Teror Badut Psikopat

Teror Badut Psikopat
8. Berhasil kabur


__ADS_3

"Pak tolong kami pak." Timpal Fian.


Namun Pak Hasim tetap menatap mereka secara bergantian. Lalu ia mengeluarkan sebilah pisau kembali dari saku celana nya.


"Bawa mereka!"


Deggh


"Pak! bapak gila yah!" Bentak Fian ketika Pak Hasim malah menyuruh kedua orang itu untuk menangkap Alzhar, Fian, dan Kinanti.


"Siapa kamu? Bocah kemaren sore so soan bilang saya gila hah?!" Ungkap Pak Hasim sambil menghampiri Fian dan hendak memukulnya, namun Fian menangkisnya dengan sigap. Fian dan Alzhar tak dapat berkata-kata lagi. Ia begitu tak menyangka bahwa hansip yang selama ini ia kenal baik, ternyata sangat bertolak belakang.


"Oh pantas saja waktu itu bapak keliling di sini, rupanya haus uang!" Bentak Fian dengan gigi gemeletuk. Ya, memang tempo hari Pak Hasim pernah bertemu dengan mereka, secara logika tak mungkin kan seorang hansip berjaga di rumah kosong yang terletak lumayan jauh dari perumahan warga. Nah pada saat itulah Pak Hasim memberitahukan anak buahnya yang tak lain adalah Bayu dan Anto untuk memburu Fian dan Alzhar, juga Kinanti.


Tenaga Alzhar dan Fian kini sudah terkuras habis, maka dari itu mereka berhasil dipaksa masuk ke suatu ruangan yang lagi-lagi bernuansa menyeramkan dan terasa horor. Dimana ruangan yang mereka tempati itu berada pada lantai dua paling ujung.


Anto dan Bayu mengikat tangan mereka bertiga, lalu mendudukkannya dengan kasar.


Kinanti menatap nyalang ke arah Bayu, tatapannya begitu berbeda dan bertolak belakang dengan wajahnya yang ayu. Bayu yang menyadari itu hanya menatap Kinanti lekat-lekat. Entah mengapa terasa desiran aneh pada ulu hatinya. Sekarang semuanya sudah berbanding terbalik, dulu tatapan itu adalah tatapan penuh cinta, namun sekarang tatapan itu berubah menjadi kebencian.


'Sial! Mengapa aku harus gundah!' batin Bayu yang menyadari Kinanti masih menatapnya dengan nyalang.


"Kita apakan mereka bos?" Tanya Anto memecah keheningan.


"Biarkan dulu! Besok kita eksekusi dan ambil semua organnya." Jawab Pak Hasim tanpa merasa bersalah. Anto dan Bayu hanya mengangguk.


Kemudian mereka bertiga meninggalkan Fian, Alzhar, dan Kinanti dalam kondisi terikat. Fian yang menyadari Kinanti masih menatap mantan kekasihnya dengan sorot mata penuh kebencian langsung menyadarkan Kinanti.


"Mbak? Mbak gak papa?" Tanya Fian khawatir. Kinanti hanya menggeleng lemah dengan tatapan masih terpaku pada kepergian Bayu.


"Mbak? Saya mohon sadarlah, ikhlaskan masa lalu mbak. Percayalah, Allah adalah sebaik-baik pembuat naskah kehidupan." Ujar Alzhar menyadarkan Kinanti.

__ADS_1


"Iya mbak, mbak baik, suatu saat mbak akan segera menemukan laki-laki yang pantas untuk mbak." Timpal Fian. Tak lama Kinanti menundukkan wajahnya dan terdengar isakan yang memilukan.


"Entah aku harus menangis atau marah, semua itu memporak-porandakan fikiran ku. Mengapa sekarang Mas Bayu menjadi orang yang sangat berbeda? Jujur, aku ingin kembali pada masa lalu. Aku masih mengharapkannya." Lirih Kinanti sambil terisak membuat Fian dan Alzhar merasa iba.


"Yan? Coba berdiri, mobil mereka udah keluar?" Tanya Alzhar. Kemudian Fian berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk memastikan bahwa mereka sudah pergi.


"Sial! Gak keliatan Zhar." Ya, memang ruangan itu berada paling pojok pada lantai dua.


"Kita harus keluar dari sini! Gue nggak kuat!" Geram Fian. Dengan tergesa-gesa ia berusaha melepaskan ikatan pada tangannya. Dan, berhasil. Ia tersenyum penuh kemenangan.


