Terpaksa Menikahi Anak Mantan

Terpaksa Menikahi Anak Mantan
Candaan Pengantin


__ADS_3

Pertemuan makan malam dua hari lalu itulah terakhir kali Amara dengan kekasih lamanya yaitu Nicholas bertemu, di saat malam itu Amara yang merasa terhimpit oleh situasi yang dia ciptakan sendiri akhirnya hanya bisa menerima keputusan dari Rian yang mengajak dirinya menikah dua hari lagi. Dan hari inilah tepatnya Rian dan Amara akan melakukan ijab qobul untuk meresmikan hubungan mereka di mata Allah.


Rasa gundah yang di rasa Amara saat ini membuatnya ingin sekali kabur dari acara ijab qobul yang akan dia jalani beberapa menit lagi.


" Aku tidak menyangka sikap protesku terhadap mas Nicho dua hari yang lalu membuatku berada di dalam posisi seperti ini, memang benar aku ingin segera menikah tapi yang ingin aku nikahi itu bukan Rian tapi mas Nicho. Walau aku tahu entah sampai kapan dia akan berani membuka hubungan kami di depan umum" Amara menunduk sambil mencengkeram rok nya, dia merasa dadanya begitu sakit.


Krreeettt..... (suara pintu di buka perlahan), mata Amara membelalak tatkala melihat lelaki paruh baya yang mengendap-endap memasuki kamarnya. Dengan cepat lelaki itu mendekap tubuh Amara yang mematung.


" Sayang ayo kita pergi dari sini! aku sudah menyiapkan semuanya agar kita bisa keluar, aku janji kali ini tidak akan mengecewakan mu lagi, aku juga berjanji akan segera menikahimu" melepas pelukan dan menatap tajam ke arah Amara. Amara terdiam melihat mata lelaki itu, dia mencoba menyelami makna tatapan lelaki di hadapan nya.


" Kenapa baru sekarang mas Nicho mengajakku pergi dari sini di saat aku berusaha untuk ikhlas menerima takdir yang akan aku jalani. Semua ini kesalahan ku karena tanpa berpikir panjang langsung mengajak nikah Rian, jadi aku memutuskan akan bertanggungjawab atas itu. Walau jujur sampai detik ini aku masih mencintaimu mas" memandang dengan tatapan nanar


" Bukan Amara ini bukan kesalahan mu tapi kesalahan ku karena sudah memaksamu menerima cinta Rian, dan juga bodohnya aku yang dengan sadar melancarkan kalian untuk segera menikah. Sebelum terlambat mari kita pergi dari sini Amara, aku akan menebus semua kesalahan ku!" Nicho berusaha meyakinkan.


Amara menitikkan air mata, dia bingung harus berbuat apa. tiba-tiba di dalam otaknya tervisual wajah Rian yang tersenyum ceria ketika Amara menerima cintanya.


" Maaf mas aku tidak bisa pergi bersamamu, aku tidak tega meninggalkan Rian dengan wajah kecewa. Bukankah selama ini kamu ingin membahagiakan Rian tapi kenapa hari ini kamu tega secara terang-terangan melukai hatinya?"


" Aku sangat menyayangi Rian karena dia anakku satu-satunya tapi tidak bisa di pungkiri jika aku merasa hampa tanpa kehadiranmu disisiku, aku tidak sanggup jika harus bersikap pura-pura tidak ada apa-apa di antara kita, itu sangat menyiksaku Amara" Nicho mengusap kasar wajahnya, dirinya begitu sangat frustasi.


Amara memeluk erat lelaki itu dengan penuh kasih sayang, "Mas aku sangat mencintaimu aku ingin pergi bersamamu, tapi aku tidak bisa meninggalkan Rian menanggung malu dan kecewa sendiri disini" ucap Amara pilu.


" Lantas bagaimana denganku? apa kamu tega meninggalkanku?" protes Nicho


Amara memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup jika terus menatap mata kekasihnya itu.


" Mas cukup di sini saja hubungan asmara kita, selepas ini hubungan kita hanyalah menantu dan mertua"


" Aku tidak mau Amara! aku sangat mencintaimu, ini sangat berat bagiku bahkan lebih berat dari di tinggal ibunya Rian, malah lebih baik di tinggal mati karena tidak akan berjumpa lagi tapi kamu jelas-jelas akan selalu ada di depan mataku" Nicho mulai frustasi

__ADS_1


Amara berpaling dan berjalan meninggalkan Nicho.


