
“ Selamat atas kelahiranmu untuk yang kedua kali.” Ucap Daniel kepada dirinya sendiri di depan
cermin. “ Selamat tinggal gagap dan bahu membungkuk.” Lanjutnya sambil mengangkat bahu dan dagu tinggi-tinggi seperti yang diajarkan bapaknya.
Beberapa hari ini Daniel memang nampak berbeda dari biasanya. Dia terlihat lebih segar, berwibawa dan
tampan. Di dalam hati kecilnya Daniel telah menyukai dirinya sendiri yang kini nampak baru. Kemajuan pesat setelah pak Hans menggembeleng mentalnya sekian bulan, sekaligus dilarang keras memasuki zona aman yang menyebabkan Daniel hidup terbelakang. Membentuk karakter orang yang dalam fase pencarian memang lebih mudah ketimbang membentuk karakter bagi orang tua yang telah ‘berkarat’, seperti ketika pak Hans menasihati istrinya, ibu Lenny.
“ Perubahan terus menerus itu sangat penting. Sebab, di situlah letak hakikat hidup sesungguhnya. Menolak
perubahan berarti mengingkari pertumbuhan. Dan itu sama dengan mati. Hidup tapi seperti mati itulah dinamakan zombie. Kamu mau menjadi zombie..?” Canda pak Hans kepada Daniel suatu hari ketika tengah membantu Daniel mengganti warna cat kamarnya.
“ Tentu tidak mau, yah..” Jawab Daniel sambil asik menarik roll di tangannya.
“ Ow, kamu sekarang mulai pindah menjadi anak ayah rupanya..” Tiba-tiba ibu Lenny datang menghampiri.
“ Tentu saja anak ayah, sebab Daniel anak laki-laki. Dan ayah akan membentuk Daniel sesuai karakter
anak laki-laki, bukan karakter anak perempuan.” Sambut pak Hans.
“ Oke, itu tidak masalah. Tapi, juga harus hati-hati lho, ya. Jangan sampai menjadi anak pembangkang dari
perintah seorang ibu. Tahu tidak apa akibatnya ? Kualat !”
“ Jangan suka mengancam seperti itu untuk didengar anak. Tidak baik. Padahal banyak orang tua yangjustru kualat kepada anaknya. Itu sering kali tidak disadari.”
“ Oo ya..?” Ibu Lenny menantang suaminya.
“ Ya, bukankah setiap anak yang lahir dalam keadaan putih bersih seperti selembar kertas kosong..? Keliru
memberikan warna pada kertas putih bisa berakibat fatal. Dan orang tua harus mempertanggungjawabkannya.”
“ Berlebihan,”
“ Daniel ternyata sudah dalam tahap yang memprihatinkan. Dan itu bunda tidak sadari dan teliti. Bunda
hanya merasa terhibur melihat Daniel yang nampak seperti anak manis yang selalu patuh. Padahal tidak. Daniel justru sampai tidak mengetahui siapa dirinya. Untung ayah segera menyelamatkannya. Jika tidak, mungkin tidak lama lagi Daniel dijemput ambulan rumah sakit khusus orang gila. Kini, lihat apa yang terjadi pada Daniel. Dia telah
berubah seperti seorang prajurit perang.” Kata pak Hans panjang lebar sambil berdiri.
Ibu Lenny diam seribu bahasa sambil menatap anaknya yang dia akui memang nampak berbeda.
“ Lihat sikap Daniel kini. Tidak lagi berbicara gagap dan membukuk lagi bukan..?” Kata pak Hans
dengan rasa bangga.
“ Lalu apa yang bisa dibanggakan menjadi laki-laki yang terkesan sombong seperti itu..?”
“ Daniel kini menjadi laki-laki sejati.”
“ Laki-laki sejati bagaimana ? Berubah menjadi seorang pemberontak dan urakan, begitu.?”
“ Tergantung. Kalau Daniel merasa terkekang, mau tidak mau Daniel tentu akan berontak. Urakan ? Urakan versi
siapa..? Tidak bisa main vonis seperti ibu, bunda.” Serobot Daniel tiba-tiba membuat ibunya tercengang.
“ Aha..! Ayah bangga dengan sikap percaya dirimu kini, nak..Hebat !” Kata pak Hans sambil menepuk bahu Daniel.