"Yan ini Yan!" Alzhar menyodorkan tubuhnya untuk Fian melepaskan ikatan pada tangannya. Fian kemudian melepaskan ikatan pada tangan Alzhar dan Kinanti. Telapak tangannya berdarah karena ia memaksa melepaskan ikatan tambang tadi yang cukup kuat.


"Ayo sekarang!" Titah Fian yang hendak keluar. Namun berhasil dihentikan oleh Alzhar.


"Yan! Apa kita gak terlalu gegabah?" Tanya Alzhar dengan was-was. Dan dibalas anggukan oleh Kinanti.


"Zhar! Mau sampai kapan kita disini! Gue muak! Kita udah sabar nunggu waktu tapi nyatanya? Kita tetap ketangkep kan? Kita terlalu berleha-leha Zhar!" Geram Fian.


Mereka berhasil menuruni tangga utama, dan kini mereka hampir sampai menuju ke pintu utama. Namun masalahnya, entah ini jebakan atau apa karena mereka bertiga belum bisa memastikan bahwa ketiga orang biadab itu apakah sudah pergi atau sengaja mengumpan.


"Yan?" Bisik Alzhar. Fian menoleh.


"Kita harus yakin Zhar, kita harus pulang! Apapun yang terjadi setelah kita membuka pintu ini kita harus siap menerimanya. Kita harus siaga! Tetap di belakang gue! Lindungi mbak Kinanti!" Papar Alzhar dengan semangat.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di depan pintu utama yang sudah usang. Namun masih bisa dibuka tutup.


"Bismillah." Fian berancang-ancang dengan memegang kenop pintu, ia sudah siap akan konsekuensi nya jikalau di depan pintu orang-orang biadab itu sudah menghadangnya.


1 ... 2 ... 3 ...


Kreeettt

__ADS_1


Pintu terbuka, namun Fian tak merasa ada tanda-tanda apapun. Akhirnya, mereka berhasil keluar.


"Berhasil Zhar! Kita keluar!" Ungkap Fian dengan antusias. Alzhar dan Kinanti akhirnya bisa merasa sedikit lega.


Kemudian dengan cepat mereka berlari ke arah sebrang jalan yang cukup gelap. Fian merasa ada sorot lampu mobil dan ketika ia menoleh, benar saja sebuah mobil tengah menuju ke arah mereka. Untungnya mereka tidak berada di tengah jalan, melainkan di sisi semak belukar yang cukup rimbun.


"Sembunyi! Sembunyi!" Fian segera menarik tangan Alzhar dan Kinanti menuju ke rimbunan semak belukar tersebut. Mereka memperhatikan dengan sesama apakah itu mobil mereka? Tapi jika bukan, mengapa terparkir di halaman rumah kosong yang baru saja mereka keluar dari dalamnya?


"Itu mereka!" Lirih Kinanti. Benar saja, dari mobil itu turun tiga orang yang tak lain adalah Anto, Bayu, dan Pak Hasim. Masing-masing dari mereka membawa celurit yang terlihat tajam mengkilap.


"Zhar! Kalau kita gak keluar! Mungkin kita udah jadi daging cincang!" Desis Fian karena merasa berhasil atas tindakannya.


"Iya Yan. Syukurlah kita gak ketahuan."


***


Mereka bertiga dengan parang di tangannya, sudah siap untuk mengeksekusi ketiga anak manusia yang dirasa telah menganggu bisnisnya. Merekapun berjalan menuju ke ruangan tempat dimana mereka menyandera ketika orang tersebut.


"Hahaha malam ini kita akan kaya!" Ucap Pak Hasim dengan bangganya dan tawa menggelegar.


"Betul bos! Tapi apakah mungkin mereka masih ada disana?" Tanya Anto.


"Maksudmu?" Tanya Bayu.


"Saya takut, mereka kabur karena dari kita tidak ada yang menjaganya." Paparnya.


Langkah ketiganya berhenti.


"Betul juga." Lirih Pak Hasim.


"Ayok! Kita lihat saja!" Ajak Pak Hasim dan kemudian mereka melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Sampailah ketiganya di ruangan yang berada paling pojok. Saat Pak Hasim membukakan pintu alangkah geramnya saat mendapati ruangan itu telah kosong. Mereka telah berhasil kabur!


__ADS_2