Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA

Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA
Episode 6 Mencari Cowok Pengganti


__ADS_3

Hanya dalam hitungan hari, pak Bobby langsung membuat Cicilia bertekuk lutut tak


berdaya. Kemudian menawarkan Cicilia jalan damai. Karena merasa tidak ada


pilihan, akhirnya Cicilia bersedia menyerahkan sekeping kartu memori berisi


video mesum. Cicilia gagal memaksa pak Bobby untuk menikahinya. Tapi, menurutnya


bersikap lunak lebih tepat ketimbang mungkin terus berkonflik yang bisa


mengancam keselamatan dirinya dan keluarganya.


“ Mau pilih mana, keselematanmu sekeluarga atau menyerahkan video itu ? Jika kamu


bersikeras ingin mengunakan video itu untuk menekan om, ingat,  bukan hanya kamu, ibumu juga   akan


menjadi sasarannya. Om tidak main-main soal duri kecil yang bisa menjadi


penyakit besar dikemudian hari.” Ancam pak Bobby.


Cicilia


langsung membuka kartu memori berisi video yang terselip di dalam handphonenya.


Lalu diberikan kepada pak Bobby tanpa sepakatah kata.


“ Yakin video itu tidak tercecer kemana-mana..?” Tanya pak Bobby memastikan


dengan tatapan mata tajam.


“Ya, yakin.”


“ Awas, jika sampai tersebar kemana-mana. Om pasti mempidanankan kamu. Jangan suka


bermain-main dengan api. Apa lagi  anak


kecil seperti kamu.” Ancam pak Bobby.


Kemudian mereka saling diam tanpa sepatah kata. Mereka seperti sama-sama tidak menyangka


jika awalnya hubungan mereka begitu  mesra berakhir dengan pertikaian.


UWEEEE…K !


Tiba-tiba Cicilia merasa mual-mual lagi. Dia berharap mengeluarkan segelas muntah dari


dalam mulutnya dan mengotori mobil keren pak Bobby itu. Sayangnya, yang keluar


hanya ludah.


UWEEEK…!


Entah apa yang terpikirkan pak Bobby ketika melihat penderitaan seorang perempuan


muda yang menjadi korban kenakalannya itu. Tapi, dari wajahnya menampakkan rasa


iba juga. Betapa tidak, bagi orang yang masih memiliki hati nurani, siapa yang tega


melihat seorang gadis yang baru duduk di kelas tiga SMU telah berbadan dua. Bukan


hanya  menanggung  derita mengandung selama sembilan bulan kedepan


tapi, juga kehilangan masa depan, kandas cita-citanya. Karena tidak lama  lagi pasti Cicilia akan dikeluarkan dari pihak sekolah tanpa ampun. Sesungguhnya, derita itu  kini  puan ia telah rasakan, di mana kini Cicilia telah  dikucilkan oleh orang-orang hampir satu sekolahan karena kemilannya tidak lagi bisa disembunyikan. Mereka melihat Cicilia  seperti melihat seekor anjing kurap yang harus dijauhi.


' Inilah resiko yang aku harus tanggung. Tapi, apa perduliku dengan mereka semua


dibanding janin yang ada di dalam rahimku ini. Tentu,  calon buah hatiku ini lebih penting untuk dibela


dan selamatkan ketimbang muka ibunya yang sejak semula memang sudah tidak punya


muka. Maafkan ibu yang ******* ini ya, naak.. ‘ Ucap  batin Cicilia dengan pilu di dalam pojok kelas


ketika tengah seorang diri, sambil mengelus-elus perutnya.


“ Menikah saja dengan pria lain untuk menjadi bapak dari bayi yang kamu kandung. Hanya


dengan cara itu pula harga diri kamu bisa diselamatkan..” Kata pak Bobby sambil


menepuk bahu Cicilia yang duduk di sebelahnya. “ Soal biaya pernikahan semua om

__ADS_1


yang tanggung “ Lanjutnya.


“ Bukannya untuk menyelamatkan muka om sendiri jangan sampai menjadi bahan berita


di media..?” Sindir Cicilia.


“ Sudahlah.., jangan memulai. Kita ketemu untuk berdamai.”


“ Mana ada laki-laki cerdas yang mau menjadi ban serep..?”


“ Pasti ada. Kamu cantik dan cerdas..”


“ Pasti orang ideot atau orang mabuk..”


“ Terserahlah,   siapa yang akan kamu pilih.


Om siap memberi dukungan penuh “


“ Tentu saja mendukung penuh karena, hanya dengan cara itu om  bisa cuci tangan. Liciknya !”


“ Jangan main vonis seperti itu. Bukan om tidak bertanggungjawab tapi, om


sekarang ini merasa belum siap beristri dua. Itu saja.” Balas pak Bobby sedikit


tersinggung.


Setengah jam mobil  terparkir di pinggir jalan depan gedung sekolah itu siap-siap dinyalakan mesinnya kembali oleh Pak Bobby yang duduk di belakang kemudi.


“ Sampai di sini dulu, ya..Om mau kembali lagi kekantor. Ada urusan penting. Ini


pegangan untuk kamu. “ Kata pak Bobby sambil memberikan segepok uang pecahan


seratus ribuan di dalam amplop warna coklat.


