
“ Bunda ingin kamu segera menceraikan perempuan ini. Mudah saja, kamu tinggal mentalaknya, kelar sudah.
Toh, kamu hanya nikah di bawah tangan, bukan nikah resmi di kantor KUA. Jadi, tidak perlu ada proses pengadilan. Tidak perlu repot-repot.” Kata ibu Lenny kepada Daniel ketika tengah berkumpul satu meja pada kesempatan sarapan.
“ Menceraikan aku...?” Tanya Cicilia dengan bibir gemetar.
“ Kenapa kamu..? Keberatan..?” Tanya ibu Lenny sambil mencerang Cicilia.
Daniel hanya tertunduk tanpa sepatah kata sambil menahan unek-uneknya seperti biasa.
“ Bijaksanalah sendikit, bun. Cicilia tengah hamil tua. Lagi pula kenapa sih bunda ingin memisahkan mereka berdua. Pakailah sedikit hati nurani..” Kata pak Hans.
“ Jujur, semenjak perempuan ini masuk kerumah kita, hati bunda menjadi tidak tenang. Rumah ini
seperti kemasukan seorang perampok. Bayangkan, baru sehari tinggal di sini dia sudah berani lancang. Sakit hati bunda setelah mendapat kabar dari pembantu kita bahwa Daniel tidur di dalam gudang. Sedang perempuan ini keenakan tidur sambil mendengkur di kamar Daniel sambil memanjakan perut buncitnya. Bukan hanya itu.
Perempaun ini juga sengaja membuang binatang kesayangan Daniel, hamster yang bernama Budi itu. Ini bisa gawat kalau kita membiarkan perempuan ini tinggal di sini terlalu lama. Bisa-bisa suatu saat justru kitalah yang nanti diusir dia.”
“ Dan.., Dan.., Daniel ket.., ketiduran di gudang, bun, waktu mencari Budi..” Kata Daniel memberanikan diri membela Cicilia.
“ Alasan tidak masuk akal. Ngomong saja, perlakuan tidak menyenangkan apa lagi yang pernah diperbuat
perempuan ini kepadamu..?” Tanya ibu Lenny kepada Daniel. Daniel menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
“ Daniel ! Tegas kamu sebagai laki-laki. Jangan mau dipecundangi perempuan tidak jelas ini.” Bentak ibu Lenny sambil memukul sendok ke atas piring.
PLENTANG !
“ Sudah.., sudah..Kita tenangkan pikiran kita dulu. Setelah itu baru kita sama-sama cari jalan keluarnya.” Kata pak Hans santai.
Cicilia langsung berlari meninggalkan meja makan berikut makanannya yang masih tersisa di atas piring. Daniel tiba-tiba mengangkat pantat dari kursi dan bergegas membuntuti Cicilia.
“ Bunda lihat..? Apa mungkin mereka bisa pisahkan ?” Ucap pak Hans.
“ Lihat saja nanti. Pasti bisa..” Jawab ibu Lenny sambil mengangkat kedua alisnya.
Cicilia langsung mengemasi pakaian ke dalam koper. Cicilia berpikir, memang tidak perlu mempertahankan penikahannya dengan Daniel yang penuh rekayasa. Untuk itu, Cicilia merasa lebih siap andai Daniel menceraikannya. Tidak ada ganjalan sama sekali bagi Cicilia.
“ Cici…” Sapa Daniel pelan sambil melongok di pintu kamar. Sekilas Cicilia menolehnya. Kemudian
kembali membereskan pakaiannya.
__ADS_1
Daniel melangkah mendekati Cicilia penuh ragu. Tapi, dia memberanikan diri untuk terus maju dan mengatakan sesuatu. Daniel seperti memahami apa yang tengah dirasakan oleh perempuan hamil itu ketika kehadirannya benar-benar telah tertolak oleh ibunya.
“ Ci..Hmm..Maafkan bunda. Ja.., ja.., ja.., jangan diambil hati..” Ucap Daniel.
Cicilia langsung membalikkan badan dan berhadapan dengan Daniel.
“ Tidak. Aku tidak sakit hati sama sekali, Daniel. Sebaiknya kamu memang menceraikan aku sekarang juga.
Jika kamu berat melakukan itu, biar akulah yang meninggalkanmu.” Kata Cicilia tegas.
“ Cici..Ko, gitu..? Jangan gii.., gitu, Ci..!”
“ Hai, anak mami., Sebaiknya kamu memang fokus belajar dan tetap setia menjadi anak mami. Kamu belum waktunya memiliki seorang istri. Pipis kamu belum lurus, Daniel. Aku tidak akan tega melihat kamu hidup dalam tekanan seorang istri. Berat lho, apa lagi istri model seperti aku ini.” Lanjut Cicilia.
“ Tap.., tap.., tapi aku men.., mencitaimu, Ci..”
“ Hah ? Cinta..? Tahu apa kamu soal cinta ? Dunia kamu masih sempit untuk ngomong cinta, Daniel.”
“ Ak, aku, aku serius, Ci..”
“ Kamu terperangkap halusinasi, Daniel..Kamu hanya memiliki dunia khayalan. Hanya itu ! Tidak lebih.”
“ Cici..!”
