
Usai dengan resepsi pernikahan mewah di hotel berbintang lima, Rian yang sudah memesan kamar di hotel itu juga segera mengajak Amara naik ke lantai tiga menuju kamar yang sudah di persiapkan oleh dirinya bermalam bersama istri barunya. Sesampainya di kamar, Amara berdecak kagum melihat bunga mawar yang bertebaran di setiap sudut kamar.
" Rian apa ini semua kamu yang mempersiapkannya? darimana kamu tahu kalau aku suka mawar merah?" tanya Amara
Dengan senyum penuh bangga Rian menjelaskan "Iya ini semua aku yang mempersiapkan tentunya tidak sendiri karena ada beberapa pegawai hotel yang membantu, kalau untuk hiasan bunga mawar ini aku di beri masukan oleh ayah katanya perempuan itu sangat menyukai bunga terutama bunga mawar"
Amara yang semula tersenyum mendengar penjelasan suaminya kini berubah kecut.
Aku tidak menyangka dalam momen seperti ini saja mas Nicho masih terlibat.
" Sayang apa yang kamu pikirkan? ini sudah malam sebaiknya kamu bersih-bersih dulu lalu istirahat lebih awal" ucap Rian lembut
" Ah iya, kalau begitu aku ke kamar mandi dulu" Amara segera berlari kecil ke arah kamar mandi dengan wajah yang sedikit panik.
Rian yang di tinggal Amara ke kamar mandi segera mengambil laptop yang berada di atas nakas dan membrowsing hal-hal apa saja yang harus di lakukan di malam pertama. Dengan cermat Rian membaca semua artikel yang terkait dengan apa yang dia cari.
" Gila ini benar-benar membuatku gugup, Kira-kira Amara mau tidak ya melakukannya di malam ini? di sini di jelaskan aku harus melakukan pemanasan dulu terhadap pasangan maksud dari pemanasan disini apa ya? apakah sama dengan pemanasan sebelum kita berolahraga? aah..., aku tidak paham apa yang di maksud artikel ini " dengus Rian sambil menghembuskan napas beratnya.
Wajar saja jika Rian sangat awam untuk hal-hal yang berbau seksualitas karena dirinya belum pernah sama sekali berpacaran, bukan karena tidak ada perempuan yang menginginkan nya melainkan sikap Rian yang terlalu pemilih di dalam menilai seorang perempuan hingga membuatnya hampir mendapat predikat jomblo seumur hidup kalau saja Amara tidak menerima cintanya.
Selang beberapa menit kemudian Amara keluar dari kamar mandi, Rian yang menyadarinya segera menutup laptop dan dengan spontan dirinya melihat ke arah Amara. Matanya membulat, mulutnya menganga hingga air liurnya hampir saja menetes dari mulutnya.
" Amara kenapa kamu hanya mengenakan handuk? apakah di dalam kamar mandi tidak ada bathrobe?" cerocos Rian dengan muka memerah
" Aku tidak menemukannya di kamar mandi" jawab Amara malu-malu
__ADS_1
" Yasudah sebaiknya kamu segera ganti baju! aku takut nanti kamu sakit. Sekarang giliran aku yang harus mandi" Rian berjalan melewati Amara yang masih terdiam di depan pintu kamar mandi.
Begitu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu, Rian langsung memegangi dadanya yang berdegup kencang.
" Busyet liat Amara pakek handuk aja udah bikin aku panas dingin, hampir aja aku enggak bisa nahan diri, duuuh otak ku udah travelling kemana-mana" seloroh Rian
Cukup lama Rian berada di kamar mandi, itu sengaja dia lakukan untuk mengontrol sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dirinya. Di rasa semua sudah terkendali Rianpun keluar dari kamar mandi. Baru saja dia menenangkan diri kini di depan matanya nampak pemandangan yang sangat indah dan sukses membuat dirinya menelan salivanya berulang kali.
Ternyata Rian melihat Amara tertidur di atas ranjang masih mengenakan handuk yang melilit di tubuh indahnya.
