
Fian dan Alzhar hanya mengangguk faham setelah mendengar semua kilas balik masa lalu Kinanti yang amat menyedihkan. Begitu juga Kinanti, entahlah, perasaannya begitu kalut, seolah ia kembali kepada masa itu.
Pov Bayu
Setelah sekian lama tak melihat wanita yang telah menorehkan luka di masa lalu, akhirnya aku dapat berjumpa lagi dengannya. Walaupun harus atas dasar kejahatan untuk menemuinya. Selalu terlintas kenangan indah saat-saat bersamanya dulu ketika tadi aku melihat wajahnya yang masih sama seperti dulu, gadis desa yang ayu dan berwajah polos. Karena hal itu aku sampai tergila-gila padanya, namun karena keluarganya yang gila harta, aku terpaksa meninggalkannya walaupun masih ada rasa di dalam relung hati ini.
"Bos? Bos... Tidak apa-apa?" Tanya Anto yang membuyarkan lamunanku.
"Fokus saja mengemudi!" Titahku karena tak ingin Anto melihat kesedihanku. Aku selalu ingin pandangan setiap orang menganggap aku adalah orang yang kejam, orang yang kriminal, aku menginginkan itu. Aku tidak ingin satu orang di dunia itu tahu akan masalah hidupku.
Entah fikiran darimana di otak ku terlintas untuk kembali lagi ke rumah kosong itu. Entah karena ingin menemui Kinanti, atau ingin membunuhnya. Aku selalu memegang teguh prinsip ku, dimana ketika aku menginginkan sesuatu, aku harus mendapatkannya, jikalau aku tidak bisa mendapatkannya, setidaknya orang lain pun sama.
"To? Putar balik!" Ujar ku yang membuat Anto mengernyit Heran.
"Ma-maaf bos. Ada apa yah?" Tanya nya dengan gugup.
"Aku ingin makan ginjal, aku yakin mereka masih ada disana!" Pernyataan ku membuat Anto sedikit terhenyak. Namun sesaat kemudian ia kembali fokus pada kemudi nya. Lalu memutar balik mobil untuk kembali ke rumah kosong tersebut. Akhir-akhir ini, mental psikologis ku tengah terganggu, yang terkadang menjadikanku orang yang sangat kejam di mata orang lain. Padahal nyatanya, orang lain tak pernah tahu sisi positif hidupku.
Sudahlah, aku tidak ingin membeberkan keluh kesah lagi kepada emak-emak ***. Sudah cukup POV ku sampai disini.
***
POV Author
Mobil yang dikendarai Anto dan badut tersebut hampir sampai ke gerbang rumah kosong itu lagi. Entah apa tujuan mereka. Mereka pun segera turun. Badut itu tampak tenang dengan lenggangan kaki nya yang santai. Sementara Anto kian terlihat kalut karena malam ini ia harus kembali mengulang kejadian yang mengerikan oleh bos nya.
Sementara di sisi lain, Kinanti tengah berusaha menahan kantuknya, demi mengawasi keadaan. Begitupun dengan Fian dan Alzhar. Mereka tampak terus waspada terutama dalam menjaga Kinanti. Hanya berbekal senter yang dirasa semakin redup, namun hal itu mampu membuat mereka bertahan. Lain halnya dengan ponsel yang Fian bawa, sudah mati sejak dari tadi. Sehingga ia tidak bisa menggunakan flash hp nya.
"Zhar? Sampai kapan kita kek gini?" Ujar Fian yang mulai tampak mengeluh.
"Gak tahu gua Yan. Kalau sekarang kita turun, gua khawatir ini cuma jebakan. Tadi aja mereka kesini, pasti mereka udah tau bahwa ada seseorang di rumah ini Yan." Alzhar pun menjelaskan kekhawatirannya kepada Fian sehingga membuatnya tidak bisa berkata lagi.
__ADS_1
"Gue kayak lagi shooting film horor dah Zhar." Seketika Alzhar dan Kinanti tertawa pelan mendengar penuturan Fian.
"Ya ampun, kalian lucu banget si." Timpal Kinanti sambil menahan tawanya sehingga terlihat lesung pipi yang menambah ayu di wajahnya.
"Tapi sebentar, apa kita tidak bisa keluar lewat jendela saja?" Tanya Kinanti.
Sontak Fian dan Alzhar saling berpandangan.
"Bisa aja si mbak. Tapi mungkin lolosnya ke hutan belantara sana. Adapun kita terus melipir, pasti di sebelah timur temboknya terputus karena gak semua ada jendela." Jelas Fian yang membuat Kinanti mengangguk faham.
"Jadi kita nunggu besok?" Tanyanya lagi.
