Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA

Terjebak Nikah Telah Berganti Judul Menjadi : PENGANTIN REMAJA
Episode 3 Perempuan Penyapu Jalan


__ADS_3

Akhir-akhir ini pikiran Daniel menjadi kurang fokus, seperti melayang-layang tak jelas arahnya. Itu tak lain dari dampak  suasana hatinya yang sedang keruh, pahit dan menyempit akibat kekecewaan yang mendalam.


GLEGEK..! Daniel menelan ludahnya sendiri.


Prilaku Daniel kemudian menjadi tidak control. Sradak-sruduk, seperti ketiak ia sedang bersepeda motor di jalan raya suatu siang ketika akan hendak berangkat kesekolah. Gas sepeda motor yang dikendarainya dikebut hingga hingga knalpotnya meraung  merobek gendang telinga banyak orang. Tingkah yang membuat pengguna jalan lainnya menjadi marah dan bersumpah serapah. Tapi,  Daniel tidak perduli.


Ketika asik meluncur dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba pandangan matanya kabur  pada jarak beberapa puluh meter di mana terdapat  seorang  penyapu jalanan yang tengah bekerja. Motor Daniel kemudian menghantam ujung sapu orang itu. Ibu kuli penyapu jalan  itu kemudian terpelanting dan jatuh terkapar di trotoar. Begitu juga Daniel, karena panik, sepeda motornya menjadi sulit dikendalikan. Walhasil, Daniel terjerembab kedalam parit yang penuh kotoran.


Untunglah tidak ada korban jiwa ketika  insiden itu terjadi. Penyapu jalanan itu hanya mengalami luka ringan pada bagian lengan dan kakinya.  Daniel juga demikian, dia hanya mengalami memar-memar. Yang  berat justru menanggung beban mental, di mana Daniel menjadi bahan cemooh banyak orang. Bahkan ada yang mengabadikan kejadian itu dengan video dan kamera handphone-nya masing-masing, kemudian di upload untuk konsumsi hiburan di medsos.


“ Mohon maaf, bu, ini semua salahku. Mari aku antar kedokter.” Ucap Daniel sambil berusaha membantu perempuan itu mengangkat badan dengan tampang pucat.


“ Tidak apa-apa, dik.. Namanya juga musibah. Tidak, tidak usah dibawa kedokter. Cuma lecet-lecet saja, ko..” Jawab ibu itu.


Ibu itu mencoba berdiri sambil merintih sakit pada bagian pinggangnya. Membuat Daniel hewatir dan sedikit memaksa untuk mengantarkannya pulang.


“ Ayo, bu, biar aku antar pulang..” Kata Daniel sambil memapah ibu itu.


“ Iya, bolehlah..Kebetulan pekerjaan ibu sudah hampir selesai.”


Ibu petugas kebersersihan jalan umum itu kemudian diantar Daniel  pulang, yang jaraknya tidak seberapa


jauh dari tempat kejadian.


“ Silahkan masuk, dik..Maaf, rumah ibu berantakan.” Kata ibu itu mempersilahkan Daniel masuk keruang tamu.


“ Aku tidak lama-lama, bu..Ini uang, barang kali  ibu bisa gunakan jika ingin berobat.” Kata Daniel sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.


“ Tidak usah, dik..Ibu tidak apa-apa, ko..”


Tapi, Daniel  memaksa perempuan itu untuk membuka tangan.


“ Kalau begitu aku pamit dulu, ya, bu..” Ucap Daniel.


“ Iya. Terima kasih atas bantuannya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut lagi.”


Baru beberapa langkah hendak  keluar dari ruang tamu, sekilas Daniel melihat ada sebuah poto Cicilia yang terpajang di ruang tamu rumah sederhana yang temboknya nampak kusam dan berjamur. Hati Daniel tersentak melihat poto itu.


“ Maaf, itu poto siapa ya, bu..?” Tanya Daniel sambil menunjuk poto.


“ Oo, itu anak ibu yang pertama.”


‘ Anak ?’


“ Hmm.., wajahnya  tidak asing. Kalau boleh tahu, siapa nama anak ibu itu ?” Tanya Daniel memastikan dugaannya.


“ Namanya Cicilia Putri.”


“ Cicilia..?!” Seru Daniel sambil menahan napas.


“ Iya. Adik memangnya kenal..?”

__ADS_1


“ Cicilia itu  teman sekelasku, bu..” Seru Daniel dengan perasaan bercampur aduk.