" Godaan apa lagi ini Tuhan" keluh Rian sambil mengusap wajahnya
Dengan perlahan Rian mencoba menyelimuti tubuh Amara tapi sialnya kaki kanannya malah tersandung sepatu heels milik Amara yang di letakkan di dekat ranjang, alhasil tubuh Rian menimpa Amara.
Amara melotot melihat Rian yang menindih tubuhnya.
" Tidak! bukan seperti itu, awalnya aku ingin menyelimuti mu tapi kakiku tersandung sepatu makanya aku tidak sengaja menimpa tubuhmu" jelas Rian mencoba membela diri.
Melihat sorot mata Rian dapat di simpulkan bahwa dirinya tidak berbohong, Akhirnya Amara percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya.
" Maaf kalau aku menuduhmu yang bukan-bukan, aku hanyaaa" Amara tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Rian membungkam mulut Amara dengan bibirnya.
Rian yang tersadar akan apa yang dia perbuat segera menghentikan aksinya.
" Maaf maaf aku terbawa suasana" Rian beranjak dari tempat tidur
__ADS_1
" Kamu sebenarnya tidak perlu meminta maaf mengingat kita yang sudah menikah" Amara mencoba menghancurkan rasa canggung yang sekarang mereka rasakan.
" Tetap saja walau kita sudah menikah aku tidak bisa seenak hatiku melakukan sesuatu kepadamu sebelum kamu mengizinkannya" lanjutnya
Rian sungguh definisi suami yang sempurna selain tampan, mapan dan perhatian dia juga sangat menghargai pasangannya, kalau begini caranya mana mungkin aku bisa menolak untuk tidak jatuh cinta kepadanya.
" Rian apa malam ini kamu sedang menginginkan ku?" tanya Amara ragu-ragu dengan pipi yang merona
Mendengar pertanyaan tabu yang keluar dari mulut Amara membuat Rian tidak bisa segera untuk menjawabnya, justru dia merasa saat ini detak jantungnya berdetak jauh lebih cepat hingga keringat dingin keluar dari setiap pori-porinya.
" Apa aku boleh melakukannya sekarang?" Rian ingin memastikan.
Amara mengangguk dengan tersipu, melihat Amara yang memberi lampu hijau Rian segera menghampiri istrinya dan mulai melancarkan aksinya dengan menciumi bibir dan leher Amara.
Ketika Rian hendak membuka handuk yang menutupi tubuh istrinya, tanpa terduga Amara menghentikannya.
" Jangan sayang! biar aku saja yang melakukan untukmu" ucap Amara dengan nada yang dia buat seseksi mungkin
Dengan napas yang memburu dan hasrat yang sudah di ubun-ubun hal itu membuat Rian merasa di permainkan.
" Ayolah Amara aku sudah tidak tahan lagi nih, kamu jangan tarik ulur aku seperti ini" rengek Rian dengan muka memelas bagaikan anak kecil yang merengek meminta permen.
" Sabar dong sayang aku ingin melayanimu dengan baik malam ini" terang Amara sambil melepas perlahan handuknya di depan Rian.
Mata Rian langsung membelalak melihat kemolekan istrinya, terlebih ketika dia melihat daging kenyal milik Amara yang proporsional. Bagaikan serigala kelaparan Rian berulang kali menelan salivanya. Sadar dengan arti tatapan suaminya Amara secara slow motion mendekati suaminya dan duduk di pangkuannya. "Sayang sekarang aku milikmu, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau asalkan pelan-pelan ya! karena aku masih bersegel"
__ADS_1
" Benarkah? itu suatu kehormatan bagiku untuk membukanya, tenang saja aku akan melakukan dengan sangat perlahan" ucap Rian di barengi dengan sentuhan-sentuhan yang membangkitkan gairah Amara.
Kini mereka sedang memadu cinta yang sangat manis, saking manisnya membuat Rian tidak bisa berhenti untuk melakukannya.