Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA

Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA
Episode 13 Kelahiran Anak Pertama


__ADS_3

Sudah hampir empat jam  Cicilia ditemani Daniel  di ruang persalinan, menanti si buah hati menghirup udara bumi. Untuk mulas-mulas kali ini diyakini memang pengaruh bayi yang sudah menginginkan segera  keluar dari alam rahim yang sempit dan sepi itu, bukan akibat memakan cabe rawit setan yang menyebabkan perut mulas. Daniel ikut berdebar-debar dan gelisah saat melewati detik-detik Cicilia akan melahirkan. Membuat Daniel  bolak-balik dia ke kamar kecil karena mendadak ikut mulas. Prilaku latah yang tidak sedikit dialami oleh para suami  menjelang persalinan istrinya.


“ Daniel, tenang sedikit kenapa, sih. Mondar-mandir terus membuat aku pusing melihatnya.” Bentak Cicilia kesal.


“ Bagaimana kalau aku menunggu di luar saja, Ci..?”


“ Nggak bisa. Kamu harus menemaniku di sini..” Kata Cicilia.


“ Tapi, aku takut, Ci..”


“ Takut apaan ? Aku yang melahirkan kamu yang takut.”


“ Aku takut melihat darah. Aku pernah melihatnya diacara Word Discovery.”


“ Melihat apaan..?”


“ Gajah melahirkan. Ya, ampun serem banget, Cii..”


“ Please, Daniel, jangan lebay, deh, aku bukan gajah.”


Beberapa menit kemudian Cicilia kembali merasa mulas. “ Aduh, aduh.., aduh, Daniel..Mulas.., perutku mulas-mulas lagi..” Rintih Cicilia sambil bergeliat di atas tempat tidur.


“ Bagaimana kalau aku carikan obat warung penghilang rasa mulas-mulas..?” Tanya Daniel.


“ Daniel, ini mulas mau melahirkan, bukan BAB..Gimana sih, kamu..?” Semprot Cicilia geram serasa ingin menelan Daniel bulat-bulat.


Setelah itu rasa mulasnya kembali hilang,  Cicilia pun bisa kembali tenang.  Untuk mengisi waktu Cicilia menyempatkan diri membuat status-status di medsos miliknya. Cicilia tengah membutuhkan doa dan dukungan dari kawan-kawan yang berada di alam maya, supaya persalinannya berjalan normal dan sehat untuk dirinya dan anak yang dikandungnya. Itu dianggap  penting, agar  merasa kuat mental. Tapi, yang lebih penting lagi adalah dukungan dari orang terdekatnya, yaitu suaminya sendiri, Daniel.


“ Aduh.., aduh.., Daniel..!” Seru Cicila ketika datang mulas lagi sambil memegangi tangan Daniel erat-erat, seperti orang hendak melompat dari ketinggian. Bukan hanya memegangi, bahkan tanpa sadar Cicilia ingin menggigit tangan Daniel keras-keras.


Daniel kemudian mengelus-elus perut istrinya dengan harapan bisa meredakan rasa mulas-mulas yang diderita istrinya seraya komat-kamit memanjatkan doa-doa.


“ Aduh.., Danie..! Daniel, cepat panggil bidan.., cepetaaaaan !” Teriak Cicilia.


Daniel langsung berlari keluar mencari bidan yang tengah piket pagi. Tapi, Daniel tidak melihat ada bidan standby di meja resepsionis. Suasana klinik ketika itu nampak sepi. Daniel makin bertambah panik.


“ Bidaaaaa…..n !” Teriak Daniel keras-keras sambil berlari-lari kesana kemari.


“ Mas, jangan teriak-teriak. Di sini banyak bayi yang sedang tidur..” Tegur bidan sambil bergegas menghampiri Daniel.


“ Bu, tolong istri saya..Tolong, buu…Dia kejang-kejang..!” Kata Daniel.


“ Kejang-kejang bagaimana..?” Tanya ibu bidan dengan tampang bingung.


Kemudian ibu bidan berbadan gemuk itu bergegas masuk kekamar persalinan.


