
Menemui Calon Besan
***
Di Waktu yang sama.
Susan yang lelah karena banyak pekerjaan rumah yang banyak sekali. Merasa tubuh nya sakit. Dan ia mulai menaiki tangga untuk melihat Rani dan meminta Rani untuk memijat nya. Susan tau kalau Rani tadi berpamitan keluar tapi Susan berpikir mungkin anak nya itu sudah pulang.
Clek!.
Susan membuka pintu kamar Rani. Susan melihat Rani tidak ada di kamar nya. Lalu Susan berniat ingin menutup pintu. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Setumpuk amplok tersusun rapi di atas ranjang Rani. Susan merasa sedikit penasaran. Ia mulai masuk dan mendekati setumpuk amplop itu. Susan duduk di tepi ranjang. Lalu tangannya mengambil satu amplop. Dan Susan mulai membukanya. Saat susan melihat isinya Susan dapat menyimpulkan. Bahwa yang mengirim surat itu adalah kekasih Rani.
Susan melihat Aplop itu. Membolak balikan amplopnya untuk mencari siapa nama pengirim nya. Tapi Susan tidak menemukannya. Lalu susan mengambil surat yang lainnya dan Susan melihat ada beberapa amplop bertuliskan Fatimah♥️Abdullah. Susan mulai memikirkan sesuatu. Tapi itu tidak terlalu di pikirkan Oleh Susan. Nama awal Rani kan juga Fatimah. Pikir Susan. Mungki orang itu lebih suka memanggil Rani dengan sebutan Fatimah.
Rani yang sudah sampai di rumahnya. Mulai turun dari mobil nya. Rani berjalan dengan bahagia. Bibir nya selalu tersenyum. Dan menyanyikan lagu cinta. Rani mulai menaiki tangga. Rani melihat pintu kamarnya terbuka. Lalu ia melihat ternyata Susan lah yang ada di dalam sana. Sedang melihat surat-suratnya. Dengan cepat Rani berlari. Dan merebut semua surat-surat itu lalu menyimpannya di dalam tas nya.
"Rani!!" Susan berteriak karena ia sangat terkejut Rani tiba-tiba datang dan merebut surat-surat itu dari tangan nya.
"Bunda ngapain. Lihat barang pribadi Rani?" kata Rani. Yang menujukan wajah marah nya pada Susan.
"Kenapa?" tanya Susan.
"Kan Rani malu Bun" jawab Rani.
"Cie cie cie. Udah punya pacar niyee" Susan mulai mengoda Rani.
"Hehehehe" Rani tersrnyum. Menunjukan dua baris gigi nya.
"Tapi itu siapa. Dan tinggal di mana?" tanya Susan. Susan sangat penasaran dan ingin
tahu.
"Bunda. Apa sih. Mau tau aja urusan anak muda" kata Rani.
"Ayolah Ran cerita sedikit sama Bunda." Susan terus merayu Rani agar Rani bercerita padanya.
__ADS_1
Rani duduk di samping ranjan. Bersebelahan dengan Susan.
"Ini nama nya Abdullah Abraham Bun. Anak nya Ibu Silpi" kata Rani.
Susan sangat senang Rani menyebutkan kedua nama itu.
"Silpi. Teman arisan Bunda?" tanya Susan.
"Iya Bunda"
"Itu ber-arti ini Abdullah yang baru pulang dari Amerika itu kan?" tanya Susan.
"Iya"
Susan langsung memeluk tubuh Rani karena merasa bahagia. Dengan apa yang di dengarnya. Siapa yang tidak bangga bila masuk ke dalam keluarga Abraham. Salah satu pengusaha ternama di negeri ini.
"Aduh Rani. Bunda engga mimpikan. Bisa besanan sama jeng Silpi" tanya Susan dengan senyum bahagia nya.
"Iya Bunda" jawab Rani.
"Tapi di surat itu. Bunda baca Abdullah manggil kamu Fatimah. Sepertinya dia suka sekali dengan nama depan kamu ya?" kata Susan.
"Tidak masalah. Yang penting Bunda bisa berbesan dengan Jeng Silpi" kata Susan lagi.