“ Sudah pandai bicara rupanya kamu “
“ Bukan maksud Daniel seperti itu, bun. Tapi, memang itu yang Daniel harus katakana. Mau ngomong apa lagi.” Balas Daniel membuat pak Hans tertawa ngakak.
__ADS_1
“ Sama saja kalia. Dasar laki-laki..!” Seru ibu Lenny sambil berlalu.
“ Beryukurlah, bunda, karena anak kita kini tidak gagap lagi. Hahaha…” Teriak pak Hans.
Sambil bersiul Daniel merapikan rambunya yang kini tidak lagi berponi. Dia memangkasnya nyaris habis seperti
seorang prajurit perang. Nampak terkesan gagah dan berwibawa. Kemudian dia mengenakan jaket kulitnya. Penampilan keren yang membuat banyak orang bedecak kagum. Kemudian mengambil helm sepeda motornya dan keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.
“ Mau kemana lagi kamu.?” Tanya ibu Lenny ketika berpapasan di teras depan rumah.
Daniel tidak langsung menjawab, hanya tersenyum tipis.
“ Di tanya cengar-cengir. Mau kemana kamu.?” Tanya ibu Lenny dengan wajah masam.
“ Ada urusan laki-laki, bunda.” Jawab Daniel santai.
“ Mau menemui perempuan itu..?” Tanya ibu Lenny.
“ Mybe yes, mybe not..”
“ Gaya kamu. Awas, kamu ya coba-coba menemui perempuan hamil itu lagi. Bunda gantung kamu di tiang jemuran.!”
Daniel tertawa ngakak.” Memangnya celana kolor digantung di jemuran. Bunda ada-ada saja kalau bercanda. Sudah ya, Daniel cabut dulu. Bye-bye..!” Kata Daniel sambil tarik gas sepeda motor barunya.
WEEEEE……R !
Sepanjang perjalanan Daniel berbicara di dalam hati.’ Mybe ya. Mungking seharusnya aku menemui Cicilia.’
Setang sepeda motor besarnya lalu mengarah ke jalan di mana Cicilia tinggal. Hatinya makin mantap, bahwa Cicilia memang perempuan yang harus dia perjuangkan. Bukan Daniel tidak punya pilihan lain kala banyak
cewek-cewek di sekolahnya mendadak jatuh cinta dengannya, atau pun membangkang dari hakikat perubahan tetapi, justru ia ingin membuktikan jika cinta itu harus tumbuh kembangkan dan diperjuangkan. Bagi Daniel baru, mengasah kedewasaan itu jauh lebih penting ketimbang objek yang diperjuangkan – Dirinya lebih penting
ketimbang Cicilia itu sendir. Jadi, hemat Daniel, perjuangan itu penting untuk meningkatkan kwalitas karakter diri, bukan bertujuan untuk sesuatu yang diperjuangkannya itu. Kali ini Daniel ingin membuktikan kesetiaan cintanya
Setelah tiba di rumah Cicilia, Daniel langsung mengetuk pintu rumah itu penuh percaya diri. Ketika daun
itu dibuka Cicilia sendiri, alangkah terkejutnya Cicilia melihat Daniel yang nyaris tidak bisa ia dikenali lagi.
“ Kamu..?” Ucap Cicilia dengan wajah heran.
“ Ya, aku Daniel.”
“ Ow, my God..!” Seru Cicilia.
Beberapa detik Cicilia masih bengong sambil menatap cowok tampan di depannya. Kemudian tersadar dengan
sikap salah tingkah.
“ Silahkan masuk..” Ujar Cicilia.
Mereka kemudian saling diam. Seperti tengah kehilangan arah mulai dari mana mereka membuka percakapan, yang akhirnya saling menunggu siapa yang membuka mulut lebih dulu.
Cicilia mengelus-ngelus perut gendutnya, seakan menunjukkan derita yang kini dia rasakan seorang diri.
“ Sudah jalan berapa bulan..?” Tanya Daniel memanfaatkan moment tersebut.
“ Sembilan bulan..” Jawab Cicilia tanpa ekspresi.
“ Sembilan ?” Daniel terkejut.
“ Kenapa..?” Cicilia balik bertanya.
__ADS_1
“ Berarti sebentar lagi aku akan menggendong seorang bayi.” Jawab Daniel mantap.
Cicilia tersenyum hambar. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang Daniel katakan karena, seperti mustahil. Bukankah bayi yang dikandungnya sama sekali bukan darah daging Daniel..? Daniel sama sekali tidak menanam saham di situ.
