
"Kalian ngomongin saya?" Tiba-tiba di sana sudah berdiri seorang pria berkostum badut. Kedatangannya membawa bau anyir yang menyengat. Ditangannya terdapat sebilah pisau dengan ujung yang mengkilap.
Deggg
Semua orang tercengang dengan kedatangan pria berkostum badut tersebut. Termasuk Alzhar yang sudah mengucur keringat dingin diantara kedua pelipisnya.
"Badut itu..." Gumam Alzhar saat mendapati dengan seksama bahwa pria berkostum badut tersebut sama persis seperti seseorang yang ia lihat tadi di dalam rumah kosong.
"Tuhh kan. Eh bang berapa sih gaji badut? Haha." Seloroh Fian yang membuat semua orang tercengang. Termasuk Alzhar. Ia tak menyangka jikalau sahabat karib nya bisa berkata demikian.
"Pasti cuma buat sekali beli rokok ya? Haha." Sambungnya lagi sambil terus tergelak, seolah perkataannya memang lucu.
"Yan! Udah! Gak baik!" Sentak Alzhar.
"Kamu anak muda, jangan salahkan aku jika orang selanjutnya adalah kamu!" Ancam pria bertopeng badut tersebut.
"Sudah sudah. Maaf pak atas kelakuan teman saya. Maaf jika perkataannya sudah menyinggung bapak." Ucap lirih Hengki karena merasa bersalah atas sikap temannya yang berlebihan.
Sementara badut tersebut hanya tersenyum sinis sambil berlalu. Sebelum ia pergi, ia sempat menggoreskan ujung pisau pada tangannya sehingga sedikit demi sedikit darah segar pun menetes.
"Anjir!" Sentak Asep sesaat melihat kejadian tersebut. Darahnya terus menetes lalu ia menjilatinya sampai bersih. Sontak membuat semua orang yang berada di tongkrongan tersebut merasa sangat mual karena melihat aktivitas badut tersebut.
"Ihihihii," badut itu sempat tertawa melengking, lalu berjalan meninggalkan keramaian. Mendadak angin berhembus kencang, ditambah suara petir padahal tidak sedang turun hujan.
"Hey anak-anak, udah dulu yah ngopinya. Bibi mau tutup warung," ungkap Bi Ina sambil memasukan beberapa makanan yang tertampang di luar warung. Lalu menutup satu persatu papan kayu yang biasa menjadi penutup warung.
"Lahh napa bi? Lagi enak-enak gini juga!" Ketus Fian sambil menyeruput sisa kopinya.
"Lah? Kalian belum pada denger ya di kampung kita lagi ada berita badut badut gitu lho. Katanya sih, suka makan daging manusia!" Ungkap Bi Ina.
"Tuh kan apa gue bilang!" Timpal Asep antusias.
"Halahhh hari gini masih percaya badut-badut gak jelas." Timpal Fian dengan bangganya.
Sedangkan semua orang termasuk Bi Ina sudah sangat jengah dengan sifat Fian yang melampaui batas. Seperti tidak punya tata krama.
"Zhar, Yan, kita duluan ya. Tiati kalian!" Ujar Asep saat sudah sampai di persimpangan. Karena jalan rumah Asep dan Hengki seraah, sedangkan Alzhar dengan Fian.
__ADS_1
"Oke oke, kalian juga." Teriak Alzhar.
Lantas mereka pun segera berjalan menuju rumah masing-masing. Namun saat di pertengahan jalan, Fian menghentikan langkahnya sejenak. Kemudian ia mendengar suara keributan seperti seseorang tengah berjalan mengikuti mereka.
"Kenapa?" Tanya Alzhar yang melihat gelagat aneh sahabatnya.
"Kayak ada yang ngikutin kita." Gumam Fian sambil melihat sekeliling.
"Ah ngadi-ngadi lu!"
"Bener gua. Bentar,"
"Ihihihhhii."
Glek
Alzhar menelan saliva nya dalam-dalam saat mendengar suara tawa seorang laki-laki. Dan benar saja, ketika mereka menengok ke belakang, seorang pria bertopeng badut sudah berdiri sambil menenteng sebuah celurit di tangan kirinya. Senyumnya terlihat mengerikan dengan bibir yang dipoles sebesar mungkin hampir membelah setengah wajah. Aroma amis kembali menyeruak.
"Ahahaha. Ternyata kita bertemu lagi anak muda sombong!" Ujar badut tersebut sambil tak henti-hentinya tertawa.
"Apa lu?" Tanya Fian lantang. Ia memajukan langkahnya sambil membusungkan dada. Sementara Alzhar hanya ketar-ketir melihat perawakan badut tersebut.
"Halahh lu laki bukan? Ginian aja takut lu. Udah sana pergi, biar gua yang hadepin!" Jawabnya lagi dengan percaya diri.
"Anjir lu keras kepala banget. Gua takut dia bunuh kita brad,"
"Halahh badut ginian juga paling mau ngemis minta duit! Haha..."
