
"iya Bu Nurul, di mana Sena?" Tanya Bu Ida yang juga teman mereka
"Eh iya saya lupa cerita pada kalian. Sena saat ini sedang tidak enak badan. Dia sakit ada di kamarnya sekarang." Sahut Bu Nurul.
"Aduh, kasihan sekali anak itu, baru tiga bulan bekerja sudah sakit." Seru mereka sedih.
"Bu Nurul, apa Sena sudah makan Bu?" Tanya Bu Irma yang sedari tadi menyimak.
"Belum Bu Irma, sebentar lagi kalau saya sudah selesai makan, saya akan membawakan dia makan siang." Sahut Bu Nurul.
Mereka pun mengangguk paham. Setelah percakapan singkat itu, kelima wanita parubaya itu kembali fokus menikmati makan siangnya.
"Bu Nurul, biar kan saya yang mencuci piring bekas ibu. Lebih baik Bu Nurul kasih makan siang nya dulu pada Sena, kasihan Sena." Seru Bu Irma.
"Tidak apa apa Bu, mencuci piring tidak lama kok, biar saya yang mencuci piring saya sendiri." Jawab Bu Nurul seraya tersenyum.
"Aduh Bu Nurul, lebih baik ibu antarkan saja dulu makanan untuk Sena. Kasihan anak itu pasti sudah lapar." Sahut Bu Eka dan langsung menyaut piring bekas Bu Nurul.
"Terimakasih ibu ibu, sudah mau peduli pada keponakan saya." Ucap Bu Nurul.
"Tentu saja Bu Nurul, kami peduli pada Sena. Anak itu adalah anak yang baik, kami sudah menganggapnya seperti anak kami sendiri."
Terharu, itu lah yang di rasakan Bu Nurul
Makanan yang akan diberikan kepada Sena pun sudah siap. Bu Nurul terus melangkah menuju kamar pribadi keponakan nya itu. Dengan memegang sebuah nampan yang berisikan nasi lengkap dengan lauk dan pauk nya.
Ya, di kediaman Garfield semua pelayan memiliki kamar masing masing Yang tidak terlalu besar, namun kamar kamar tersebut sangat lah layak untuk di jadikan tempat istirahat untuk seorang pelayan.
Hal itu Garfield sengaja lakukan, karena Garfield tetap ingin para pelayannya tetap merasa nyaman saat bekerja di kediamannya.
Tok.. tok.. tok..
Ceklek..
"Sena, bibi membawa kan makan siang nak... Loh kemana anak itu?." Ucap Bu Nurul
Bu Nurul melihat sekeliling kamar Sena hingga mata nya tertuju pada sebuah kamar mandi.
Suara gemercik air terdengar samar samar di balik sebuah pintu berwarna coklat yang ada di kamar Sena.
__ADS_1
"Rupanya anak itu di kamar mandi." Lanjut Bu Nurul, dengan meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja yang tidak terlalu jauh dari kasur Sena.
Hingga sekitar Lima belas menit lamanya barulah muncul sosok Sena dari kamar mandi itu.
Di perhatikannya langkah kaki keponakannya itu. Sepertinya ada yang aneh. Kenapa langkah Sena sedikit di seret seret dan terkesan mengambang. Apakah selain demam keponakannya itu juga sakit kaki?.
"Sena.." panggil Bu Nurul.
"Ehh, bibi, iya Bi?" Sahut Sena terkejut.
"Ayo makan siang dulu nak, pasti kamu sudah lapar kan?" Tanya nya memastikan.
"Maaf bi, Sena tidak mendengar kalau bibi masuk." Sahutnya.
"Tidak apa apa. Ayo kemari, Makan Makanan mu!" Perintahnya lembut.
"Sena, ada apa dengan kaki mu nak?, Bibi melihat langkah mu sedikit di seret seret, apa kaki mu sakit Nak?." Tanya Bu Nurul saat Sena sudah duduk di kasurnya.
Deg...
"Ti-tidak Bi, mungkin karena Sena masih belum terlalu sehat,
"Ya sudah kalau begitu. Habis makan kamu istirahat ya nak, biar kamu cepat pulih." Seru Bu Nurul dengan mengelus kepala Sena lembut.
