
Gladis kini sudah berganti pakaian, sambil menunggu Zidan selesai bersih-bersih, Gladis sibuk dengan ponselnya, bertukar kabar dengan Zosua kekasihnya.
"Bagaimana apa kamu sudah melakukan rencana yang aku sarankan, Sayang?" tanya Zo, dari sebrang sana.
"Sudah," jawab Gladis.
"Terus, bagaimana reaksi dia, apa dia setuju?" Terdengar suara Zo di sebrang sana sedikit khawatir. Tentu saja Zo takut kalau Zidan tidak menyetujui rencana Gladis yang disarankan olehnya.
"Tentu saja dia setuju. Aku kira akan susah menghadapi dia, ternyata tidak! Dia setuju begitu saja."
"Baguslah, aku lega mendengarnya. Tapi, orang tua kamu tidak tahukan soal ini?"
"Ya tidak, Zo. Kalau mereka tahu bisa mampuslah aku, lagian aku sengaja gak runding dulu sama Papa dan Mamah, kamu tahu sendirikan, mereka pastinya tidak akan setuju."
"Ah, kamu memang pintar Sayang," puji Zo, "tapi Sayang, jujur walaupun rencana kita berhasil, aku masih merasa takut. Takut kalau kamu jatuh cinta pada pria cacat itu, secara setalah kalian menikah, kalian akan selalu bersama," sambungnya.
"Zo, kamu gak percaya sama aku? Mana mungkin aku jatuh cinta sama pria cacat seperti dia! Apa yang bisa dibanggakan darinya. Kamu lebih dari segalanya, Zo," ucap Gladis menyakinkan kekasihnya itu.
"Tapikan, dia cacat hanya sementara Sayang,"
__ADS_1
"Sudahlah, jangan membahas dia lagi!"
Gladis merasa kesal, ia langsung mematikan sambungan telepon dengan Zo secara sepihak. "Kalau begini caranya sama saja kamu tidak percaya sama aku, Zo!" gerutunya.
Sementara itu, sejak tadi tanpa Gladis sadari Zidan mendengar semua perkataan Gladis pada Zosua.
Di sini Zidan baru tahu kalau Gladis ternyata mempunya seorang kekasih. Tapi, Zidan sama sekali tidak perduli dengan hal itu.
Yang menjadi masalah bagi Zidan adalah, kenapa Gladis harus menghinanya? Tidakkah wanita itu sadar, jika Zidan seperti ini karena dirinya. Andai saja Gladis tidak menabrak motor yang dikendarai Zidan pada saat itu, mungkin saat ini Zidan tidak akan seperti ini, bahkan ia tidak akan kehilangan sosok pria yang ia sayangi secepat ini.
'Benar-benar wanita sombong!' batin Zidan. Entah mengapa dalam hati Zidan kini tersalip rasa kebencian yang dalam untuk Gladis.
Tanpa menghiraukan Gladis yang kini masih berdiri di balkon, Zidan memilih keluar dari kamar tersebut. Ia teringat jika kedua mertuanya sudah menunggu untuk makan malam, untunglah di rumah itu ada lift jadi Zidan tidak akan ke susah untuk turun ke bawah.
"Masih di atas," jawab Zidan ramah.
"Haduh anak itu, bukannya cepat turun kebiasaan deh," kesal Mamah Tia, "bukannya turun bareng sama suami, ini malah membiarkan suami turun sendiri, maaf ya Zidan," sambungnya. Mamah Tia nampak tidak enak dengan Zidan, kerena sikap Gladis yang masih saja seperti biasanya. Apakah Gladis lupa kalau saat ini dia sudah bersuami, pikirnya.
"Tidak apa-apa Mah," sahut Zidan.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik Papa sama Zidan makan duluan saja, biar Mamah susul Gladis dulu," titah Mamah Tia.
Zidan dan Papa Santoso menganggukkan kompak. Sementara Mamah Tia langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyusul Gladis ke kamarnya.
"Nak Zidan, Papa harap kamu bisa bertahan dengan sikap Gladis, Gladis terkadang menyebalkan tapi sesungguhnya dia sangat baik kok," ucap Papa Santoso.
Zidan hanya tersenyum menanggapinya, bertahan? Andai saja Zidan tidak ingat jika pernikahan ini atas permintaan terakhir mendiang dari Pak Rusli, mungkin detik ini pun ia akan pergi.
"Papa harap kamu jangan sungkan ya, jika ada apa-apa kamu bilang saja sama Papa atau Mamah, jika Gladis bersikap buruk, adukan saja, nanti Papa akan mencoba menasihati dia. Papa tau kalian berdua sama-sama terpaksa, tapi Papa sangat berharap kamu dan Gladis bisa sama-sama selamanya, dan satu lagi, kamu harus semangat untuk sembuh," tutur Papa Santoso panjang lebar.
Lagi-lagi Zidan hanya tersenyum, ia tidak mau menjanjikan hal apa pun pada kedua mertuanya itu, jangankan janji, memberikan harapan pun Zidan tidak mau. Karena Zidan sendiri sudah tahu bagaimana nanti kedepannya yang akan terjadi.
"Oh iya, apa kamu sudah melihat map yang sebelumnya Papa berikan?"
"Sudah, tapi aku ... "
"Setelah makan kita bicarakan lagi," potong Papa Santoso.
Zidan mengangguk, ia pun kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
'Apa Papa Santoso tahu sesuatu?' batin Zidan.
Bersambung ...