
Siang itu Cicilia merasa badannya kurang fit. Garis-garis
memanjang dan berwarna merah menyerupai tulang ikan masih nampak di belakang
tubuhnya. Semalam dia sempat meminta tolong ibunya untuk kerokan, therapy
turun-termurun yang diyakini keampuhannya oleh banyak orang Indonesia. Karena merasa mual-mual,
Cicilia menduganya tengah terserang masuk angin. Meski dalam keadaan lesu
Cicilia memaksakan diri untuk tetap berangkat
kesekolah. Bukan karena dia hewatir tertinggal
mata pelajara, melainkan dia mau bertemu
dengan pasangan kencannya, pak Bobby di
muka sekolah seperti biasanya.
Di dalam kelas Cicilia terus bertahan mengikuti mata
pelajaran demi pelajaran meski dia ingin sekali rebahan. Ketika jam istirahat
tiba, barulah dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memulihkan staminanya
dengan berusaha memejamkan mata di dalam kelas.
“ Ci, kamu kenapa..? Sakit ?” Eva, kawan sekelasnya datang menghampiri.
“ Iya. Lagi nggak fit..” Jawab Cicilia.
UWEEEEEK…! Tiba-tiba Cicilia ingin muntah.
“ Minta izin pulang saja..Kamu kelihatan pucat, Ci “
UWEEEEK….! Lagi-lagi rasa mual mendorong dari dalam lambung
Cicilia.
Eva memperhatikan penuh
seksama. Hatinya diselimuti rasa was-was, takut terjadi apa-apa dengan kawan dekatnya tersebut.
Sebab, dia pernah mengalami hal yang serupa, di mana dia pernah menduga tengah masuk angin, tak tahunya hamil.
Kejadian enam bulan yang lalu itu sempat menggemparkan sekolah. Ketika usia hamilnya berusia dua bulan, Eva
nekat menggugurkan janin di dalam kandungannya di salah satu klinik bersalin ilegal
karena, teman kencannya yang bernama om Danuarta tidak mau bertanggungjawab. Untunglah
akhirnya nyawa Eva selamat, meski sempat mengalami pendarahan yang cukup hebat.
Setelah pulih ia kembali bersekolah, dan tetap menjalankan profesinya sebagai cewek
panggilan. Eva tidak kapok. Alasannya sama seperti Cicilia, yaitu untuk
menunjang ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Padahal untuk pemenuhan
gaya hidup konsumtif.
“ Kamu sudah cek up
kedokter belum..?” Desak Eva.
Cicilia menggeleng sambil
menjawab. “ Belum. Ngapain kedokter ?
Ini cuma masuk angin saja, ko..”
“ Dulu aku juga
menganggapnya begitu..”
“ Maksud kamu apa, sih ?”
“ Jangan-jangan..Aah,
sudahlah. Semoga saja tidak terjadi apa-apa “
Cicilia menatap teman
satu seprofesi itu lekat-lekat.
“ Kamu ingat tidak
kejadian yang menimpa aku enam bulan lalu..?” Tanya Eva.
“ Ya. Ingat. Kamu tekdung
tralala. Bikin heboh orang satu sekolahan.”
“ Pada mulanya aku juga
mengira masuk angin, Ci..Nggak taunya..”
“ Enak aja..! Aku ini
benar-benar masuk angin, Va. Semalam aku tidur tidak pakai selimut.”
UWEEEE…K ! Cicilia tiba-tiba
ingin muntah.
“ Tuh kan..?!” Seru Eva
sambil melotot
“ Iiih, apaan sih kamu ?
Nakut-nakuti saja. Aku cuma mual.”
“ Bukan nakut-nakuti. Aku
hewatir, Ci..”
“ Sudahlah..Nanti juga
hilang sendiri. Udah sana, aku mau istirahat dulu..” Usir Cicilia.
“ Jangan suka menganggap
enteng. Yuk, kita cek dulu.” Kata Eva sambil menarik lengan Cicilia.
“ Please, deh.. Apa-apaan,
__ADS_1
sih kamu ?”
“ Aku bawa tes pack. Yuk,
kita ke toilet sebentar..”
“ Ngaco..! Lagian siapa
yang hamil..?”
“ Pastikan dulu postitif
negatifnya. Jangan cuma menduga-duga “ Bujuk Eva.
“ Eva.., aku tuh selalu menjaga ketat tiap kali kencan. Nggak
mungkin kebobolan..” Kata Cicilia bersikeras.
“ Yakin..? Dalam situasi
fun orang sering lupa daratan..Ingat-ingat lagi, deh “
Cicilia terdiam, sambil
mengingat-ingat pertemuan terakhir kali dengan pak Bobby kala itu dia melakukan apa saja selama berdua dengan dia, beberpa minggu yang lalu. Tiba-tiba wajah
Cicilia berubah tegang ketika teringat kejadian yang dianggapnya suatu kesalahan vatal.
Malam itu, udara puncak Bogor
menggigit kulit. Cuaca dingin yang tidak dapat dihalau dengan segelas anggur.
Melainkan pelukan yang sama-sama bisa saling menghangatkan. Bagi pak Bobby,
tentu tidak puas jika hanya sebatas pelukan belaka. Pak Bobby sudah merasa membeli jasa Cicilia dengan harga cukup mahal
dan pembayaran cash. Cicilia pun sadar akan kewajibannya untuk melakukan
layanan semaksimal mungkin bagi pelanggannya, asal keselamatannya terjamin.
Karena tidak ada jaminan ansuransi kecilakaan untuk profesi yang embannya.
