
Amara yang menemui Nicholas di ruangannya tanpa basa basi menumpahkan segala kekesalannya kepada sang Dosen.
" Aku tidak menyangka jika mas begitu acuh ketika mendengar aku akan menikah dengan Rian, apa sebegitu tidak berartinya aku dimata mas?" keluh Amara
Nicholas menggertakkan giginya mencoba menahan emosi yang sedari tadi ingin dia luapkan.
" Bukankah ini yang kamu inginkan? aku tidak pernah menyuruhmu untuk menikahi Rian aku hanya memintamu untuk menerima cintanya lalu memutuskannya setelah beberapa saat kalian pacaran. " jawab Nicholas dengan wajah dinginnya, Amara tambah kesal dengan jawaban dan ekspresi yang ditunjukkan kekasihnya itu.
" Ya memang keinginanku, tapi aku melakukan ini sebagai bentuk protes atas rencana gila kamu itu mas, aku tidak menyangka kalau kamu hanya diam dan bersikap setenang ini tanpa ada keinginan untuk mempertahankan hubungan kita" dengusnya sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Nicholas.
Laki-laki brengsek, kolot, menyebalkan! aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup. umpat Amara di dalam hati
" Amara kamu kenapa? "
Amara langsung menengok ke arah sumber suara " Rian? sejak kapan kamu berada disini?"
" Baru saja kok, kamu kenapa terlihat sangat kesal? apa yang ayah lakukan?
Mata Amara membulat mendengar pertanyaan Rian yang sedikit memojokkannya, karena bingung harus memberi alasan Amara langsung menggandeng tangan Rian dan mengajaknya pergi dari sana.
" Kita nontonnya sekarang aja yuk, lagipula aku sudah tidak ada kuliah"
" Sebelum kita pergi, kamu mau tidak menemui teman-teman ku? aku ingin memperkenalkan mu sebagai calon istriku?" menggenggam tangan Amara dan menatapnya dengan penuh harap
Memperkenalkanku sebagai calon istrinya? apa dia bermaksud mempublikasikan hubungan kita? aku benar-benar terharu dengan sikap gentleman yang dimiliki oleh Rian, tidak seperti ayahnya yang selalu berusaha menutupi hubungan kami, ya aku tahu mungkin itu jadi beban buat ayahnya Rian karena banyak yang bergosip di belakang ketika aku dan dia sedang berkencan. Aaah... aku jadi merasa semakin mantap untuk menikahi Rian dan meninggalkan mas Nicho, bukan karena dia tak seberani Rian melainkan aku kasihan terhadapnya yang selalu jadi bahan ejekan banyak orang.
" Boleh " jawab Amara mantap
__ADS_1
Dengan mata yang berbinar-binar Rian menggandeng mesra kekasih barunya itu, sambil sesekali meliriknya.
Seperti mimpi aku dan Amara akhirnya bisa menjadi sepasang kekasih, semoga kedepannya aku dan dia selalu bersama hingga tua nanti.
" Hai guys! " Rian menyapa teman-teman nya
" Widiiihh..... jadi beneran lo jadian ama Amara? " celetuk Wahyu
" Gue koreksi ya, jadi gue ama Amara bukan pacaran melainkan kita calon suami istri" jelas Rian dengan bangganya
Amara yang di gandeng Rian merasa salah tingkah mendengar penjelasan kekasih barunya itu.
" Lo beneran mau menikah dengan Amara? bukannya dia sudah menolak lo beberapa kali? dasar enggak punya harga diri" ucap Ica ketus
" Jaga omongan lo Ca! Ada Amara dia bisa tersinggung " Beno yang sedari diam berusaha menasehati sahabatnya itu
" Stop Ca! lo kenapa sih? bukannya senang lihat sahabat lo bahagia malah ngomong yang enggak-enggak? " sanggah Rian
" Karena gue udah muak ama rengekan lo Yan ketika di bikin sakit hati ama nih cewek! lo enggak inget dua hari lalu selepas lo di tolak? lo nangis kejer di hadapan kita semua, apa cewek ini tahu? enggak kan? jungkir baliknya lo cuma kita semua yang tahu, gue enggak ingin apa-apa yan, sebagai sahabat gue cuma ingin lo bisa mendapat cewek yang benar-benar tulus cinta sama lo bukan hanya sekedar pelampiasan atau memanfaatkan" Ica meluapkan segala kekesalannya sambil memicingkan matanya ke arah Amara.
