
" Kenapa kamu hanya diam saja? apakah pakaian itu tidak nyaman untuk di pakai? jika tidak suka kamu bisa menanggalkannya, lagipula aku hanya ingin mengisengimu saja, di dalam lemari bawah ada dress yang bisa kamu pakai"
" Tidak aku tidak keberatan untuk memakai seragam ini selama kamu menyukainya" sanggah Amara cepat
" Benarkah? kamu tidak sedang merajuk? " mencoba memastikan
" Tentu saja tidak, ya walau awalnya aku sempat mengutukmu" seraya memalingkan muka karena malu
" Aku hanya mengerjaimu saja sayang, tapi kalau kamu suka mengenakannya, apa boleh buat" sambil menaikkan bahunya
" Iiihh... kamu ya! nyebelin banget" terus memukuli Rian
" Yasudah sana ganti bajunya! kita keluar jalan-jalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan" berjalan menuju lemari pakaian
Amara yang menyadari Rian akan membuka lemari pakaian berusaha mencegahnya, namun Rian sudah membukanya terlebih dulu.
" Loh semua pakaian ku dimana?" Rian keheranan
" Heee.... itu aku buang ke tong sampah" cengengesan
" Kok di buang? " tanya Rian
" Habisnya kamu ngasih pakaian kurang bahan, sebagai balasannya aku buang saja pakaianmu" menjawab sekenanya
" Bagus, kalau begitu batal acara jalan-jalan hari ini, sebagai gantinya seharian kita akan bermesraan di dalam kamar" sambil menyeringai ke arah Amara
" Ah yang benar saja? kalau tahu ini semua cuma prank aku enggak akan buang pakaian mu" Amara mulai menyesali tindakannya.
" Sudah-sudah jangan cemberut, kita sarapan saja dulu!" meraih tangan Amara kemudian menuntunnya ke arah meja makan
" Aku bisa duduk sendiri, kalau seperti ini akan sulit bagi kamu untuk makan" protes Amara tatkala dirinya berada di pangkuan Rian
" Kenapa sulit? kan masih ada tangan kamu" sambil melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Amara.
Aduuuh.... kenapa jadi seperti ini sih? niat hati ingin balas dendam malah aku yang kena dampaknya, mana Rian macho banget lagi ketika hanya pakai handuk. Bisa mati aku kalau jantungku berdetak secepat ini.
__ADS_1
" Sayang ayo mulai menyuapiku! aku sudah lapar banget nih" perintah Rian dengan manjanya
" Ah iya ini aku akan menyuapimu" Amara tersentak yang membuatnya jadi salah tingkah, Rian tersenyum kecil melihat kegugupan istrinya.
Ketika mereka sedang menikmati makanannya, terdengar bel pintu di pencet.
" Sayang itu siapa yang bertamu di kamar kita? "
" Entahlah aku juga tidak tahu, sebentar aku buka dulu" Rian berjalan menuju pintu dan membukanya.
" Ayah? kenapa ayah berada disini?" Rian tercengang melihat ayahnya yang berada di balik pintu
" Ayah hanya ingin berkunjung" sambil menyerobot masuk
" Tapi yah" Rian yang hendak mencegah ayahnya masuk tidak berhasil, karena sang ayah kini sedang mematung memandangi istrinya.
Dengan cepat Rian meraih tangan ayahnya dan membawanya keluar kamar.
" Maaf yah untuk saat ini kami belum siap untuk di kunjungi, nanti sore kami yang akan mengunjungi ayah" ucap Rian dengan cepat
Segera Rian menutup pintunya dan kembali menemui sang istri.
" Sayang kamu kenapa?"
" Aku kaget lihat Ayah tiba-tiba masuk, aku jadi malu kalau nanti ketemu beliau lagi" ucap amara dengan lemas
" Sudah santai saja, Ayah tidak akan berpikiran macam-macam lagipula kamu pakai baju seperti inikan atas dasar untuk menyenangkan ku, betul tidak?" Rian nyengir bagai kuda
" Apaan sih, bikin malu aja" Amara memegang pipinya yang terasa menghangat.
Dengan cepat Rian membopong istrinya dan meletakkannya di atas ranjang lalu mengukungnya di bawah tubuhnya yang atletis.
