
Happy reading 🙌
"Apa maksud tuan?" Tanya Stella yang kini juga menatap Garfield.
"Aku akan bertanggung jawab Stella. Aku akan mempertanggung jawabkan semua kesalahan padamu, aku akan menikahi mu Stella." Ucap Garfield dengan segala kesungguhannya.
"Be-benar kah itu Tuan?, Tuan a-akan menikahi saya??, tuan tidak berbohong kan?." Tanya Stella memastikan.
"Iya." Mengangguk pasti.
"Tapi tuan, ibu saya tidak tahu masalah yang saya hadapi, ibu saya tidak tau kalau saya emm... Sudah di nodai, karena kalau sampai ibu saya tahu dia pasti sangat hancur." Ucapnya sedih dengan tatapan yang mulai sendu.
Garfield terdiam. Rasa bersalah semakin mengobati hatinya. Akibat dari perbuatan kejinya, seorang gadis yang begitu baik dan lugu harus menyimpan dan menanggung masalah yang di sebabkan oleh dirinya.
Tekad kuat nya untuk segera menikahi Stella semakin bulat. Garfield tidak ingin gadis di depan nya ini menderita lagi karena perbuatannya.
"Baiklah aku akan merahasiakannya." Jawab Garfield setelah beberapa detik terdiam karena larut dalam pikirannya.
"Terimakasih Tuan." Ucap Stella.
Senyum kemenangan begitu menggelora di hati Stella saat ini. Keinginan untuk menjadi istri seorang Garfield lengkap dengan kekayaannya yang tidak akan habis hingga tujuh turunan hanya tinggal selangkah lagi.
"Ternyata untuk menjadi istri dari seorang Tuan Garfield, sangat mudah. Hemm ini semua berkat kalung itu. Terimakasih Sena kamu dan kalung mu itu sudah melancarkan semua apa yang menjadi keinginan ku selama ini." Batin Stella tersenyum puas.
FlashBack On
Sekitar pukul tiga dini hari, Sena keluar dari kamar Tuan Garfield nya. Suana masih nampak begitu lengang tanpa adanya aktivitas apapun. Yang menandakan bahwa masih belum adanya aksi dari para pelayan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Dengan langkah yang tertatih-tatih Sena berusaha menahan rasa perih di bagian terlarang nya.
Dengan tetesan air mata yang masih setia bercucuran membasahi wajah cantiknya. Kesedihan dan kehancuran begitu teramat mendalam di hatinya.
Dilangkahkannya terus kaki jenjang yang tertutup rok panjang itu dengan perlahan. Sesekali Sena berhenti melangkah dan meringis kesakitan di area terlarang nya dan melanjutkan jalannya lagi dengan hati hati.
__ADS_1
Sena menuruni anak tangga secara perlahan, hingga dirinya telah sampai di tempat dimana ia bisa melepaskan segala kepenatannya.
Di atas sebuah ranjang kasur kini dirinya berada. Disandarkannya bagian belakang tubuhnya itu pada papan kasur. Kejadian yang dialaminya benar benar membuat dirinya terpuruk. Hancur, merasa kotor, merasa lalai, itu lah yang di rasakannya.
Tatapannya tertuju ke arah depan. Mengingat memori otaknya akan sang ayah dan juga almarhum ibunya.
"Ayah, ibu, tolong maafkan Sena. Sena sudah mengecewakan ayah dan juga ibu. Sena sudah gagal, Sena tidak bisa menjaga apa yang harus Sena jaga. Tolong maafkan Sena. Ayah, Ibu." Seru Sena sedih saat mengingat Kedua orang tuanya.
"Bu, ibu pasti sedih kan melihat Sena yang seperti ini?, Ibu jangan sedih ya Bu. Sena ingin ibu tetap tersenyum di surga sana. Sena tidak ingin karena masalah yang Sena hadapi ini membuat ibu ikutan sedih. Percayalah Bu Sena akan berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi semua ini, Sena janji setelah ini Sena akan berusaha menjaga diri lebih baik." Serunya dengan mengingat almarhum ibunya.
