Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA

Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA
Episode 4 Garis Biru


__ADS_3

Siang itu Cicilia  merasa badannya kurang fit. Garis-garis


memanjang dan berwarna merah menyerupai tulang ikan masih nampak di belakang


tubuhnya. Semalam dia sempat meminta tolong ibunya untuk kerokan, therapy


turun-termurun yang diyakini keampuhannya oleh  banyak orang Indonesia. Karena merasa mual-mual,


Cicilia menduganya tengah terserang masuk angin. Meski dalam keadaan lesu


Cicilia  memaksakan diri untuk tetap berangkat


kesekolah. Bukan karena dia  hewatir tertinggal


mata pelajara, melainkan  dia mau bertemu


dengan pasangan kencannya,  pak Bobby di


muka sekolah seperti biasanya.


Di dalam kelas Cicilia terus bertahan mengikuti mata


pelajaran demi pelajaran meski dia ingin sekali rebahan. Ketika jam istirahat


tiba, barulah dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memulihkan staminanya


dengan berusaha memejamkan mata di dalam kelas.


“ Ci, kamu kenapa..? Sakit ?”  Eva, kawan sekelasnya datang menghampiri.


“ Iya. Lagi nggak fit..” Jawab Cicilia.


UWEEEEEK…! Tiba-tiba Cicilia ingin muntah.


“ Minta izin pulang saja..Kamu kelihatan pucat, Ci “


UWEEEEK….! Lagi-lagi rasa mual mendorong dari dalam lambung


Cicilia.


Eva memperhatikan penuh


seksama. Hatinya diselimuti rasa was-was, takut  terjadi apa-apa dengan kawan dekatnya tersebut.


Sebab, dia pernah mengalami hal yang serupa, di mana dia pernah menduga  tengah masuk angin, tak tahunya hamil.


Kejadian enam bulan yang lalu itu sempat menggemparkan sekolah.  Ketika usia hamilnya berusia dua bulan, Eva


nekat menggugurkan janin di dalam kandungannya di salah satu klinik bersalin ilegal


karena, teman kencannya yang bernama om Danuarta tidak mau bertanggungjawab. Untunglah


akhirnya nyawa Eva selamat, meski sempat mengalami pendarahan yang cukup hebat.


Setelah pulih ia kembali bersekolah, dan tetap menjalankan profesinya sebagai cewek


panggilan. Eva tidak kapok. Alasannya sama seperti Cicilia, yaitu untuk


menunjang ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Padahal untuk pemenuhan


gaya hidup konsumtif.


“ Kamu sudah cek up


kedokter belum..?” Desak Eva.


Cicilia menggeleng sambil


menjawab. “ Belum. Ngapain kedokter  ?


Ini cuma masuk angin saja, ko..”


“ Dulu aku juga


menganggapnya begitu..”


“ Maksud kamu apa, sih ?”


“ Jangan-jangan..Aah,


sudahlah. Semoga saja tidak terjadi apa-apa “


Cicilia menatap teman


satu seprofesi itu lekat-lekat.


“ Kamu ingat tidak


kejadian yang menimpa aku enam bulan lalu..?” Tanya Eva.


“ Ya. Ingat. Kamu tekdung


tralala. Bikin heboh orang satu sekolahan.”


“ Pada mulanya aku juga


mengira  masuk angin, Ci..Nggak taunya..”


“ Enak aja..! Aku ini


benar-benar masuk angin, Va. Semalam aku tidur tidak pakai selimut.”


UWEEEE…K ! Cicilia tiba-tiba


ingin muntah.


“ Tuh kan..?!” Seru Eva


sambil melotot


“ Iiih, apaan sih kamu ?


Nakut-nakuti saja. Aku cuma mual.”


“ Bukan nakut-nakuti. Aku


hewatir, Ci..”


“ Sudahlah..Nanti juga


hilang sendiri. Udah sana, aku mau istirahat dulu..” Usir Cicilia.


“ Jangan suka menganggap


enteng. Yuk, kita cek dulu.” Kata Eva sambil menarik lengan Cicilia.


“ Please, deh.. Apa-apaan,

__ADS_1


sih kamu ?”


“ Aku bawa tes pack. Yuk,


kita ke toilet sebentar..”


“ Ngaco..! Lagian siapa


yang hamil..?”


“ Pastikan dulu postitif


negatifnya. Jangan cuma menduga-duga “ Bujuk Eva.


“ Eva.., aku tuh  selalu menjaga ketat tiap kali kencan. Nggak


mungkin kebobolan..” Kata Cicilia bersikeras.


“ Yakin..? Dalam situasi


fun orang sering lupa daratan..Ingat-ingat lagi, deh “


Cicilia terdiam, sambil


mengingat-ingat pertemuan terakhir kali dengan pak Bobby kala itu dia  melakukan  apa saja selama berdua dengan dia,  beberpa minggu yang lalu. Tiba-tiba wajah


Cicilia berubah tegang ketika teringat  kejadian yang dianggapnya suatu kesalahan vatal.


Malam itu, udara puncak Bogor


menggigit kulit. Cuaca dingin yang tidak dapat dihalau dengan segelas anggur.


Melainkan pelukan yang sama-sama bisa saling menghangatkan. Bagi pak Bobby,


tentu tidak puas jika hanya sebatas pelukan belaka. Pak Bobby sudah merasa  membeli jasa Cicilia dengan harga cukup mahal


dan pembayaran cash. Cicilia pun sadar akan kewajibannya untuk melakukan


layanan semaksimal mungkin bagi pelanggannya, asal keselamatannya terjamin.


Karena tidak ada jaminan ansuransi kecilakaan untuk profesi yang embannya.


