Terpaksa Menikahi Pria Cacat

Terpaksa Menikahi Pria Cacat
Bab 7. TMPC


__ADS_3

Di seberang sana, Gladis nampak bingung usai menerima telepon dari Zidan. Memangnya apa yang terjadi di rumah Zidan? Pikirnya.


Tanpa pikir panjang, Gladis pun segara beranjak. Sepertinya ia harus ke sana untuk melihat apa yang sudah terjadi. Suara Zidan tadi nampak sangat marah.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Zosua, melihat Gladis yang beranjak dari hadapannya.


"Aku harus pergi, ada hal yang harus aku urus," jawab Gladis sambil berlalu dari sana.


Zosua hanya bisa menghelai nafas beratnya seraya menatap punggung kekasihnya itu. Sebenernya ia ingin mencegah Gladis pergi, namun Gladis sudah berlalu begitu saja, padahal Zosua masih ingin bersamanya, setalah beberapa hari tidak bertemu ia merasa masih rindu.


"Aku harus mencari tahu siapa pria yang akan dinikahkan dengan Gladis! Apakah pria itu lebih dariku?" gumam Zosua.


"Hais, mana mungkin dia lebih dariku? Bukankah Gladis bilang kalau pria itu cacat! Lalu apa yang harus aku khawatir? Aku yakin pria itu tidak akan menyentuhnya. Tapi ... sepertinya aku harus berjaga-jaga, aku harus menemui dia sebelum pernikahan mereka di gelar." Zosua masih berbicara sendiri.


Sementara itu Gladis kini tengah berada diperjalan menuju rumah Zidan, sekitar 30 menit ia melajukan mobilnya, akhirnya Gladis pun sampai. Dan betapa terkejutnya Gladis saat melihat rumah Zidan kini sudah dirobohkan.


"A-apa yang terjadi?"


Zidan dan Yogi langsung menoleh kearah Gladis, saat mendengar suaranya. Pun dengan beberapa pegawai yang ada di sana.

__ADS_1


"Pak Yogi, kenapa bisa begini?" Gladis bertanya yang di tugaskan menjaga Zidan.


"Sa-saya tidak tahu, Nona. Saya kira Nona tahu soal ini?"


Mendengar ucapan Yogi, Gladis pun segara mengambil ponselnya lalu menghubungi Papa-nya. Gladis yakin jika semua ini ulah sang Papa.


Sementara Zidan, ia masih terdiam, namun raut wajah penuh amarah tidak bisa disembunyikan. Tentu saja Zidan marah pada mereka yang tiba-tiba merobohkan rumahnya, Zidan tahu jika rumahnya memang sudah tidak layak huni, tapi setidaknya mereka meminta persetujuan Zidan dulu.


Dan Zidan tentunya tidak akan mengizinkan mereka merobohkan rumahnya, bukan tanpa alasan, rumah kumuh itu banyak sekali kenangan, kenangan saat dia kecil, kenangan saat bersama Bapaknya, yang kini sudah tiada.


"Hallo, Pa! apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa merobohkan rumah Zidan?" tanya Gladis saat sambungan telepon tersebut terhubung dengan Papanya.


Sepertinya Pak Santoso menganggap pertanyaan putrinya itu lucu.


"Kenapa Papa tidak memberitahu aku dulu sih, Pa? Setidaknya Papa memberi tahu pemilik rumahnya!" kesal Gladis.


"Tenang saja Gladis, Papa yakin Zidan tidak akan keberatan, yang ada dia senang," ucap Pak Santoso terdengar enteng.


Senang dari mananya, Pak Santoso tidak melihat bagaimana Zidan saat ini menatap Gladis. Dia seperti ingin menelan Gladis hidup-hidup, membuat Gladis merasa ketakutan.

__ADS_1


Gladis mengakhiri sambungan telepon dengan sang Papa, percuma, pikirnya. Lagian rumahnya sudah rata dengan tanah, mau bagaimana?


"Emmm, Zi-Zidan, ak ... "


"Bawa aku pergi dari sini!" pinta Zidan pada Yogi.


Zidan seperti enggan mendengar ucapan Gladis, bahkan raut wajahnya kini menampilkan kebencian pada gadis itu.


Yogi nampak bingung, namun Gladis memberi isyarat agar Yogi membawa Zidan. Yogi pun membawa Zidan menuju mobilnya, membantu pria itu.


"Bawa saja dia ke hotel terdekat." Gladis mengirim pesan pada Yogi.


Yogi yang sudah berada dalam mobil nampak mengangguk paham, setalah itu mereka pun berlalu dari sana.


Gladis menghelai nafas beratnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana? Setalah kejadian kecelakaan itu, Gladis merasa hidupnya terus dirundung oleh masalah.


Apa lagi Gladis harus berhadapan dengan Zidan, pria itu benar-benar misterius menurut Gladis, sikapnya sangat sulit di tebak. Bahkan Gladis bingung, apakah sebenarnya Zidan menyetujui pernikahan mereka atau tidak?


Di katakan tidak, Zidan tidak pernah mengatakan jika ia menolaknya. Tapi, dikatakan menyetujui tapi Zidan tidak pernah mengatakan iya!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2