Teror Badut Psikopat

Teror Badut Psikopat
6. Kilas balik masa lalu


__ADS_3

"Ada satu yang belum aku periksa,"


"Apa bos?"


"Gudang."


Degg


"Gawat... Gawat Zhar, mereka kesini!" Fian terlihat gusar setelah menghampiri Alzhar dan Kinanti yang tengah ketakutan.


"Gimana ini?" Tanya Kinanti tak kalah takut. Keringat dingin mulai membasahi wajah ayu nya.


Alzhar tampak berfikir walaupun dalam keadaan yang benar-benar menegangkan.


Brakkk


Pintu terbuka karena dobrakan paksa Anto. Lalu masuklah badut tersebut dengan mengendus sekelilingnya. Netra nya tampak tajam mengawasi seluruh sudut ruangan.


"Periksa!"


"Siap bos."


Mereka berdua langsung menelisik setiap sudut ruangan. Bahkan sampai menyingkirkan setiap lembaran kain putih yang digunakan untuk menutupi kursi dan barang-barang yang sudah tidak terpakai.


"Kayaknya gak ada bos." Ujar Anto sembari mengedarkan pandangannya.


"Aku yakin mereka ada disini. Buktinya, kursi panjang ini bisa bergeser ke sini. Cihh bodohnya mereka!" Desisnya sembari menatap sinis.


Ya, memang kursi panjang tersebut tadinya terletak di dekat pintu gudang. Namun kini berpindah karena ulah Alzhar.


"Benar juga bos. Tapi masalahnya saya tidak menemukan mereka bos." Ujar Anto.


"Jangan menyerah, aku pernah tertipu oleh bocah ingusan!"


"Terus cari!"


Setelah sekian lama mereka menelusuri setiap ruangan, bahkan sampai tempat-tempat terpencil seperti kamar mandi mereka cek. Namun hasilnya nihil, mereka tak menemukan apapun. Akhirnya, mereka pun kembali lagi ke ruangan tempat dimana badut tersebut mengingat Kinanti.


"Aman gak? Gue udah pegel nih Yan!" Tanya Alzhar sembari menahan setiap peluh yang membasahi tubuhnya sembari terus berpegangan pada tembok persegi yang menonjol.

__ADS_1


Ya, mereka melipir ke pinggir tembok melalui jendela yang sudah usang untuk menghindari pantauan dari kedua orang tersebut. Lumut yang licin dan dedaunan yang merambat cukup membuat mereka merasa kesusahan. Apalagi tembok tersebut benar-benar sudah tua. Dinginnya angin malam terus menerpa mereka, apalagi Kinanti yang sudah terlihat benar-benar kedinginan dan kondisi tubuhnya semakin drop.


"Mbak? Mbak gak papa?" Tanya Alzhar yang melihat wanita disampingnya beberapa kali menghembuskan napasnya dengan kasar.


"M-mbak gak papa. Gimana sudah aman? Mbak sudah tidak tahan Zhar, dingin." Ujarnya sambil menggigil.


"Sebentar mbak." Fian terus mengawasi keadaan sekitar untuk memastikan semuanya benar-benar aman.


"Aman... Aman. Naik aja lagi, Zhar, mbak." Ujar Fian sambil meyakinkan keduanya.


Kemudian mereka pun dengan kesusahan kembali naik naik ke jendela yang tadi mereka gunakan untuk turun. Alzhar dan Fian begitu telaten membantu Kinanti untuk tetap menjaganya dengan cara berusaha untuk tidak menyentuh tubuh gadis ayu tersebut.


"Ayo Zhar!" Fian menyodorkan tangannya pada Alzhar untuk menjadi pegangan.


Akhirnya, kini mereka telah sampai kembali di ruang tempat penyimpanan berang-barang bekas atau gudang. Alzhar menyipitkan mata nya saat melihat kursi yang tadi ia geser kini sudah sedikit berpindah posisi.