Dengan langkah kaki mantap, Cicilia meninggalkan rumah Daniel yang mewah dan kembali lagi kerumah
orang tuanya yang sederhana. Di hatinya sama sekali tidak ada rasa penyesalan. Tidak ! Sebab, sejak awal pernikahannya dengan Daniel sekedar untuk menyelamatkan mukanya dan muka pak Bobby di mata masyarakat. Setelah kini terselamatkan, apa lagi yang mau dia pertahankan dari pernikahannya yang hambar ?
Sementara Daniel benar-benar dibuat patah hati. Betapa tidak, Cicilia datang menghampiri lalu meninggalkannya pergi. Tindakan tanpa perasaan yang membuat Daniel marah.
“ Kamu telah mengacaukan kehidupanku, Cicilia..Seharusnya kamu membiarkan aku pada dunia khayalanku, kebebasan imajinasiku. Sebab, hanya itu yang aku miliki. Di sana aku bisa menentukan kehidupanku yang aku mau, termasuk memasukkanmu untuk aku cembui dan mencembuiku.
Aku tidak pernah protes terhadap nasibku. Karena aku yakin, aku memang terlahir sebagai si pecundang yang takut untuk mengangkat dagu dan bahu. Hingga aku lupa akan kodrat kelaki-lakianku yang seharusnya tegap gagah berani. Sedari dulu aku diperintahkan untuk membungkuk seperti udang, kalau perlu sampai menyentuh tanah. Itulah yang diingini oleh orang yang telah melahirkanku sekaligus membentuk aku, hingga aku tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya.” Ucap Daniel sambil menangis di hadapan Cicilia guling.
“ Daniel.., jika kamu memang menginginkan Cicilia. Kejarlah.” Tiba-tiba pak Hans muncul sambil menepuk bahu anaknya itu.
Daniel terperanjat dengan wajah pucat. Dia tidak menyangka sama sekali jika bapaknya menemukan ruang
rahasianya.
“ Buang benda menjijikan ini. Kamu telah merasakan kehalusan kulit Cicilia yang sesungguhnya. Cari dia dan pertahankan.” Ucap pak Hans sambil melempar Cicilia khayalan terbuat dari guling dan gulungan pakaian.
__ADS_1
Pak Hans memang berharap Cicilia dapat membebaskan kehidupan Daniel yang terkungkung ibunya yang otoriter.
Setelah pak Hans tanpa sengaja menemukan ruang rahasia anaknya itu, dia pun segera tahu jika Daniel sesungguhnya sampai pada tahap yang sudah memprihatinkan, bahkan mungkin masuk dalam kategori sakit kejiwa, walau mungkin stadium rendah. Demi upaya penyelamatan anaknya, Daniel, pak Hans tidak terlalu memperdulikan kehidupan Cicilia sesungguhnya. Bahkan dia rela jika Daniel dipecundangi, kalau perlu sampai Daniel jatuh frustasi setelak-telaknya, supaya Daniel sadar, membuka mata, hati dan pikirannya yang tertidur sekian
lama, bahwa kehidupan ini sungguh-sungguh nyata adanya. Cinta butuh perjuangan, keringat dan air mata. Bukan menjadi lamunan belaka di pojok ruang rahasia yang berujung mencembui diri sendiri.
“ Kemana aku harus mencari Cici, ayah..?” Tanya Daniel.
“ Ambil peta. Jelajahi seinci demi seinci. Jika tidak kamu temukan juga di mana Cicilia berada, tetapi
kamu sudah menemukan perempuan lainnya. Itulah enaknya menjadi laki-laki. Paham maksud ayah ?” Ucap tegas pak Hans.
Daniel mengangguk.” Hm.., iiya, ayah..” Jawab Daniel.
“ Angkat bahu dan dagumu. ! Angkat, Daniel.! Atau ayah tonjok wajah mulusmu..” Bentak pak Hans tiba-tiba.
“ Angkat, segera !”
Daniel langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh ayahnya itu.
“ Dagumu diangkat.”
“ Iya..”
“ Lebih tinggi lagi..!”
Daniel mengangkat dagunya tinggi-tinggi seperti seorang prajurit.
“ Mulai sekarang jangan biasakan membungkuk atau kepala menunduk. Terlebih ketika sedang berhadapan
dengan orang. Bicaralah dengan seseorang sambil menatap wajahnya. Maka, kamu akan tahu orang tersebut bicara jujur atau tengah berbohong. Kedua, belajarlah berbicara sesuai kata hati kamu sendiri. Suka bilang suka, benci bilang benci. Jangan berpura-pura manejadi anak manis, itu membohongi orang lain dan dirimu sendiri. Oke ? Siap ?!”
“ Sii..Siap “
“ Siap ?!”
“ Si..Siap, ayah “
PLAK ! Pak Hans langsung menapar wajah Daniel dengan tamparan cukup keras.
“ Jangan suka ragu-ragu dengan apa yang mau kamu ucapkan. Lidah yang maju mundur, berputar-putar sangat
__ADS_1
memuakkan. Gagap itu bukan tive laki-laki sejati. Tapi, si petarung yang ragu menembak lawan dan mau cepat-cepat pulang kendang. Awas, mulai detik ini, kamu bicara maju mundur lagi tak segan-segan ayah akan menampar mulutmu “ Ancam pak Hans.