
"Apakah Stella memiliki kekasih Bi?." tanya Garfield.
Bu Nurul merasa heran dengan pertanyaan Tuan nya. Mengapa tiba tiba Tuan nya itu menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan privasi anak nya.
"Yang bibi Tahu, Putri Bibi Stella memang memiliki kekasih di desa. Tetapi entahlah, semenjek Stella pergi ke kota dan ikut bibi bekerja disini, Bibi tidak lagi melihat dia berhubungan atau pun menelfon dengan kekasihnya itu." Sahut Bu Nurul jujur.
Garfield terdiam sejenak..
"Oh begitu.. Ohya Bi, Bibi beberapa bulan yang lalu, membawa anggota keluarga bibi kan untuk bekerja disini?." Tanya Garfield pada akhirnya.
"Iya Tuan, bibi membawa keponakan bibi yang dari desa untuk bekerja disini. Ya maklum lah Tuan, kalau bekerja di desa itu pendapatan nya tidak seberapa jika di bandingkan dengan bekerja di kota. Jadi bibi membawa nya untuk bekerja di Rumah Tuan, dan terimakasih Tuan, Karna Tuan mau menerima bibi dan juga keluarga bibi untuk bekerja disini." Seru Bu Nurul dengan rasa terima kasih nya.
Garfield tersenyum..
"Iya Bi Sama sama, Oh ya bi. Garfield ingin bicara dengan keponakan bibi itu. Karena sewaktu Garfield menerimanya untuk bekerja disini, Garfield hanya menerima data datanya Saja. Ya bukan bermaksud apa-apa bi, Garfield hanya ingin lebih mengenal orang orang yang bekerja di rumah ini." Ucap Garfield kepada Bu Nurul.
"Baik tuan, bibi akan panggil dia untuk menemui Tuan." Sahut Bu Nurul.
Setelah pembicaraan singkat itu, Bu Nurul pergi dari Ruangan Garfield dan kembali untuk memulai aktivitas nya yang lain.
****
Setelah selesai bertelfonan dengan sang Kekasih. Stella segera menuju ke Ruangan Garfield.
Ceklek..
"Permisi Tuan." Seru Stella.
Dan hal itu mengalihkan pandangan Garfield dan Roy yang baru saja menyelesaikan tugas nya.
"Stella?, Iya ada apa Stella?." Tanya Garfield ramah dengan tatapan yang begitu lembut.
Melihat tatapan Tuannya yang tidak biasa, Membuat Roy sedikit mengernyit. Pasalnya tidak seperti biasanya tuannya menatap seorang wanita seperti itu, kecuali hanya pada nyonya Field Sang mama.
"Tuan Garfield, hari ini saya boleh izin keluar, mungkin sekitar sore hari nanti saya baru kembali." Ujar Stella meminta izin.
"Memangnya kamu mau kemana Stella?." Tanya Garfield.
"Saya ada perlu Tuan dengan teman saya. Dia baru datang dari desa untuk bekerja di rumah ini Tuan. Dia meminta bantuan saya karena tidak tahu menahu tentang kota ini Tuan." Sahut Stella berbohong.
"Hemm... Begitu ya, yasudah kalau begitu, aku izinkan. Tetapi ingat kamu harus pulang tepat waktu. Dan kalau terjadi apa apa cepat hubungi aku." Sahut Garfield. Namun hal itu malah menjadi tanda tanya bagi Roy sang assisten.
"Terimakasih Tuan." Sahut nya dan di balas anggukan Oleh Garfield.
Tanda tanya besar di benak Roy muncul begitu kuat saat ini. Bagaimana Tidak, Tuan nya itu adalah sosok yang sangat tidak mudah untuk dipengaruhi oleh seorang wanita. Tetapi apa ini, Tuan nya dengan begitu lembut dan ramah dalam memperlakukan wanita yang bernama Stella itu.
Dan satu hal lagi yang membuatnya tak percaya. Tuannya meminta pada wanita itu, jika terjadi sesuatu padanya harus segera menghubunginya. Sejak kapan tuannya itu peduli kepada seorang wanita?. Hal yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang Garfield.
Di lain tempat dimana beberapa pelayan wanita sedang sibuk melakukan aktivitasnya, Bu Nurul datang menghampiri Sena yang sedang sibuk menata beberapa sayur sayuran di lemari pendingin itu.
"Sena." Panggil Bu Nurul.
"Eh, Iya bi?." Sahut Sena.
__ADS_1
"Berhentilah dulu kamu sebentar dari kegiatan mu nak." Suruh Bu Nurul.
"Berhenti?, Memangnya ada apa bi?, Kenapa Sena disuruh berhenti?." Tanya Sena kebingungan.
Bu Nurul tersenyum melihat keponakan nya itu.
"Tidak apa apa nak, hanya saja sekarang Tuan Garfield memanggil mu, Tuan Garfield ingin bicara dengan mu nak." Ujar Bu Nurul pada akhirnya.
Deg...
Deru nafas Sena seolah terhenti. Seketika itu tubuhnya terasa membeku. Mendengar nama itu, benar benar telah mengingatkan nya akan kejadian tiga malam yang lalu. Rasa takut, cemas, begitu mendera jiwanya saat ini. Bahkan tubuhnya kini mulai terasa panas dingin.
"Sena ayo, kamu keruangan Tuan Garfield dulu nak, tuan Garfield sudah menunggu mu." Seru Bu Nurul.
Namun yang di suruh masih diam tak bergeming.
"Sena, kenapa kamu diam nak?, Ayo pergi keruangan tuan Garfield sekarang, jangan membiarkan tuan Garfield menunggu mu terlalu lama nak." Seru Bu Nurul lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Eh, i-iya Bi, Sena akan segera ke sana." Sahut Sena gugup.
