
"Ahhh ginjal manusia memang favoritku ahaahahahaa,"
Malam itu, seorang pemuda sebut saja Alzhar, ia tengah berjalan-jalan ke sekitaran kampung dan bermaksud untuk membeli rokok juga. Namun tak sengaja telinganya menangkap suara seseorang seperti tengah memakan sesuatu dengan rakus. Suara itu berasal dari arah rumah kosong yang tengah ia lewati saat ini. Rumah itu sudah tak berpenghuni sejak sepuluh tahun yang lalu.
Awalnya, Alzhar menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke sekeliling. Bulu kuduknya tiba -tiba meremang. Mendadak hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Sesaat, ia menelan salivanya dalam-dalam. Ia bermaksud mencari asal suara tersebut, namun urung ketakutannya menghalangi niat Alzhar.
Kccpprraatt
"Arrgghhh,"
Suara itu semakin terdengar jelas. Lama-kelamaan, Alzhar dengan berani mendekat ke arah rumah kosong tersebut. Karena ia yakin suara itu terdengar jelas dari sana.
Dengan langkah yang mengendap-endap, Alzhar memberanikan diri untuk terus mendekat. Dan sampailah ia di depan jendela yang sudah usang. Ia kembali memberanikan diri untuk mengintip apa yang terjadi dibalik jendela.
Dengan jantung yang semakin berdebar, tangannya tetap mengusap kaca jendela untuk membersihkan debu yang menghalangi.
"Hah?!!!" Alzhar sontak segera menutup mulutnya dengan tangan. Tiba-tiba ia merasa isi perutnya seperti diaduk-aduk melihat pemandangan yang cukup mengerikan disana. Beberapa bagian organ manusia seperti bola mata, ginjal, usus berserakan di dalam ruangan kosong tersebut. Walaupun dengan kondisi gelap, namun Alzhar tetap masih bisa melihat semuanya. Terlihat juga seorang pria mengenakan kostum badut tengah asik menggerogoti organ manusia berupa ginjal dengan lahapnya. Tanpa merasa jijik sekalipun, pria berkostum badut itu dengan rakusnya memakan setiap gigitan organ manusia tersebut.
Alzhar semakin tak karuan, darahnya berdesir hebat. Keringat dingin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Mendadak tubuhnya bergetar hebat, ia fikir seorang psikopat hanya ada di dalam film film saja. Namun kali ini, ia bisa menyaksikannya secara langsung.
Namun yang jadi pertanyaan, organ-organ tersebut milik siapa?
"Uwooo," karena saking tak tahan nya Alzhar, ia pun mengeluarkan semua isi perutnya begitu saja. Sontak ia langsung kembali menutup mulutnya dengan tangan.
"Hei, siapa itu?!!" Teriak lantang badut tersebut. Ia kemudian segera menghentikan semua aktivitasnya. Lalu keluar mengecek keadaan. Sementara Alzhar berhasil menyembunyikan diri di balik tong sampah yang sudah penuh.
Kemudian Alzhar mengintip dan mendapati pria bertopeng badut tersebut tengah celingukan, mungkin mencari pemilik suara tadi, tercium bau amis yang amat menyengat dari tubuhnya. Pria bertopeng badut tersebut berjongkok untuk melihat cairan putih kental yang sedikit ia injak. Kemudian mengendusnya secara seksama.
"Siapa yang berani mengintipku? Akan ku makan organnya hahha," tawanya menggelegar, dan terdengar memekakan telinga. Napas Alzhar semakin tidak teratur, mengingat ancaman yang yang dilontarkan badut tadi.
"Ya Allah, aku harus apa?" Gumamnya dengan keringat bercucuran.
__ADS_1
Krakkk
Belum genap rasa takutnya hilang, dengan tidak sengaja kaki Alzhar menginjak ranting pohon yang sudah rapuh sehingga menimbulkan suara yang mendominasi.
"Oh rupanya dia ada di sekitar sini ihiiii," pria bertopeng badut itu semakin tertawa kencang kala mendengar suara ranting yang terinjak. Menandakan seseorang yang mengintipnya masih ada di sekitarnya.
Lama mendengarkan celotehan badut tersebut. Namun kini telinga Alzhar sudah tidak menangkap suara-suara mengerikan berupa ancaman seperti tadi. Ia segera melihat ke sekeliling. Benar saja, badut itu mungkin sudah kembali masuk ke dalam dan melanjutkan aktivitas menjijikkannya.
