Teror Badut Psikopat

Teror Badut Psikopat
3. Rumah kosong


__ADS_3

Flash back


"Sana lu balik pengecut!" Sentak Fian.


"Oke gue balik, tapi jangan salahin gue kalo badut itu apa-apain lu!"


Walaupun didera rasa takut, namun Fian sudah bersiap jikalau parang itu menghantam tubuhnya dengan ia memasang kuda-kuda sebagai persiapan. Badut itu terus menatapnya tajam seolah Fian memang mangsa selanjutnya.


"Ayo lu lawan gua kalo berani!" Tantang Fian.


"Aku suka gayamu anak muda." Setelah mengatakan itu, perlahan pria berkostum badut tersebut melangkah secara perlahan ke arah Fian sambil mengacungkan celuritnya. Fian yang menyadari itu, ia langsung mundur secara perlahan. Kini nyalinya sudah semakin menciut.


Badut tersebut lalu hendak menancapkan celuritnya ke arah Fian, namun dengan sigap Fian menangkisnya sehingga tidak melukai dirinya.


"Anj*ng lu!" Bentak Fian.


"Sialan lu. Untung polisi dateng hahaha," ungkap Fian yang mengelabui badut tersebut dengan menyatakan sudah ada polisi di belakangnya. Sontak badut tersebut segera menoleh ke belakang, namun sialnya, rupanya ia tertipu Fian. Pemuda itu sudah berlari meninggalkan dirinya.


"Arrgghhhh," bisa-bisanya ia tertipu dengan tipu muslihat anak muda jaman sekarang.


"Akan ku makan ginjal anak itu!" Ancamnya sembari bergumam.


***


Setelah ginjal itu berhasil diambil, Fian lantas memakannya dengan lahap sambil belepotan darah di area mulutnya...


"Bang?! Abang kenapa? Bangun bang!!" Sasmita terus mengguncang-guncang tubuh putranya.


"Aaaaaaaaaa." Akhirnya Alzhar terbangun dari tidurnya.


"Syukurlah cuma mimpi." Lirihnya sambil mengacak-ngacak rambut.


"Tuh kan bunda bilang apa. Kalo disuruh itu nurut dikit bang. Udah mah tidur sembarangan, belom bersih-bersih lagi. Sana mandi dulu!" Titah Sasmita geram.


"Iya bund. Abang minta maaf," Alzhar segera menuju ke kamarnya bermaksud untuk membersihkan diri.


Tok tok tok


"Siap yah malam-malam?" Gumam Sasmita saat hendak ke kamarnya. Namun ia segera menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.


"Tante? Alzhar nya ada?" Tanya seorang pemuda yang tak lain adalah Fian. Sasmita hanya mengerutkan keningnya melihat teman putranya seperti habis dikejar setan.


"Ada, yu masuk!"


"Sebentar ya, Tante panggilan dulu sekalian bikin minuman." Ungkap Sasmita ramah.

__ADS_1


"Ja-jangan Tante. Fian udah ngopi kok tadi. Cuma mau ketemu sama Alzhar aja," jawabnya dengan sangat terburu-buru.


"Oh yasudah. Sebentar ya." Walaupun dengan rasa heran mendera di otaknya, Sasmita segera memanggil putra sulungnya untuk ke ruang tamu.


Setelah membersihkan diri, Alzhar segera menuju ke ruang tamu karena perintah Sasmita. Namun yang ia heran, mengapa temannya malam-malam kesini?


"Yan?" Tanya Alzhar lalu duduk di depan Fian.


"Zhar... Zhar... Lu harus bantuin gue Zhar!" Ucapnya dengan antusias.


"Bantuin apaan! Oh ya, lu gak di apa-apain kan sama badut tadi?"


"Justru itu Zhar. Gue minta maaf udah gak dengerin omongan lu,"


Fian pun menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya. Akhirnya ia percaya, bahwa badut psikopat itu memang ada. Untunglah otaknya cukup cerdas untuk mengelabui badut tersebut.


"Oke santai. Yang penting sekarang lu udah percaya sama gue."


"Sebenarnya, pas lu kagetin gue tadi malam, gue lagi..."


Alzhar pun menceritakan kejadian beberapa jam lalu yang menimpanya. Sementara Fian sekarang sudah mengerti karena ia sendiri yang mengalaminya.


"Gitu ceritanya Yan. Gue ampe mula, bahkan sampe muntah. Untung badut itu kagak temuin gue!"


"Masa jaman sekarang kasus pembunuhan bisa rahasia-rahasiaan?"


"I don't now."


"Gue penasaran, masalahnya itu ginjal manusia Yan. Gue yakin banget bentukannya kek gitu. Atau ... gimana kalo malam ini kita selidiki kasus itu?" Usul Alzhar yang membuat Fian langsung tersentak.


"Gila lu. Ngapain juga, gabut lu kagak bermanfaat banget!" Ketus Fian.


