
Hanya dalam hitungan hari, pak Bobby langsung membuat Cicilia bertekuk lutut tak
berdaya. Kemudian menawarkan Cicilia jalan damai. Karena merasa tidak ada
pilihan, akhirnya Cicilia bersedia menyerahkan sekeping kartu memori berisi
video mesum. Cicilia gagal memaksa pak Bobby untuk menikahinya. Tapi, menurutnya
bersikap lunak lebih tepat ketimbang mungkin terus berkonflik yang bisa
mengancam keselamatan dirinya dan keluarganya.
“ Mau pilih mana, keselematanmu sekeluarga atau menyerahkan video itu ? Jika kamu
bersikeras ingin mengunakan video itu untuk menekan om, ingat, bukan hanya kamu, ibumu juga akan
menjadi sasarannya. Om tidak main-main soal duri kecil yang bisa menjadi
penyakit besar dikemudian hari.” Ancam pak Bobby.
Cicilia
langsung membuka kartu memori berisi video yang terselip di dalam handphonenya.
Lalu diberikan kepada pak Bobby tanpa sepakatah kata.
“ Yakin video itu tidak tercecer kemana-mana..?” Tanya pak Bobby memastikan
dengan tatapan mata tajam.
“Ya, yakin.”
“ Awas, jika sampai tersebar kemana-mana. Om pasti mempidanankan kamu. Jangan suka
bermain-main dengan api. Apa lagi anak
kecil seperti kamu.” Ancam pak Bobby.
Kemudian mereka saling diam tanpa sepatah kata. Mereka seperti sama-sama tidak menyangka
jika awalnya hubungan mereka begitu mesra berakhir dengan pertikaian.
UWEEEE…K !
Tiba-tiba Cicilia merasa mual-mual lagi. Dia berharap mengeluarkan segelas muntah dari
dalam mulutnya dan mengotori mobil keren pak Bobby itu. Sayangnya, yang keluar
hanya ludah.
UWEEEK…!
Entah apa yang terpikirkan pak Bobby ketika melihat penderitaan seorang perempuan
muda yang menjadi korban kenakalannya itu. Tapi, dari wajahnya menampakkan rasa
iba juga. Betapa tidak, bagi orang yang masih memiliki hati nurani, siapa yang tega
melihat seorang gadis yang baru duduk di kelas tiga SMU telah berbadan dua. Bukan
hanya menanggung derita mengandung selama sembilan bulan kedepan
tapi, juga kehilangan masa depan, kandas cita-citanya. Karena tidak lama lagi pasti Cicilia akan dikeluarkan dari pihak sekolah tanpa ampun. Sesungguhnya, derita itu kini puan ia telah rasakan, di mana kini Cicilia telah dikucilkan oleh orang-orang hampir satu sekolahan karena kemilannya tidak lagi bisa disembunyikan. Mereka melihat Cicilia seperti melihat seekor anjing kurap yang harus dijauhi.
' Inilah resiko yang aku harus tanggung. Tapi, apa perduliku dengan mereka semua
dibanding janin yang ada di dalam rahimku ini. Tentu, calon buah hatiku ini lebih penting untuk dibela
dan selamatkan ketimbang muka ibunya yang sejak semula memang sudah tidak punya
muka. Maafkan ibu yang ******* ini ya, naak.. ‘ Ucap batin Cicilia dengan pilu di dalam pojok kelas
ketika tengah seorang diri, sambil mengelus-elus perutnya.
“ Menikah saja dengan pria lain untuk menjadi bapak dari bayi yang kamu kandung. Hanya
dengan cara itu pula harga diri kamu bisa diselamatkan..” Kata pak Bobby sambil
menepuk bahu Cicilia yang duduk di sebelahnya. “ Soal biaya pernikahan semua om
__ADS_1
yang tanggung “ Lanjutnya.
“ Bukannya untuk menyelamatkan muka om sendiri jangan sampai menjadi bahan berita
di media..?” Sindir Cicilia.
“ Sudahlah.., jangan memulai. Kita ketemu untuk berdamai.”
“ Mana ada laki-laki cerdas yang mau menjadi ban serep..?”
“ Pasti ada. Kamu cantik dan cerdas..”
“ Pasti orang ideot atau orang mabuk..”
“ Terserahlah, siapa yang akan kamu pilih.
Om siap memberi dukungan penuh “
“ Tentu saja mendukung penuh karena, hanya dengan cara itu om bisa cuci tangan. Liciknya !”
“ Jangan main vonis seperti itu. Bukan om tidak bertanggungjawab tapi, om
sekarang ini merasa belum siap beristri dua. Itu saja.” Balas pak Bobby sedikit
tersinggung.
Setengah jam mobil terparkir di pinggir jalan depan gedung sekolah itu siap-siap dinyalakan mesinnya kembali oleh Pak Bobby yang duduk di belakang kemudi.
“ Sampai di sini dulu, ya..Om mau kembali lagi kekantor. Ada urusan penting. Ini
pegangan untuk kamu. “ Kata pak Bobby sambil memberikan segepok uang pecahan
seratus ribuan di dalam amplop warna coklat.