" Amara kamu mau kemana?" tanya Nicho getir


" Aku akan ke luar untuk melaksanakan akad nikah bersama Rian" jawab Amara mantap


Nicho berusaha meraih tangan Amara tapi tidak tergapai. Nicho hanya bisa melihat tubuh mantan kekasihnya itu lenyap di balik pintu.


Dengan penuh emosi Nicho memukul dinding dengan tangan kanannya berulang kali hingga jemarinya lecet dan mengeluarkan darah.


" Amara sampai kapanpun aku akan terus berjuang mendapatkan mu kembali, bagaimana pun caranya" dengan tatapan yang penuh amarah.


~Di ruang tamu~


Kehadiran Amara menjadi sorotan semua orang yang berada disana, mereka tidak memalingkan pandangannya sedetikpun hingga Amara terduduk di tengah-tengah ruangan yang mana sudah ada penghulu yang siap menikahkan dirinya dengan Rian sang calon suami.


" Selamat Mr. Nicho atas pernikahan putra anda, sebentar lagi rumah anda akan di penuhi suara tangis bayi" kata salah satu tamu sambil menjabat tangannya. Nicho yang awalnya berwajah masam mau tidak mau melukis senyuman diwajahnya. "Iya terimakasih atas ucapannya"


Amara sesekali melirik ke arah mantan kekasihnya dengan tatapan sayu.


Sekarang hubungan kita benar-benar sudah berakhir mas


*****


Setelah akad nikah di laksanakan di pagi hari, kini Amara dan Rian menyelenggarakan resepsi pernikahan di sebuah hotel berbintang lima yang paling terkenal di kota itu.


Amara dan Rian nampak antusias menyalami tamu undangan yang datang ke acaranya.


" Amara aku ikut bahagia akhirnya kamu bisa menikah dengan lelaki tampan dan popular di kampus kita" goda Annisa salah satu teman Amara di kampus

__ADS_1


Amara yang malu hanya bisa tersenyum kecil, beda hal nya dengan Rian yang merasa dadanya begah karena rasa bangga. Rasa bangganya semakin besar tatkala dia melirik wanita yang berada di sampingnya.


Aku sangat beruntung akhirnya bisa menaklukkan mu Amara, aku jadi tidak sabar kira-kira malam pertama kita seperti apa? hemm...


Rian senyum-senyum sendiri tatkala otaknya sedang traveling.


" Hayo... lo lagi mikir apaan? pasti lagi mikir mesum ya?" goda Wahyu yang tiba-tiba datang dan merangkul pundak Rian


" Sialan lo! ngapain sih lo kesini ganggu acara gue aja" sungut Rian


" Sudahlah kalian jangan bertingkah kayak anak kecil, malu! ayo kita pergi Wahyu! " ajak Icha dengan wajah juteknya


Amara mengernyitkan dahinya, tatkala melihat tingkah Icha yang selalu tampak jutek setiap kali dia melihatnya. Dirasa sudah tidak ada lagi tamu undangan yang memberi selamat kepadanya, Amara mendekati suaminya lantas berbisik.


" Sayang kenapa kamu bisa bersahabat dengan perempuan jutek seperti Icha sih?"


Dengar pertanyaan dari Amara yang menggelitik, Rian pun tersenyum renyah sebelum menjawabnya.


" Casingnya memang jutek tapi dalamnya lembut dan penyayang, suatu hari nanti kamu pasti bisa merasakan ketulusannya, karena mulai sekarang sahabatku juga sahabatmu" jawab Rian penuh percaya diri.


" Sungguh luar biasa ternyata kamu tahu luar dalamnya Icha" selidik Amara sambil menyipitkan kedua matanya


" Ya bukan begitu, maksudku aku tahu hati nya Icha bukan yang lain" Rian mencoba memperbaiki ucapannya agar tidak salah tafsir.


Amara terkekeh melihat reaksi Rian yang lucu di matanya. "Iya.. iya aku paham kok, kalau kamu itu cowok baik-baik" ledek Amara


" Awas kamu ya, malam pertama aku pastikan kamu tidak akan bisa memejamkan mata" seloroh Rian sambil mengerlingkan matanya dengan genit


Ah benar aku baru sadar kalau selepas ini kita akan masuk ke malam pertama, bagaimana ini aku bingung apa yang musti aku lakukan. Raut wajah Amara mulai pucat pasi

__ADS_1


__ADS_2