Tiba-tiba...
Ada yang menepuk pelan pundak Alzhar. Sontak tubuhnya kembali bergetar, ia tak berani melihat ke arah belakang.
"Pasti badut itu..." Rintih Alzhar sembari memejamkan matanya.
"Woy Zhar? Lu ngapain?" Bisik seseorang yang Alzhar kenal. Dengan cepat Alzhar segera menoleh ke arah belakang. Ternyata temannya yang bernama Fian. Usianya masih sebaya dengan Alzhar.
"Anjir lu ngagetin gua aja." Sentak Alzhar.
Alzhar bingung harus menjelaskan darimana. Sementara Fian adalah orang yang keras kepala, mungkin ia akan menyangkal ketika menjelaskan mengenai badut tersebut.
"Kagak! Yuk ah." Ajak Alzhar.
"Anak-anak udah nungguin lu dari tadi di markas elah. Taunya lu malah ngumpet-ngumpet disini!"
"Yehhhh gua kan..."
"Udah yu lah."
Mereka pun berjalan menuju ke warung, tempat nongkrong anak-anak muda. Sudah dari dulu warung tersebut menjadi markas para pemuda maupun bapak-bapak.
"Bik, kopinya satu ya," pinta Alzhar kepada pemilik warung. Sebut saja namanya Bik Ina.
__ADS_1
"Beres den." Ucapnya santai. Lalu berlalu ke dalam untuk menyeduh minuman legend tersebut.
Ketakutan Alzhar masih berlangsung meskipun dalam ruang lingkup orang banyak. Otaknya tak henti-hentinya memikirkan milik siapa organ-organ tadi. Apa mungkin badut tersebut manusia? Atau hantu?
"Woy! Lu ngapain si ngelamun aja?" Tanya Hengki, yang masih teman tongkrongan Alzhar.
"E--eh kagak." Jawab Alzhar kikuk. Semua orang saling menatap tingkah aneh satu temannya.
"Eh lu pada tahu gak? Di kampung kita nih, katanya lagi beredar isu badut-badut gitu!" Ungkap salah seorang yang ada di tongkrongan tersebut. Asep namanya. Perawakannya bisa dibilang berisi, dengan tinggi tubuh yang di atas 170 cm. Dan berkulit sawo matang. Ia yang biasa menjadi pelawak dalam tongkrongan anak-anak muda tersebut.
"Ahh elu. Hari gini masih aja percayaan ama gituan lu!" Pungkas Fian dengan santainya sambil menyesap sebatang rokok.
"Jadi cerita badut emang ada?" Timpal Alzhar membuat semua orang menoleh kepadanya.
"Iya Zhar. Katanya nih yang paling ngeri, ntu badut suka makan daging manusia! Apalagi yang paling dia sering makan, ginjal manusia!" Jelas Asep mempertegas.
Degg
Seketika jantung Alzhar kembali berpacu mendengar penuturan Asep. Jadi benar apa yang baru saja ia lihat tadi? Cerita badut itu memang ada.
"Gini nih kalo laki udah dipengaruhi cerita mak-mak. Repot kan ditongkrongan ngomongin ginian!" Ketus Fian tak henti-hentinya menyangkal.
"Anjir lu gila. Mau percaya atau kagak, gua kagak bakal tanggung jawab kalo suatu saat lu jadi korban badut itu!" Papar Asep yang sudah mulai emosi dengan tingkah temannya itu.
"Halahhh takut ama badut payah ngapain? Kalo dia ngejar kita ya tinggal lari kali. Kalo ketangkep, kita kan punya otak! Cari cara buat keluar. Gitu aja susah amat. Lagian nih, tu badut kan cuma buat ngehibur anak-anak doang yang paling kalo digaji cuma 200 rebu doang haha," tutur Fian dengan sombongnya membuat semua temannya hanya bisa tersenyum getir. Pasalnya, berabe kalau omongan itu sampai ke orangnya. Bisa jadi santapan empuk Fian.
"Huss! Lu kalo ngomong kagak dijaga banget lu!" Timpal Hengki.
"Kalian ngomongin saya?" Tiba-tiba di sana sudah berdiri seorang pria berkostum badut. Kedatangannya membawa bau anyir yang menyengat. Ditangannya terdapat sebilah pisau dengan ujung yang mengkilap.
Deggg
__ADS_1