Teror Badut Psikopat

Teror Badut Psikopat
5. Dibebaskan


__ADS_3

"Tolonggg... Siapapun tolong saya, saya mohon huhuu," isaknya sembari terus berusaha melepaskan ikatan tali tersebut.


"Yo Yan kita harus tolongin dia, kasian!" Bisik Alzhar.


"Ya--yaudah," walaupun di dera rasa takut, Fian akhirnya hanya manut terhadap perintah Alzhar untuk membebaskan wanita itu.


Merekapun mulai meninggalkan tempat persembunyian dan hendak menghampiri perempuan bernama Kinanti tersebut.


"Mbak? Mbak?" Bisik Alzhar sembari menelisik sekeliling. Begitu juga Fian.


"Si--siapa kalian?!" Sentak Kinanti.


"Jangan takut mbak, kita bukan penjahat. Kita mau bebasin mbak." Alzhar meyakinkan dengan seksama. Namun Kinanti seperti meragukan ucapan pemuda itu.


"Mbak, dari tadi itu... kita lihat bagaimana laki-laki tadi menyeret mbak, apa mbak tidak ingat?" Tanya Fian. Kinanti hanya menggeleng. Ia mulai percaya dengan ucapan dua pemuda di hadapannya.


"Oke mbak percaya, tapi... Kenapa kalian ada disini malam-malam?" Tanya Kinanti.


"Sebentar mbak, saya lepasin tali nya dulu." Fian segera melepaskan tali yang mengikat Kinanti pada kursi tersebut.


"Alhamdulillah." Lirih Kinanti setelah ikatan itu lepas.


"Mbak, mungkin jika saya menjelaskan sekarang tidak sempat, takut badut itu segera kembali." Papar Alzhar.


"Badut? Badut siapa?"


Alzhar dan Fian hanya saling menatap. Apakah mungkin warga kampung sebelah tidak tahu desas-desus soal badut itu?


"Mbak nggak tahu?" Tanya Alzhar. Kinanti hanya menggeleng.


"Begini mbak, nanti saya jelaskan. Yang penting, sekarang kita harus keluar dulu dari sini." Tegasnya lagi. Kinanti hanya mengangguk.


"Mbak bisa jalan?" Tanya Alzhar yang melihat kondisi Kinanti dalam keadaan lemah. Kakinya sedikit pincang.


"InsyaAllah bisa bisa."


Walaupun dengan langkah tertatih, Kinanti memaksakan langkahnya untuk keluar dari rumah kosong tersebut. Dan tentunya, diiringi Fian dan Alzhar untuk berjaga-jaga.


"Kesini mbak." Tutur Fian sembari memperlihatkan jalan menggunakan senter.


"Hahaha akhirnya, wanita itu akan ku bunuh malam ini." Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar menggema dari arah bawah. Sontak Fian dan Alzhar yang tengah memapah Kinanti begitu terkejut.


"Gawat Yan, mati kita!"


"Matiin senter Yan!" Fian segera menekan tombol off pada lampu senternya. Keringat dingin mulai merembes pada tubuh kedua pemuda tersebut.


"Ngumpet-ngumpet. Cepet mbak, sini!" Fian dengan cepat memapah Kinanti menuju ke arah gudang bekas penyimpanan. Dibantu juga oleh Alzhar.


"Tutup Zhar tutup!"


Alzhar dengan sangat hati-hati segera menutup pintu gudang agar tidak terdengar suara decitan. Sementara Fian mendudukkan Kinanti ti sudut ruangan. Lalu menggeser kursi panjang untuk membuat persembunyian. Gudang ini dulunya adalah sebuah ruangan tempat menyimpan barang-barang bekas. Konon, dulunya rumah ini adalah pemilik seorang pengusaha, lalu karena sebuah peristiwa yang mengharuskan seseorang tersebut meninggalkan rumah ini, akhirnya rumah ini jadi terbengkalai. Dan dianggap sebagai tempat yang cukup mistis.

__ADS_1


"Gimana Zhar?"


"Aman... Aman." Alzhar juga menghampiri Fian dan Kinanti yang terkulai lemas. Hampir saja, jika mereka ketahuan, mungkin mereka sudah mati malam ini.


"Astagfirullah lutut gue lemes Yan," lirih Alzhar sembari memegangi lututnya yang bergetar.


"Lah sama gue juga."


"Masih kuat mbak?" Tanya Fian.


"InsyAllah."


"Terima kasih banyak ya kalian sudah menolong mbak. Kalau kalian tidak datang, mungkin mbak sudah mati disini." Lirih Kinanti dengan wajah yang memelas. Wajah itu tampak ayu dengan sorot cahaya rembulan yang menyembul dari balik jendela.


"Iya mbak sama-sama."


"Oh iya, boleh mbak tahu siapa nama kalian?"


"Ahh iya. Saya Alzhar mbak, dan ini temen saya, Fian." Fian mengangguk takzim.


"Alzhar?" Tanya Kinanti.


"I--iya mbak. Kenapa mbak?"


"Kamu putranya mbak Sasmita?" Tanya Kinanti dengan wajah yang berbinar.


