Terpaksa Menikahi Anak Mantan

Terpaksa Menikahi Anak Mantan
Seragam Jepang


__ADS_3

Sinar mentari menyerobot masuk di sela-sela gorden dan tepat mengenai wajah seorang perempuan yang sedang tertidur pulas, karena paparan sinar yang mengenai mata membuat sang empu membukanya dengan perlahan sambil menggosoknya.


" Ehh" seraya bangkit "Aaaacchh" teriaknya


" Amara kamu kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Rian cemas


" Kamu kenapa bisa ada disini?" delik Amara sambil menutup tubuhnya yang baru dia sadari tidak mengenakan sehelai benangpun.


" Sayang apa kamu lupa kalau kita sudah menikah? lagipula wajar dong aku seranjang dengan istriku" jawab Rian dengan nada santai dan sedikit menggoda


Perlahan Amara mengingat kejadian yang ia lakukan bersama Rian semalam.


Benar-benar memalukan, kenapa aku bisa melupakannya? muka Amara memerah seperti udang rebus karena menahan malu.


Dengan jahilnya Rian menggigit telinga Amara, sontak Amara kembali berteriak sambil memukuli Rian dengan bantal.


" Apa-apaan sih kamu" sambil bersungut-sungut


Dengan mudah Rian menangkap kedua tangan istrinya lalu mencium bibirnya. Amara yang mendapat serangan tak terduga dari suaminya hanya bisa membelalakkan matanya bulat-bulat. Puas dengan bibir manis sang istri Rian pun melepaskannya.


" Sayang sekali aku tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya karena aku merasa lapar sekarang" seloroh Rian


" Yasudah aku keluar buat cari makanan sekalian mau beli baju dan daleman" sambung Amara


" Enggak!!! aku tidak mengizinkan kamu buat keluar dari kamar ini, nanti kalau aku kangen gimana?" ucap Rian dengan manja sambil mengendus-endus pundak Amara


" Kalau aku tidak keluar lantas siapa yang mau cari makan?" tanya Amara dengan wajah kesalnya


" Buat apa pelayan hotel di bayar kalau mereka tidak bisa melayani kita, kamu sabar saja sebentar lagi mereka akan tiba dengan membawa banyak makanan juga baju buat kamu" jelas Rian


" Baju buat aku? sama daleman juga?" tanya Amara penasaran

__ADS_1


" iya" jawab Rian singkat


" Hah, yang benar saja kamu menyuruh mereka membeli daleman buat aku? itu sangat memalukan, lagipula mereka mana tahu ukurannya" cerocos Amara


Dengan penuh keyakinan Rian memegang pundak Amara "Bukankah aku sudah mencicipinya, jadi aku bisa mengirakan berapa ukuran dada kamu, tanpa perlu kamu beri tahu" sambil tersenyum menggoda


" Iiiihhh.... dasar mesum" kembali Amara memukul tubuh Rian dengan bantal lalu beranjak dari tempat tidur.


" Sayang kamu mau kemana? " Rian mencoba menghalangi Amara


" Aku mau mandi" jawab Amara datar


" Oke kalau gitu aku ikut ya? " memasang wajah memelas


" Enggak mau, yang ada nanti kamu berbuat macam-macam lagi" pekik Amara lalu melengos ke kamar mandi


" Huh... pelit" Rian kembali merebahkan tubuh atletisnya di tempat tidur, belum sempat dia memejamkan matanya tiba-tiba ponselnya berdering, dengan rasa malas Rian mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


" Hallo... ada apa yah?" Rian mulai pembicaraannya


" Maaf yah, bukannya tidak mau turun cuma aku merasa belum puas berduaan dengan Amara. Mungkin ini yang dirasakan pengantin baru, mereka lebih suka menghabiskan hari di dalam kamar bersama" jawab Rian dengan ringannya


" Oh begitu, yasudah lanjut saja" ucap Nicholas sambil mematikan sambungan telepon nya.


Memuakkan, seharusnya aku yang saat ini sedang bermesraan dengan Amara bukan Rian. Sungut Nicho di dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


Kembali di kamar,


Amara yang baru selesai mandi merasa terkejut melihat banyaknya makanan yang tersaji di atas meja.


