Tentang Cinta Kita

Tentang Cinta Kita
Bab 6 "Abdullah menemui Rani "


__ADS_3

"Udah dong. Kamu becandanya jangan kelewatan aku beneran engga suka" kata Abdullah.


"Aku serius. Bukan nya kamu udah terima surat-surat dari aku?" tanya Abdullah.


"Surat?" tanya Fatimah dengan rasa bingung.


"Sudah satu minggu. Setiap hari aku mengirim kan surat untuk mu melalui Adam" kata Abdullah.


"Abdullah kau jangan membuat ku pusing!" kata Fatimah.


"Aku serius. Dan kau pun beberapa kali pernah membalas surat ku" kata Abdullah.


"Tunggu dulu Abdullah. Aku tau kau mengirim surat. Tapi bukan kah surat itu untuk Rani" kata Fatimah.


"Rani?. Aku mengirim surat untuk mu. Bukan kah aku menulis nama mu. Di beberapa surat ku itu?" tanya Abdullah. Karena Abdullah juga semakin bingung dengan ucapan Fatimah.


"Tapi selama ini Rani yang menerima surat-surat itu. Dan kalau kau menulis nama Fatimah. Nama depan Rani juga Fatimah" kata Abdullah.


"Apa jadi selama ini. Yang menerima dan membalas surat ku itu Rani?" tanya Abdullah.


"Iya" jawab Fatimah dengan rasa bingung.


"Kau jangan bercanda Fatimah Aku mengirim surat-surat itu untuk mu. Dan kenapa Rani yang meneriama nya?" tanya Abdullah lagi. Abdullah tidak tau ternyata selama ini Rani yang membalas semua surat nya. Dan pantas saja Rani terlihat begitu dekat dengan nya. Bahkan Rani sampai mengantar kan makan siang untuk nya.


"Aku benar-benar serius Abdullah" kata Fatimah dengan pasti. Untuk meyakin kan Abdullah.


"Itu berarti aku sudah menyatakan cinta pada Rani? Dan bukan pada mu" kata Abdullah.


Abdullah mulai menunduk. Dan mulai memujat kepalanya yang terasa pusing. Karena Adam salah dalam menyampaikan surat.


"Lalu bagai mana sekarang?" kata Fatimah.


"Aku harus menemui Rani dan menjelaskan semuanya" kata Abdullah.


"Engga aku engga mau. Dia sayang sama kamu. Dan aku engga mau menghancurkan ke bahagiaan nya" kata Fatimah. Fatimah memang menyukai Abdullah. Namu ia juga tidak mau merusak persahabatannya dengan Rani.


"Engga. Aku akan temuin dia. Dan menjelaskan semua nya" kata Abdullah.


"Aku engga setuju"


"Oke. Kamu sekarang memikirkan perasaan sahabat mu. Lalu bagai mana dengan perasaan ku?" tanya Abdullah.


Abdullah bukan orang yang pandai bersandiwara. Apa lagi dalam hal cinta. Cinta baginya bukan lah hal yang bisa di permainkan. Dan kalau ia mengatakan cinta pada seseorang itu berarti dia memang mencintai orang itu. Dan begitu pun sebaliknya. Ia tidak akan mau berpura-pura mencintai lalu suatu hari nanti ada yang sakit hati.

__ADS_1


"Aku mohon Abdullah. Kamu kan bisa belajar mencintai Rani. Seperti kamu mencintai ku" kata Fatimah.


"Itu tidak akan pernah terjadi." Kata Abdullah.


"Kamu bisa belajar" kata Fatimah.


"Tidak!" jawab Abdullah dengan tegas.


Abdullah menarik tangan Fatimah. Dan memasukan Fatimah kedalam mobil nya.


"Kita mau ke mana?" tanya Fatimah.


"Ke rumah Rani" jawab Abdullah sambil mengemudi.


"Tidak. Aku tidak mau" jawab Fatimah.


Abdullah sama sekali tidak perduli dengan ucapan Fatimah. Ia terus mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak sabar menanyakan kebenaran tentang surat-surat nya.


Kini kedua nya sudah sampai. Rani yang berada di halaman rumah nya melihat ada mobil yang berhenti di depan halaman rumahnya. Wajah nya sangat berbinar karena melihat Abdullah yang turun dari mobil itu. Tapi senyumannya perlahan hilang karena ia melihat Abdullah bersama Fatimah.


