
Rian begitu senang dan bersemangat mengajak Amara keliling Jakarta menggunakan motornya, mereka melakukan kuliner di berbagai restauran yang di anggap sedang viral, bahkan mereka sempat menonton film di bioskop yang kegiatan itu mustahil bagi Amara dan Nicho lakukan. Karena semasa pacaran Amara dan Nicho lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah, tepatnya di rumah Amara. Bukan untuk menghemat budget melainkan Nicho lebih menghindari cibiran banyak orang yang melihat kemesraan mereka.
" Rian ini sudah hampir gelap, kamu antar Aku pulang ya! " ajak Amara selepas mereka keluar dari bioskop.
" Kayaknya aku akan mengantar kamu pulang agak maleman deh, soalnya Aku dapat chat dari Ayah untuk mengajakmu makan malam di rumah, katanya dia sudah mempersiapkan semuanya untuk kita sekalian membicarakan soal pernikahan." jelas Rian
" Membicarakan pernikahan? apa ayah kamu benar-benar merestui kita? " dengan tatapan kurang percaya
Rian mendekati Amara sambil meletakkan kedua tangannya di atas pundak kekasihnya itu.
" Ayah pasti akan merestui hubungan kita karena dia adalah ayah yang terbaik bagiku, dia akan selalu berusaha membuatku bahagia, jadi jangan cemas ya" Rian tersenyum manis
Amara hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Rian yang mengajak dirinya bertemu Nicholas.
Di sepanjang jalan Amara sibuk dengan pemikirannya sendiri, dia banyak sekali membuat dugaan-dugaan yang kemungkinan akan terjadi di rumah Rian. Hal itulah yang membuat Amara semakin cemas.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama motor ducati superleggera milik Rian sudah terparkir di sebuah rumah yang besar dan megah.
" Rian ini rumah kamu? " tanya Amara ragu-ragu
" Bukan, ini milik Ayah, Aku hanya sekedar menumpang hidup disini" jawab Rian sekenanya
Mas Nicho tidak pernah cerita kalau dia memiliki rumah megah seperti ini. Jangan-jangan mas Nicho selama ini hanya main-main sama aku, pantas saja dia tidak berani mempublikasikan hubungan kami. Muka Amara langsung pucat dia merasa telah di tipu mentah-mentah oleh seseorang yang memiliki kuasa.
" Rian kalau boleh aku tahu sebenarnya apa usaha ayah kamu sehingga dia bisa sekaya ini?" menatap tajam ke arah Rian
" Kenapa ekspresi wajah kamu begitu serius? atau jangan-jangan kamu takut ya ayah aku terlibat korupsi karena dia hanya seorang dosen tapi bisa sekaya ini? " tanya Rian balik dengan becanda
" Aku serius tolong jawab!" mimik muka Amara tambah menegang membuat Rian sedikit bergidik.
" Oke aku akan cerita, sebenarnya Ayah itu seorang pengusaha properti yang sukses bukan hanya di sini tapi juga sampai ke luar negeri, dan perlu kamu tahu kampus kita itu milik Ayahku juga makanya dia bisa bebas menjadi dosen disana" jelas Rian
Amara menutup mulut dengan kedua tangan nya, dia nampak syok mendengar penjelasan Rian.
__ADS_1
Oh benar ini alasannya mas Nicho menutup rapat hubungan kami, dan ini juga alasannya dia lebih memilih kencan di rumahku daripada pergi jalan-jalan. Aku tidak percaya kalau mas Nicho telah menipuku selama dua tahun.
Rian nampak kebingungan dengan reaksi Amara "Amara kamu kenapa? tidak enak badan?"
" Aku tidak apa-apa" sahutnya
" Yasudah kita langsung masuk saja! Aku khawatir sama kamu jika kita lama-lama disini" Rian menggandeng tangan Amara, wanita itu hanya bisa mengikuti langkahnya.
Masuk ke dalam rumah megah itu membuat hati Amara tidak berhenti berdecak kagum, selain interior bangunannya bergaya Eropa klasik furniture di dalamnya terlihat sangat mewah.
" Amara itu Ayah sudah menunggu di ruang makan sebaiknya kita langsung ke sana saja" ajak Rian sambil menggandeng tangan Amara.
Dengan semangat Rian membawa Amara menuju ruang makan, disana Nicholas sudah menunggu kedatangan mereka dengan berbagai makanan mewah yang tersaji di atas meja yang besar.
" Selamat malam Ayah! " sapa Rian
Amara hanya terdiam dia merasa sangat kesal dengan pria paruh baya yang ada di depannya.