Amara melihat sorot mata Ica yang tidak bersahabat, mencoba buka suara.
" Maafkan aku kalau menurut kalian aku sudah jahat sama Rian, mungkin benar apa yang kamu katakan kalau aku bukanlah perempuan yang tulus mencintai Rian karena aku baru saja putus dari kekasihku, makanya aku mencari dia dan memintanya untuk menikahiku sebab aku yakin dia bisa mencintai dan membahagiakan ku selepas aku putus dari kekasih ku. Amara berkata dengan begitu tenangnya, hingga sahabat-sahabat Rian bengong mendengarkan penjelasannya. Mereka bingung harus menanggapinya seperti apa, yang jelas mereka tahu jika Rian sahabatnya sedang menjadi pelampiasan seorang perempuan yang sedang patah hati. Tapi mereka tidak berani untuk menghalangi hubungan Rian yang terlihat sangat bahagia bersama Amara perempuan yang jadi idamannya selama ini.
" Aku salut padamu Amara, atas kejujuran yang kau berikan kepada kami, Aku sebagai sahabat Rian hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua karena Aku yakin Rian akan bahagia bila hidup bersama perempuan yang di cintainya walau mungkin saat ini dia masih jadi pelampiasan mu" Wahyu menimpali perkataan Amara.
" Syukur lah kalau kalian bisa menerima kehadiran Amara di kehidupan ku " Rian penuh haru
__ADS_1
" Gue sebenarnya enggak setuju dengan hubungan kalian, tapi mau bagaimana lagi jika yang lainnya sudah memberi restu" ucap Ica masih dengan nada ketusnya.
" Thank's Ca, atas restu yang lo berikan " Rian tersenyum lebar memandangi satu-satunya sahabat perempuannya.
" Sekarang gue ama Amara pamit dulu ya! kita mau berkencan nih" lanjutnya dengan senyum jahil
***
Di parkiran Amara tiba-tiba terdiam, dia tidak segera naik ke atas motor Rian.
" Ada apa Amara? "
" Aku minta maaf jika Aku sangat egois karena memaksamu untuk menikahiku padahal aku belum merasakan cinta. Benar kata temanmu Ica kalau aku hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan saja, sebelum kita jauh melangkah lebih baik kita berhenti sampai disini saja karena aku tidak mau menyakitimu"
" Kamu bilang apa Amara? berhenti? tidak aku tidak mau, aku tahu kamu hanya menjadikan ku sebagai pelampiasan saja dan aku bisa terima itu karena aku yakin dengan cinta dan sayang yang tulus aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku di kemudian hari, jadi tolong jangan tinggalkan aku! " pinta Rian penuh harap
" Kamu begitu baik Rian, bagaimana mungkin aku bisa menyakitimu " menatap nanar ke arah Rian
Rian meraih tangan Amara dan meletakkan tangan itu di pipinya "Makanya kamu jangan sakiti aku tapi cobalah untuk cintai aku, karena aku akan selalu mencintaimu Amara"
Amara tidak bisa lagi membendung air mata yang sudah penuh di kedua pelupuk matanya.
" Aku beruntung bisa merasakan cinta tulus dari laki-laki baik seperti mu Rian" sambil sesenggukan Amara membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Rian.
Aku bodoh kenapa masih berharap mas Nicho akan tersadar dan mau mengumumkan kepada dunia bahwa aku adalah kekasihnya, ayo sadar Amara di depanmu ada lelaki baik yang tulus mencintaimu jangan pernah kamu sia-sia kan dia hanya demi lelaki pengecut seperti Nicho.
Amara melepas dekapannya lalu menatap wajah lelaki di depannya. " Rian, Aku sudah siap untuk kencan denganmu, ayo kita habiskan hari ini dengan bersenang-senang" ujar Amara sambil memberikan senyum terbaiknya.
__ADS_1