"Kenapa Zhar?" Tanya Fian.


"Gue yakin, orang-orang itu sudah tahu keberadaan kita." Lirih Alzhar yang membuat Kinanti semakin tersentak.


"Zhar lu jangan ngadi-ngadi lah, baru juga gue tenangan dikit." Alzhar tak mengindahkan pertanyaan temannya. Melainkan hanya menatap kosong arah kursi tersebut.


Mereka kini harus bermalam dalam keadaan yang mencekam. Mereka terduduk di sudut ruangan dengan tameng hanya sebuah kursi yang sedikit membantu mereka untuk menutupi tubuh masing-masing. Kinanti terduduk di antara Alzhar dan Fian, namun masih ada jarak diantara mereka. Sebenarnya, bisa saja mereka keluar lewat jendela, tapi mungkin mereka akan kehilangan nyawa masing-masing karena jika tadi mereka jatuh, mereka akan berada tepat di atas jurang yang terhalang dengan pepohonan duri. Ditambah gelapnya malam yang tak memungkinkan mereka untuk melakukan sesuatu yang nekat.


"Hp ... Hp lu Yan!"


Dengan sigap Fian segera merogoh ponsel dari dalam saku celana jeans nya, lalu hendak menekan tombol power namun layar tak kunjung berkedip, hanya gelap yang terlihat.


"Sialan! Hp gue mati Zhar!" Fian mengacak rambut frustasi. Begitu juga dengan Alzhar. Keduanya kini harus kembali memutar otak, tadinya, setelah mereka merekam kejadian tadi, akan mereka kirimkan ke pihak berwajib. Namun kenyataan sekarang bertolak belakang dengan harapan.


"Kira-kira, kalian punya rencana apa selanjutnya?" Ungkap Kinanti dengan nada yang lemah lembut. Fian dan Alzhar saling menatap bergantian, pasalnya mereka belum ada planning selanjutnya. Otaknya masih di program dengan kejadian mencekam yang baru saja mereka lewati tadi.


"Kita belum tahu mbak. Tapi kita akan mengusahakan memulangkan mbak kembali ke kampungnya mbak." Ujar Fian dan dibalas anggukan oleh Alzhar. Kinanti bisa sedikit bernapas lega, setidaknya sekarang ada seseorang yang menemaninya dalam kepahitan. Bilamana kedua laki-laki di samping nya andai tadi mereka tidak datang, mungkin kini Kinanti sudah menjadi hidangan makan malam untuk seseorang di masa lalunya.


"Mbak? Maaf. Bukannya saya berniat membuka privasi mbak. Tapi bagaimana ceritanya hubungan mbak dengan orang itu?" Tanya Alzhar. Kinanti menghela napasnya sejenak, lalu menghembuskan nya dengan perlahan.


***


Flash back

__ADS_1


"Maaf pak, bu, kedatangan saya kemari, saya ingin menyampaikan niat saya untuk meminang Kinanti, seorang wanita yang telah hinggap di singgasana hati ini." Ungkap Bayu dengan mantap. Ia yakin bahwa lamarannya akan diterima, mengingat pengorbanan-pengorbanan yang telah ia lakukan untuk wanita pujaannya.


"Heh! Kamu itu sadar diri dong! Orang kayak kamu mau ngelamar anak saya, mah dikasih makan apa nanti anak saya ketika Kinanti menikah dengan kamu hah!!!" Tak disangka, respon yang diberikan oleh Ibunda Kinanti begitu menyayat hati Bayu. Ia tak menyangka, bahwa calon mertuanya begitu tega merendahkan dirinya dengan angkuh. Memang, Bayu sekarang terbilang pemuda yang masih pengangguran. Ia tinggal bersama kakek-neneknya, namun terkadang bersama pamannya. Hidupnya dikelilingi oleh kesusahan semenjak kedua orang tuanya menghilang begitu saja meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan ibu.