"Ambigu banget lu! Katanya kagak percaya badut itu ada, sekarang disuruh nyari malah kagak mau lu. Takut kali lu!" Ejek Alzhar untuk memancing Fian agar memenuhi keinginannya.


"Enak aja lu. Yaudah, gue setuju. Tapi gue numpang mandi dulu, gue belum mandi."


"Elahh. Sana-sana,"


"Sekalian pinjem baju ya?" Ucap Fian cengengesan.


"Iye." Jawab Alzhar malas.


Fian pun segera menuju ke kamar mandi yang terletak di kamar Alzhar. Karena sudah dekat dari kecil, sehingga untuk hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Sementara Alzhar sendiri menunggu sambil iseng berselancar di media sosial.


Kemudian ia menemukan sebuah postingan yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


'Telah terjadi pembunuhan di daerah A yang mana korban tersebut adalah pemuda dari Desa B'


Degg


Alzhar semakin tersentak. Pasalnya, pembunuhan itu tak jauh dari daerah tempat tinggalnya. Dan korban yang dimaksud tersebut kemungkinan besar pemuda dari desa sebelah yang jaraknya hanya terhalang perkebunan kelapa sawit.


'Diduga, pembunuh mengambil satu ginjal korban terlebih dahulu. Dengan bukti terdapat sayatan di perut sebelah kiri korban'


Alzhar semakin tak kuasa menahan mual. Pasalnya, bisa jadi berita itu adalah jawaban atas rasa penasaran Alzhar saat melihat pria berkostum badut tersebut. Kemungkinan besar juga, pembunuhnya adalah orang yang sama. Karena kejadian yang ia saksikan, sangat cocok dengan berita yang tengah menyebar.


"Ngapa lu?" Tanya Fian tiba-tiba setelah keluar dari kamar mandi sembari terus menggosok-gosok rambutnya yang basah.


"Ini gua barusan liat katanya ada pembunuhan di Desa sebelah. Katanya juga nih, ginjal nya ilang satu anjir!" Papar Alzhar dengan antusias.


Sejenak Fian menghentikan kegiatannya. Lalu menoleh ke arah Alzhar sambil terlihat memikirkan sesuatu.


Setelah Alzhar dan Fian bersiap-siap, mereka kemudian pamit kepada Sasmita namun dengan dalih akan nongkrong di warung desa sebelah. Nyatanya, mereka akan pergi ke rumah kosong tersebut guna menyelidiki kasus.


"Awas jangan pulang kemaleman ya bang. Jangan kebiasaan!"


"Oke bund. Abang pamit dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Lu yang bawa senter dah." Ujar Alzhar.


"Beres."


Merekapun segera berjalan menuju ke luar. Nampak suasana malam ini terasa begitu sepi dengan angin yang sesekali berhembus kencang. Ditambah suara burung hantu terdengar memekakkan telinga.


Akhirnya setelah sekian lama perjalanan karena jarak dari rumah Alzhar ke rumah kosong sedikit membutuhkan waktu, merekapun sampai di depan sebuah rumah yang sudah lama tak ditinggali. Rumah itu nampak usang dengan beberapa akar tumbuhan yang bersarang di tembok, juga lumut-lumut yang bertebaran di mana-mana. Bisa dibayangkan lah, betapa seramnya rumah tersebut. Apalagi rumah kosong itu terletak di dekat kebun sawit dan jauh dari rumah warga. Hanya lampu-lampu jalanan yang menjadi penerang.


"Gua kagak yakin nih Yan." Bisik Alzhar sembari memegang dadanya yang mulai terdengar riuh detak jantung yang tak beraturan.


"Lahh? Lu yang ngajak kali!" Jawab Fian sambil menyikut lengan Alzhar. Matanya jelalatan menatap sekeliling. Takut ada seseorang yang melihat aktivitas mereka.


Dengan langkah yang mengendap-endap, mere berdua pun berhasil masuk. Terlihat gelapnya ruangan demi ruangan yang mereka lewati. Hanya berbekal lampu senter yang mereka bawa, namun itu tak menjadikan keduanya urung untuk mundur. Keduanya pun terus berjalan dengan langkah yang mengendap-endap. Menyusuri setiap ruangan, namun anehnya, tidak ada yang mencurigakan disini.


"Kek nya kagak ada apa-apa dah Yan?" Desis Alzhar saat sudah lumayan lama keduanya berada di ruangan kosong tersebut.


"Ya... Kali aja di ruangan lain Zhar,"


Merekapun kembali menyusuri ruang tengah, ruang makan, dapur, namun tak ada yang mereka temukan. Padahal jelas-jelas beberapa jam yang lalu Alzhar melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa badut itu tengah mengeksekusi ginjal seseorang disini.


Akhirnya merekapun bermaksud untuk keluar dari rumah kosong tersebut. Namun saat keduanya hendak membukakan pintu ...


"SEDANG APA KALIAN DISINI!!!"

__ADS_1


__ADS_2