" Rian kamu mau ngapain? kita belum selesai makan lo"
" Aku sudah tidak bisa menahan lagi sayang, semakin aku melihatmu hasratku semakin membumbung tinggi hingga ke atas ubun-ubun, dan rasanya kepalaku mau pecah" seloroh Rian dengan napas yang memburu.
__ADS_1
Amara langsung teringat akan sepak terjang sang suami ketika sedang menggarap dirinya semalam.
Enggak.. aku enggak boleh membiarkan Rian yang mendominasi permainan, yang ada tubuhku bakal remuk seperti tadi malam, mau enggak mau aku yang harus memimpin permainan.
" Sayang boleh tidak jika aku yang melayanimu? aku ingin membuatmu terkesan" tanya Amara dengan nada yang sensual.
Jelas itu membuat Rian semakin tak terkendali, badannya terasa panas dingin mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya.
" Kamu semakin membuatku gila Amara" sambil mencengkram seprei "Baiklah kamu aku izinkan melakukan apa saja sesuka hatimu, tapi ingat jangan membuatku bersabar karena aku sudah tidak bisa lagi menahannya" sambungnya
Rian memposisikan dirinya terduduk di tengah ranjang dengan kepala yang menyender di tembok, perlahan Amara mendekat dan duduk di pangkuan Rian, dengan senyuman menggoda Amara mulai mencium bibir suaminya dengan lembut. Rian yang sudah berhasrat sudah tidak mampu lagi menahan tangannya untuk tidak mendaki gunung kembar yang tentu saja terasa kenyal seperti mainan squishy.
" Sayang katanya kamu mengizinkan ku untuk melayanimu, tapi kenapa tanganmu ikut-ikutan sih" protes Amara
" Namanya juga laki-laki kalau sudah urusan beginian nalurinya ingin selalu mendominasi"
" Kamu ih enggak bisa di pegang omongannya" Amara pura-pura ngambek
" Terus aku harus bagaimana sekarang?" tanya Rian berusaha mengalah
" Tunggu sebentar " Amara turun dari ranjang dan membuka lemari untuk mencari sesuatu setelah menemukan apa yang dia cari segera dirinya menemui Rian.
" Ah yang benar saja sayang, kamu mau mengikat tanganku? kalau begitu aku enggak bisa mainan dong" ujar Rian frustasi
" Walau kamu tidak bisa mainan tapi aku pastikan service ku akan membuatmu mabuk kepayang" balas Amara dengan penuh percaya diri. Rian yang tidak mau membuat istrinya merajuk karena takut di tinggal pergi dalam kondisi dirinya yang saat ini sedang berhasrat akhirnya memilih untuk menuruti apa yang diinginkan istrinya.
Amara pun memulai permainannya, Rian yang pasrah hanya bisa menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh istrinya hingga membuatnya tak lagi bisa komplen yang ada dia sekarang sedang merasa di atas awan.
Disisi lain, Nicholas yang sudah berada di dalam kamarnya merasa seluruh tubuhnya panas dingin tatkala mengingat penampilan Amara yang begitu menggoda.
" Amara aku benar-benar frustasi sekarang, aku menyesal dulu tidak segera menikahimu kalau ternyata putus darimu membuatku gila. Terlebih ketika aku melihatmu mengenakan pakaian seksi itu, hampir saja aku khilaf jika Rian tidak segera menarikku keluar kamar " Nicho mengusap mukanya dengan kasar
Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa memisahkan mereka, aku tidak terima jika Rian bisa menikmati tubuh Amara setiap saat, padahal akulah lelaki yang selama ini menjaga dan melindunginya. Aku bodoh dan terlalu naif, dengan mudahnya mengalah demi mendapatkan julukan sebagai seorang Ayah yang baik dan pengertian terhadap anaknya. cela Nicho di dalam hati
" Aku tidak peduli mereka sudah menikah atau apalah itu, yang jelas mulai detik ini aku akan lebih memperhatikan Amara agar rasa cinta yang masih di hatinya semakin tumbuh, selepas itu aku akan menyuruhnya meninggalkan Rian " Nicho tersenyum menyeringai
__ADS_1