Terpaksa Menikahi Pria Cacat

Terpaksa Menikahi Pria Cacat
Bab 11. TMPC


__ADS_3

Usai makan malam Papa Santoso langsung mengajak Zidan untuk bicara empat mata. Gladis dan Mamahnya nampak bertanya-tanya dengan sikap mereka yang terlihat berbeda.


"Mah, emangnya apa sih yang lagi mereka bahas, kok Papa sampe ngajak Zidan bicara empat mata?" tanya Gladis pada sang Mamah, pandangannya kini menatap kearah Zidan dan Papanya yang tengah berjalan.


"Entahlah, Mamah juga gak tahu. Ya sudahlah biarkan saja, mungkin itu urusan lelaki dengan lelaki," jawab sang Mamah. Mamah Tia tidak terlalu mempedulikan hal tersebut.


Ck! Gladis hanya berdecak kesal, setalah itu ia kembali menuju kamarnya. Setalah sampai kamar, Gladis pun berjalan menuju balkon kamar tersebut, dari atas sana ia melihat Zidan dan Papanya kini tengah berbicara, menangkap dari gestur tubuh serta reaksi kedua laki-laki itu, Gladis merasa kalau mereka tengah membicarakan hal penting.


'Huh, kenapa aku jadi penasaran banget kaya gini? Sebenarnya mereka lagi bahas apa sih? Atau jangan-jangan ... ' Gladis tak kuasa melanjutkannya ucapannya. Malah kini pikiran buruk mulai memenuhi benaknya.


"Ya ampun bagaimana kalau semua terjadi?" gumamnya gelisah.


Cukup lama Gladis menunggu kedatangan Zidan menuju kamarnya, mungkin kurang lebih satu jam, akhirnya pintu kamar tersebut terbuka, Gladis pun melihat Zidan masuk ke dalam kamarnya.


Dengan cepat dan langkah yang tergesa-gesa Gladis langsung menghampiri pria yang berstatus suaminya itu.

__ADS_1


"Hey Zidan, apa yang sudah kamu dan Papa bicarakan?" tanya Gladis.


Zidan yang mendengar pertanyaan wanita itu, ia langsung menatap kearah Gladis dengan tatapan terheran-heran.


Gladis langsung memalingkan wajahnya, menghindari tatapan dari Zidan. "Cepat katakan!" desak Gladis.


Akan tetapi Zidan malah menanggapi dengan senyuman sinis, tanpa berkata apa-apa, Zidan langsung menjalankan kursi rodanya mendekat kearah ranjang.


Dan hal tersebut membuat Gladis bertambah kesal. Zidan sama sekali tidak menjawab pertanyaan, dan kini pria itu malah berjalan menuju ranjang, enak saja!


"Tunggu!" ucap Gladis.


"Jangan tidur di ranjangku! Aku tidak Sudi berbagi ranjang dengan kamu!" sambung Gladis.


Senyuman sinis di bibir Zidan makin terulas sempurna. "Kamu pikir aku akan tidur bersamamu? Dalam mimpi pun aku tidak akan pernah melakukan hal itu, aku hanya ingin mengambil selimut milikku di koper!" sahut Zidan dengan tegas, memang itulah kenyataannya. Zidan berniat ingin mengambil selimut miliknya yang ia sengaja bawa, selimut tersebut memang ada di dalam koper, dan kebetulan koper tersebut berada tepat di samping ranjangnya.

__ADS_1


Gladis terlihat gugup salah tingkah kerena sudah berpikir yang tidak-tidak pada Zidan. "Syu-syukurlah kalau ka-kamu tahu diri!" ucap Gladis berusaha menutupi kegugupannya.


Zidan tidak menanggapinya ia langsung mengambil selimut miliknya itu, lalu kembali menjalankan kursi rodanya menuju sofa panjang yang berada di sudut kamar tersebut.


Zidan sudah terbiasa dengan kondisinya, bahkan kini ia terlihat sudah bisa berpindah sendiri dari kursi roda menuju sofa tanpa bantuan.


Zidan membaringkan diri di sofa tersebut, tak lupa ia menyelimuti tubuhnya, karena di dalam kamar hawanya sangat dingin.


Dan semua itu atas ulah Gladis, ia sengaja mengatur suhu AC kamarnya dengan berlebihan agar membuatnya Zidan tidak nyaman, walaupun sebenernya Gladis pun merasa kedinginan, tapi ia berpikir masih ada selimut tebal yang akan menghangatkannya.


Melihat Zidan yang sudah berbaring di sofa dengan posisi yang membelakanginya. Gladis pun bergegas naik ke atas ranjang, membalut tubuhnya dengan selimut tebal lalu berbaring di sana.


Sementara itu, Zidan berusaha memejamkan matanya, akan tetapi matanya seperti enggah terlelap. Zidan terus terpikirkan oleh ucapan Papa Santoso tadi.


"Orang tuamu masih hidup, jika kau mau menemuinya, Papa akan membantu kamu bertemu dengan mereka." Perkataan Papa Santoso kini terngiang-ngiang di benaknya.

__ADS_1


'Kenapa Papa Santoso bisa tahu? Apa mungkin ini alasan dia bersikap baik padaku, karena dia tahu kalau aku ini bukanlah orang ... '


Bersambung ...


__ADS_2