Susan keluar dari kamar Rani. Ia ingin menemui Silpi. Dan membicarakan hubungan Rani dengan Abdullah. Karena Susan tidak mau kalau nanti Rani gagal menjadi menantu di keluarga Abraham. Susan juga sebenarnya ingin menjodoh kan Rani dengan Abdullah. Tapi ia belum sempat membicara kan nya dengan Silpi.
Susan keluar dari rumah nya. Dan memasuki mobilnya. Ia terus mengemudi dengan kecepatan sedang. Setelah beberapa menit perjalanan kini Susan sampai di kediaman Keluarga Abrahan. Rasa bahagia begitulah yang saat ini ia rasakan.
Tot tok tok
Susan mengetuk pintu. Dan seorang pembantu membuka pintu.
Clek!.
"Masuk Bu" kata Pembantu itu. Pembatu-pembatu di rumah itu sudah mengenal Susan. Karena Susan adalah teman majikan nya. Dan sering kali datang ke rumah itu.
__ADS_1
"Jeng Silpi nya ada?" tanya Susan dengan sedikit angkuh. Susan memang terkesan angkuh sipat nya yang judes itu memang warisan dari keluarganya. Yang memang hampir semua bersipat sombong. Bahkan Rani tidak boleh berteman dengan orang sembarangan maka Silpi akan sangat marah bila mengetahui itu.
"Ibu ada baru saja pulang" kata Penbantu itu.
Lalu tiba-tiba dari kejauhan Silpi. melihat Susan ada di ruangan tamu nya.
"Jeng Susan" kata Silpi dan berjalan mendekat pada Susan.
"Ya jeng Silpi" kata Susan.
"Ayo duduk" kata Silpi.
Silpi dan Susan duduk di kursi ruang tamu itu. Susan langsung memulai pembicaraan hubungan kedua anak mereka dan mengenai surat-surat yang di kirim Abdullah pada Rani. Susan sudah tidak sabar ingin menjadi bagian dari keluarga Abraham.
"Jeng gimana kalau kita tunangkan saja dulu. Rani dan Abdullah" kata Susan.
"Saya sih ngikut aja jeng. Dan saya juga tidak mau terburu-buru. Karena saya melum mendengar dari anak saya Abdullah" kata Silpi.
Silpi memang ingin Abdullah segera menikah. Namun Silpi tetap memberikan ke putusan itu pada Abdullah. Karena mau bagaimana pun Abdullah yang menjalani.
Tapi berbeda dengan Susan. Susan terus memaksa dan merayu Silpi. Agar Silpi menyetujui pertunangan putri nya dan Abdullah segera di laksanakan.
"Ayo lah jeng. Biar keduanya bisa lebih dekat. Dan mana tau kedua nya akan melangsungkan pernikahan karena sudah semakin dekat" kata Susan.
"Tapi jeng" kata Silpi yang masih ragu kalau bukan Abdullah sendiri yang meng-iakan pertunangan itu terjadi.
"Ayo lah jeng. Biar kita juga cepat dapat cucu" kata Susan.
Mendengar kata cucu. Silpi mulai tersenyum. Dan membayangkan bagai mana bila ia memiliki cucu. Sungguh itu lah saat ini yang di inginan Silpi.
"Ya sudah Jeng. Kalau begitu saya juga setuju" kata Silpi.
"Kita kasih kejutan aja ya jeng. Nanti di hari ulang tahun Perusahaan. Kita umumkan juga pertunangan mereka. Tapi kita siapkan dulu cincinnya. Pasti nanti mereka sangat bahagia" kata Silpi.
"Ah iya jeng. Saya setuju. Beberapa hari lagi kan Perusahaan Abraham group. Ulang tahun ya jeng" kata Susan.
__ADS_1
Susan sangat bahagia. Akhirnya impiannya masuk ke dalam keluarga Abraham akan tercapai. Itu akan membuatnya semakin di segani dan juga semakin di hormati orang-orang. Karena keluarga akan semakin ternama.
Keduanya terus bercerita. Sambil sesekali tertawa. Karena rasa bahagia yang akan sebentar lagi mereka rasaka. Apa lagi keduanya membayangkan bila menjadi besan itu sunggu suatu impian.