
Cicilia berjalan pelan sedikit mengangkang. Sesekali mengusap-ngusap perutnya yang makin membesar. Dengan
alasan supaya bisa bergerak leluasa, Cicilia pun kini menjadi pengemar baju daster yang mengantung di atas lutut. Pakaian sehari-hari yang cocok untuk ibu hamil. Kulitnya yang putih mulus membuat pahanya sering kali tersingkap oleh tiupan angin nakal. Cicilia menikmati tiupan itu karena terasa sejuk sepoy-sepoy.
Mata Daniel pun mulai dianggap nakal oleh Cicilia karena, dia salah satu cowok yang menganggap wanita
hamil itu terlihat sexy, menggairahkan. Namun, Cicilia tak menggubrisnya. Daniel dibiarkan menelan ludahnya sendiri mungkin sambil membayangkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama menikah. Sosok suami yang nampak seperti seekor kucing bodoh yang hanya bisa memandang ikan yang tersaji di depan mata tapi, tidak ada keberanian untuk menjamahnya. Padahal jelas-jelas sudah tindakan yang diperbolehkan secara hukum.
Daniel memang tengah bermain dengan perasaan. Baginya, stempel halal saja seolah tidak cukup, sebelum mendapatkan izin. Sungguh, Daniel adalah seorang pria yang dinilai paling sopan yang pernah Cicilia kenal. Bagi Daniel, hubungan suami istri sudah sepatutnya dilakukan dengan hati yang sama-sama ikhlas ? Jika tidak, maka seorang istri akan menuduhnya telah melakukan pelanggaran HAM ( Hak Asasi Manusia). Memang sejauh ini Daniel sukses dalam menahan hasrat biologisnya. Tapi, entah dikemudian hari..
Apakah Daniel bisa terus bersabar, sedangkan Cicilia belum juga memberi tanda-tanda ? Apakah Daniel akan
nekat menerkam istrinya karena belum juga tercium bebauan yang dapat merangsang sang pejantan supaya datang menghampiri seperti, seekor musang ketika musim kawin tiba ? Masih saja Cicilia terasa dingin seperti salju.
Daniel mondar-mandir di depan Cicilia sengaja hanya mengenakan selembar handuk, dengan harapan ada bagian-bagian dari tubuhnya yang membuat Cicilia tertarik, entah itu otot dada, lengan, bahu, perut atau yang lainnya. Karena Daniel kini memang rajin membentuk badan di gym bersama ayahnya. Tidak lagi krempeng seperti dulu.
“ Daniel..” Panggil Cicilia dengan nada mesra sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.
“ Ya, sayang..” Jawab Daniel tidah kalah mesranya.
“ Pijit kaku aku mau tidak ? Terasa kram sekali, nih..” Lanjut Cicilia.
“ Ooh, tentu, nyonya..” Kata Daniel sambil bergegas naik ke atas tempat tidur.
Daniel kemudian memijit kaki istrinya mulai dari ujung jari hingga di atas lutut sambil berkali-kali menarik napas. Jantungnya berdegup kencang. Daniel yakin, ini adalah moment di mana dia melepas keperjakaan yang telah sekian lama dia jaga dan banggakan.
Sebenarnya Daniel tidak lagi perjaka seperti pada umumnya remaja pria di sekolahnya. Bukannya dia pernah berbuat nakal dengan bergonta-ganti pasangan. Tapi, keperjakaannya kandas akibat sering berlama-lama di dalam kamar mandi. Status perjaka yang sebenarnya cuma omong kosong belaka.
“ Cuma sampai di sini..? Apa tidak sekalian dipijit sekalian keseluruh badan.?” Tanya Daniel sambil menghentikan pijitannya sebatas lutut Cicilia.
“ Iya. Sampai batas itu saja. Jangan merembet kemana-mana..” Jawab Cicilia.
“ Kamu ingat tidak saran dokter kandungan yang kemarin kita datangi.. ?” Tanya Daniel.
“ Saran apaan, ya.? Aku tidak ingat.” Kata Cicilia pura-pura lupa.
Daniel tiba-tiba menjadi salah tingkah. Ada rasa engan untuk menjelaskannya secara vulgar. Namun dia jelas merasa sedikit jengkel karena, saran dokter kandungan yang diabaikan.
“ Dokter itu memangnya menyarankan apa..?” Pancing Cicilia yang sudah terbiasa memainkan perasaan pria.
“ Hm.., hm..Apa tuh..Ngg…” Daniel kembali gagap seperti dulu.
“ Daniel, please jangan gagap lagi. Aku lelah mendengar orang bicara gagap.” Cicilia memohon.