"Iya Bi, terimakasih." Jawab Sena dengan senyum tulusnya.
****
Rumah mewah, lengkap dengan banyaknya hiasan hiasan indah di setiap dindingnya. Di tambah lagi dengan suana rumah yang begitu nyaman dan sejuk, ternyata tidak selamanya bisa memberikan kenyamanan bagi pemiliknya.
Bagaimana tidak, sebuah pengakuan dari satu satunya penerus keluarga Saquelma. Telah berhasil memporak-porandakan hati sepesang suami istri yang sudah hampir tiga puluh tahun hidup bersama.
"Apa katamu el, kamu menodai seorang gadis?!." Seru Garzen tak percaya kepada putranya Garfield.
Ya, yang di sebut el itu adalah Garfield, hanya orang tuanya yang menyebut nya dengan nama itu.
"Bagaimana bisa nak... Bagaimana bisa kamu melakukan hal keji itu pada pelayan mu sendiri, hiks hiks" Seru Field pada putra semata wayangnya itu.
Ya, Garzen Saquelma Dan Field Saquelma, adalah sepasang orang tua yang sangat menyayanginya Putra semata wayangnya Garfield Saquelma. Namun pengakuan putra nya itu benar benar telah memberi luka dan kekecewaan yang teramat mendalam, Field sebagai Mama Garfield, merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karna telah gagal mendidik putranya.
__ADS_1
"Ma, pa, tolong maafkan el. Itu semua terjadi di luar ke inginan el" Sahut Garfield mencoba menjelaskan.
"Di luar keinginan bagaimana maksudmu el, jangan kamu mengada Ngada membuat alasan yang tidak masuk akal. Papa tahu, bagaimana tabiat seorang laki laki normal." Bantah Garzen
"Pa, percayalah kepada el, itu bukan ke inginan el pa, saat El sedang menghadiri sebuah acara rekan bisnis el, seseorang mencampur obat perangsang pada minuman el, dan itu dosisnya sangat tinggi pa, el langsung segera pulang dari acara itu karna el takut tidak bisa mengendalikan diri el dan saat el sampai di rumah, rumah sudah dalam ke adaan gelap, dan kepala el juga sangat pusing saat itu dan... Seorang wanita datang menolong el, tapi el sudah menolaknya dengan sangat keras, karna el tidak ingin lepas kendali, tetapi apa, dia tetap ingin menolong el, hingga el tidak bisa mengendalikan diri lagi dan... Terjadi lah hal itu.." Garfield menjelaskan kepada kedua orang tua nya panjang lebar.
Kini air mata mama Field semakin meluncur deras, ia merasa bersalah karena sudah salah menilai putranya.
Seharusnya ia percaya, bahwa putranya yang tidak mungkin begitu tega dan sengaja melakukan perbuatan sekeji itu pada seorang wanita.
Begitu pun dengan Garzen, setelah mendengar penjelasan dari putranya, tidak semua yang terjadi adalah murni kesalahannya. Bahkan disini putranya adalah korban.
Melihat kesedihan dan tangisan sang mama benar benar telah menyayat hati Garfield. Ia benar benar tidak sanggup jika membuat mama kandung nya itu bersedih apa lagi sampai mengeluarkan air mata.
Dirangkul nya tubuh sang mama untuk ia masukkan dalam dekapannya.
"Ma, maafkan el Ma, tolong mama jangan menangis seperti ini, el tidak sanggup melihat nya." Serunya.
"Seharusnya mama yang minta maaf nak, karena sudah menilai mu dengan buruk." Sahutnya.
Garzen yang sudah tidak sanggup melihat kesedihan istrinya pun, ingin memastikan bagaimana tindakan putranya itu.
"Setelah semua ini terjadi, apa yang akan kamu lakukan el?." Tanya Garzen
Garfield membuang nafasnya dengan kasar.
"el akan menikahinya."
Bersambung...
jangan lupa
Like
Komen
Vote
dan juga tambahkan novel ini ke favorit kalian ya.. terimakasih☺️❤️
__ADS_1