“ Teman sekelas..?! Ooo,alaa…”


“ Sekarang, Cicilia kemana, bu..?”


“ Ibu tidak tahu. Dia kan tidak tinggal di sini lagi. Oya, nama adik siapa, ya..?”


“ Daniel, bu. Ooh. Dia sekarang tigal di mana memangnya, bu ?”


“ Entahlah, ibu sendiri tidak tahu persis. Ada yang bilang dia tinggal di tempat kost, ada yang bilang tinggal di apartement. Karena dia sekarang tidak pulang-pulang.” Jawab ibu Sutinah.


“ Tidak  pulang..?”


“ Iya, sudah beberapa bulan yang lalu,  semenjak bapaknya pergi meninggalkan rumah. Entahlah, mungkin dia mau belajar hidup mandiri. Padahal ibu kepinginya dia tinggal bersama ibu sambil menemani adiknya.”


“ Memangnya selain sekolah Cici juga bekerja, bu..?” Tanya Daniel menyelidiki.


Ibu itu mengangguk pelan. Kemudian menarik napas dalam-dalam seperti hendak melepas beban di hatinya. Sesungguhnya, perempuan kurus itu tengah memendam kekecewaan kepada dirinya sendiri yang tak mampu menghidupi anaknya dengan layak.


Ibu Sutinah tiba-tiba teringat saat Cicilia mulai menunjukkan sikap protes terhadap kenyataan.


“ Sampai kapan hidup kita seperti ini, bu..? Serba kekurangan..?” Kata Cicilia suatu hari kepada ibunya.


“ Cici, jangan ngomong seperti itu. Sudah bisa makan setiap hari saja sudah bagus.” Kata ibu Sutinah.


“ Tapi, hidup itu bukan sekedar makan, bu..Kalau cuma makan, ayam juga bisa makan. Tapi, manusia itu banyak kebutuhannya.”


“ Seandainya bapak tidak meninggalkan kita, tidak kepincut perempuan lain, keadaan kita tentu tidak sesulit ini. Ibu tidak perlu bersusah payah mencari nafkah. Kenapa sih bu, bapak bisa sebegitu tega terhadap kita..?” Tanya Cicilia sambil menangis.


“ Sudahlah.., relakan saja. Jangan hewatir, ibu juga masih kuat bekerja, ko..” Kata ibu Sutinah mencoba menguatkan anaknya dan dirinya sendiri.


Sebuah perceraian dalam rumah tangga memang bisa menjadi dilema. Dihalalkan oleh agama namun sekaligus dibenci Tuhan, karena dampak buruk yang akan ditinggalkan. Anaklah yang jelas akan menjadi korban perpisahan kedua orang tua.


Cicilia masih saja tidak tenang melihat ibunya yang sering sakit-sakitan tapi tak urung tetap harus  menanggung beban ekonomi keluarga. Dari menjelang subuh hingga siang ibu Sutinah memeras keringat dan menghirup debu jalanan demi kedua anaknya.


Terlintaslah dibenak Cicilia untuk ikut meringankan beban ibunya. Ketika itu dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kepada kawan sekelasnya yang bernama Eva itulah Cicilia kemudian belajar memperoleh penghasilan tanpa meninggalkan bangku sekolahan.


“ Jualan apaan, sih sebenarnya..? Produk online, ya..? Yang dropship, gitu, ya..?” Tanya Cicilia kepada Eva yang masih merahasiakan profesinya.


“ Promosi secara online juga bisa. Kalau dibilang produk, mungkin masuk dalam kategori jasa barang kali, yaa..? Tapi, nggak bisa dropship.”


“ Jasa..? Jasa perawatan rumah..? Jasa apaan, sih..?” Desak Cicilia penasaran.


“ Jasa kesehatan lahir batin..Hahaha..!”


“ Jasa kesehatan..?”


“ Iya. Pijit panggilan, Cici…Hihihihi..” Jawab Eva sambil cekikikan.


“ Haah ? Pijit..? Lo ternyata jadi tukang pijit, ya ? Iiih..Sekalian aja buka plang dipinggir jalan.” Kata Cicilia menyeringai.

__ADS_1


“ Pijit itu sebenarnya cuma printilan, untuk sekedar pemanis supaya menarik pelanggan. Tapi bukan itu intinya yang diberikan kepada klien.”


“ Apaan, dong..?!” Seru Cicilia makin penasaran.


