Terpaksa Menikahi Anak Mantan

Terpaksa Menikahi Anak Mantan
Perdebatan


__ADS_3

Siang itu di restauran yang terkenal mewah, duduklah sepasang sejoli yang sedang meributkan sesuatu entah apa yang sedang mereka ributkan? yang jelas sang wanita nampak sangat marah sambil bersungut-sungut di depan sang pria yang usianya nampak jauh dari sang wanita.


" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau memacari anakmu mas! aku tidak mencintainya, di hatiku hanya ada kamu. Jadi jangan pernah memaksaku untuk melakukannya" dengan nada yang keras sambil memalingkan pandangannya.


Dengan lembut lelaki itu mencoba meraih tangan kekasihnya yang sedang merajuk.


" Sayang tolong dengarkan aku! Rian itu satu-satunya anakku yang sangat aku cintai, sewaktu kecil dia tidak pernah rewel dan memaksaku untuk memenuhi semua keinginannya karena dia tahu jika ayahnya dulu hanya seorang kuli bangunan yang gajinya kecil, dan itu berlanjut sampai sekarang, walau aku kini sudah hidup berkecukupan tapi Rian tetap tidak mau meminta sesuatu apapun kepadaku. Hingga dia mendatangiku tiga hari yang lalu, dia bercerita kalau dia sedang jatuh cinta dengan seorang mahasiswi satu fakultas dengannya yang bernama Amara Wijaya dia bercerita dengan penuh kebahagiaan di matanya, aku sebagai ayah ikut merasa senang melihat dia yang begitu ceria ketika membicarakanmu. Apa menurut mu aku tega jika mematahkan hatinya? " menatap dengan tatapan iba


" Terus bagaimana dengan perasaan ku? apa mas peduli? ingat mas! hubungan kita tidak mudah dari awal, banyak yang mengkritik kita habis-habisan bahkan orang tuaku sempat tidak setuju. Dan sekarang setelah kita mendapat restu dari kedua orang tuaku dengan mudahnya mas minta aku untuk memacari Rian? apa itu tidak gila?" dengusnya dengan napas yang naik turun, yang menandakan jika wanita itu sedang menahan amarahnya.


" Aku tidak bermaksud mengabaikan perasaanmu sayang, hanya saja aku merasa tidak berguna jadi seorang ayah untuknya. Dulu aku tidak bisa membelikan apa yang dia mau karena tidak mempunyai uang dan ketika dia dewasa sedang merasakan cinta, apa berlebihan jika aku mencoba membantunya?" ucap lelaki itu dengan frustasi sambil mengusap kasar wajahnya yang masih terlihat kencang walau sudah berkepala empat, lelaki itu nampak tampan dan berkharisma, maklum dia blasteran Sunda dan Jerman. Namanya Nicholas Manfred salah satu dosen yang mengajar di Universitas tempat Amara kuliah.


" Terus mas mau bantu dia apa? mau menjadi mak jomblangnya gitu?" (menatap penuh dengan sindiran) "Bukankah dari awal aku sudah mengingatkan mas untuk segera memberitahu Rian tentang hubungan kita, agar dia bisa menerimaku sebagai calon ibu sambungnya. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat, Rian sudah terlalu dalam mencintaiku. Bahkan aku sering mendapatkan pernyataan cinta darinya tapi selalu aku tolak dengan dingin, karena yang aku cintai itu kamu mas bukan dia. Mungkin dia sakit hati ketika aku tolak tapi sakit di hatinya itu masih bisa di sembuhkan, beda cerita ketika dia tahu tentang hubungan kita apa mas yakin rasa sakit di hatinya masih bisa di sembuhkan? itu semua terjadi karena mas terlalu menganggap remeh hubungan kita" Amara kembali meluap-luap menumpahkan segala kekesalan yang berada di dalam hatinya. Nicholas terdiam sesaat, dia menyadari jika apa yang di katakan kekasihnya itu benar adanya.


" Kamu benar, seandainya waktu itu aku langsung memperkenalkanmu sebagai calon pendampingku mungkin Rian tidak akan pernah jatuh cinta padamu " Nicholas semakin tertunduk lesu menyesali kesalahannya

__ADS_1


Amara menghembuskan napas dengan kasar sambil meneguk secangkir teh yang berada tidak jauh dari dirinya.


