
Pak Rusli terlihat menganggukkan lemah, lalu detik kemudian pria tua itu menutup matanya. Papa Santoso segara memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Pak Rusli, namun siapa sangka, ternyata pria tua tersebut sudah tidak bernyawa.
Pak Rusli menghembuskan nafas terakhirnya usai menyatakan permintaannya pada Gladis dan keluarganya, agar Gladis mau menikah dengan putranya Pak Rusli yaitu Zidan, yang kini keadaannya masih terbaring cukup lemah, bahkan pria itu tidak bisa menggerakkan kakinya. Dokter memvonis Zidan mengalami kelumpuhan.
Singkat cerita, pemakan Pak Rusli pun di laksanakan. Keluarga Gladis yang menanggung semuanya.
Beberapa hari berlalu, tepatnya sudah seminggu berlalu. Zidan sudah diperbolehkan untuk pulang. Gladis di minta orang tuanya untuk mengantarkan Zidan pulang, awalnya Gladis menolak, namun ia tidak bisa membantah saat sang Papa sudah mengeluarkan gurat kemarahannya. Bahkan Papanya sudah memberikan keputusan, jika Gladis akan dinikahkan dengan Zidan, seperti apa yang diinginkan oleh mendiang Pak Rusli.
"Gak! Apa Papa gila? Aku harus menikah dengan pria cacat seperti dia. Pa, ayolah! jangan konyol seperti ini! Cukup bertanggung jawab membiayai dia sampai sembuh saja, aku rasa itu sudah lebih dari cukup! Bukankah Dokter juga bilang, kalau dia cacat hanya sementara, kita rawat dia sampai dia sembuh saja! Tidak harus ada pernikahan bukan?" protes Gladis tempo hari lalu, saat sang Papa mengatakan tentang keputusannya.
"Tapi, kita sudah berjanji akan melakukan permintaan yang diinginkan oleh mendiang Pak Rusli, Gladis! Keputusan Papa sudah bulat, setalah Zidan keluar dari rumah sakit, Papa yang akan bicara dengannya! Tidak ada penolakan, kamu akan menikah dengan Zidan secepatnya!" tegas sang Papa.
__ADS_1
"Ingat! Janji itu hutang, bukankah hutang itu harus di bayar! Papa gak mau kalau sampai membawa hutang itu sampai akhir hayat nanti!" lanjutnya.
Gladis mendengus kesal mengingat perkataan Papanya tempo hari itu.
"Aaa! Kenapa semuanya jadi kaya gini sih?" gumam Gladis kesal. Beberapa kali ia memukul setor mobilnya.
Gladis memikirkan cara bagaimana agar lolos dari semua masalah yang menimpanya ini. Gladis memang merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa Zidan dan Pak Rusli, yang kini sudah tiada. Tapi, semua itu benar-benar tidak di sengaja, Gladis sama sekali tidak berniat ingin menghilangkan nyawa orang.
Dalam benak gadis itu kini sudah tersusun sebuah rencana.
Tak lama kemudian, Gladis pun sampai di rumah sakit. Ia segara menuju ke ruangan rawat Zidan.
__ADS_1
Saat sampai di sana, Gladis melihat Zidan sudah duduk di kursi roda. Sepertinya pria itu sudah bersiap untuk pulang.
"Sorry, aku telat," ucap Gladis seraya berjalan menghampiri Zidan.
Tak ada sahutan dari pria itu, raut wajah Zidan nampak datar tanpa ekspresi, bahkan kedatangan Gladis seperti tidak dianggap olehnya. Gladis merasa sedikit kesal, tapi ia mencoba untuk bersabar.
"Baiklah, ayo kita pulang. Biar aku bantu," ucap Gladis lagi, ia berniat ingin mendorong kursi roda yang diduduki oleh Zidan.
Akan tetapi, belum saja Gladis menyentuhnya, Zidan sudah terlebih dahulu mengayuh kursi rodanya terlebih dahulu.
"Sialan!" gerutu Gladis.
__ADS_1