
Bagi Cicilia diakui atau tidak ia sebagai menantu oleh ibu Lenny itu tidak masalah. Toh, pernikahan yang
dilakukannya dianggap sah walau nikah dilakukan di bawah tangan. Dan itu berarti sah pula ia sebagai istri Daniel meskipun dia sendiri sama sekali tidak mencintainya. Sudah barang tentu, Cicilia menganggap apa yang menjadi milik Daniel juga telah menjadi miliknya, seperti kamar Daniel serta barang-barang yang ada di dalamnya. Cicilia merasa berhak menempati, menggeser bahkan membuang sesuatu yang dia anggap tidak penting.
Sepulang dari sekolah Daniel hampir menangis ketika hamster miliknya yang bernama Budi hilang diusir
Cicilia.
“ Sayang, kamu mencari apa..?” Tanya Cicilia ketika melihat Daniel masuk kekolong tempat tidur sambil
sesugukkan.
“ Budi. Lihat Budi aku tidak..?” Jawab Daniel.
“ Budi ? Siapa Budi..?”
“ Hamsterku, Ci…”
Cicilia tertawa ngakak mendengar pengakuan suaminya tersebut.
“ Oo..Mahluk itu namanya Budi..? Ya, tadi aku sudah usir dari kamar ini.”
“ Haah ?! Kenapa kamu usir ?”
“ Menjijikan. Aku geli melihat ekornya. “
Daniel langsung keluar kamar dan mencari keberadaan Budi kesana-sini tapi, tak ditemukan juga sampai dia putus asa.
“ Ko, menangis..? Aduuuh, cup..,cup.., cup.., cup..! Biarkan saja Budi pergi mencari kehidupannya sendiri
supaya mandiri. Jangan dikekang, nanti bisa kuper seperti kamu..Hihihi..” Kata Cicilia dengan sikap sedikit mengejek.
“ Tap..,tapi ak.., aku menyayanginya, Ci..Dia sudah lama menjadi temanku.” Kata Daniel sambil menyeka air mata.
“ Kamu sekarang sudah menjadi calon bapak, sayang..Ini yang kamu harus asuh dan sayangi..” Ucap Cicilia
__ADS_1
sambil membimbing tangan Daniel untuk meraba perutnya. “ Ini anakmu, sayang..Bukan si Budi.” Lanjutnya.
Tidak terima melihat Daniel dengan Cicilia tengah bermesraan, ibu Lenny langsung datang menghampiri dengan wajah masam.
“ Daniel, ganti seragam sekolahmu, cuci tangan, masuk kamar lalu istirahat. Tinggalkan perempuan ini. ” Seru ibu Lenny sambil berkacak pinggang.
“ Iya, istirahat dulu, sayang..Cici rapikan dulu seprai tempat tidurnya..” Ujar Cicilia sambil masuk kedalam kamar Daniel.
“ Tunggu.., tunggu..! Untuk apa kamu masuk kekamar anakku..?” Bentak ibu Lenny.
“ Bukankah ini kamarku juga ?”
“ Kamar kamu ada di belakang, sederet dengan kamar pembantu. ” Ucap ibu Lenny.
Cicilia acuh tak acuh saja dengan ucapan ibu mertuanya itu sambil terus masuk kekamar Daniel. Ibu Lenny membuntutinya dengan perasaan gemas. Ibu Lenny langsung terkejut setelah melihat kamar Daniel ditata ulang
oleh Cicilia. Dari mulai meja belajar, karpet, tempat tidur, almari hingga hiasan dingding semua berpindah tempat sesuai seleranya.
“ Astaga..! kamu ngacak-ngacak kamar Daniel, ya..?!” Tanya ibu Lenny.
“ Sok tau !” Seru ibu Lenny.
“ Ada apa lagi..” Tanya pak Hans tiba-tiba muncul.
“ Orang ini lho, yah, kamar Daniel dibikin berantakan seperti ini..Coba ini lihat, barang-barang
milik Daniel semua dipindahkan. Perempuan lancang..!”
“ Cicilia kan istri Daniel, bun..Jadi ya, wajar saja, dong..”
“ Istri., istri..! Daniel tidak punya istri. Huuh..!” Ucap ibu Lenny emosi sambil berlalu.
“ Jangan diambil hati. Bunda memang kadang suka uring-uringan sendiri. Terlebih saat musim kemarau tiba.” Ucap pak Hans kepada Cicilia sambil becanda.
