
Mendapat ancaman dari sang mantan membuat Amara menjadi enggan untuk menemuinya, tapi apa daya jika dirinya menolak untuk tidak menemui sang mantan yang sekarang berubah status menjadi mertuanya maka suaminya pasti akan menginterogasi tentang alasan sebab dirinya tidak mau menemui Ayahnya.
" Ayo sayang kita turun untuk menemui ayah di restauran" ajak Rian yang sudah berpakaian rapi
Dengan sedikit malas Amara yang sedang bersantai di atas sofa akhirnya berdiri.
" Ada apa? apa kamu masih merasa lemas?" tanya Rian khawatir
" Udah enggak kok santai saja, ayo kita temui Ayah pasti dia sudah menunggu lama" ajakku balik
Dengan penuh kharisma Rian berjalan menghampiri ku sambil menarik tanganku untuk menaruhnya masuk di lengannya.
" Kamu sudah siap sayang bertemu dengan Mertuamu?"
" Ya" angguk ku dengan mantap
Semakin dekat dengan tempat yang di tentukan membuat Amara merasa gugup, pikirannya di penuhi berbagai macam prasangka buruk.
" Selamat sore Yah, maaf kita baru sempat menemui Ayah di sore hari" sapa Rian kepada Nicholas setibanya di restauran.
" Tidak perlu meminta maaf, Ayah bisa memaklumi nya. Jika Ayah yang menikahi Amara mungkin sama seperti kamu, Ayah tidak akan mampu keluar kamar" candanya seraya melirik tajam ke arah Amara
" Ah Ayah bisa saja" timpal Rian
" Sudah bercandanya lebih baik kalian duduk dulu!" perintah Nicho
Rian menarik salah satu kursi, "Sayang kamu duduk disini" sambil memegang pinggul Amara
" Terima kasih" ucap Amara sedikit gagap
" Hai Amara! bagaimana apakah kamu bahagia menikahi putra kesayangan ku" tanya Nicho dengan senyum palsunya
" Ah iya tentu saja saya bahagia menikahi Rian, karena dia lelaki yang lembut dan juga penyayang, justru saya merasa menyesal karena tidak dari dulu meninggalkan mantan saya yang kurang peka dan juga pengecut" sindir Amara dengan senyuman sinis
__ADS_1
" Terima kasih ya sayang pada akhirnya kamu memilihku" ujar Rian sambil mencium punggung tangan Amara
Adegan romantis yang nampak di depan mata membuat Nicho hampir saja membalikkan meja, dengan napas yang memburu Nicho berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya.
" Rian apa rencana mu setelah ini? apa kalian mau bulan madu?" Nicho mencoba basa-basi ringan
" Kalau aku tergantung Amara, dia mau bulan madu kapan dan dimananya, bagaimana sayang?"
" Kalau aku sih inginnya kita bulan madu tahun depan, karena tahun ini aku mau fokus untuk segera lulus." balas Amara
" Jangan terburu-buru sayang, santai saja! toh kita baru merried harusnya kita bersenang-senang dulu"
" Maaf sayang aku paling tidak bisa menunda-nunda pekerjaan, aku harus selesaikan ini dulu baru kita bisa bersenang-senang setelahnya, lagipula aku ingin sekali merasakan pacaran di kampus bersama suamiku" goda Amara
" Ide bagus sayang, aku juga belum pernah merasakan pacaran di kampus" memandang lekat ke arah Amara
Nicho semakin membara melihat kemesraan yang mereka pertontonkan.
" Kalian benar-benar keterlaluan bermesraan di depan Ayah yang jomblo ini" celoteh Nicho dengan memasang wajah kesal
" Kok diam saja? bagaimana sayang pendapatmu, apakah kamu setuju jika Ayah masih bisa menaklukkan perempuan cantik diluaran sana karena wajah Ayah yang masih tampan?" Rian kembali bertanya dengan tambah jelas lagi.