" Kamu jangan larut dalam penyesalan mas! karena itu sudah tidak berguna lagi, yang harus kamu lakukan saat ini adalah menentukan hubungan kita. Kamu mau mengakhirinya sekarang atau melanjutkannya dengan resiko Rian akan patah hati"


Mendengar ucapan kekasihnya, lelaki paruh baya itu terdiam sesaat.


" Aku tidak mau mengakhiri hubungan kita, bagaimanapun juga kamu satu-satunya wanita yang aku cintai selepas kepergian istriku, jadi mana mungkin aku bisa melepasmu begitu saja. Yang aku inginkan saat ini kamu mau menerima Rian dan menjadi pacarnya hanya untuk beberapa bulan saja lalu kamu bisa putus darinya dan menikah denganku. " jelas Nicholas dengan penuh keyakinan


" Kamu benar-benar egois mas! aku tidak percaya jika kamu mempunyai pemikiran licik seperti itu. Ternyata memang benar jika kamu itu bukanlah ayah yang baik, ini namanya kamu sedang mempermainkan hati anakmu sendiri bukan membantunya. Coba kamu pikir mas! jika aku sudah putus darinya lalu aku menikahimu apa Rian tidak akan hancur hatinya? sudahlah kita akhiri saja perdebatan ini! aku akan menemui Rian" Amara beranjak dari tempat duduknya dan bersiap-siap meninggalkan Nicholas


" Apa yang akan kamu lakukan katika menemui Rian? kamu jangan berbicara macam-macam soal hubungan kita!" Nicholas mengingatkan dengan tatapan tajam


" Apa kamu bilang? kamu jangan aneh-aneh Amara!" Nicholas seperti kebakaran jenggot mendengar jawaban Amara hingga membuat dirinya spontan berdiri.


" Kenapa mas? mas keberatan? bukankah itu yang mas inginkan? menjadi ayah yang baik, jadi mas harus bisa mengalah demi anak yang mas cintai berbahagia"

__ADS_1


Perasaan Nicholas porak poranda, dia mengalami kegalauan yang sangat luar biasa. Setelah sekian lama dia hidup sendiri selepas kepergian istrinya, baru dengan Amara dia bisa merasakan jatuh cinta lagi dan merajut hubungan dengannya. Sekarang dia harus menelan pil pahit yaitu kehilangan kembali orang terkasih dari hidupnya.


" Mas ini adalah konsekuensinya ketika kamu terlalu meremehkan publikasi tentang sebuah hubungan, sekarang aku mau pergi" Amara berjalan meninggalkan Nicholas dengan tatapan nanar yang mengarah ke punggung nya.


Aku tidak bermaksud menutupi hubungan kita di hadapan Rian, hanya saja aku kurang percaya diri memperkenalkan mu kepadanya sebagai kekasihku karena kamu terlalu sempurna untuk berdampingan dengan lelaki yang sudah paruh baya seperti ku ini Amara. Nicholas tak berkedip sedetikpun melepas kepergian sang kekasih.


*****


Tidak memerlukan waktu lama mobil sedan yang di kendarai Amara sudah terparkir di halaman kampusnya. Tanpa ada keraguan Amara berjalan menelusuri setiap tempat yang ada di kampusnya guna menemui seseorang.


" Rian boleh aku berbicara empat mata denganmu? " tanya Amara tatkala dia berhasil menemukan lelaki itu di kantin bersama teman-temannya.


" Bo-boleh.. " jawab Rian dengan terbata-bata karena merasa syok melihat wanita idamannya mengajaknya berbicara. Dengan cepat pemuda itu berpamitan dengan temannya dan berjalan mengikuti setiap langkah Amara yang berjalan di depannya.


Di taman samping kantin Amara menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik menghadap ke arah Rian.

__ADS_1


" Rian aku menerima cintamu, tapi aku tidak mau berpacaran. Jadi kita nikah aja yuk?" ucap Amara dengan senyum manisnya


Rian kembali syok dengan pernyataan yang keluar dari bibir Amara. Bola matanya membulat keringat dingin membasahi setiap pori-pori yang ada di tubuhnya.


__ADS_2