Di perhatikan nya pakaian yang ia kenakan, terlihat sangat kusut, bahkan ada sebagian dari baju nya yang robek akibat di tarik paksa oleh Tuan Garfield.
Sena ingin mengguyur tubuhnya dengan air, berharap agar bekas kejadian buruk yang di alaminya bisa hilang.
Ia beralih dari kasurnya menuju lemari, hendak mengambil pakaian ganti, di tanggalkannya pakaian kusutnya itu dan beralih pada pakaian yang lebih bersih.
Saat semua pakaian yang Sena butuhkan terasa sudah lengkap, ia merasa ada sesuatu yang kurang dari dirinya. Bahkan itu adalah suatu yang sangat berharga yang di berikan oleh kedua orang tua nya.
"Kalung ku, dimana kalung ku?, Kenapa kalung ku tidak ada. Yaallah, Astagfirullah kalung ku ada di kamar Tuan Garfield. Iya, pasti kalung ku tertinggal di sana, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" Serunya cemas.
Hingga sekitar pukul 09:30 pagi menuju siang, Stella yang kala itu sedang membersihkan ruang tamu melihat para pelayan pria tergesa gesa bersiap menemui tuan Garfield. Pasti ada hal yang sangat penting.
Tidak ingin melewatkan informasi penting. Stella pun beralih ke tempat di mana dirinya bisa mendengar semua perkataan tuannya.
Ia mendengar semuanya dengan jelas. Hingga sebuah rencana jahat telah muncul di kepalanya.
Stella yang ingin rencananya terlaksana pun segera mendatangi Sena di kamarnya. Ia mengancam Sena untuk tidak memberitahu siapa pun tentang apa yang di alaminya dengan Tuan Garfield.
Hingga tidak berselang lama dari itu. Bu Nurul ibu kandungnya sendiri datang mencarinya. Ia ingin dirinya dan juga Sena menemui tuan Garfield.
Stella yang memang sudah mengetahui alasan Tuannya itu benar benar telah memanfaatkan situasi ini untuk mencapai tujuannya. Hingga tiba saat..
"Ingat, kalian harus menjawab dengan jujur, karena kalau sampai kalian berbohong, akan aku pastikan kalian akan mendapatkan hukuman yang tidak akan pernah kalian bayangkan" seru Tuan Garfield pada saat itu.
__ADS_1
Hingga Stella mengaku-ngaku bahwa ia lah pemilik kalung tersebut.
FlashBack Of
Dan seperti ini lah sekarang. Ia tersenyum puas karena sebentar lagi dirinya akan menjadi nyonya Garfield, pewaris tunggal dari keluarga Saquelma.
****
Wanita berusia delapan belas tahun itu kini sedang duduk termenung di atas kasurnya. Setelah kejadian di ruang utama tadi tidak ada niat pun bagi Sena untuk keluar dari kamarnya.
Ketidak beradaannya itu tentu menjadi tanda tanya bagi pelayan wanita lain.
"Bu Nurul, putrimu tadi di ajak bicara hanya berdua dengan Tuan Garfield, memangnya mereka ingin membicarakan apa?." Tanya Bu Ani yang juga ART di rumah Garfield.
"Saya juga tidak tahu Bu, kenapa tuan Garfield ingin bicara berdua dengan putri saya, semoga saja tidak ada masalah." Sahut Bu Nurul yang merasa cemas.
"Iya semoga saja."
"Ayo kita makan dulu, sekarang sudah masuk waktunya makan siang." Seru Bu Ani pada semua temannya yang ada di sana.
Hanya tersisa lima orang pelayan wanita dirumah itu. Tidak ada keberadaan Stella dan juga Sena di antara mereka. Hingga salah satu dari mereka membuyarkan fokus mereka yang sedang makan siang.
"Oh iya Bu Nurul, dari tadi pagi saya tidak melihat Sena, kemana anak itu?" Tanya Bu Eka yang juga bekerja sebagai ART di kediaman Garfield.
Bersambung...
jangan lupa
Like
Komen
Vote
__ADS_1
dan juga tambahkan novel ini ke favorit kalian ya.. terimakasih☺️❤️