"Abdullah. Kamu kenapa bisa sama Fatimah?" tanya Rani. Dengan raut wajah jengkel nya.


"Aku tadi bertemu dengannya di jalan" jawab Abdullah.


"Rani aku ingin bicara!" kata Abdullah.


"Ya sudah ayo masuk dulu" kata Rani. Lalu Rani melihat Fatimah dengan pandangan tidak suka. Karena ia tadi melihat Abdullah bersama Fatimah satu mobil.


"Fatimah. Kamu pulang saja. Saya mau bicara dengan Abdullah" kata Rani dengan sombong nya.


Fatimah tidak percaya mendengar ucapan Rani yang mengusirnya hanya karena ia sedang bersama Abdullah. Tapi ia tidak perduli.


"Ya sudah aku pergi saja" kata Fatimah. Fatimah pergi dan meninggalkan Rani bersama Abdullah. Ada sedikit rasa sakit di hati Fatimah dengan tingkah Rani barusan pada nya.


"Ayo kita masuk" kata Rani.


Abdullah masuk bersama Rani. Dan duduk di kursi ruang tamu. Abdullah ingin melurus kan kesalah pahaman itu. Ua tidak mau terseret masalah yang tidak berujung.


"Kamu mau minum apa?" tanya Rani.


"Tidak usah. Duduk saja" kata Abdullah sambul menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


"Baiklah" kata Rani dengan bahagia.

__ADS_1


"Rani aku tidak ingin berbasa basi dan aku ingin mencari kebenaran kemari" kata Abdullah.


"Kebenaran?" tanya Rani bingung.


"Apa kau yang menerima surat-surat dari ku?" tanya Abdullah.


"Iya" jawab Rani.


"Maaf Rani. Sepertinya ada sedikit kekeliruan" kata Abdullah.


"Kekeliruan maksud nya?"


"Ya. Sebelunya aku minta maaf. tapi aku harap kamu tidak sakit hati dengan apa yang aku katakan karena kesalah pahaman ini harus di luruskan" kata Abdullah.


"Apa kamu bicara saja. Aku tidak mengerti?" kata Fatimah.


"Kamu benar menerima surat yang aku kirim?" tanya Abdullah.


"Iya." jawab Rani dengan tersenyum.


Abdullah diam dan menundukan kepalanya. Karena ia bingung bagai mana cara mengatakannya pada Rani.


"Abdullah ada apa?" tanya Rani.


"Rani. Sebenar nya semua surat-surat itu untuk Fatimah dan bukan untuk mu. Namun Adam sepertinya salah memberikan surat itu pada mu!" kata Abdullah.


Rani sangat shock mendengar perkataan Abdullah. Rani ttidak percaya dan ia yakin Abdullah pasti sedang bercanda dengannya.


"Kamu jangan becanda" kata Rani.


"Rani. Dengar kan aku baik-baik. Aku mengirim semua surat itu untuk Fatimah. Dan melalui Adam. Namun Adam memberikan surat itu pada mu. Dan bukan pada Rani" kata Abdullah memperjelas ucapannya.


"Tidak aku tidak percaya"


"Aku minta maaf Rani. Tapi aku tidak mau kesalahan ini berlarut-larut. Dan aku tidak bisa lagi kau menemui ku" kata Abdullah.


"Tidak Abdullah. Aku sudah sangat mencintai mu. Bahkan dari pertama kali kita bertemu. Dan aku tidak akan pernah melepaskan mu" kata Rani.


"Rani. Aku minta maaf. Dan aku tidak mencintai mu. Aku permisi" kata Abdullah Abdullah keluar dari rumah Rani.


Sementara Rani. Masih shock dengan apa yang ia dengar. Ia menagis dan dan berteriak karena Abdullah ternyata tidak membalas cinta nya. Ia sudah membayang kan menjadi nyonya Abdullah Abraham salah satu konglomerat di negeri ini. Namun sepertinya semua nya harus hilang begitu saja karena ternyata Abdullah tidak pernah mengharapkannya.


"Aku tidak akan pernah merelakan mu dengan siapa pun. Termasuk Fatimah. Aku akan melakukan apa pun asal kau menikah dengan ku. Kita liat saja nanti"

__ADS_1


__ADS_2