"Mungkin mbak. Soalnya kita belum tahu mau keluar lewat mana. Yang pasti menurut aku jangan ke pintu utama lagi, bahaya!"
"Iya mbak, menurut aku juga gitu." Timpal Fian.
"Maafin mbak ya, gara-gara kalian nolongin mbak, kalian jadi kek gini." Ungkap Kinanti sembari tertunduk lemah.
"Mbak! Mbak jangan gitu. Kita juga kebetulan kok ketemu mbak. Mbak jangan punya fikiran seperti itu." Alzhar mencoba menghibur Kinanti yang kini tampak resah.
"Mbak punya ide." Seketika Fian dan Alzhar langsung menoleh.
"Gimana kalau mbak kalian jadiin umpan? Lalu kalian keluar rumah, biar mbak yang mengalihkan perhatian. Setelah kedua orang itu menangkap mbak, kalian langsung hajar kedua orang itu tanpa sepengetahuan mereka. Atau kalau lebih bagus, cepat hubungi pihak berwajib!" Papar Kinanti dengan antusias.
"Nggak! Nggak bisa mbak! Kita gak mau jadiin mbak umpan. Kita sudah berusaha keras buat jagain mbak, dan kemudian, kita lepas gitu aja? Mbak ini gimana sih!" Fian menyanggahnya dengan mengedepankan emosinya. Ia amat tak setuju dengan ide Kinanti yang gila.
"Tapi, mau sampai kapan kita seperti ini hah?! Mbak udah cape!" Balas Kinanti tak kalah sengit.
"Ya mbak sabar sedikit! Kita juga sedang berusaha cari cara!"
"Ya tap--"
Brakkkk
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka karena dobrakan kuat oleh seseorang. Mereka bertiga pun seketika langsung mengalihkan pandangannya, dan alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa orang itu adalah badut dan Anto. Kinanti menelan saliva nya dalam-dalam. Apakah mungkin ini akhir dari hidupnya?
"Hahaha sudah kuduga manusia bodoh ini ada disini." Tawa badut itu menggelegar seisi ruangan yang seketika membuat nyali Fian dan Alzhar menciut. Usahanya kini sia-sia, sekuat apapun mereka menghindar, ketika sudah saatnya tiba, keduanya akan bertemu.
"Mau apa kalian hah?!" Fian berdiri sembari memasang kuda-kuda. Ia kemudian mengambil tongkat bisbol lalu mengarahkannya pada mereka. Sementara Alzhar berusaha menenangkan Kinanti.
"Percuma bodoh!" Timpal Anto dengan angkuhnya.
"Malam ini, adalah malam terakhir kalian melihat dunia." Sambungnya lagi.
"Kamu sudah gila mas!!!" Teriak Kinanti dengan lantangnya. Ia berdiri dan hendak berjalan ke arah mereka berdua, namun Fian dengan sigap segera mencekal lengannya.
"Mbak jangan gegabah! Kita atur rencana. Kemungkinan menang kita masih 30 persen." Bisik Fian. Seketika Kinanti luluh dan kembali mundur.
"To? Ikat mereka!" Titah badut itu.
Anto segera menghampiri ketika orang yang tengah dilanda ketakutan tersebut. Namun Fian segera menyadarkan dirinya untuk tidak dikuasai rasa takut. Entah keberanian darimana, ia sudah bersiap jikalau beberapa menit lagi Anto mengarahkan pisau tajam kearahnya. Kinanti berlindung di balik punggung Fian sembari gemetar ketakutan.
Tak tak tak
Suara langkah kaki seseorang terdengar menaiki tangga. Yang kemudian berhasil menghentikan kegiatan mereka. Seketika semua mata terarah pada tangga yang hampir melingkar tersebut.
Sementara badut itu dengan sigap segera mengeluarkan sebilah pisau dengan ujung yang terlihat tajam mengkilap.
Kemudian munculah seseorang tersebut menghampiri mereka.
"Alhamdulillah, Pak Hasim tolong kami pak? Kami disekap!" Ujar Alzhar yang merasa ada kekuatan kembali ketika melihat seseorang di sana. Harapan kembali datang menyapa setelah lelahnya berputus asa. Fian pun ikut tenang. Ya, Pak Hasim adalah hansip di kampung tersebut. I
Ia hanya menoleh pada badut tersebut, kemudian kepada Fian secara bergantian.
"Pak tolong kami pak." Timpal Fian.
Namun Pak Hasim tetap menatap mereka secara bergantian. Lalu ia mengeluarkan sebilah pisau kembali dari saku celana nya.
__ADS_1
"Bawa mereka!"
Deggh