Maka,  dia sendirilah yang harus pandai


menjaga diri.


Ketika tengah berlangsung


pertadingan malam itu, entah mengapa pak Bobby tiba-tiba melepas  jeket berbahan karet yang dikenakannya  dengan alasan kurang nyaman, kurang alami.


Pertarungan sempat jeda beberapa menit karena,  Cicilia  menolak dengan tegas keinginan klien-nya yang


dianggap berlebihan itu. Tapi, pak Bobby yang ahli bisnis mampu membujuk


Cicilia dengan janji akan membuang gerombolan kecebong miliknya di luar area


kolam. Kalau perlu, buat Surat Perjanjian hitam di atas putih, lengkap dengan  tanda tangan di atas matrai enam ribu. Surat Perjanjian


itulah yang akan digunakan   Cicilia untuk menggugat pak Bobby melalui jalur


hukum jika suatu-waktu pihak Cicilia merasa dirugikan oleh klien-nya. Karena pak


Bobby begitu meyakinkan, akhirnya Cicilia bersedia digarap tanpa alat


pelindung. Tetapi, ketika  kondisi pak Bobby


tengah melayang-layang di udara, tengah berada di nirwana  lapis ketujuh, membuat dia lupa membuang gerombolan


tumpah ruah ke area kolam Cicilia tersebut.


PLAK…!


Cicilia menampar laki-laki


berperut buncit itu dengan perasan marah.


“ Mana janji kamu ? Awas


ya, jika sampai terjadi apa-apa denganku..” Seru Cicilia sambil menunjuk hidung


pak Bobby dengan mata melotot.


“ Maaf, sayang.., om


benar-benar lupa..” Ucap pak Bobby dengan tampang *****.


“ Maaf.., maaf..!


Bagaimana  kalau sudah seperti ini..?” Bentak


Cicilia  sambil mengenakan pakaiannya


kembali.


“ Tenang. Semua atas


kehendak yang di atas. Jika Dia tidak menghendaki kecilakaan pasti tidak akan


terjadi pembuahan..” Ujar pak Bobby berusaha meyakinkan.


“ Bawa-bawa Tuhan segala.


Ini perbuatan dosa, tau. Ini kecerobohan kamu sendiri..”


“ Om yakin tidak akan terjadi


apa-apa. Kecebong milik om lemah-lemah semua, ko..”


“ Jangan bercanda kamu,


Ndut !” Bentak Cicilia. “ Kalau terjadi apa-apa, jaminan apa yang  akan kamu berikan kepadku.. ?” Lanjutnya.


“ Nggak mungkin..Yakinlah,


tidak akan..”


“ Seadainya ! Kita bicara


seandainya..” Desak Cicilia.


“ Ya, gimana lagi..? Om


sendiri juga nggak tahu harus bagaimana..”


“ Menikahi aku.. ?”


“ Ow, jangan dong, sayang...

__ADS_1


Bisa dibunuh istri om nanti..”


“ Terserah. Itu sudah


resiko kamu..”


“ Jangan, tolong jangan, sayang..Kita


mungkin bisa cari jalan keluar lainya yang sama-sama tidak merugikan kedua


belah pihak..”


“ Huh !”


Cicilia tiba-tiba menarik


lengan Eva sambil berlari. “ Ayo, kita ketoilet..! Jangan lupa bawa taspack-nya..”


Serunya.


Cicilia dan Eva langsung


kelura kelas menuju toilet sekolah di samping kantin.


‘ Test pack apaan, sih..?’


Tanya  Daniel dalam hati yang menguping


pembicaraan mereka berdua di bawah kolong meja kelas.


Daniel ikut membuntuti


mereka sambil membawa gulungan lukisan pencil wajah Cicilia.


Kebetulan toilet sekolah


sedang tidak mengantri. Cicilia dan Eva langsung masuk kedalam salah satu


ruangan untuk melakukan  tes kehamilan,


dengan cara mengambil air seni Cicilia secukupnya pada suatu wadah. Kemudian pada


ujung tes pack dicelupkan pada air seni itu.


“ Tunggu beberapa saat..”


Bisik Eva.


“ Aduh, aku jadi berdebar-debar,


Vaa…”


Beberapa menit kemudian


alat itu menunjukkan garis biru yang artinya positif hamil.


“ Haaah ?! Gawat…! Biru,


Cii…Biru !”


“ Maksudnya..?”


“ Ya, ampun kamu hamil,


Ci..”


“ Jangan becanda kamu,


Va..!” Cicilia masih tidak percaya.


“ Ini liat garis biru


ini. Ini artinya kamu positif hamil..” Kata Eva menjelaskan.


Tangis Cicilia langsung


meledak. Eva berusaha menenangkan kawannya itu dengan memeluk sambil


mengusap-ngusap kepalanya.


“ Terus aku harus


bagaimana, Va..?” Tanya Cicilia sambil sesunggukkan.


“ Tenangkan diri dulu, baru


kita cari jalan keluarnya..”


Mereka kemudian keluar


dari toilet dengan perasaan hancur.


“ Ci..Cici…Kamu kenapa..?


Sakit, ya..?” Tanya Daniel di muka  toilet.


Cicilia dan Eva sekilas


menoleh kawannya itu dengan tampang sangar.


“ Ci..Cici…”


“ Apaan sih kamu..?!” Bentak


Eva kesal.


“ Ini lukisannya..” Jawab


Daniel sambil menyodorkan lukisan di tangannya.


“ Ambil buat kamu. Nggak


penting banget, sih ? Pinggir, aku mau lewat..!” Semprot Eva kepada Daniel


sambil memapah Cicilia.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2