Terdengar gemeletuk gigi dari badut tersebut. Ia semakin menguatkan rahangnya, lalu mengangkat setinggi mungkin celurit yang ia pegang. Sementara Alzhar semakin tak karuan. Ia sudah berusaha mengajak Fian untuk pulang, namun anak itu tetap keras kepala sehingga membuat Alzhar amat geram dibuatnya.
"Anji*g lu! Mau mati lu hah?!" Akhirnya karena tak tahan, Alzhar pun dengan terpaksa mengatai sahabatnya karena sudah amat geram.
"Sana lu balik pengecut!" Sentak Fian.
"Oke gue balik, tapi jangan salahin gue kalo badut itu apa-apain lu!" Alzhar pun berbalik dan segera berlari sekuat tenaga menuju ke rumahnya. Jalanan amat begitu sepi, ditambah tidak ada yang jadwal meronda malam ini. Suasana malam terasa mencekam. Sebenarnya, ia tak tega harus meninggalkan sahabatnya begitu saja, tapi karena sifatnya yang sombong dan keras kepala, Alzhar ingin memberikan sedikit peringatan terhadapnya.
"Ihihihiiii." Lengkingan tawa terdengar amat memekakkan telinga. Membuat Alzhar harus menelan ludahnya sejenak. Ia melihat ke arah atas dan benar saja, seorang perempuan dengan baju yang amat lusuh serta rambut yang terurai panjang tengah menggantung-gantungkan kakinya di atas pohon asem yang Alzhar lewati.
__ADS_1
"Astagfirullah lindungi hamba ya Allah," mulutnya masih sadar mengucapkan nama Tuhannya. Lalu tiba-tiba lututnya terasa amat lemas. Sehingga membuat ia tidak bisa berjalan.
"Ya Allah, tolong hamba ya Allah!" Teriak Alzhar dengan lantang. Lalu tak lama kaki nya mulai bisa digerakan. Setelahnya ia dengan cepat-cepat berlari sekuat mungkin tanpa mempedulikan jalan.
Akhirnya...
Tok tok tok
"Bun... Bun..." Teriak Alzhar sambil menggedor-gedor pintu rumahnya.
Lalu tampaklah seorang wanita yang mana adalah ibunya Alzhar. Kondisi tubuhnya masih begitu awet muda walaupun sudah memiliki dua orang anak. Namun badan nya tetap langsing terawat. Cantik pula. Sasmita Hartawan namanya.
"Ya Allah bang, kamu kenapa?" Tanya Sasmita dengan wajah yang khawatir melihat kondisi putra nya yang begitu lusuh. Keringat dimana-mana, lalu terlihat beberapa percikan lumpur di celana cino panjangnya yang berwarna cream.
"Bunda. Abang..." Kalimat Alzhar terus terputus karena napas nya yang kerap kali tersenggal. Ia menutup pintu dengan cepat lalu segera menguncinya.
"Abang kenapa? Coba jelasin pelan-pelan sama bunda." Tutur Sasmita dengan lembut sambil membimbing Alzhar duduk di sofa.
"Tadi... Abang ketemu sama badut yang lagi diceritain orang-orang itu. Dia bawa celurit bun!" Jawab Alzhar dengan antusias.
"Ya ampun bunda fikir kamu kenapa. Udah ah jangan ngaco, sekarang mandi dulu sana!"
"Bunda tapi abang..."
Dengan wajah malas Sasmita meninggalkan putranya.
Tok tok tok
Belum genap Alzhar menetralkan fikirannya, pintu rumah tiba-tiba terdengar seperti ada yang mengetuk dengan paksa. Lalu dengan malas ia beranjak untuk membukanya, takut ada tamu penting.
"Fian! Lu?..." Tanya Alzhar yang melihat Fian tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Namun anehnya, Fian tak bergeming. Melainkan hanya tersenyum misterius. Alzhar hanya mengerutkan keningnya melihat tingkah temannya tersebut.
Tak lama Fian mengeluarkan sebuah belati dari saku celana jeans nya. Lalu menyingkap baju hitam yang ia kenakan. Ia mulai menggoreskan belati tersebut ke perut sebelah kirinya. Tepat bagian organ tubuh berupa ginjal berada.
"Fian! Lu gila!" Sentak Alzhar sambil menutup mulutnya ngeri.
Sementara Fian tak menggubris ucapan Alzhar, ia terus menyayat bagian perutnya tanpa rasa sakit sedikitpun, lalu terlihatlah ginjalnya. Kemudian ia menarik paksa ginjalnya tersebut memotong menggunakan belati pada bagian daging yang menjadi penyangganya.
__ADS_1
Alzhar beringsut mundur menyaksikan kejadian mengerikan tersebut.
Setelah ginjal itu berhasil diambil, Fian lantas memakannya dengan lahap sambil belepotan darah di area mulutnya...