“ Kata suaminya ibu kejang-kejang..” Kata ibu bidan dengan wajah masam.


“ Maksud say.., say..,saya mulas-mulas, bu..” Kata Daniel mengklarifikasi.

__ADS_1


Dalam kondisi tertekan kadang Daniel suka gagap tanpa sadar.


“ Ini baru pembukaan empat. Masih lama..Jadi, nggak usah panik..” Kata ibu bidan menjelaskan setelah menge-cek kondisi Cicilia di bagian bawah.


“ Memangnya pembukaan itu ada berapa, bu..?” Tanya Daniel.


“ Pokoknya masih lama. Tenang saja.” Jawab ibu bidan dengan mimik jutek.


Baru saja ibu bidan menutup pintu. Cicilia teriak lagi sambil menggeliat menahan mulas yang kian


terasa menyiksa.


“ Ibu bidan..!” Pekik Daniel.


Setelah ibu bidan kembali memeriksa Cicilia. Dia langsung ikut panik.” Hah ? Sudah mau keluar. Tunggu sebentar..” Ujar ibu bidan sambil bergegas mengambil peralatan dan bantuan beberapa orang calon bidan yang tengah magang.


Hanya sampai pembukaan empat, bayi itu ingin memaksakan diri untuk segera  keluar, seakan tidak mau berlama-lama berada di dalam.. Ketika kepalanya sudah mulai nampak, ibu bidan dengan sangat hati-hati membantu bayi itu mengeluarkan badannya dari lingkaran elastis.


“ Moaak…! Moaaak…! Moaaak…!” Bayi berjenis kelamin perempuan itu menjerit sekeras-kerasnya, pertanda dalam kondisi sehat.


“ Nyaring sekali jeritannya. Besar nanti pasti anaknya cerewet..” Celetuk salah satu bidan magang bercanda.


Berbeda dengan kelahiran Daniel dulu yang katanya tidak langsung menangis ketika dilahirkan ibunya.


Setelah dicubit bidan berkali-kali baru dia menangis, itu pun hanya sesugukkan. Pantas saja Daniel tumbuh jadi geberasi gagap yang menyebalkan.


melahirkan anak pertama itu sulit sekali. Ada cerita  seorang ibu melompat-lompat kecil dahulu supaya bayinya cepat keluar, ada yang jalan-jalan dulu di sekitar kompleks, ada yang sampai push up, sit up, dan lain sebagainya. Biasanya, bidan yang tidak sabar menangani orang yang sulit melahirkan, langsung merekomendasikan


untuk segera cesar di rumah sakit rujukan yang konon bisa memberikan komisi untuk yang merekomendasi.


Semua bernilai bisnis, segalanya butuh uang untuk membayar. Begitu juga dengan proses persalinan yang Cicilia


tengah alami. Soal uang pula yang membuat Cicilia tiba-tiba dilanda kebingungan. Dia tidak mempunyai uang seperpun untuk persiapan. Karena tidak ada orang yang bisa ia andalkan meski memiliki suami.


‘ Repot juga punya suami masih bestatus pelajar. Di dompetnya hanya punya uang saku untuk jajan.’ Ucap


Cicilia dalam hati.


“ Ci..Ini, total biaya yang harus dikeluarkan..” Kata Daniel sambil memegang selembar kertas berisi rincian biaya yang diterima dari meja resepsionis.


Cicilia terdiam. Dia tahu, Daniel cuma bisa bingung, tidak memberi solusi apa-apa, meskipun dia anak


orang kaya raya. Tanpa banyak berkata-kata lagi, Cicilia langsung menelpon pak Bobby, bapak dari anak yang dia lahirkan.


“ Om, aku sudah melahirkan dengan selamat, begitu juga dengan bayi kamu. Sekarang aku masih di klinik


menunggu biaya dari kamu.” Kata Cicilia kepada pak Bobby melalui hanphone.


“ Oya..? Laki-laki atau perempaun..?”

__ADS_1


“ Perempaun.”