" Ayo duduk kita langsung saja makan malamnya, setelah ini Ayah mau memberikan kejutan buat kalian"
" Amara kamu mau makan apa saja biar aku ambilkan! " Rian menawarkan berbagai menu untuk di coba Amara, tatapan Nicho semakin tajam hal itu di sadari oleh Amara, dia merasa terintimidasi oleh tatapan itu.
" Sudah Rian jangan terlalu banyak tadi kita kan sudah makan, aku takut mati kekenyangan nih" keluh Amara
" Yasudah segini saja, biar kamu enggak mati kekenyangan, kalau kamu mati ntar aku hidup sama siapa" canda Rian dengan nada yang manja
Bagaikan obat nyamuk, Nicho yang sedari tadi melihat kemesraan antara putra dan juga kekasihnya sudah merasa sangat jengah. Tapi dia berusaha untuk bersikap tenang.
" Rian...,Ayah sudah menetapkan hari pernikahan kalian, yaitu lusa. Bagaimana kamu setuju?" ucap Nicho dengan tenang
Mendengar kata lusa Amara yang sedang makan langsung tersedak, Rian yang tanggap langsung mengambil air minum dan di berikannya kepada Amara.
" Kamu tidak apa-apa Amara?" Rian panik
__ADS_1
" Sudah aku tidak apa-apa" jawab Amara sambil mengelus dadanya.
" Amara sepertinya kamu nampak kaget? bukankah kamu bilang mau segera menikahi putraku?" bertanya dengan nada menyindir
Mata Amara mendelik "Maaf Mr.Nicho kalau pengertian SEGERA MENIKAH tidak sesuai dengan pemikiran anda, apa menurut anda segala sesuatu yang berbunyi SEGERA itu tandanya harus dilaksanakan sekarang juga? bukankah hal itu masih bisa di laksanakan satu bulan yang akan datang?" dengusnya
" Maaf saya mau ke toilet" lanjut Amara masih dengan raut kesalnya.
Amara pergi meninggalkan ruang makan dengan segala kegondokan di hatinya, begitu memasuki toilet dia meluapkan segalanya.
" Apaan sih maunya kakek tua itu? mentang-mentang kaya seenaknya saja dia mengambil keputusan tanpa tanya dulu, menyebalkan!" geramnya
Dengan napasnya yang naik turun Amara berusaha meredam emosinya agar napasnya kembali normal, di rasa napasnya telah stabil Amara keluar dari toilet. Alangkah terkejutnya dia tatkala di depan toilet ada sesosok pria yang sangat dia kenal.
" Mas Nicho? sedang apa kamu disini?" tanya Amara dengan tubuh yang bergetar
" Tentu saja aku ingin menemuimu, aku sangat merindukanmu Amara"
" Mas jangan gila, jika Rian tahu dia bisa salah paham" ucap Amara memperingatkan
Tanpa di duga Nicholas memeluk Amara, dengan cepat Amara berusaha melepaskan pelukan Nicholas.
" Aku mohon diam dulu Amara! aku benar-benar merindukanmu, aku tidak bisa hidup tanpamu sayang" sambil merapatkan pelukannya.
" Cukup mas jangan lagi mempermainkanku, aku sudah lelah, sebaiknya kamu pergi dari sini"
" Kenapa dalam sehari kamu sudah berubah Amara? apa kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Nicho lemah
Amara mendelik mendengar pertanyaan itu "Apa mas tidak salah? justru aku yang mempertanyakan rasa cinta mas, kalau mas cinta mana mungkin mas menyuruh aku dan Rian menikah lusa, yang benar saja" protes Amara
" Bukankah ini kemauanmu? aku hanya mengikuti apa yang kamu inginkan" jawab Nicho
" Bukankah aku sudah bilang kalau aku mengajak Rian menikah sebagai bentuk protes aku sama kamu, intinya aku hanya ingin memberi kamu pelajaran, bahwa aku bisa nekat kalau aku di paksa melakukan apa yang tidak sesuai dengan hati aku" jelasnya
__ADS_1
" Jadi kamu masih cinta sama aku?" dengan ragu-ragu Nicho bertanya
" Tanpa aku jelaskan seharusnya mas sudah tahu jawabannya, kita ini pacaran sudah dua tahun dan aku terima-terima saja walau kita tidak pernah pergi kemana-mana selama pacaran bahkan hubungan harus selalu di tutupin. Seperti itu kamu masih menanyakan aku cinta apa tidak? sudahlah mas, sepertinya hubungan kita memang harus berakhir, bukan karena aku sudah tidak mencintaimu tapi karena permainan yang kamu ciptakan sendiri" ujar Amara sambil melengos meninggalkan Nicholas dengan kegundahan hatinya.