
Makan Siang
***
Satu minggu kemudian.
Satu minggu sudah berlalu. Butir-butir cinta di hati Rani kini sudah tumbuh menjadi sebuah rasa yang ingin memiliki. Bagai mana tidak Adam setiap pagi memberi nya surat. Dan surat itu dari Abdullah. Wajah ceria nya selalu terlihat begitu jelas membuat siapa yang melihat dapat menyimpulkan bahwa Rani sedang jatuh cinta.
Siang ini Rani sudah memasak makanan sangat banyak. Ia ingin mengatar makanan untuk Abdullah. Ya Rani berniat ingin ke kantor Abdullah. Ia ingin makan bersama Abdullah.
Rani mulai memasuki mobil nya. Bibir nya selalu tersenyum. Rani mulai mengemudi kan mobil nya. Mobil yang sedang waw di jaman nya itu. Tidak berapa lama Rani sampai di Perusahaan keluarga Abdullah. Rani terus berjalan sampai akhirnya dia sampai di depan pintu ruangan Abdullah.
Tot tok tok.
Rani mengetuk pintu. Dan Yuda sekretaris Abdullah yang membuka nya.
Clek!.
"Maaf nona siap" tanya Yuda.
"Saya Rani. Teman Abdullah" jawab Rani.
"Oh. Kalau begitu silahkan masuk nona" Yuda mempersilahkan Rani masuk.
Rani masuk ia mulai berjalan mendekati Abdullah. Dengan tangan nya membawa rantang.
Abdulah yang sedang berkutak dengan pekerjaannya. Mulai mendongkak dan melihat siapa yang datang.
"Rani" kata Abdullah.
"Hay" sapa Rani.
"Ayo duduk" kata Abdullah.
Rani mendudukan dirinya saling berhadapan dengan Abdullah. Rani mulai meletakan rantang di tangannya ke atas meja.
"Aku bawain kamu makanan" kata Rani.
"Oh ya" kata Abdullah.
"Ya dan aku masak sendiri" kata Rani lagi.
__ADS_1
"Hebat ya kamu pinter masak" kata Abdullah sedikit memuji Rani.
Rani merasa bahagia karena mendapat pujian dari Abdullah. Hatinya yang sudah berbunga kini bunga itu menjadi bertambah berwarna lagi. Pipi nya mulai memerah karena pujian itu. Karena ia merasa Abdullah begitu mencintai nya.
Rani tidak tau kalau ia salah meng artikan pujian yang di berikan Abdullah pada nya. Abdullah mengangap Rani hanya teman saja. Karena Abdullah sudah mengisi hati nya dengan satu wanita yang cantik dan anggun Fatimah.
"Ayo makan" kata Rani.
"Ya"
Abdullah mulai memakan makanan itu. Sebenarnya Abdullah sedikit malas makan bersama Rani. Namun Abdullah mengingat Rani adalah sahabat baik orang yang di cintai nya.
"Gimana rasa nya?" tanya Rani.
"Enak" jawab Abdullah berpura-pura tersenyum senang pada Rani.
Clek!.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu. Dan orang yang membuka pintu itu adalah Ibu dari Abdullah. Wanita itu tersenyum dan mulai berjalan mendekat pada Rani dan Abdullah.
"Rani kan. Ini Rani anak jeng Susan kan?" kata Silpi.
Silpi melihat di meja ada makanan. Silpi tersenyum dan mulai mengerti Silpi berpikir Abdullah sudah sangat dekat dengan Rani. Silpi tentu saja bahagia karena ia berpikir akan berbesanan dengan Susan salah satu teman arisannya.
"Ini kamu yang masak" tanya Silpi sambil menunjuk makanan yang ada di meja itu.
"Iya Bu" jawab Rani sedikit kikuk.
"Waw. Kamu selain cantik pinter masak juga ternyata" kata Silpi.
"Kalian sepertinya sudah cukup dekat ya" kata Silpi lagi.
Abdullah tesenyum terpaksa. Ia tersenyum hanya karena menghargai Rani dan Ibunya itu saja di hati nya sama sekali tidak memikirkan apa pun yang kedua wanita itu bicarakan
Abdullah sudah menyelesaikan makannya. Ia menaruh piring yang di tangannya ke atas meja.
