Teror Badut Psikopat

Teror Badut Psikopat
10. Pertemuan


__ADS_3

Di sisi lain, Fian, Alzhar, dan Kinanti berhasil kabur dengan melewati hutan belantara dan juga menembus pekatnya malam. Karena tidak mungkin jika mereka melewati jalan pada umumnya.


Mereka sedikit kesusahan karena hutan yang mereka lalui menuju ke desa amat masih alami sehingga tumbuhan liar ada dimana-mana, menghambat perjalanan mereka. Namun tak urung ketiganya untuk berhenti, sudah mereka tekadkan bahwa malam ini mereka harus benar-benar selamat.


"Hati-hati mbak!" Pinta Alzhar pada Kinanti yang nampak kesusahan mencari jalan. Kinanti hanya menganggukkan kepalanya.


"Yan! Ini masih jauh gak sih? Apa mungkin kita sampai ke desa siang hari?" Tanya Alzhar.


"Bisa jadi. Tapi kalau kita lebih cepat, semua ini akan segera berakhir Zhar."


"Kita sebisa mungkin harus menahan lelah." Sambungnya yang berusaha menyemangati diri.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Kinanti. Fian menoleh pada jam tangannya.


"05.09 mbak."


Tanpa merasa lelah, mereka terus berjalan menyusuri setiap jalan setapak di hutan yang menuju ke desa.


Akhirnya setelah beberapa menit perjalanan, ketiga nya pun telah sampai di gardu desa yang artinya, sudah mendekati rumah Alzhar.


Dengan langkah yang semakin dipercepat, mereka segera berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke rumah Alzhar.


"Yan, lu ikut dulu ke rumah gue, buat cas hp. Sama kita bicarain kejadian ini sama bokap nyokap gue." Ujar Alzhar.


"Oke Zhar."


Sampailah mereka di depan pintu rumah Alzhar. Namun, Kinanti terlihat bingung, pasalnya ... Apakah ia akan tinggal disini sementara?


"Oh ya, mbak juga kenal sama Bunda ku kan? Jadi mbak disini dulu sementara." Ungkap Alzhar. Kinanti hanya mengangguk sembari tersenyum paksa.


Tok tok tok


Tak lama seorang wanita yang tak lain adalah Ibunda Alzhar datang membukakan pintu.


"Bund?" Panggil Alzhar.


"Hmm bagus ya pulang subuh udah kayak kerja di dunia malem kamu!" Cerocos Sasmita kepada putra sulungnya.


"Ini lagi, pakaian kalian kenapa kotor-kotor?!"

__ADS_1


"Bun, nanti Alzhar jelas--"


"Kamu ..." Sasmita melihat ke arah wanita di samping Alzhar dan Fian.


"Mbak? Ini aku, Kinanti." Lirih Kinanti sembari menunjuk dirinya. Terlihat dari kedua netra nya embunan air tergenang disana, seperti hendak tumpah.


"Ki--Kinanti?!" Sasmita langsung berhambur memeluk Kinanti. Dan Kinanti pun membalas pelukan Sasmita sambil berderai air mata.


Setelah pertemuan itu selesai, Sasmita segera mengajak mereka bertiga untuk masuk ke rumahnya, lalu duduk di sofa yang memang sudah tersedia.


"Sebenarnya ... Ini ada apa? Kalian darimana? Kenapa pakaian kalian ..." Ujar Sasmita sembari menelisik penampilan mereka satu-persatu, yang sudah terlihat agak kotor dengan keringat yang mungkin menggenang di badan masing-masing.


Fian dan Alzhar saling menyikut. Pasalnya, mereka tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Sementara kisah yang mereka alami bisa tersampaikan melalui panjang lebar padahal hanya semalam kurang mereka berada di posisi itu.


"Biar mbak aja." Ungkap Kinanti dengan yakin. Kemudian gadis itu menceritakan awal mula pertemuannya dengan Alzhar dan Fian, ketika ia tengah disekap, sampai bisa lolos.


Setelah lama Kinanti bercerita, Sasmita mengangguk faham dan akhirnya percaya. Bahwa cerita badut itu memang ada nyatanya.


"Tapi ... Kalian baik-baik aja kan?" Desak Sasmita.


"Iya Bun, kita baik-baik aja. Tapi kalau sekarang kita gak kabur, mungkin kita udah jadi korban selanjutnya." Jawab Alzhar yang langsung membuat Sasmita meringis membayangkan betapa kejam nya ketiga orang itu.


"Bun, Alzhar sama Fian izin tidur dulu yah sebentar, ngantuk sama cape." Ungkap Alzhar sembari mengusap tengkuk nya.


"Kinanti, kamu bisa pakai kamar tamu yah baju yang mbak juga ada. Kamu boleh pake. Nanti siang, baru terserah kamu mau kemana. Sekarang istirahat dulu." Papar Sasmita pada Kinanti.