Maka, dia sendirilah yang harus pandai
menjaga diri.
Ketika tengah berlangsung
pertadingan malam itu, entah mengapa pak Bobby tiba-tiba melepas jeket berbahan karet yang dikenakannya dengan alasan kurang nyaman, kurang alami.
Pertarungan sempat jeda beberapa menit karena, Cicilia menolak dengan tegas keinginan klien-nya yang
dianggap berlebihan itu. Tapi, pak Bobby yang ahli bisnis mampu membujuk
Cicilia dengan janji akan membuang gerombolan kecebong miliknya di luar area
kolam. Kalau perlu, buat Surat Perjanjian hitam di atas putih, lengkap dengan tanda tangan di atas matrai enam ribu. Surat Perjanjian
itulah yang akan digunakan Cicilia untuk menggugat pak Bobby melalui jalur
hukum jika suatu-waktu pihak Cicilia merasa dirugikan oleh klien-nya. Karena pak
Bobby begitu meyakinkan, akhirnya Cicilia bersedia digarap tanpa alat
pelindung. Tetapi, ketika kondisi pak Bobby
tengah melayang-layang di udara, tengah berada di nirwana lapis ketujuh, membuat dia lupa membuang gerombolan
tumpah ruah ke area kolam Cicilia tersebut.
PLAK…!
Cicilia menampar laki-laki
berperut buncit itu dengan perasan marah.
“ Mana janji kamu ? Awas
ya, jika sampai terjadi apa-apa denganku..” Seru Cicilia sambil menunjuk hidung
pak Bobby dengan mata melotot.
“ Maaf, sayang.., om
benar-benar lupa..” Ucap pak Bobby dengan tampang *****.
“ Maaf.., maaf..!
Bagaimana kalau sudah seperti ini..?” Bentak
Cicilia sambil mengenakan pakaiannya
kembali.
“ Tenang. Semua atas
kehendak yang di atas. Jika Dia tidak menghendaki kecilakaan pasti tidak akan
terjadi pembuahan..” Ujar pak Bobby berusaha meyakinkan.
“ Bawa-bawa Tuhan segala.
Ini perbuatan dosa, tau. Ini kecerobohan kamu sendiri..”
“ Om yakin tidak akan terjadi
apa-apa. Kecebong milik om lemah-lemah semua, ko..”
“ Jangan bercanda kamu,
Ndut !” Bentak Cicilia. “ Kalau terjadi apa-apa, jaminan apa yang akan kamu berikan kepadku.. ?” Lanjutnya.
“ Nggak mungkin..Yakinlah,
tidak akan..”
“ Seadainya ! Kita bicara
seandainya..” Desak Cicilia.
“ Ya, gimana lagi..? Om
sendiri juga nggak tahu harus bagaimana..”
“ Menikahi aku.. ?”
“ Ow, jangan dong, sayang...
__ADS_1
Bisa dibunuh istri om nanti..”
“ Terserah. Itu sudah
resiko kamu..”
“ Jangan, tolong jangan, sayang..Kita
mungkin bisa cari jalan keluar lainya yang sama-sama tidak merugikan kedua
belah pihak..”
“ Huh !”
Cicilia tiba-tiba menarik
lengan Eva sambil berlari. “ Ayo, kita ketoilet..! Jangan lupa bawa taspack-nya..”
Serunya.
Cicilia dan Eva langsung
kelura kelas menuju toilet sekolah di samping kantin.
‘ Test pack apaan, sih..?’
Tanya Daniel dalam hati yang menguping
pembicaraan mereka berdua di bawah kolong meja kelas.
Daniel ikut membuntuti
mereka sambil membawa gulungan lukisan pencil wajah Cicilia.
Kebetulan toilet sekolah
sedang tidak mengantri. Cicilia dan Eva langsung masuk kedalam salah satu
ruangan untuk melakukan tes kehamilan,
dengan cara mengambil air seni Cicilia secukupnya pada suatu wadah. Kemudian pada
ujung tes pack dicelupkan pada air seni itu.
“ Tunggu beberapa saat..”
Bisik Eva.
“ Aduh, aku jadi berdebar-debar,
Vaa…”
Beberapa menit kemudian
alat itu menunjukkan garis biru yang artinya positif hamil.
“ Haaah ?! Gawat…! Biru,
Cii…Biru !”
“ Maksudnya..?”
“ Ya, ampun kamu hamil,
Ci..”
“ Jangan becanda kamu,
Va..!” Cicilia masih tidak percaya.
“ Ini liat garis biru
ini. Ini artinya kamu positif hamil..” Kata Eva menjelaskan.
Tangis Cicilia langsung
meledak. Eva berusaha menenangkan kawannya itu dengan memeluk sambil
mengusap-ngusap kepalanya.
“ Terus aku harus
bagaimana, Va..?” Tanya Cicilia sambil sesunggukkan.
“ Tenangkan diri dulu, baru
kita cari jalan keluarnya..”
Mereka kemudian keluar
dari toilet dengan perasaan hancur.
“ Ci..Cici…Kamu kenapa..?
Sakit, ya..?” Tanya Daniel di muka toilet.
Cicilia dan Eva sekilas
menoleh kawannya itu dengan tampang sangar.
“ Ci..Cici…”
“ Apaan sih kamu..?!” Bentak
Eva kesal.
“ Ini lukisannya..” Jawab
Daniel sambil menyodorkan lukisan di tangannya.
“ Ambil buat kamu. Nggak
penting banget, sih ? Pinggir, aku mau lewat..!” Semprot Eva kepada Daniel
sambil memapah Cicilia.
__ADS_1