"Betul mbak. Kok mbak tahu?"


"Ahh maaf maaf. Mungkin karena kamu masih kecil." Alzhar mengulas senyum tipis sambil mengangguk ragu.


"Soal yang tadi. Maksud kalian, badut, badut gimana?" Tanya Kinanti yang mengalihkan pembicaraan.


"Yan?" Alzhar memberikan kode kepada Fian untuk menjelaskan informasi tersebut. Fian kemudian mengangguk.


"Jadi begini mbak. Di kampung ini, sekarang lagi viral soal badut pemakan daging manusia. Katanya sih, psikopat psikopat gitu mbak. Konon nih, orang yang hilang, kemungkinan besar adalah perbuatan badut tersebut. Dan yang paling mengerikan, badut itu suka makan organ manusia mbak." Tutur Fian se-detail mungkin. Sementara Kinanti hanya mengangguk sembari berfikir.


"Emang mbak dari mana?" Tanya Fian.


"Mbak dari kampung sebelah."


"Emang belum sampai ya beritanya ke kampung sebelah?" Kinanti hanya menggeleng.


"Terus, kalian tahu badut itu kira-kira siapa? Ya... Barangkali kalian kenal gitu."


"Ya laki-laki yang tadi marahin mbak!"


"Hah?!!!" Sentak Kinanti lalu dengan cepat menutup mulutnya karena keceplosan.


"Ma-maaf maaf." Lirih Kinanti.


"Mbak kenal?" Tanya Alzhar di sela-sela obrolan mistis tersebut.

__ADS_1


"Mas Bayu..." Lirih Kinanti sembari memegang dadanya.


"Bayu?" Tanya Fian dan Alzhar serempak. Kinanti tampak gusar sambil menghirup udara dalam-dalam. Ia memalingkan wajahnya lalu bulir bening meluncur dari kedua sudut netra nya.


"Mbak gak papa?" Tanya Alzhar dengan hati-hati.


"Nggak. Maaf... Maaf mbak terbawa suasana. Nanti mbak jelas--"


Prangggg


Brakkk!


Bugh!


Bugh!


"Astagfirullah." Sentak Kinanti setelah mendengar suara keributan dari arah luar. Ketakutan kembali mendera ketiganya. Terlebih Alzhar, tubuhnya kembali bergetar setelah bersusah payah ia menetralkan diri.


"Pasti badut itu tahu kalau mbak Kinanti udah bebas!" Desis Fian.


"Oke, jangan panik. Kita tetap tenang, kita aman kalau kita gak gegabah." Fian berusaha menenangkan Kinanti dan Alzhar yang tengah dilanda ketakutan.


***


"Brengsek!!! Dimana wanita ****** itu?!!!" Sentak badut tersebut kepada seorang pria bernama Anto yang merupakan anak buahnya.


"Ma--maaf bos. Saya tidak tahu. Tapi tadi saya sudah mengikat sekuat mungkin," Anto tak henti-hentinya meminta maaf kepada bosnya. Karena takut bosnya itu malah akan membunuhnya karena ia lalai.


"Itu artinya, ada orang yang sudah membebaskan wanita ****** itu." Geramnnya.


"Awas saja, akan ku buat mereka kehilangan seluruh organ-organnya hahahaha," Anto semakin ketar-ketir mendengar ancaman atasannya walaupun itu bukan ditunjukan untuk dirinya. Namun ia tahu tabiat bosnya tersebut, bahwa ketika ia berbicara bunuh, maka akan terbunuh.


"Feeling saya bos, mereka tidak mungkin berani meninggalkan rumah ini. Karena keadaan di luar benar-benar gelap! Saya yakin, mereka masih ada di sekitar sini. Atau mungkin, masih berada di rumah ini." Paparnya dengan tergesa-gesa. Sementara badut tersebut hanya manggut-manggut, mungkin ada benarnya juga apa yang sudah dikatakan anak buah nya.


"Cari ke seluruh ruangan, jangan sampai lewatkan satu ruangan pun!"


"Siap bos!" Dengan cekatan Anto segera berlari menuju ke setiap sudut ruangan. Dan badut tersebut juga ikut mencari dengan amarah yang meletup-letup karena kecolongan mangsa.


Setelah sekian lama keduanya mencari di seluruh sudut ruangan, namun hasilnya nihil karena mereka tidak menemukan apapun, ataupun sesuatu yang mencurigakan.


Lalu Anto kembali ke ruangan tempat ia mengikat seorang wanita tadi. Ia mendapati bosnya tengah merenung dengan tatapan elangnya yang tajam.


"Maaf bos, saya sudah cek ke seluruh ruangan. Tapi tidak ada apapun disini." Ungkapnya dengan napas yang tersengal.


Sementara di balik pintu, Fian tengah menguping perbincangan mereka karena jarak ruangan tersebut dengan gudang cukup dekat dan masih ada di lantai yang sama, lantai dua.


"Ada satu yang belum aku periksa,"


"Apa bos?"


"Gudang."

__ADS_1


Degg


__ADS_2