Terpaksa Menikahi Pria Cacat

Terpaksa Menikahi Pria Cacat
Bab 6. TMPC


__ADS_3

Zosua nampak tertawa mendengar ucapan Gladis tersebut. Tentu saja ia merasa tidak percaya, hal tersebut terasa sangat konyol menurut Zosua.


"Sayang kamu jangan bercanda deh!" ucap Zosua sambil menghentikan tawanya.


"Kamu mau menikah? Menikah dengan siapa? Bukankah kamu selalu bilang belum siap menikah setiap aku mengajak hubungan kita ke jenjang yang lebih serius!" lanjutnya.


Zosua mengingat prihal dirinya yang sudah sering mengajak Gladis menikah, tapi Gladis selalu menolaknya dengan halus dengan alasan tidak siap.


"Zo, aku serius! Aku memang belum siap untuk menikah, ini semua karena terpaksa!"


"Aku terpaksa, Zo," sambung Gladis, kini dengan suara yang lirih. Bahkan matanya sudah mulai berembun.


Zosua menatap Gladis dengan lekat, ia masih merasa tidak percaya, namun melihat air muka Gladis yang sepertinya berkata sungguh, membuat Zosua kembali bertanya-tanya.


"Siapa pria itu?" tanya Zo.


Mau tak mau akhirnya Gladis pun menceritakan semuanya. Tentang janji dirinya dan keluarganya kepada mendiang Pak Rusli. Jika ia harus menikah dengan Zidan.


Zosua kembali menatap Gladis tak percaya. Apakah tidak ada cara lain? Kenapa harus berujung dengan pernikahan? Bukankah semua ini hanya murni kecelakaan?


"Aku tidak bisa menolaknya Zo, Papa tetap kukuh, aku gak tahu harus gimana lagi!" keluh Gladis.

__ADS_1


"Jujur, aku sangat shock. Kenapa harus dengan pernikahan? Bukankah dengan bertanggung jawab sampai dia sembuh itu sudah lebih dari cukup. Gladis, aku tidak mau kehilangan kamu, aku tidak rela kamu menikah dengan dia. Apakah ini artinya kita segara berpisah?"


"Zo, aku juga tidak mau berpisah denganmu. Tapi aku gak tahu lagi harus dengan cara apa menolaknya. Kamu tahu sendirikan Papa seperti apa orangnya."


Zosua yang tahu sikap Pak Santoso yang keras juga merasa bingung. Bagaimana mencari jalan keluarnya.


"Jadi Papa kamu tetap tidak mau membatalkan semuanya?" tanya Zo pada Gladis, Zo terlihat mempunyai rencana terlihat senyum penuh arti.


Gladis mengangguk sebagai jawaban. "Bagaimana kalau kamu bernegosiasi saja sama Papa!" usulnya.


Gladis menatap bingung pada Zosua. Lalu Zosua membisikkan sesuatu pada Gladis.


"Bagaimana Sayang?"


"Ya kamu coba dulu aja Sayang, hanya itu satu-satunya cara agar nanti kita bisa bersama, dan satu lagi kamu harus berjanji jangan bersentuhan dengan dia kalian sudah menikah," pinta Zosua memohon.


"Baiklah, aku akan mencobanya," kata Gladis menyetujuinya.


Zosua tersenyum puas mendengar ucapan Gladis.


*

__ADS_1


Sementara itu, Zidan kini sudah pulang dari pemakaman. Namun, Zidan terkejut saat mendapati rumahnya kini sudah rata dengan tanah.


"Apa-apa ini? Kenapa mereka merusak rumahku?" tanya Zidan.


"Maaf Tuan, apakah sebelumnya Tuan tidak diberitahukan oleh Tuan besar, jika rumah Tuan ini akan di renovasi?" sahut orang yang ditugaskan menjaga Zidan, yang bernama Yogi itu.


Zidan semakin terkejut mendengar ucapan Yogi. Tidak! Zidan tidak diberi tahu sebelumnya.


"Cepat telepon gadis itu!" perintah Zidan pada Yogi.


Yogi terdiam, ia nampak bingung. Siapa orang yang dimaksud oleh Zidan?


"Maaf, gadis siapa maksud Tuan?" tanyanya.


Zidan berdecak kesal, lalu menatap tajam kearah Yogi. "Nona mudamu!"


Yogi pun mengangguk, lalu ia mengikuti permintaan Zidan untuk menelpon Gladis.


Setalah sambungan telepon tersebut terhubung, Zidan dengan cepat mengambil alih ponsel milik Yogi.


"Hallo, Pak Yogi, kenapa?" tanya Gladis dari seberang sana.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan dengan rumahku hah? Cepat hentikan mereka, atau aku akan melaporkan kamu yang ke polisi, atas meninggalnya Bapakku!" ancam Zidan, setalah berkata seperti itu, ia pun memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak.


Bersambung ...


__ADS_2