“ Hm..Hebat, hebat..! Aku suka anak perempaun. Soalnya aku belum memiliki anak perempuan. Soal biaya


persalinan dan segala kebutuhan kamu nanti  segera aku transfer. Tunggu..” Kata pak Bobby membuat Cicilia lega hati.


Daniel terdiam seribu bahasa. Dia seolah tidak tahu harus berkata apa, ketika merasa tidak mampu


mengatasi masalah. Daniel pun merasa cemas andai anak yang dilahirkan Cicilia akan dirampas pak Bobby sepenuhnya. Padahal Daniel berharap anak itu akan menjadi anaknya juga, meski bukan darah dagingnya. Sebab, mencintai ibunya pasti satu paket dengan anak yang menyertainya. Begitu anggapan Daniel.  Dan yang juga mencemaskan Daniel adalah  jika Cicilia tiba-tiba berpaling dengan pak Bobby yang memiliki segalanya. Sungguh, modal cinta saja sama sekali tidaklah cukup untuk membina rumah tangga.


Tidak lama kemudian handphone Daniel terdengar ada yang memanggil. Setelah dibuka ternyata dari ibunya.


“ Daniel, kemana saja kamu selama ini..?Di telpon Hp tidak pernah aktif. Tau tidak kamu,  bunda baru saja dipanggil kepala sekolahmu. Katanya kamu bolos sudah tiga hari tanpa ada kabar. Di mana kamu sekarang..?” Bentak ibu Lenny.


“ Anu.., hm.., it..itu, bun..Daniel sedang di klinik. Ups..! Bukan klik..Lagi di rumah teman. Ya, nanti Daniel pulang..” Jawab Daniel gagap lagi.


“ Klinik..? Ngapain kamu di klinik..? Kamu kecilakaan..? Hallo..! Hallo..! Daniel.., Daniel..!” Telpon  ibunya sengaja di off Daniel karena panik dicecar ibunya.


“ Pulang saja sana. Kembali bersekolah.” Kata Cicilia.


“ Ci..Aku tidak akan tega meninggalkan kamu sendiri.”


“ Sudahlah Daniel.., semua ini bukan kewajibanmu.”


“ Aku suamimu, Cici..”


“ Tapi..Duh, Daniel, Daniel..Apa sih yang kamu harapkan dariku.?”


“ Rasa cinta yang belum juga tumbuh di hatimu..”


“ Aduh, Daniel..Cinta lagi, cinta lagi..! Tahu nggak sih kalau cinta itu cuma omong kosong karangan


para manusia lebay. Sudahlah, aku tidak mau dipusingkan oleh hal-hal seperti itu. Yang aku butuhkan sekarang ini adalah waktu, tenaga dan uang untuk membesarkan anakku. Persetan dengan cinta..!” Ucap Cicilia gemas.


Daniel berdiri mematung seperti orang bingung di samping Cicilia. Dia berpikir keras untuk segera mencari jalan keluar agar dapat mengatasi masalah keuangan yang Cicilia tengah hadapi.


“ Tunggu sebentar, aku mau keluar..” Kata Daniel sambil memakai jaket kulitnya.


Daniel kemudian meluncur keluar klinik menuju tempat yang dianggap menyediakan uang cash. Kurang dari


satu jam Daniel kembali lagi keklinik dengan wajah ceria.


“ Segini cukup..?” Tanya Daniel kepada Cicilia sambil menyodorkan uang sebanyak sepuluh juta rupiah.


“ Haah ? Banyak sekali. Dari mana uang ini..?” Tanya Cicilia heran.


“ Sudah, pakai saja. Yang jelas bukan minta dari orang tuaku. “ Kata Daniel merahasiakan dari mana uang tersebut ia dapatkan.


Uang yang  Daniel peroleh tersebut sesungguhnya dari kantor penggadaian. Ya, sepeda motor miliknya itulah yang menjadi taruhannya. Jalan pintas yang menurutnya cukup untuk mengangkat harga dirinya sebagai suami.

__ADS_1


__ADS_2