“ Kehangatan yang banyak dicari oleh pria-pria hidung belang. Hahaha…!”


“ What..?! Serius, lo..?”


Setelah Eva membeberkan profesinya yang sebenarnya, Cicilia berpikir keras dan berulang kali sebelum memutuskan sebab, dia sadar betul, profesi itu menyangkut harga diri dan masa depan.


“ Bagaimana ? Lo mau ikutan nggak ? Kalau mau, ada nih calon klien tajir. Emang sih udah tua. Umurnya kira-kira antara 60 sampai 65-an, gitu deh. Tapi, sumpah, orangnya kaya banget. Nah, gue dapat info,  orang  itu lagi  cari teman kencan yang cantik dan masih fresh.” Kata Eva.


“ Ya, ampu,  ko, udah kakek-kakek ko masih doyan jajan, ya..? Gimana tuh seandainya mati di ranjang.?"


“ Biasalah, namanya juga orang kaya, bebas ! Mungkin dia bingung mau buang duit kemana. Tapi, justru enak ko melayani kakek-kakek. Bener, deh. Gue pernah, ko. Enaknya itu cepat kelar dan langsung  pulang bawa duit Hahaha…!”


“ Gila..!”


“ Kalau lo nggak mau ya, nggak apa-apa. Gue juga nggak maksa. Tapi, kalau mau, mungkin ini jalan  untuk bisa membantu ibu lo.” Kata Eva.


“ Hasilnya sepadan nggak, sih.? Gue masih virgin, lho..”


“ Soal itu, pinter-pinter lo morotin dompet klien aja, sih..Tapi, yang namanya bos, duit puluhan bahkan ratusan juta sih kecil untuk sekali kencan.”


“ Masa, sih..?”


“ Ya, ampun nggak percaya. Gue nih, awal kencan langsung  kebeli sepeda motor.  Belum lagi, tas, kalung, gelang. Pokoknya banyak, deh..” Kata Eva bangga.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Cicilia memberi keputusan yang berpengaruh besar terhadap nasib kehidupannya di masa depan dia selanjutnya.


“ Hmm...*Oke*, gue coba..” Kata Cicilia pelan.


“ Serius, lo..?” Eva memastika, Cicilia mengangguk.


Karena Cicilia terlihat serius ingin mengikuti jejaknya, ditambah penampilannya yang mendukung, Eva dengan sepenuh hati membantu Cicilia untuk mendapatkan pelanggan pertama sebagai pembuka.


Setelah berjalan sekian hari, Cicilia membuktikan bahwa  apa yang dia peroleh dengan apa yang dia korbankan ternyata memang  sepadan. Profesi tersebut membuat Cicilia  semakin keranjingan.  Sebab, semua keinginannya dapat dipenuhi dengan mudah. Dari yang awalnya berniat sekedar ingin membantu ibunya mencari nafkah, sampai akhirnya bertujuan untuk mendukung kebutuhan konsumtifnya. Cicilia kebablasan !


Tapi, ibunya hingga kini tidak mau ikut menikmati hasil jerih payah anaknya tersebut.


“ Lebih baik ibu tetap menjadi penyapu jalanan daripada ikut menikmati hasil keringatmu. Cara kamu mencari nafkah jelas  tidak halal, Ci. Tapi, kalau kamu bersikeras juga, ya silahkan lakukan dan nikmati sendiri hasilnya. Ibu sama sekali tidak mau memakan dari apa yang kamu peroleh,   walau sebutir nasi.” Kata ibu Sutinah tegas pada suatu hari, ketika Cicilia mulai berani membeberkan kerja sampingan yang dia lakukan.


Karena  malu, Ibu Sutinah  seperti sengaja menutup-nutupi profesi anaknya kepada Daniel, meskipun sebenarnya Daniel sudah lama mendengar desas-desus di sekolahnya tentang pekerjaan Cicilia sebenarnya.


“ Pamit dulu, bu..” Ucap Daniel kepad ibu Sutinah sambil bersalaman.


" Oiya, sampaikan salam ibu untuk Cicilia. Bilang ibu kangen. Kapan dia pulang..?" Kata ibu Sutinah menahan air mata.


" Baik, bu..Nanti aku sampaikan kepada Cici..Permisi.."


Kemudian Daniel melanjutkan perjalanan menuju sekolahannya dengan pikiran yang semakin semraut tidak karu-karuan.

__ADS_1


__ADS_2