Teror Badut Psikopat

Teror Badut Psikopat
4. Sebuah dendam masa lalu


__ADS_3

"SEDANG APA KALIAN DISINI!!!" Suara seorang laki-laki berhasil menghentikan langkah keduanya. Terlebih Alzhar, seluruh tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Dan begitupun Fian, peluh dingin sudah membasahi tubuhnya.


"Allahulaa ilaha illahuwal hayyul qayyum..."


"Setdah anak muda, dikira gua hantu!" Hardik pria tersebut yang ternyata adalah seorang hansip yang tengah berjaga malam. Lantas Fian dan Alzhar segera menoleh ke arah sumber suara saat mengetahui yang memanggilnya memang adalah manusia.


"Pak Hasim?"


"Kalian ngapain malem-malem disini? Kagak ada kerjaan banget!"


Fian dan Alzhar hanya saling tatap dan entah harus memberikan penjelasan apa. Sementara tak mungkin jika harus menceritakan secara jujur.


"I-ini pak. Ki... Kita lagi ada tes uji nyali. Iya uji nyali!" Jawab Alzhar seadanya. Pria yang ternyata Pak Hasim tersebut hanya mengerutkan dahinya yang sudah keriput.


"Uji nyali? Apaan tuh?"


"Aduh buset gimana jelasinnya ya. Jadi gini pak. Uji nyali tuh, kita kayak disimpen di suatu tempat angker nah sampai batas waktu yang ditentukan. Nanti kalo berhasil, dapet duit. Kalo nyerah, kita tinggal lambai-lambai ke kamera. Gitu pak..." Pak Hasim hanya manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Fian.


"Oh gitu."


"Iya Pak. Jadi bapak jangan ganggu kita ya. Lagian ngapain juga si jaga malem ampe masuk ke rumah kosong segala? Gak sekalian tuh rumah kambing digeledah." Papar Fian.


"Yeee bapak kan cuma mastiin semuanya aman. Bisa aja kan maling sarang nya disini?"


"Iya juga. Udah-udah disini aman kok Pak. Kita mau lanjut lagi." Ungkap Alzhar yang secara tidak langsung menyuruh Pak Hasim untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


Setelah lama berbincang, akhirnya Pak Hasim menyerah dan meninggalkan rumah kosong tersebut yang hanya menyisakan Fian dan Alzhar.


Prankkk


Suara seperti benda jatuh. Lebih tepatnya suara dentingan pisau yang beradu dengan lantai membuat Fian dan Alzhar seketika gusar.


"Matiin! Matiin senternya cok!" Titah Alzhar. Fian hanya menurut dengan mematikan lampu senternya. Kini mereka hanya berbekal cahaya rembulan yang menyembul di balik sela-sela pintu. Ruangan benar-benar gelap, namun Alzhar dan Fian tetap waspada agar tidak ada sesuatu yang terinjak.


"Zhar? Kayaknya ada orang dah." Desis Fian sambil mengamati sekeliling.


"Eh kita belum periksa ruang atas cok!"


"Kayaknya suara itu dari sana gua yakin bener!"


Setelah berdiskusi, akhirnya mereka segera menaiki tangga untuk memeriksa beberapa ruangan yang ada dilantai 2.


"Wehh wehh. Bau amis gak si?" Bisik Fian sambil menyikut lengan temannya.


"Iya iya bener. Apa mungkin dari sini?" Sedikit demi sedikit mereka berjalan mengendap menuju ke ruangan yang sepertinya bekas ruang keluarga. Ruangan itu cukup gelap dan ukurannya luas. Ada beberapa kursi yang dibungkus dengan kain putih juga.


Fian menyipitkan matanya saat ia sadar bahwa ada seseorang di sekitarnya. Ia kemudian menghentikan langkah Alzhar, memberinya isyarat untuk diam sejenak.


"Sutttt ada orang!" Alzhar seketika langsung siap siaga.

__ADS_1


"Ngumpet-ngumpet!" Alzhar dan Fian segera mendekati kursi yang dibungkus kain putih sehingga cukup tinggi untuk menutupi tubuh keduanya yang tengah berjongkok. Terlihat ada seseorang yang tengah celingukan seperti orang linglung.


Ya! Pria berkostum badut tersebut.


Mendadak tubuh Alzhar kembali bergetar. Lututnya terasa lemas tak bisa digerakkan. Akhirnya, malam ini usaha mereka membuahkan hasil.


"Dugaan gua kagak pernah salah emang Yan... Yan!" Ungkap Alzhar dengan nada yang rendah bahkan hampir berbisik.


"Hp... Hp... Keluarin!"


Fian dengan gercep segera mengeluarkan ponselnya untuk merekam kejadian tersebut walaupun minim penerangan, namun masih terlihat walaupun dengan remang-remang.


Terlihat badut tersebut tengah celingukan seperti menunggu seseorang. Tubuhnya mondar-mandir dan terlihat gusar. Tanpa ba-bi-bu ia melepas seluruh kostum badutnya. Mulai dari rambut palsu, sampai pakaiannya. Kini mereka bisa tahu bahwa badut tersebut real manusia.


Tampaklah seorang pria yang usianya ditaksir sudah berkepala empat. Terbukti dari postur tubuhnya seperti bapak-bapak pada umumnya. Perawakannya tidak terlalu tinggi, juga tubuhnya sedikit berisi.


"Gua kagak pernah liat dah tu bapak-bapak. Lu pernah liat gak?" Bisik Fian saat mendapati pria tersebut membalikan tubuhnya.


"Sama gua juga kagak!"


Pria yang diduga menyamar menjadi badut tersebut hanya diam tak bergeming membelakangi Fian dan Alzhar. Matanya menerawang ke arah jendela luar. Lalu tak berselang lama, ada seorang pria yang menghampirinya.