“ Bukankah dokter kandungan itu pernah bilang bahwa berhubungan itu penting dilakukan bagi perempuan yang
tengah hamil tua ? Supaya saat melahirkan berjalan lancar ?” Kata Daniel mengingatkan nasihat seorang dokter kandungan yang pernah mereka kunjungi untuk berkonsultasi.
“ Owh, ituu…Daniel, aku sertiap hari rutin meminum minyak goreng. Jadi, kamu tidak perlu hewatir soal itu” Kata Cicilia membuat Daniel menyimpan rasa dongkol.
“ Tapi, akuu.., aku juga ada yang perlu dilancarkan. Sudahlah, abaikan..Aku cuma bercanda.” Kata Daniel
dengan sikap salah tingkah, membuat Cicilia tidak bisa menahan tawa dengan sikap ragu Daniel itu,
“ Aku tidak ingin, Daniel. Tepatnya, belum ingin..”
“ Mengapa..?”
“ Harus dilakukan dengan perasaan cinta..” Jawab Cicilia.
“ Oo..Ya.., ya..” Daniel mengangguk-angguk.
“ Mungkin kita butuh waktu lebih banyak untuk saling mengenal. Bersabarlah..”
“ Kenapa dengan yang lain kamu tidak seperti itu..?”
“ Maksud kamu..?”
__ADS_1
“ Saat melayani seorang klien, termasuk om Bobby..”
Cicilia langsung kaget mendengar ucapan Daniel tersebut. Dari mana dia mengetahui profesinya itu.
“ Rupanya kamu sudah mengetahui banyak tentang aku, ya..? Kamu tahu dari siapa..?” Tanya Cicilia
menyelidiki.
“ Tentu ada. Karena aku punya telinga yang bisa mendengar dan punya mulut untuk bertanya..”
“ Terus terang saja, Daniel.Siapa ?”
“ Eva.” Jawab Daniel.
Wajah Cicilia berubah keruh. Dia kecewa dengan sikap sahabatnya itu yang dianggap tidak etis karena membongkar profesinya ketika akan memasuki lembaran hidup baru. Cicilia menghela napas dengan perasaan kesal.
‘ Asem..!’ Gerutu Cicilia dalam hati.
“ Aku tidak menyangka jika Eva tega menceritakan masa laluku kepadamu. Apa maksud dia, ya..?”
“ Aku rasa dia tidak bermaksud apa-apa.” Bela Daniel supaya Cicilia tidak memperuncing masalah.
“ Seharusnya tidak seperti itu. Membongkar aib kawan dekat itu sangat tidak etis.” Kata Cicilia.
“ Sudahlah, siapa pun kamu di masa lalu, hal itu tetap tidak berarti bagiku. Aku tetap memilih kamu sebagi istriku.” Daniel meyakinkan.
“ Ya. Aku sangat beruntung memiliki kamu yang mau menerima aku apa adanya. Aku syukuri itu..” Ujar Cicilia datar.
“ Lalu apa lagi yang mau dipermasalahkan..?”
Cicilia tidak menjawab. Dia malah justru memain-mainkan bibirnya dengan memonyongkannya, memble, miring
kiri dan kekanan sambil berpikir.
“ Kembali kepada pertanyaanku semula, mengapa dengan yang lain kamu ingin sedang dengan suami
Cicilia tertawa dengan perasaan geli bercampur kasihan. “ Sorry.., sorry..” Ucap Cicilia.
“ Aku mau melayani mereka karena aku butuh uangnya. Sedang kepadamu…” Ucap Cicilia terputus membuat Daniel bertambah penasaran. “ Ini soal rasa, Daniel. Tidak bisa direkayasa.” Lanjut Cicilia.
“ Bagaimana kamu bisa mengenalku lebih dalam, jika kamu tertutup kepadaku..? Kamu tidak akan tertarik
barang di etalase jika tidak pernah menyentuhnya. Kwalitas sepotong pakaian hanya bisa kamu ketahui jika sudah mencobanya di kamar ganti. Bukan begitu ?” Kata Daniel.
Cicilia kemudian menjentik-jentikkan jarinya yang panjang-panjang sambil berpikir. Ada sesuatu yang perlu dia
pertimbangkan sebelum diucapkan.
“ Boleh aku berterus terang..?” Tanya Cicilia.
“ Tentu, bahkan aku hargai itu..”
“ Jangan tersinggung, ya..?”
“ Tidak. Katakan saja”
“ Aah, sebenarnya ini cuma soal selera. Sama sekali tidak mewakili semua perempuan.”