" Sayang banyak sekali makanannya? memangnya kita bisa menghabiskan ini semua"

__ADS_1


Rian memeluk Amara dari belakang " Kamu harum sekali Amara membuatku ingin kembali beradu cinta denganmu di atas ranjang, kamu tidak perlu khawatir makanan itu pasti bisa kita habiskan karena seharian ini kamu akan banyak kehilangan energi" bisik Rian


Bulu kuduk Amara berdiri, detak jantungnya berdegup dengan kencang tatkala merasakan hembusan napas suaminya yang mengenai titik sensitif di bagian telinganya.


" Rian kamu jangan macam-macam deh, aku kan baru mandi"


" Justru karena kamu baru mandi itu akan membuatmu lebih bersemangat lagi"


Merasa dirinya terancam Amara berusaha bernegosiasi dengan suaminya itu.


" Sayang aku jenuh kalau terus di dalam kamar, bagaimana jika kita jalan-jalan keluar, pasti seru" ajak Amara bersemangat


" Oke aku setuju tapi nanti setelah dzuhur, untuk sekarang kamu pakai dulu baju yang sudah aku persiapkan untukmu di atas nakas, aku mandi dulu kamu tunggu aku! nanti kita sarapan bersama" selepas memberi instruksi kepada istrinya Rian masuk ke dalam kamar mandi.


Amara berjalan mendekati nakas tempat bajunya di letakkan. Seketika ekspresi muka Amara berubah kecut ketika melihat baju yang sudah dia pegang ternyata kostum anak sekolah Jepang tapi ini versi seksinya yang mana atasannya model crop dengan belahan dada rendah, jelas jika di pakai pusar dan belahan dada akan nampak terekspos, belum lagi rok yang hanya sebatas paha.


" Ini baju apaan sih? dasar pria mesum, bisa-bisanya dia menyuruhku mengenakan pakaian kurang bahan kayak gini, lihat saja aku akan membalasnya." Amara membuka lemari yang berisikan beberapa pakaian milik Rian dengan senyum menyeringai Amara segera mengambilnya dan memasukkan pakaian itu ke dalam tong sampah yang berada di dalam kamarnya.


" Tahu rasa kamu Rian! makanya jangan main-main sama aku" merasa puas dengan tindakannya, Amara kembali memungut pakaian yang tadi sempat dia hamburkan di atas tempat tidur.


" Daripada kedinginan apa boleh buat aku pakai saja deh " Dengan terpaksa Amara memakai kostum seragam Jepang itu.


Pintu kamar mandi terbuka, Rian yang melihat kemolekan tubuh istrinya tatkala mengenakan seragam Jepang merasakan degup jantungnya berdegup dengan sangat dahsyat.


" Waow... kamu sangat hot sayang, setelah kita sarapan aku mau bermain sekolah-sekolahan sama kamu" sambil menyeringai


" Dasar otak mesum! pikirannya hanya urusan kenikmatan saja, aku kira kamu itu berbeda dari lelaki kebanyakan, ternyata sama malah imajinasi mu lebih liar daripada mereka" cerocos Amara


Rian mendekati istrinya yang sedang kesal sambil melempar senyuman manisnya, mata Amara tak bisa berpaling dari otot perut suaminya yang begitu seksi di matanya.


Sial bentuk tubuhnya membuat salivaku nyaris menetes, kalau begini mana mungkin aku bisa berpendirian teguh.

__ADS_1


" Sayang dengarkan aku, banyak wanita di luaran sana yang mengenakan pakaian seksi hanya untuk mencari perhatianku, tapi aku berusaha untuk tidak tergoda bukan karena aku tidak tertarik hanya saja aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk bermain-main dengan mereka yang suatu saat pasti aku akan menyesalinya, oleh sebab itu aku ingin melepas semua hasrat dan imajinasi liarku hanya untuk istri sah ku seorang, selain aku mendapatkan kenikmatan aku juga akan mendapatkan pahala bukankah itu sebuah keuntungan yang besar?" jelas Rian dengan muka yang serius


Aku tidak menduga kalau lelaki yang aku anggap mesum adalah lelaki yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya, dia mampu menjaga nafsunya dengan baik. Kalau begini tidak ada alasanku untuk menolaknya, aku berjanji akan melayani mu dengan baik wahai imamku. batin Amara


__ADS_2