
Sampailah ketiganya di ruangan yang berada paling pojok. Saat Pak Hasim membukakan pintu, alangkah geramnya saat mendapati ruangan itu telah kosong. Mereka telah berhasil kabur.
Pov Anto
'Syukurlah' batinku dalam hati.
Prangg
Dengan wajah yang merah padam Bayu membanting kan celurit itu dengan kasar ke sembarang arah, menandakan amarahnya benar-benar memuncak. Pak Hasim juga tak kalah geram, namun ia masih bisa mengendalikan emosinya.
"Bos? Gimana ini?" Tanyaku dengan rona wajah yang takut karena tahu tabiat mereka berdua seperti apa.
"Apalagi? Kita cari mereka!" Ujarnya tak kalah geram. Akhirnya ... Kami mencari mereka bertiga dengan melalui setiap sudut ruangan rumah yang sudah lama tak berpenghuni ini.
Kami menyusuri setiap sudut ruangan dengan detail dan berpencar. Walaupun jujur bulu kuduk ku kerap kali meremang karena kondisi rumah ini yang sewaktu-waktu bisa saja ambruk. Ditambah suasana nya selalu saja mencekam ketika aku berada si rumah ini. Aku merasa banyak pasang mata tengah mengawasi ku.
Aku berjalan cepat ke ruangan terakhir yaitu gudang. Aku membuka pintu dan terus menelisik keberadaan mereka. Semoga saja mereka benar-benar sudah pergi.
Trrekk
Tak sengaja kaki ku menginjak sebuah benda, aku pun melihatnya untuk memastikan. Sebuah ponsel! Namun entah milik siapa. Aku lantas segera memungutnya dan tanpa banyak bicara segera aku memasukannya ke dalam saku celanaku.
__ADS_1
Apakah mereka melewati jalan lain? Batinku dalam hati. Tapi rasanya tak mungkin jika mereka melewati jalan belakang karena akan langsung berhadapan dengan hutan belantara yang cukup lebat dan terkesan horor.
Apa mungkin mereka masih disini dengan tempat persembunyian yang berbeda seperti waktu itu? Ah rasanya tak mungkin juga. Apakah mereka melewatkan kesempatan emas yang aku berikan ini?
Baiklah, jika mereka sudah pergi syukurlah. Aku lega.
Dengan refleks kedua sudut bibirku mengembang sempurna. Tak sia-sia aku rencana ku kali ini.
"Heh! Ngapain kamu senyam-senyum!" Gertak pria yang usia nya lebih tua dariku. Matanya terlihat melotot dengan kecurigaan yang sepertinya ia tunjukan untuk ku. Kedatangannya begitu mengejutkanku.
"Ma--maaf bos. Saya hanya membayangkan jikalau ketiga bocah itu sudah tertangkap dan kita bisa menjual organnya, saya tak sabar untuk memberikan uang itu untuk orang tua dikampung membayar utang." Kilahku namun dengan alasan yang benar-benar tepat.
"Baiklah. Bersabarlah sedikit To, aku tahu kamu membutuhkan uang." Ujarnya dengan nada yang melemah. Aku hanya mengangguk dengan senyum terpaksa.
Sedikit aku mengulas tentang Bayu. Entah mengapa wajahnya yang lugu bisa membuat ia menjadi seorang yang kriminal, melakukan tindakan di luar nalar manusia. Aku tahu prilakunya amat membuat orang lain merasa aneh, namun dari sorot matanya aku menangkap bahwa sebenarnya ia pria yang baik-baik namun ketika kejiwaan seseorang terganggu, mungkin ia akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu belaka.
Aku ditawari pekerjaan untuk menjadi bawahan dari mereka karena dengan alasan aku harus membantu membayar utang pada rentenir di kampung, utang kedua orang tuaku. Dan akulah yang harus banting tulang untuk berusaha melunasinya, tapi mungkin dengan cara haram ini.
"Arrghh mereka telah kabur! Dasar bocah sialan!" Gertak Pak Hasim sembari terlihat mengepalkan kedua tangannya.
"Bagaimana ini Bayu?!" Tanya Pak Hasim pada seorang pria yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Biarkan saja. Mungkin mereka bukan target kita." Jawabnya enteng dan langsung membuat Pak Hasim menyulutkan emosinya. Lantas ia memegang kerah baju milik Bayu dengan tatapan tajam yang ia layangkan pada pria itu.
"Segampang itu? Segampang itu kau melepaskan peluru yang akan menjadi boomerang untuk kita? Hah?! Apa fikiranmu sedangkal itu Bayu? Sadarlah!" Cecarnya namun Bayu hanya diam tak bergeming, bahkan tak membalas.
Entah apa hubungan mereka berdua, yang aku tahu jelas mereka bukan Ayah dan anak.
"Sialan!" Ia melepaskan kepalan tangannya pada kerah baju Bayu. Lalu tatapannya ia buang ke sembarang arah.
"Bos? Apa perlu kita mengejar mereka sampai ke kampung jikalau benar mereka telah berhasil kabur?" Usul ku agar terlihat bahwa aku benar-benar menginginkannya.
"Tidak usah Anto. Aku yakin mereka tidak akan melaporkan kejadian ini pada siapapun. Namun kita harus lebih berhati-hati dan waspada karena cepat atau lambat perbuatan kita akan diketahui orang banyak, dan aku tidak mengharapkan untuk itu." Paparnya.
"Baiklah bos. Saya ikut saja apa katamu."
"Kita susun rencana sekarang." Ujarnya yang membuat aku dan Pak Hasim seketika menoleh bersamaan.
"Aku ada ide." Ia tersenyum sinis. Lalu dengan gamblang memaparkan rencana selanjutnya untuk menanggulangi akibat buruk dari kehadiran tiga bocah tadi.
Aku dan Pak Hasim mengangguk tanda faham. Tapi ... Apakah aku akan ikut andil dalam rencana kali ini? Akankah aku terus membantu mereka melenyapkan setiap nyawa? Ahhh mengapa aku menjadi seseorang yang menakutkan?
Tiba-tiba aku teringat akan ponsel yang ku temukan tadi. Haruskah aku menyerahkannya pada mereka atau aku menyimpannya sendiri?
__ADS_1
Pasalnya, jikalau aku menyerahkan ponsel ini pada pemiliknya, sudah pasti ada video kejadian tadi yang mereka rekam, dan disitu terdapat wajahku. Namun jika aku menyerahkannya pada kedua orang itu, kemungkinan besar mereka berdua akan terus memburu bocah-bocah itu. Ahh lebih baik aku saja yang simpan.