“ Ya, apa..?” Daniel tak sabar menunggu kelanjutan.
“ Begini, Daniel. Aku suka kamu bersikap sopan. Aku hargai itu, karena sulit menemukan laki-laki yang seperti itu, terlebih di jaman edan seperti sekarang ini. Tapi…”
“ Tapi apa..?”
“ Pada hal-hal tertentu, cowok yang terlalu sopan membuat aku justru..”
“ Kenapa, Ci ?”
__ADS_1
“ Tidak membuatku tertarik..” Jawab Cicilia pelan.
“ Oo. Begitu ?”
“ Maaf, ya, Daniel..Jangan tersinggung,”
“ Tidak apa-apa.”
Daniel kemudian terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka jika sikap sopan yang ditanamkan oleh ibunyaitu justru membuat Cicilia tidak pernah jatuh cinta kepadanya.
“ Aku suka cowok yang agresif dan rajin membuat serangan. Karena kodrat seorang laki-laki sejati itu suka berpetualang, senang menaklukkan dan tak mau dikalahkan. Cowok yang memiliki ego besar kadang terlihat jantan dan sexy. Asal jangan egois.”
“ Hmm..Begitu, ya..?”
“ Seorang Napoleon Bonaparte tidak akan bisa menaklukkan benua Amerika jika sikapnya klamer klemer seperti Cinderella. Dia pasti memiliki ego besar yang tak mau dikalahkan siapa pun.”
Daniel menghembuskan napasnya dengan menghentak.
“ Tapi, aku sangat bangga dengan kamu sekarang ini. Kamu telah mencapai kemajuan pesat yang tidak sangka-sangka. Sikap kamu benar-benar telah berbeda dibanding dengan Daniel yang dulu. Kini kamu nampak gagah dan tidak bicara gagap lagi. Itu suatu kemajuan pesat yang membuat aku takjub dan kagum kepadamu.”
“ Tapi, sayangnya belum membuat kamu jatuh cinta.”
“ Lakukan sesuatu yang membuat aku jatuh cinta, bahkan tergila-gila kepadamu.”
Sebenarnya tidak butuh waktu lama untuk mengusik ego seorang Daniel yang dikesankan cowok klamer-klemer
seperti Cinderella oleh Cicilia tersebut. Hatinya tersinggung karena diragukan kelaki-lakiannya. Tiba-tiba Daniel melepas handuknya.
“ Mari kita praktekkan apa yang dokter telah sarankan.” Kata Daniel mantap.
“ Jika aku menolak.?”
“ Aku akan memaksa.”
“ Lho, ko gitu..?”
“ Demi kelancaran kamu saat melahirkan dan demi diriku sendiri supaya tidak berpaling dengan perempuan lain.”
“ Buktikan.”
POK…POK..POK..! Malam itu seperti ada suara orang menepuk permukaan air cukup lama, kemudian hening.
‘ Sial ! Ternyata hanya segitu saja nikmat surga dunia yang menyebabkan seorang patih rela kerja lembur untuk membuatkan sebuah candi dalam malam demi menyenangkan perempaun pujaannya hati ’ Ucap Daniel dalam hati ketika pagi hari.
Setelah itu Cicilia merintih menahan rasa mulas yang tiba-tiba saja datang. .
“ Daniel.., perutku..Aduh, perutku mulas-mulas..” Teriak Cicilia sambil merintih.
“ Haah, mulas ? Wah,gawat !”
“ Ko, gawat..? Mungkin ini sudah saatnya, Daniel.”
“ Ups ! Maaf,maaf..Tunggu, aku berkemas dulu. Mana daftar nama-nama bayi yang sudah kita pesiapkan?” Tanya Daniel panik.
Kemudian mereka berdua langsung meluncur ke klinik bersalin dengan sepeda motor.
“ Di cek kandungannya dulu, ya..Silahkan masuk.” Kata seorang dokter kandungan setelah mereka sampai di klinik.
“ Maaf, dok. Aku mau izin ketoilet sebentar.” Ucap Cicilia.
“ Oo..Silahkan.” Kata dokter itu.
“ Huuuh, lega juga..!” Gumam Cicilia di atas toilet.
Setelah kelar Cicilia langsung berbisik kepada Daniel.” Ko, mulas-mulasnya mendadak hilang, ya..? Jangan-jangan rasa mulas itu karena aku semalam makan gorengan sama rawit setan.”
“ Lho..Jadi, kita langsung pulang saja, nih..?” Tanya Daniel.
__ADS_1
“ Iyalah.”