
Ketika jam istirahat sekolah tiba, Daniel memanfaatkan waktunya untuk menyendiri di belakang
sekolah. Di sana dia berimajinasi dengan menggunakan pensil dan buku gambarnya.
Kali ini mengambar wajah seorang gadis yang tengah bersedih. Air matanya
digambarkan tengah mengalir di pipi. Daniel membayangkan sosok Cicilia yang
kini tengah dirundung duka, di mana Daniel tahu Cicilia kini tengah dikucilkan oleh
kawan-kawan sekolahnya. Tapi, Daniel sama sekali nge-bank soal penyebabnya mengapa Cicilia dikucilkannya itu.
“ Siapa itu..?” Tanya Eva tiba-tiba yang muncul dibelakangnya.
Daniel menoleh sambil terkejut. Mulut Daniel terkunci rapat. Kesulitan berkomunikasi karena tidak
memiliki percaya diri, bukan karena Daniel menderita penyakit gagap.
“ Cantik. Tapi, kenapa dia nampak bersedih seperti itu..?” Tanya Eva penasaran.
Daniel tetap membisu. Sikapnya berubah rikuh. Daniel langsung menutup buku gambarnya. Imanjinasinya berakhir sampai di situ karena, seketika buyar.
“ Lho, ko..? Memangnya sudah selesai..?” Tanya Eva yang sebenarnya ingin membuka komunikasi dengan
kawan sekelasnya itu yang sebelumnya dia abaikan.
Daniel beranjak dari duduknya lalu melangkah meninggalkan Eva tanpa basa-basi.
“ Daniel, kamu mau kemana? Tunggu..!” Seru Eva sambil berusaha menyamai langkah Daniel yang cepat.
Daniel kemudian memperlambat langkahnya. Pertanda mulai membuka diri terhadap kehadiran Eva
yang serta-merta dan terasa tidak biasa. Sesekali dia melirik Eva di sampingnya dengan tampang dingin.
“ Ada sesuatu yang aku mau sampaikan kepada kamu..” Ucap Eva.
Daniel tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mulai berani menatap Eva agak lama kemudian
membuang mukanya kembali kearah kanan-kiri atau ke bawah seperti orang tengah mencari sesuatu yang hilang. Sikap yang menjadi kebiasaan Daniel ketika ada orang yang berbicara dengannya, terlebih seorang perempuan.
“ Langsung saja,ya..Kelihatannya kamu masih menyukai Cicilia. Benar tidak ?” Tanya Eva.
Daniel makin salah tingkah. Wajahnya berubag pucat dan mendadak ingin pipis.
“ Benar tidak..?” Desak Eva.
Kepala Daniel berputar kesana kemari seperti tidak fokus. Pertanyaan Eva benar-benar membuat dia grogi setengah mati. Dan Daniel seolah tidak percaya jika ada kawan sekelasnya yang diam-diam menaruh perhatian
kepadanya.
“ Jujur saja. Iya tidak..? Kalau iya, tidak apa-apa. Itu bagus..” Lanjut Eva sambil tersenyum agar terkesan bersahabat.
__ADS_1
“ Aku mau ketoilet..!” Seru Daniel sambil berlari.
“ Daniel..! Tunggu…!” Eva mengejarnya.
Tapi Daniel yang merasa telah tercium aibnya makin cepat meninggalkan Eva, lalu mengurung diri di dalam toilet siswa pria. Tapi, Eva menantinya dengan sabar di luar. Upaya ektra dalam menghadapi kawannya yang berprilaku dikenal aneh.
Ketika bel sekolah berbunyi untuk masuk kelas lagi, mau tidak mau Daniel harus keluar dari dalam toilet.
Langkah kakinya pelan-pelan seperti tikus keluar dari tempat persembunyian.
“ Daniel..” Suara Eva mengagetkan dari belakangnya.
Eva kemudian memegangi lengan Daniel erat-erat supaya tidak lari-larian lagi.
“ Cicilia ingin bertemu kamu secara pribadi. Kamu siap..?”
Daniel menatap wajah Eva dengan mulut menganga membentuk huruf ‘O’. Dia seolah tidak percaya kabar
berita yang mengejutkan tersebut.
“ Saat pulang nanti sore, kamu ditunggu di muka sekolah.”
“ Aku.., aku.., aku belum siap..” Jawab Daniel.
“ Mempersiapkan apa..? Dia cuma kepingin ngobrol saja, ko, tidak menggigit.” Bujuk Eva.
Daniel mengangguk pelan.”Iya..” Jawabnya.
Perasaan Daniel bercampur aduk tidak karu-karuan; ada rasa senang bercampur hewatir yang sebenarnya tanpa alasan. Sungguh, Daniel tak mengangka jika ternyata Cicilia dianggap telah menaruh minat untuk bergaul dengannya. Setidak-tidaknya itu pun bisa membuat Daniel bahagia, karena merasa telah dihargai. Terlebih
dari sosok penting dalam hidupnya, Cicili. Dan pertemuan emat mata nanti pun bisa mengangkat martabatnya yang dipandang sebelah mata oleh kawan-kawannya. Murid yang mana yang tidak mengenal Cicilia..? Dia populer dan glamour, berbeda dengan murid kebanyakan. Bagi Daniel yang merasa bagai setitik debu di sekolah, kabar berita yang disampaikan Eva tersebut serasa bagaikan mimpi di siang bolong.
Daniel membayangkan betapa senang hatinya ketika nanti bisa ngobrol dengan Cicilia. perempuan cantik yang ia cintai sejak lama tapi ia simpan rapat-rapat. Meskipun hal itu bukan rahasia lagi bagi beberapa orang kawan sekelasnya, termasuk Cicilia sendiri.