"Untung pas lagi laper banget. Dan menghargai sahabat Fatimah" batin Abdullah sambil mengelap sisa-sisa makanan pada mulutnya dengan tisu.
"Wah sepertinya kamu suka sekali ya dengan masakan Rani" kata Silpi.
Rani semakin merasa terbang di awan. Karena ia mengira calon mertua nya sangat menghargai nya. Wajahnya semakin berbinar ia berpikir Silpi juga sangat menyukai nya.
__ADS_1
"Pasti nanti suami kamu bangga punya Istri seperti kamu" kata Rani lagi.
"Ibu bisa saja" kata Rani.
"Betul kan Abdullah?" kata Silpi bertanya pada Abdullah.
Abdullah hanya sedikit tersenyum pada Silpi. Entah itu senyuman untuk jawaban ia atau tidak. Hanya Abdullah yang tau. Tapi seperti itu lah Abdullah. Bila menurutnya orang itu bukan sesuatu yang penting maka ia akan biasa-biasa saja.
"Tuh kan Abdulah saja bilang ia" kata Silpi.
Silpi Menggoda Rani. Rani semakin melayang-layang karena merasa Abdullah juga memuji nya. Dan memang itu lah yang di harapkan Rani. Dan Rani berpikir harapanya sudah terhujud.
Rani mulai membereskan rantang yang tadi ia bawa. Dan menyusunnya kembali. Karena ia akan segera pulang dan juga ia ingin menemui Adam dan Fatimah untuk menceritakan kebahagiaan yang ia dapatkan hari ini.
"Bu Rani pulang dulu ya" kata Rani. Setelah ia membereskan Rantang itu. Dan mulai menentengnya.
"Kenapa buru-buru sekali" kata Silpi.
"Tidak Bu. Saya memang sudah lama di sini" kata Rani.
"Ya engga apa-apa dong. Besok datang lagi ya" kata Silpi.
"Iya bu"
Rani keluar dari ruangan itu Ia trus menyusuri lorong-lorong yang akan membuatnya sampai di jalan keluar. Hati nya sangat bahagia. Dan Rasa bahagia itu terasa semakin indah karena Silpi juga begitu memujinya.
Sementara Silpi yang masih berada di ruang Abdullah. Mulai merasa bahagia. Karena ia berpikir Abdullah dan Rani ada hubungan kusus. Silpi selama ini mengetahi. Kalau Abdullah selama ini tidak pernah menjalin kasih dengan gadis manapun. Tidak ada yang mampu mencairkan hati Abdullah yang seakan membeku.
Semenjak ia sekolah sampai kejenjang pendidikan yang tertinggi yang sudah ia capai. Abdullah sama sekali tidak pernah berpikir untuk memiliki seorang wanita yang akan menjadi pendampingnya. Banyak wanita yang mendekati nya. Tapi Abdullah tidak merasa tertarik sedikit pun dengan wanita itu.
Bahkan Silpi juga sudah mencarikan calon istri untuk Abdullah. Tapi tidak satu pun yang di sukai Abdullah. Terkadang Silpi berpikir kalau anak nya tidak normal. Karena dunia begitu luas dengan beribu wanita namun tidak satu pun yang di bawa Abdullah ke pelaminan.
Silpi sudah mulai menua. Ia juga sudah merasa kesepian dan ia ingin memiliki seorang menantu. Agar ia memiliki teman saat suami dan anak nya sibuk bekerja. Apa lagi Silpi juga sudah ingin menimang cucu dari Abdullah putra tunggal nya itu.
"Abdullah" Silpi memangil Abdullah yang sedang pokus pada kertas-kertas yang ada di tangannya.
"Ya bu" jawab Abdullah. Dengan wajahnya hanya pokus pada pekerjaan yang ada di tangannya.
"Rani cantik ya" kata Silpi.
Abdulah sedikit melirik Silpi. Setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaan nya. Menurut nya pembahasan Silpi sama sekali tidak penting.
__ADS_1