Cicilia kemudian memasukkan uang tersebut kedalam tasnya dan keluar dari dalam mobil
dengan badan lesu.
“ Segera kabari om jika sudah menemukan
calon suami yang menurut kamu cocok. Oke..?” Kata pak Bobby sambil membuka kaca
Cicilia hanya mengangguk pelan.
“ Ngomong apa saja dia..?” Tanya Eva tiba-tiba menghampiri kawannya setelah mobil
pak Bobby melucur.
“ Dia mendorong aku untuk mencari cowok
yang akan menikahiku..” Jawab Cicilia.
“ Enak banget orang itu, dia yang makan
nangkanya orang lain kena getahnya. Memangnya ada cowok yang mau..?” Kata Eva.
“ Aku sendiri sangsi. Sejak awal aku maunya dia yang menikahiku. Tapi, mau
bagaimana lagi daripada keselamatan ibuku terancam. Aku tidak punya pilihan.”
Ucap Cicilia.
Kira-kira seminggu yang lalu, ketika malam itu Cicilia sedang tidak ada dirumah. Ibu
Sutinah tiba-tiba mendengar ada orang mengedor pintu rumahnya dengan suara cukup keras. Dengan langkah sedikit sempoyongan karena lelah seharian bekerja, ibu Sutinah membukakan pintu. Baru
saja daun pintu dibuka setengah, kedua orang pria tinggi besar dan berwajah
sangar langsung menerobos masuk kedalam rumah sambil mendorong ibu Sutinah.
“ Mana anakmu yang bernama Cicilia..?!” Bentak salah seorang dari mereka.
“ Sedang keluar, pak. Ada apa..?” Tanya ibu Sutinah sambil gemetaran.
“ Ibu jangan berbohong, ya..!”
“ Benar pak..Cicilia sedang tidak ada di rumah. “
Tapi kedua orang itu seperti tidak puas dengan pengakuan ibu Sutinah. Mereka kemudian
__ADS_1
menggeledah semua kamar dan ruangan yang ada, hingga pada benda yang mereka
anggap bisa menjadi tempat persembunyian, seperi almari, kolong meja dan kolong
tempat tidur.
“ Sampaikan kepada anak ibu, besok ditunggu pak Bobby di tempat seperti biasanya” Ucap
salah satu dari orang itu kepada ibu Sutinah setelah gagal menemukan Cicilia.
“ Maaf, kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa ya, pak..?” Tanya ibu Sutinah sambil
membungkuk-bungkuk.
“ Ibu mau tahu ? Anak ibu itu mencuri hanphone dan benda-benda berharga milik pak
Bobby, bos kami.”
“ Mencuri..?!” Seru ibu Sutinah seperti tidak percaya.
“ Jika besok anak ibu tidak menemui pak Bobby, kami akan terus mengejar anak ibu di
mana pun bersembunyi. Atau, ibu sendiri
yang akan menjadi jaminannya..” Gertak orang itu sambil menunjuk wajah ibu
Sutinah dengan mata melotot.
“ Aku sudah menduga sebelumnya, pasti orang itu menggunakan berbagaimacam cara
untuk merampas video itu. Tapi, baguslah kamu sudah menyerahkan video itu secara
baik-baik, daripada masalahnya makin memanas. Aku cuma nggak bisa membayangkan,
seandainya kamu terus memilih perang dengan orang itu, sementara kamu dalam kondisi
hamil yang kian membesar. Beda seadainya kamu punya pengacara. Mampu tidak kamu
bayar pengacara ? Pokoknya di negeri ini mah susah kalau mau mencari keadilan.”
Kata Eva panjang lebar.
“ Lagakmu..” Ucap Cicilia.
“ Kenapa..?”
“ Kayak orang paham hukum aja..”
“ Aku sekarang mulai baca-baca tentang hukum, tau..”
“ Memangnya setelah lulus nanti kamu jadi melanjutkan keperguruan tinggi.?”
“ Jadi dong ! Masa mau godain om-om terus.? Hahaha..! Kalau kamu..?” Tanya Eva.
“ Jangan meledek, deh..Jelas-jelas aku bakal jadi seorang ibu. Malah tanya.” Kata
Cicilia cemberut.
Mereka berdua kemudian baru sadar kalau sedang diperhatikan
Daniel dari jarak yang cukup jauh. Cicilia dan Eva saling beradu pandang sambil
senyum-senyum.
“ Dia aja tuh yang jadi calon bapak anak kamu nanti..” Celetuk Eva.
“ Iih..! Enak aja..Mending aku singleparent sekalian..”
“ Kamu sadar nggak sih kalau dia cinta mati sama kamu dari kelas satu..?”
“ Ya. Aku tau..Tapi, masa sih dia..? Nggak
ada apa cowok lainnya..?”
“ Siapa lagi..? Semua cowok di sekolah yang dulunya tergila-gila sama kamu, sekarang
ini pelan-pelan menjauh. Cuma Daniel saja yang kelihatannya terus bertahan..” Kata Eva.
“ Ngawur ! Tapi, kelihatannya sih iya juga, yaa..? OMG !” Seru Cicilia.
__ADS_1