"Yasudah nak, tuan Garfield sudah menunggu mu dari tadi." Serunya lagi.
Mau tidak mau Sena melangkah kan kaki menuju Ruangan kerja Tuan nya itu.
Dilangkahkannya kaki jenjang yang tertutup celana panjang itu. Rasa takut pada Tuan Garfield nya benar benar tidak bisa ia tepis lagi. Ya, tentu saja hal itu ia rasakan karna kejadiannya pun baru beberapa hari yang lalu ia alami.
Hingga langkah nya kini telah sampai di tempat yang ia tuju. Sena terdiam sejenak, diperhatikan nya pintu mewah nya Ter tutup rapat itu. Bagaimana cara dirinya untuk membuka pintunya.
Keringat dingin pun sudah mulai membasahi setiap tubuhnya. Sunggu Sena tidak tahu bagaimana caranya menenangkan dirinya saat ini.
Hingga tangan mungil miliknya itu mulai mencoba untuk mengetuk papan pintu yang sedari tadi hanya ia lihat.
Ceklek...
Dengan tubuh yang bergetar Sena Berjalan memasuki Ruangan kerja Tuan nya, terlihat disana Garfield dan Juga Roy yang memandangi Sena.
Sena terus menunduk sembari terus berjalan masuk.
"Kamu keponakan bi Nurul kan?." Tanya Garfield.
"I-iya Tuan Saya keponakannya." Sahut Sena sedikit gugup.
"Kemarilah." Suruh Garfield agar Sena mendekat.
Sena pun kembali melangkah dengan tetap menundukkan kepalanya Tak berani menatap Tuan nya itu.
"Kenapa kamu hanya diam?, Duduklah." Perintah Garfield.
Sena pun duduk di sebuah sofa panjang dan sangat empuk yang ada di ruangan itu. Entah mendapat angin dari mana, tiba tiba saja Garfield beralih dari kursinya dan berpindah tempat dan duduk di sofa yang sama dengan Sena.
Sontak saja hal itu membuat Sena ketakutan. Bayang bayang akan kejadian di mana dirinya telah di nodai oleh tuannya kembali teringat.
"Kalau Tidak salah, nama mu Sena Bukan?." Tanya Garfield setelah berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Sena.
__ADS_1
"I-iya Tuan." Sahut Sena gugup dengan kepalanya yang masih menunduk.
"Saya sengaja memanggil mu kemari, karena saya ingin mengenal mu lebih baik lagi. Seperti kamu ketahui, saya tidak terlalu suka Jika terlalu banyak pelayan di rumah ini, jadi yang bekerja disini hanya orang orang pilihan saja." ujar Garfield menjelaskan.
"Nama lengkap kamu siapa Sena?." tanya Garfield.
"Nama saya Sena Gaelta Azzurri Tuan." Sahut Sena.
"Nama yang indah." Serunya.
"Kamu terlihat masih sangat muda, memangnya berapa usia mu Sena?." Tanya Garfield Lagi.
"Usia saya delapan belas tahun Tuan." Sahut Sena.
Garfield sudah menduga nya, jika gadis di depannya ini masih berusia delapan belas tahun, hal itu terlihat dari wajahnya yang masih imut dan terlihat polos.
"Kalau boleh saya tahu, siapa nama ayah kamu Sena?." Lanjut Garfield bertanya.
"A-ayah saya bernama Zerats Gaelta Azzurri Tuan." Sahutnya.
"Apa pekerjaan ayah mu?." Tanya Garfield lagi.
"A-ayah saya sudah tidak bekerja Tuan, hanya mengurus kebun kecil di rumah. Kesehatan beliau yang menurun tidak memungkinkan ayah saya untuk bekerja." Sahut Sena menjelaskan.
Garfield terdiam. Dirinya cukup prihatin terhadap kondisi Sena. Bisa Garfield pastikan jika gadis berambut panjang di depannya ini sangatlah membutuhkan pekerjaan. Dari hal ini pula Garfield yakin jika gadis di depannya ini akan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Dan orang seperti inilah yang Garfield inginkan, bersungguh-sungguh dalam bekerja.
"Lalu bagaimana dengan ibu mu?, Apakah ibu mu juga bekerja?." Lanjut Garfield lagi.
Bukan tanpa sebab dirinya bertanya seperti itu. Setelah Ayah Sena tidak bekerja, bukan tidak mungkin Jika ibunya juga ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
"I-ibu tidak bekerja Tuan, karena beliau sudah kembali pada yang maha kuasa." Jawab Sena dengan suara bergetar Karna mengingat kembali Almarhum ibunda.
Garfield tersentak kaget, begitupun dengan Roy yang sedari tadi hanya diam menyimak. Garfield merasa bersalah.
"Maaf Sena, saya tidak tahu hal itu." Ucap Garfield merasa bersalah.
"Tidak apa apa Tuan." Sahut Sena Sopan.
"Yasudah, hanya itu yang saya tanyakan, bekerja lah dengan baik di rumah ini. Jangan kecewakan ayah mu." Ujar Garfield pada akhirnya.
"Te-terimakasih Tuan!." Sahut Sena.
Sena berusaha bangkit dari posisinya. Karena dirinya yang sedari tadi memang merasa takut dan gugup, membuat Sena tidak bisa menjaga ke seimbangan tubuhnya. Alhasil tubuhnya menjadi limbung ke depan dan membuatnya hendak terjatuh.
"Akhh.."
Bersambung...
jangan lupa
Like
Komen
__ADS_1
Vote
dan juga tambahkan novel ini ke favorit kalian ya.. terimakasih☺️❤️