Cicilia kemudian memasukkan uang tersebut kedalam tasnya dan keluar dari dalam mobil


dengan badan lesu.


“ Segera kabari om jika  sudah menemukan


calon suami yang menurut kamu cocok. Oke..?” Kata pak Bobby sambil membuka kaca


Cicilia hanya mengangguk pelan.


“ Ngomong apa saja dia..?” Tanya Eva tiba-tiba menghampiri kawannya setelah mobil


pak Bobby melucur.


“ Dia mendorong aku  untuk mencari cowok


yang akan menikahiku..” Jawab Cicilia.


“ Enak banget  orang itu, dia yang makan


nangkanya orang lain kena getahnya. Memangnya ada cowok yang mau..?” Kata Eva.


“ Aku sendiri sangsi. Sejak awal aku maunya dia yang menikahiku. Tapi, mau


bagaimana lagi daripada keselamatan ibuku terancam. Aku tidak punya pilihan.”


Ucap Cicilia.


Kira-kira seminggu yang lalu, ketika malam itu Cicilia sedang tidak ada dirumah. Ibu


Sutinah tiba-tiba mendengar ada orang mengedor pintu rumahnya dengan suara  cukup keras. Dengan langkah sedikit sempoyongan karena lelah seharian bekerja, ibu Sutinah membukakan pintu. Baru


saja daun pintu dibuka setengah, kedua orang pria tinggi besar dan berwajah


sangar langsung menerobos masuk kedalam rumah sambil mendorong ibu Sutinah.


“ Mana anakmu  yang bernama Cicilia..?!” Bentak salah seorang dari mereka.


“ Sedang keluar, pak. Ada apa..?” Tanya ibu Sutinah sambil gemetaran.


“ Ibu jangan berbohong, ya..!”


“ Benar pak..Cicilia sedang tidak ada di rumah. “


Tapi kedua orang itu seperti tidak puas dengan pengakuan ibu Sutinah. Mereka kemudian

__ADS_1


menggeledah semua kamar dan ruangan yang ada, hingga pada benda yang mereka


anggap bisa menjadi tempat persembunyian, seperi almari, kolong meja dan kolong


tempat tidur.


“ Sampaikan kepada anak ibu, besok ditunggu  pak Bobby di tempat seperti biasanya” Ucap


salah satu dari orang itu kepada ibu Sutinah setelah gagal menemukan Cicilia.


“ Maaf, kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa ya, pak..?” Tanya ibu Sutinah sambil


membungkuk-bungkuk.


“ Ibu mau tahu ? Anak ibu itu mencuri hanphone dan benda-benda berharga milik pak


Bobby, bos kami.”


“ Mencuri..?!” Seru ibu Sutinah seperti tidak percaya.


“ Jika besok anak ibu tidak menemui pak Bobby, kami akan terus mengejar anak ibu di


mana pun  bersembunyi. Atau, ibu sendiri


yang akan menjadi jaminannya..” Gertak orang itu sambil menunjuk wajah ibu


Sutinah dengan mata melotot.


“ Aku sudah menduga sebelumnya, pasti orang itu menggunakan berbagaimacam cara


untuk merampas video itu. Tapi, baguslah kamu sudah menyerahkan video itu secara


baik-baik, daripada masalahnya makin memanas. Aku cuma nggak bisa membayangkan,


seandainya kamu terus memilih perang  dengan orang itu, sementara kamu dalam kondisi


hamil yang kian membesar. Beda seadainya kamu punya pengacara. Mampu tidak kamu


bayar pengacara ? Pokoknya di negeri ini mah susah kalau mau mencari keadilan.”


Kata Eva panjang lebar.


“ Lagakmu..” Ucap Cicilia.


“ Kenapa..?”


“ Kayak orang paham hukum aja..”


“ Aku sekarang mulai baca-baca tentang hukum, tau..”


“ Memangnya  setelah lulus nanti kamu jadi  melanjutkan keperguruan tinggi.?”


“ Jadi dong ! Masa mau godain om-om terus.? Hahaha..! Kalau kamu..?” Tanya Eva.


“ Jangan meledek, deh..Jelas-jelas aku bakal jadi seorang ibu. Malah tanya.” Kata


Cicilia cemberut.


Mereka berdua kemudian  baru sadar kalau sedang diperhatikan


Daniel dari jarak yang cukup jauh. Cicilia dan Eva saling beradu pandang sambil


senyum-senyum.


“ Dia aja tuh yang jadi calon bapak anak kamu nanti..” Celetuk Eva.


“ Iih..!  Enak aja..Mending aku singleparent sekalian..”


“ Kamu sadar nggak sih kalau dia cinta mati sama kamu dari kelas satu..?”


“ Ya.  Aku tau..Tapi, masa sih dia..? Nggak


ada apa cowok lainnya..?”


“ Siapa lagi..? Semua cowok di sekolah yang dulunya tergila-gila sama kamu, sekarang


ini pelan-pelan menjauh. Cuma Daniel saja  yang kelihatannya terus bertahan..” Kata Eva.


“ Ngawur ! Tapi, kelihatannya sih iya juga, yaa..?  OMG !” Seru Cicilia.

__ADS_1


__ADS_2