Pak Hans kemudian meninggalkan Daniel dan Cicilia untuk menjaga privasi anak serta menantunya. Apa lagi mereka baru saja menikah. Pak Hans paham betul apa yang diingini pasangan penanten baru, yang biasanya selalu ingin berdua.
__ADS_1
Pak Hans memang telah menerima kehadiran Cicilia dengan tangan terbuka. Dia merasa Cicilia telah sah
menjadi menantunya. Pak Hans yakin, di balik peristiwa nikah secara paksa kepada anaknya kemarin pasti ada hikmah besar yang bisa peroleh keluarganya, terutama kepada Daniel sendiri. Di mana mau tidak mau, suka atau pun tidak suka Daniel harus belajar menjadi lelaki sejati dengan sejumlah tanggungjawab yang
dipikulnya.
Ketika malam telah tiba, Cicilia terbaring di atas tempat tidur sambil mengelus-ngelus perutnnya. Daniel
ingin sekali ikut mengelus perut istrinya tapi, dia tidak berani melakukan itu tanpa seizin istrinya.
“ Ini bantal kamu..” Cicilia melempar bantak kea rah Daniel yang tengah duduk di karpet. “ Kamu tidur di bawah, aku di atas.” Lanjut Cicilia.
Daniel mengangguk pasrah dengan aturan istrinya tersebut. Ketika malam makin larut Daniel belum juga bisa memejamkan mata. Daniel tengah dilanda gelisah.
“ Ko, belum tidur juga. Kenapa ?” Tanya Cicilia yang mendadak terjaga.
Daniel tidak menjawab apa-apa.
“ Kamu ingin tidur bareng aku di dini.? Tidak Daniel. Jadi, jangan bermimpi ada bulan madu dari pernikahan kita.” Kata Cicilia.
“ Aku sedang memikirkan nasib Budi, Ci..Jangan-jangan dia kehujanan, kelaparan atau dikejar-kejar kucing liar..” Jawab Daniel lirih.
Cicilia berusaha menahan ketawa melihat tingkah suaminya itu. Menurutnya, Daniel memang masih anak-anak,
masih pantas memakai popok dan belum pantas memiliki istri. Cicilia tidak habis pikir, apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya sehingga Daniel tumbuh seperti anak yang memiliki keterbelakangan mental. Akibat lalai diimunisasikah ? Akibat kelebihan gizikah ? Atau mungkin waktu bayinya Daniel tidak pernah dibedong ?
“ Ya. Sudah cari saja sana. Mungkin sedang bersembunyi di tong sampah..” Kata Cicilia.
Daniel kemudian keluar kamar sambil membawa senter untuk mencari keberadaan Budi, hingga kedalam gudang. Tapi, ketika sudang berada di dalam gudang, Daniel tiba-tiba menyempatkan mampir kedalam ruang rahasianya, di mana tersimpan Cicilia ciptaannya yang terbuat dari bantal guling. Pada saat itu Daniel langsung mengungkapkan segala unek-uneknya yang tidak bisa ia ungkapkan di kehidupan nyata.
“ Cici. Aku sebenarnya masih ragu apakah kita ini benar-benar sudah suami istri. Sebab, perlakuanmu kepadaku kadang lebih kejam dari ibuku. Apakah semua perempuan itu sama galaknya ?” Tanya Daniel kepada Cicilia guling dengan tutur kata teratur, tidak gagap seperti ketika di hadapan orang.” Kamu tau, betapa aku sangat marah kepadamu karena dengan seenaknya kamu mengusir Budi. Kamu tau siapa Budi sesungguhnya ? Dia anak yatim piatu dan terusir dari kolonialnya karena dianggap aneh. Aku dengan Budi senasib sependeritaan, Ci.. Jadi aku harap, kamu jangan bertindak sewenang-wenang dengan Budiku.” Lanjut Daniel sambil mengguncang-guncang guling itu.
Kamudian Daniel terdiam sejenak, seperti tengah memikirkan sesuatu.
“ Oya, aku juga mau tanya. Menurut gossip teman-teman di sekolah, bayi yang kamu kandung itu sebenarnya bukan anakku. Lalu siapa laki-laki lain selain aku, Ci..? Kapan aku melakukan itu sampai kamu hamil..? Kapan..? Waktu aku datang ketempat kostmu..? Aku tidak merasakan apa pun selain tidur ketika itu, Ci..Jujurlah kepadaku karena aku ini suamimu. Tidak apa-apa, ko. Aku tidak akan marah. Karena aku tulus mencintaimu.” Ucap Daniel sambil memeluk guling itu dengan erat.
__ADS_1