“ Aku serius, aku siap menjadi bapak dari anak itu.” Kata Daniel lagi.
“ Sudahlah Daniel..Jangan membuang-buang waktumu untuk sesuatu yang bukan kwajibanmu.”
“ Anak itu bagian tanggungjawabku.”
“ Kenapa kamu bisa nekat seperti itu ?”
“ Karena kamu masih menjadi istriku.”
“ Apa..? Aku tidak salah dengar..?”
“ Tidak.”
“ Daniel..Ow, my God..!” Ucap Cicilia terhenti karena bingung kata-kata apa lagi yang dia harus katakana.
“ Detik ini aku masih sah menjadi suamimu, Cici..”
Cicilia menatap erat pria di depannya itu. Sungguh, Cicilia seolah tidak percaya dengan kata-kata Daniel
tersebut.
“ Aku tidak pernah menceraikanmu. Tidak pernah mentalakmu. Kepergianmu sekian bulan sama sekali tidak memutuskan ikatan pernikahan kita, Cici..” Kata Daniel berusaha meyakinkan.
“ Tapi..Aah, sudahlah..”
“ Tapi, apa..?” Desak Daniel.
“ Pernikahan kita itu sebenarnya rekayasa belaka, Daniel.”
“ Ya, aku sudah tahu soal itu. Memang rekayasa tapi, ketika ijab kabul aku ucapkan di depan penghulu adalah jujur dan ikhlas. Aku yakin. malaikat-malaikat ikut menyaksikan peristiwa itu. Mungkin saat itu kalian tertawa puas karena bisa mengelabui aku, si bocah yang kalian anggap bodoh. Tapi, bagiku sendiri, peristiwa itu sangat sakral yang membuat batinku merasa khusuk. Karena itu adalah peristiwa penting dalam perjalanan hidupku, dengan tekat untuk menjaganya dan hanya sekali dilakukan dalam seumur hidupku. Aku sama sekali tidak main-main ketika itu, meskipun aku nampak seperti mempelai pria yang dungu.”
“ Daniel..” Ucap Cicilia lirih.
“ Barang siapa yang mempermaikan kehidupan orang lain, dia akan terjebak dengan permainannya sendiri. Sampai kapan terus bersandiwara..? Jika semua kebohongan terus dipoles dengan sandiwara-sandiwara baru..? Sesungguhnya itu siksaan pada diri sendiri, bukan suatu kesuksesan. ”
“ Daniel..”
“ Aku tidak bisa kalian pecundangi, karena aku masih setia memilihmu sebagai istriku, setia dengan suara hati kecilku sendiri.”
“ Ya, Tuhan, Daniel..!” Seru Cicilia sambil memeluk Daniel.” Maafkan kesalahkanku..” Lanjutnya seraya memecahkan genangan air mata di kelopaknya yang tak tertahankan lagi.
Memang terkesan pelarian Cicilia yang kedua kali terhadap Daniel, saat di mana tidak ada orang yang mau perduli,
terlebih pak Bobby yang telah menghamili. Tapi, kehadiran Daniel sungguh sangat menggugah hatinya dan sulit bagi dia untuk menolak kehadirannya. Daniel di matanya kini benar-benar pribadi yang berbeda, yang amat meyakinkan untuk menjadi seorang pendamping hidup. Itu penting bagi seorang istri, tanpa keyakinan dengan seorang kapten, mustahil bahtera rumah tangga dapat berjalan setabil menuju pelabuhan yang
menjadi tujuannya. Mungki awak kapal justru akan menempuh jalannya sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri. Itu yang menurut Cicilia tidak dimiliki oleh Daniel yang dulu, yang culun serta gagap.
“ Bagaimana dengan sekolah kamu..?” Tanya Cicilia kepada Daniel setelah puas berharu biru sambil bermesraan di ruang tamu.
“ Tetap jalan seperti biasa..” Jawab Daniel.
“ Setelah lulus mau melanjutkan kemana..? Kuliah di bidang seni atau..?”
“ Kalau memungkinkan aku ingin masuk Akabri ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)”
“ Woow. Aku doakan cita-citamu terkabul, Daniel, supaya kamu makin mahir menembak.”
__ADS_1
“ Nembak siapa ?”
” Nembak aku, dong…Hihihi..!” Ujar Cicilia membelokkannya dengan bercanda untuk mencairak suasana,