" Iya aku setuju pendapat mu sayang, Ayah memang masih tampan dan berkharisma jadi mudah untuk beliau mencari perempuan model apapun" jawab Amara sembari melirik ke arah mantan kekasihnya
" Waah...Ayah langsung merasa sangat percaya diri sekarang, kalau menurutmu Rian, apakah Ayah bisa mendapatkan perempuan seperti istrimu?" seloroh Nicho seraya tersenyum picik ke arah Amara
" Jelas dong Yah, bukankah tadi Ayah dengar sendiri kalau Amara bilang Ayah itu masih tampan dan berkharisma" balas Rian
Tatapan Nicho yang masih menjurus ke arah Amara membuatnya merasa sangat terintimidasi.
" Maaf saya mau ke toilet dulu" ucap Amara sambil beranjak dari tempat duduknya.
" Jangan lama-lama ya sayang! "
__ADS_1
" Iya " angguk Amara seraya berjalan pergi.
" Sudahlah Rian janganlah engkau merasa sedih begitu, istrimu hanya mau ke toilet bukan mau perang" kelakar Nicho
" Memangnya kelihatan ya Yah kalau aku merasa sedih di tinggal Amara? tahu tidak Yah, Amara itu bagaikan heroin bikin candu, makanya sulit bagiku jauh-jauh darinya"
" Ayah tahu itu makanya Ayah ingin mencari istri yang sama persis seperti istrimu selain cantik dia juga terlihat polos, Ayah sangat suka perempuan model begitu "
" Kayaknya Ayah harus mengeluarkan effort yang tinggi untuk mencarinya karena perempuan model begitu sudah sangat limit di jaman serba bebas begini "
" Kamu benar sepertinya Ayah harus mengeluarkan effort yang tinggi, oh ya Rian setelah ini kalian mau tinggal dimana?"
" Aku akan tinggal di apartemen ku" jawab Rian cepat
" Tinggallah di mansion Ayah, kita baru saja kumpul masa kamu tega meninggalkan Ayah lagi?"
" Aku terserah Amara saja, bagaimana pun juga aku tidak mau memaksanya "
Amara datang dan kembali duduk di samping Rian.
" Sayang tepat sekali kamu sudah datang, Ayah tadi bertanya kepadaku setelah ini kita mau tinggal dimana, Ayah mengharapkan supaya kita bisa tinggal bersama di mansionnya menurut mu bagaimana?"
Oh iya setelah ini kami akan tinggal dimana? kenapa aku tidak memikirkannya, aku tidak mau jika harus seatap dengan Nicho karena aku takut jika dia punya rencana yang akan membahayakan kelangsungan rumah tanggaku bersama Rian.
" Maaf bukannya aku tidak mau tinggal seatap dengan Ayah hanya saja kita ini sudah menikah alangkah baiknya jika kita tinggal terpisah, takutnya kalau satu atap yang ada akan banyak salah paham dan rasa canggung" jelas Amara
" Ayolah Amara jangan berpikiran terlalu sempit, ini sudah jaman modern kenapa kamu masih mengkhawatirkan hubungan antara mertua dan menantu akan terjadi banyak kesalahpahaman? tenang saja aku ini bukan tipe mertua yang banyak menuntut" sanggah Nicho
" Benar sayang kamu jangan khawatir Ayah itu orangnya sangat open minded jadi kamu masih bisa bebas melakukan apa saja yang kamu mau tanpa tekanan selama itu tidak mencoreng nama baik keluarga" Rian membela Ayahnya dan berusaha meyakinkan Amara
Aduh sayang kamu tidak tahu siapa Ayahmu sebenarnya, dia itu psikopat gila yang siap menghancurkan rumah tangga kita, apa yang harus aku lakukan sekarang? jika aku terus bersikeras untuk menolak, takutnya Rian akan banyak bertanya tentang alasan mengapa aku tidak mau satu atap dengan Ayahnya.
" Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu aku akan menerimanya" akhirnya Amara mengalah dengan keadaan
__ADS_1
" Terima kasih sayang, kamu mau tinggal bersama dengan Ayah" Rian memeluk Amara dengan erat.
Tanpa mereka sadari Nicho sedang tersenyum menyeringai, terlihat jelas di wajahnya sebuah rencana jahat yang sedang Ia sembunyikan.