit lega saat Adam menjawab panggilannya, kalau tidak mungkin malam ini juga ia akan melarikan Risa ke rumah sakit. Dan apa lagi yang akan ia katakan jika dokter di rumah sakit bertanya penyebab Risa tidak sadarkan diri. Dan saat ini Pun sama, Hilman bingung bagaimana cara memberitahukan kepada Adam mengenai keluhannya saat ini.
Adam yang berada di seberang sana merasa kesal, karena Hilman belum juga berbicara mengenai tujuannya untuk menghubungi dirinya.
"Hilman, apa kau hanya ingin mendengar suara ku saja?" kesal Adam di seberang sana, karena ia ingin segera pulang ke rumah.
Dengan perasaan yang sedikit kesal Hilman memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan, "Adam, bisakah kau ke rumah ku?" tanya Hilman dengan sedikit ragu.
__ADS_1
"Apa Ibu mu sakit?" tebak Adam, sambil masuk ke dalam mobil miliknya. Kemudian ia mengemudikan nya, sebab ia sudah lelah seharian berada di rumah sakit. Dan ia butuh pulang ke rumah untuk beristirahat.
"Bukan, Risa," mulut Hilman sulit sekali berbicara, tapi ia cukup panik saat melihat wajah pucat Risa, "Risa pingsang sudah hampir satu jam, dan aku takut," ujar Hilman mengatakan maksudnya.
"Baik tunggu aku di rumah mu," jawab Adam sebab rumahnya melewati rumah Hilman.
"Adam," panggil Hilman dari seberang sana.
"Aku akan segera sampai!" Adam ingin sekali segera mengakhiri panggilan itu, tapi Hilman masih ingin berbicara dan Adam dengan kesabaran sedikit menunggu, "Cepat bicara!" geram Adam, sebab tidak biasanya Hilman berbicara seperti itu.
"Kau jangan katakan ini pada siapapun, termasuk Ibu ku. Dan kau masuk lewat pintu belakang," pinta Hilman dengan rasa cemas yang semakin besar.
"Aneh sekali!" gerutu Adam, dan ia langsung mengakhiri panggilan sepihak. Adam terus memacu laju kendaraan nya di jalan, ia sekarang sangat penasaran mengapa Hilman begitu cemas namun harus di rahasiakan, "Apa Risa hamil?" gumam Adam, "Tapi tidak mungkin, mereka baru menikah," kata Adam lagi yang terus berdebat dengan dirinya sendiri.
Adam memarkirkan mobilnya di luar gerbang rumah Hilman, satpam sudah di beritahu perihal kedatangan Adam. Dan ia di minta untuk mengantarkan Adam ke dalam kamar Hilman, tanpa sepengetahuan Ibu Sintia.
Hilman seketika melihat Adam, cepat-cepat ia bangun dari duduknya dan menarik Adam masuk. Tidak lupa Hilman mengunci pintu kamar dengan cepat, bahkan Adam di buat semakin bingung.
"Cepat periksa keadaan nya!" pinta Hilman.
Adam tidak ingin banyak bertanya, ia berjalan mendekati ranjang dan ingin membuka selimut Risa. Karena ia harus memeriksa. Namun, tiba-tiba ada tangan yang menahan, dan itu Hilman, Adam kian menatap bingung.
"Aku mohon jangan!"
Adam urung membuka selimut dan menatap Hilman dengan bingung, "Maksud mu apa?" tanya Adam, "Aku harus memeriksa nya bukan?"
"Iya, tapi.....kau cukup membuatnya sadar," kata Hilman, "Dia tidak sadar, karena aku...." Hilman menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Tanpa di jelaskan dengan baik Adam sudah mengerti, apa lagi saat melihat tengkuk Risa yang sedikit terlihat. Dimana ada tanda macan yang mungkin baru menerkam nya, "Mmmmfffffpp....." Adam menahan tawa saat mendengar penjelasan Hilman.
"Puas!" geram Hilman, dengan mata yang menatap Adam begitu tajam, "Cepat buat dia sadar!" titah Hilman.
"Baru kali ini aku menemukan pasien yang aneh seperti mu, seperti kau harus aku ajarkan teorinya," kata Adam sambil terkekeh geli.
"CK!" Hilman memijat dahinya dan tidak menyangka ini bisa terjadi, hanya karena ia pikir Risa sudah terbiasa lalu memperlakukan Risa layaknya wanita handal dan sudah hebat karena terbiasa.
Setelah Adam menangani Risa, kini Risa mulai sadar. Ia perlahan membuka mata dan melihat Hilman yang berada di hadapannya.
"Aku pamit, dan coba dengan cara lembut. Dan jangan lupa berguru pada ku," celetuk Adam.
"Dokter sialan!" kesal Hilman.
"Ahahahhaha......" Adam keluar sambil tertawa terbahak-bahak, sebab ia berhasil membuat Hilman menjadi malu.
"Mas," suara lemah Risa mulai memanggil Hilman.
"Iya, maaf ya," kata Hilman dengan rasa bersalah.
Risa mengangguk, dan keduanya diam dalam keheningan. Risa melihat Hilman yang terus saja mengusap wajah, dan Risa sama sekali tidak mengerti mengapa malam sudah larut tapi Hilman belum juga bisa tidur.
"Kenapa Mas?"
Hilman mengusap tengkuknya, "Risa, bisakah kau memberikan nya lagi, aku semakin tidak tahan."
Risa mengangguk, "Tapi jangan kasar ya Mas," pinta Risa.
__ADS_1
Hilman mengangguk dan dengan cepat ia melahap bibir Risa.