"Bu! Jangan seperti itu. Aku yakin Mas Bayu akan selalu bertanggung jawab nanti." Ungkap Kinanti melerai. Bayu hanya tersenyum hambar melihat calon istrinya setidaknya menghargai dirinya.


"Hallah kamu Kinanti! Modal cinta aja gak akan cukup buat nikah! Mau dikasih makan cinta nanti anak saya?" Ibunda Kinanti tetap melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan pada Bayu.


"Sudah Buk, dengarkan saja dulu." Ayahnya Kinanti berusaha untuk memperingati istrinya. Namun karena memang watak istrinya tergolong sangat keras sehingga ia tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak lamaran Bayu.


"Apaan sih pak! Ini juga kamu ikut-ikutan! Sudah Kinanti kalau kamu masih tidak mau dibilang anak durhaka, tinggalkan pria miskin itu. Dan menikahlah dengan Umar." Umar adalah pemuda desa sebelah yang sudah beliau tetapkan untuk menjodohkannya dengan Kinanti. Namun Kinanti tidak bisa meninggalkan Bayu dengan sejuta kenangan yang telah dilaluinya bersama. Kini Kinanti hanya bisa tertunduk sembari terisak. Tak mampu lagi berucap. Rasa bersalah terselubung kedalam relung hatinya.


"Pergi sana kamu! Dan jangan pernah temui anak saya lagi! Paham!!!" Dengan mata yang memerah, Bayu beranjak untuk meninggalkan rumah tersebut. Namun ditahan oleh Kinanti dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas? Mau kemana? Kenapa kamu menyerah? Apakah hanya sampai sini perjuangan kamu?" Tutur Kinanti sambil terisak.


"Kamu jangan khawatir, jika kita berjodoh, suatu saat kita akan dipertemukan kembali," jawab Bayu dengan tenangnya. Lalu ia berbalik meninggalkan Kinanti. Sesaat langkahnya terhenti, ia tak kuasa lagi menahan sakit di hatinya tatkala mendapat hinaan yang begitu menusuk hati.


"Sanaaa!!!" Ibunda Kinanti mendorong tubuh Bayu dengan kasar sampai keluar.


"Lho buk? Ada apa ini?" Tanya seorang ibu-ibu yang tengah bergerombol dan kebetulan melewati ke depan rumah Kinanti.


"Ini buk, pemuda miskin ini mau ngelamar anak saya, si Kinanti! Gak sadar diri dia!" Ibunda Kinanti sengaja membeberkan peristiwa tadi dengan angkuhnya. Gemeletuk gigi terdengar dari mulut Bayu, tangannya mengepal kuat, namun ia berusaha tetap tenang.


"Hey! Kalau mau ngelamar anak orang itu sadar diri dong!" Tutur ibu-ibu yang tengah menggendong buah hati.


"Iya ih!"


"Dasar pria miskin!"


Gunjingan demi gunjingan keluar dari mulut mereka.


"Cukup! Sudah cukup kalian merendahkan harga diriku! Apakah dengan harta seseorang itu bisa terlihat berharga? TIDAK! harta hanyalah hiasan semata. Hanya orang-orang seperti kalian yang sudah menyalahgunakannya!" Akhirnya Bayu mengeluarkan semua unek-uneknya. Namun hanya dibalas tawa oleh semua ibu-ibu tersebut.


"Dan dengar! Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti keluarga kalian terancam! Terutama anak kalian!!!" Kali ini Bayu benar-benar mengancam semua orang. Lalu ia segera meninggalkan semuanya yang menyisakan Kinanti yang tengah menangis tersedu.


***


Fian dan Alzhar hanya mengangguk faham setelah mendengar semua kilas balik masa lalu Kinanti yang amat menyedihkan. Begitu juga Kinanti, entahlah, perasaannya begitu kalut, seolah ia kembali kepada masa itu.

__ADS_1


__ADS_2