Alzhar dan Fian hanya mengerutkan kening, pasalnya, apakah kejadian ini sebuah perencanaan?


Pria tersebut bisa ditaksir berusia sebaya dengan pria di sampingnya.


"Bos, semua sudah siap." Ungkapnya.


"Bawa kemari!" Titahnya tegas. Terlihat pria yang ditugaskan tersebut mengangguk cepat sambil berlalu. Entah apa yang akan ia bawa.


"Yan! Gimana nih gue takut ketahuan!" Bisik Alzhar dengan sangat pelan.


"Bentar Zhar! Gue pengen liat apa yang mau dibawa laki-laki itu." Jawab Fian tak kalah berbisik dan masih fokus menatap pria di hadapannya.


Tak lama setelahnya, pria itu kembali dengan menggusur seorang perempuan yang sudah terkapar tak berdaya tanpa rasa iba. Alzhar sontak menelan saliva nya dalam-dalam. Tak kalah terkejut juga dengan Fian. Jantungnya semakin berdetak tak terkendali.


"Yan... Yan... Rekam Yan!" Fian segera mengeluarkan ponselnya lalu merekam kejadian tersebut. Lampu flash sengaja ia matikan karena tak mungkin menggunakannya disaat-saat seperti ini. Bisa berabe!


Pria tersebut terus menggusur paksa seorang perempuan tersebut ke hadapan orang yang diduga atasannya.


"Siapa dia?"


"Dia... Dia kembang desa dari kampung sebelah bos. Bukankah... Bos kenal?"


Dengan cepat pria yang menyamar menjadi badut tersebut segera membalikan tubuhnya. Lalu melihat dengan seksama seorang perempuan yang kini terbaring lemah di hadapannya.


"Apa jangan jangan... Apa ini Kinanti hah?!!" Pria yang menyamar menjadi badut tersebut menarik kuat kerah baju yang diduga bawahannya. Matanya menatap nyalang dengan gigi yang gemeletuk.


"A-ampun b-bos. Sa... Saya tidak tahu siapa wanita ini." Lirihnya sambil berusaha menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu tahu siapa dia? Hah!!?"


"Ti-tidak bos. Ampun bos.."


Pria tersebut melepaskan cengkramannya. Kemudian tertawa puas menggema di seluruh ruangan.


"Hahaha... Kamu memang selalu tepat sasaran Anto!"


"Anto?!!!" ujar Fian dan Alzhar bersamaan. Pasalnya, Anto adalah warga kampung sebelah yang mereka kenal.


Ya, pria tersebut bernama Anto, seseorang yang bekerja sama dalam kasus tersebut.


"Ma-maksudnya bos? Saya tidak mengerti..."


"Wanita ****** ini berani-berani nya menolak lamaranku! Dan dengan angkuh keluarganya mempermalukanku dihadapan orang-orang. Cuihh!"


Pria bernama Anto tersebut hanya mendengarkan penuturan bosnya dengan seksama. Ia tak berani mengatakan apapun.


"Ikat dia!" Titahnya. Lalu Anto segera mendudukkan wanita bernama Kinanti tersebut di atas kursi yang sudah usang. Lantas mengikatnya dengan kuat.


Memang jika dilihat-lihat, Kinanti adalah seorang gadis berwajah ayu. Tak heran jika banyak laki-laki yang berminat menjadi pendampingnya. Ia merupakan bunga desa di kampung sebelah yang selalu menjadi bahan gosip para pemuda. Sementara Alzhar dan Fian tetap memperhatikan gerak-gerik mereka sambil merekam kejadian tersebut.


Tak berselang lama, terlihat gadis itu membuka matanya perlahan. Lalu melihat ke sekeliling ruangan yang nampak gelap tersebut.


"M-mas?" Tanyanya ketika melihat pria yang merupakan seorang badut tersebut.


"Selamat datang di neraka wanita ******!!!" Ungkapnya dengan tawa yang lagi-lagi menggelegar.


"Lepaskan!" Kinanti mulai gusar. Ia terus meronta berusaha untuk melepaskan diri. Namun ikatan itu terlalu kuat dibandingkan kondisinya yang lemah.


"Mas... Tolong lepaskan aku..." Lirihnya.


"Lepaskan? Enak saja. Apa kau lupa siapa aku? Orang yang telah keluargamu permalukan!" Pria itu mencekal erat dagu Kinanti. Dan menatapnya dengan tatapan yang nyalang.


"Maafkan mereka mas. Bukankah aku menolak mu secara halus? Aku berusaha menolak mu dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti hatimu."


"Owww sayangnya, keluargamu salah menilai ku. Mereka terlalu naif, merendahkan harga diri seseorang!"


"Maafkan keluargaku mas. Aku mohon." Tangisnya luruh seketika menggema di ruangan.


"Semuanya sudah terlambat Kinanti!" Jawabnya datar sambil melepaskan cengkramannya dengan kasar. Setelah itu kedua pria itu pun pergi begitu saja meninggalkan gadis tersebut seorang diri.


"Mas... Mas... Tolong lepaskan aku! Aku mohon! Tolong ..." Teriaknya sambil menangis. Namun kedua pria itu tetap melenggang pergi tanpa menghiraukan teriakan Kinanti.


"Matiin matiin Yan. Kayaknya udah aman. Kita harus tolong dia Yan!" Bisik Alzhar. Fian pun segera mematikan kameranya.


"Bentar dulu Zhar, gue takut kalo kepergian mereka itu cuma jebakan!"


"Iya juga sih..."

__ADS_1


"Tolonggg... Siapapun tolong saya, saya mohon huhuu," isaknya sembari terus berusaha melepaskan ikatan tali tersebut.


Akankah Fian dan Alzhar menolongnya?


__ADS_2