"Baik mbak. Terima kasih mbak." Jawab Kinanti dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sasmita hanya mengangguk sembari tersenyum.


Mereka pun melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Kinanti kini tengah membersihkan dirinya di kamar tamu keluarga Sasmita. Sementara Alzhar dan Fian baru saja selesai melaksanakan shalat subuh.


Tolong ... Tolong ...


Suara seorang perempuan terdengar memilukan di telinga Fian. Terpaksa ia harus bangkit untuk mengecek keadaan di luar. Setelah ia keluar, benar saja, ia melihat seorang perempuan tengah diseret paksa oleh seseorang. Perempuan itu dipakaikan tudung kepala dengan kondisi tangan yang terikat. Perempuan itu terus menjerit pilu tatkala tubuhnya terkena beberapa rerumputan yang tajam sehingga mengundang Fian untuk mengikutinya.


Fian terus mengikuti kedua laki-laki bertopeng serta berseragam serba hitam yang tengah membawa paksa seorang perempuan tersebut. Dan lagi lagi, rumah kosong yang baru saja Fian tempati beberapa jam yang lalu harus dijadikan tempat eksekusi.


Mereka terus masuk ke dalam dan Fian terus mengekor dari belakang. Dan tentunya, tanpa meninggalkan jejak berupa suara ataupun pergerakan yang dapat mengundang kecurigaan.


Perempuan itu dibawa ke sebuah meja yang sudah terletak di ruangan lantai satu. Meja itu terlihat sangat usang. Lalu dengan kasar mereka mengikat pergelangan kaki perempuan tersebut, dan mengikat tangannya dengan posisi terlentang.

__ADS_1


'Aneh, ketika aku kesini, belum ada meja seperti ini.' batinnya heran.


Fian mengintipnya dari balik kursi yang sudah di tutup dengan kain putih.


Tudung kepala perempuan itu dibuka dan ...


"Mbak Kinanti!" Pekik Fian lalu dengan refleks ia menutup mulutnya. Kinanti tengah dipaksa oleh kedua orang itu untuk menyerahkan salah satu organnya secara brutal.


Sejenak mereka berdua menghentikan kegiatannya mungkin karena mendengar suara seseorang.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Rutuk Fian.


Terlihat mereka saling berbisik, namun tak lama, salah satu diantaranya mengeluarkan belati tajam yang terlihat runcing dengan kilapan di ujungnya. Melihat itu, Kinanti semakin meronta ketakutan. Berusaha melepaskan dirinya, namun nihil ikatan tali itu terlalu kuat.


"Apapun yang terjadi, gue harus bisa nyelametin Mbak Kinanti, gak peduli kalau gue mati!" Geram Fian karena merasa sudah keterlaluan dengan tindakan kedua orang biadab itu. Fian beranjak bangun untuk menyelamatkan Kinanti, namun entah mengapa tubuh nya seolah terkunci sehingga ia tak bisa bergerak.


"Kenapa ini?" Gumamnya karena merasa tubuhnya begitu kaku dalam posisi duduk menghadap ke arah orang-orang itu. Fian terus berusaha untuk bangun, namun tetap tidak bisa.


Fian segera mengalihkan pandangannya melihat salah satu dari mereka merobek perut bagian kiri bawah Kinanti dengan paksa dan tanpa rasa kasihan.


"Aaaaaaaaaaa." Jeritnya tatkala rasa sakit itu menghantam nya. Darah segar keluar deras dari bagian kulit yang disobeknya. Namun kedua orang itu terus melanjutkan aktivitasnya. Satu tangan masuk ke dalam perut itu lantas memegang ginjal Kinanti.


"Biadab!" Lirih Kinanti sembari menahan rasa sakit yang teramat ketika tangan itu berhasil memegang ginjalnya, lalu dibantu oleh sayatan belati itu, ginjal Kinanti berhasil dikeluarkan dan naasnya, ia langsung tak sadarkan diri.


"Mbakkkkkkkkkk." Pekik Fian tertahan karena merasa ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Nasi sudah menjadi bubur.


"Hahahaha." Tawa salah seorang pria itu dengan puas ketika ditangannya sudah ada harta berharga milik seseorang yang ia rebut paksa darinya.


"Kita akan kaya lagi!" Ungkapnya dengan antusias. Dan dibalas dengan anggukan rekan di depannya.


"Mbak, maafin aku. Aku gak bisa selametin mbak." Rutuk Fian menyesali dirinya sendiri.


"Apa kau tidak mau uang lebih banyak?" Tanya pria itu kepada rekannya.


"Maksudmu?"


"Masih ada satu ginjal yang harus kita ambil."


"Siapa?"

__ADS_1


"Seseorang yang tengah bersembunyi di balik kursi!"


Degghh


__ADS_2