Namun cinta rahasia itu, bagi Daniel kini, bukan lagi menjadi beban di hatinya. Lama kelamaan malah justru menimbulkan kenikmatan tersendiri baginya. Karena Daniel memiliki segudang imajinasi yang kapan saja dia mau Cicilia dibawa pergi kedalamnya. Bebas tanpa batas, bahkan hingga mendobrak batas kewajaran. Dan itu hanya terjadi di dalam ruang rahasia miliknya, yang terletak di ujung gudang belakang rumahnya. Ruang gelap, pengap dan sempit yang sering kali Daniel singgahi kala hatinya tengah gundah atau merasa penat. Di sana juga banyak ditempel poto-poto Cicilia yang ia curi dari album medsos dengan berbagai macam ukuran dan gaya Cicilia.
Dan yang lebih mengejutkan, Daniel juga menciptakan wujud Cicilia dari bantal guling. Boneka itu ia bentuk
sedemikian rupa lengkap dengan seragam sekolah. Memang jauh dari sempurna untuk disebut sebuah replika seperti pada umumnya. Tapi, bagi Daniel itu tidak penting. Yang terpenting baginya adalah, ia bisa mengungkapkan segala macam perasaannya. Bahkan sering kali guling itu berfungsi lebih dari itu. Bukankah Daniel juga seorang manusia yang memiliki dorongan biologis..?
Seperti kemarin malam yang Daniel lakukan. Setelah sebelumnya dia telah memastikan rumahnya dalam keadaan sepi, kala semua tengah tertidur pulas. Daniel diam-diam masuk kedalam gudang yang berada di belakang rumahnya. Setelah masuk kedalam ruang rahasianya, wajah Daniel berubah ceria, seperti tengah menemui
Cicilia sesungguhnya.
“ Aku melihat perut kamu disembunyikan terus tiap kali bersekolah, seperti seorang penguntit barang di supermarket. Apa yang kamu sembunyikan di dalam seragammu itu, Ci..?” Tanya Daniel suatu malam kepada guling orang-orangan itu.
“ Aku hamil Daniel, sayang…” Jawab dari mulut Daniel sendiri seolah mewakili Cicilia.
“ Hamil..? Wah, berarti tidak lama lagi aku akan menjadi bapak. Aku sangat gembira mendengarnya..”
Jawab Daniel sambil meraba-raba bagian tengah guling itu.
__ADS_1
“ Oya..? Kamu gembira..? Kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia, sayang..” Lanjut Cicilia khayalan.
“ Tentu. Kita akan membuat kehidupan sendiri yang jauh dari pengaruh orang tua, terutama dari ibuku yang menghalangiku untuk tumbuh dewasa. Aku ingin lepas dari pengaruh ibuku. Tapi, aku tidak berani melakukannya sendiri tanpa kamu yang menemani..”
“ Iya, sayang. Aku tahu ibumu memang kejam.”
“ Cicilia, kini, maukah kamu aku melanjutkan pembuahan diperutmu
lagi.. ? Malam ini aku sedang ingin. Seperti ada sesuatu yang makin penuh dan menganjal. Pegal rasanya jika aku menghimpitnya terlalu lama.” Ucap Daniel mulai bernafsu.
“ Tentu sayangku. Bukankah aku ini sudah menjadi istrimu. Lakukanlah seperti apa yang kamu mau.”
Daniel kemudian bersiap-siap melaksanakan hajatnya. Baju dan celananya ia tanggalkan berlahan-lahan, untuk mengundang gemas Cicilia khayalan. Lalu mencembui boneka guling itu seperti layaknya hubungan intim suami-istri. Setelah puas, Daniel mencium guling itu sambil berujar “ Terima kasih, istriku..”Kemudian keluar lagi dari dalam gudang seperti maling dengan perasaan enteng.
Sungguh, Daniel bukanlah anak manis seperti anggapan ibunya selama ini. Prilakunya itu sudah dikatergorikan gangguan mental yang biasa disebut fetisisme.
Tetapi, ketika berada di dunia nyata, Daniel diam seribu bahasa saat berhadapan dengan sosok Cicilia
sesungguhnya.
“ Hai, Daniel..Masih suka melukis..?” Sapa Cicilia ramah sambil tersenyum manis, saat sekolah telah bubar.
“ Hmm..Iya, masih..” Jawab Daniel sambil celangak-celinguk dengan perasaan berdebar.
“ Aku ingin dilukis secara langsung. Bisa tidak..?”
“ Hmm..Ak, aku, aku belum pernah melukis objek langsung..Tapi, sepertinya aku ingin mencobanya..”
“ Yakin..?”
“ Hu’uh. Yakin.”
“ Besok, sebelum berangkat kesekolah mampir ketempat kost aku dulu..Tidak jauh dari sini, ko.
Bawa semua peralatan lukismu..Siap, ya..?”
Daniel mengangguk. “ Iya. Siap..”
Cicilia langsung mengambil jarak agak jauh dari Daniel, kemudian menghubungi pak Bobby melalui pesawat
handphonenya.
“ Hallo, om..Aku sudah mendapatkan calon mempelai prianya” Bisik Cicilia.
“ Ow, syukurlah..Sebelumnya, om mau mengucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng..” Kata pak Bobby nun jauh di sana.
“ Aku juga sudah menemukan tempat kost. Bagaimana kelanjutannya..?” Tanya Cicilia.
“ Oke., oke..Besok om langsung melucur untuk melaksanakan rencana yang sudah kita sepakati.” Ujar pak
Bobby.
__ADS_1